Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA82. Mendapat tindakan


__ADS_3

"Kalau tabung gas, ada bau gasnya lah." Biyung berpendapat tentang kecurigaanku. 


"Tak begitu, Biyung. Tak selalu begitu konsep terjadinya. Di mes sopir, di garasi travel tuh. Jadi ceritanya lagi ada aku di sana, aku lagi ambilin uang tuh. Katanya, kopi bang. Kebetulan, air termos habis dan dispenser air panas itu tak jalan. Mungkin karena keseringan dipencet untuk buat kopi, jadi rusak dispenser air panasnya. Jadi, ada salah satu sopir itu rebus air di panci untuk buat mie tuh yang gagangnya plastik anti panas gitu. Karena keasyikan ngobrol, sopir itu lupa kalau lagi didihkan air. Sampai air rebusan itu habis, gagang panci udah meleleh dan udah berasap ke mana-mana. Yang tercium itu bau plastik aja, Biyung. Untungnya, ada sopir lain yang ke belakang untuk buang air dan lihat kompor udah nyala besar aja. Jadi langsung matikan kompor gas, terus ribut cari air. Jadi aku berpikir, kalau telat sedikit aja tuh kemungkinan api dari kompor itu menjalar ke selang dan ke tabungnya. Jadi langsung ledakan aja, karena apinya masuk ke tabung gitu. Kalau bau gas, kan itu kasusnya gas bocor. Ini aku pengalaman sendiri, makanya mungkin kejadiannya lupa matikan kompor, atau memang rebus air sampai habis."


Aku manggut-manggut. Benar sekali yang dikatakan oleh Zio, masuk akal dan mudah dimengerti. Tapi jelas tidak mungkin itu berasal dari rumah kosong, karena tidak akan terjadi lupa matikan gas atau rebus air sampai habis. 


"CCTV paling bener, Bang. Dapur rumah yang Saya tempati sama Wati dan anak-anak itu aman, meski ada tabung gas dan seperangkat alat dapur lainnya. Kami pun tidur dari lepas sholat Isya, sedangkan kejadian ini hampir tengah malam. Jeda waktunya terlalu lama, kalau memang kami ada yang teledor," timpal kak Hindun kemudian. 


Dengan pernyataan berikut, berarti dapur yang sangat mencurigakan memang dapur kak Jasmine. Aku tahu, Ceysa trauma dengan tabung gas dan dapurnya tidak memiliki tabung gas. Kompor rumahnya, menggunakan kompor listrik. Rumahku juga, tidak memiliki kompor dan alat dapur lainnya. 


"Jeda waktunya tak lama sejak bang Vano pergi." Aku mengungkap kecurigaanku di sini. 


"Nah." Zio menjentikkan jarinya. 


"Terus gimana keadaan kak Jasmine?" Suara kak Hindun panik. 


"Jasmine tidur sama Biyung di rumah," jawab biyung kemudian. 


Zio sudah membelokan kendaraan ke rumah sakit. Mobil ini terparkir di depan IGD, kemudian ia keluar. Beberapa saat kemudian, beberapa perawat datang dan membantu kak Hindun untuk pindah ke kursi roda. 


Aku pun diminta untuk duduk di kursi roda, tapi aku merasa kakiku hanya mendapat luka kecil saja. Hanya tanganku yang terluka cukup parah. 


Aku tidak menyangka, malam-malam begini aku mendapat luka jahit di tanganku. Kak Hindun dan Cala pun sama, tapi Cala tidak boleh pulang karena Zio menginginkan Cala diperiksa lebih dalam. 


"Biyung, Biyung istirahat di sini aja sama Kak Hindun ya? Aku pulang ke rumah sama Bang Chandra." Zio datang dengan membawa obat. 


"Ya udah, tak apa. Chandra belikan sandal dulu itu, Zio." Biyung menunjuk kakiku. 


Ada beling menyelip masuk di kakiku katanya tadi. Jadi, sampai dikorek dan diambil. Jangan tanyakan rasanya, aku tiba-tiba pincang mendadak karena hal itu. Apalagi kak Hindun yang gagal kebal itu, satu beling saja sampai menggigil seperti ini. Jika luka jahit di tangan sih dibius lokal, jadi tidak begitu terasa. Katanya beling pun tidak dalam, tapi setengah mati mereka berusaha mengambilnya. Sudahlah, merinding rasanya membahas rasa sakit itu. 


"Tak ada sandal di minimarket rumah sakit tuh, Biyung. Nanti aku pinjam kursi roda aja, untuk pindahkan bang Chandra ke mobil." Zio memberikan obat pada kak Hindun. 


Kak Hindun pun terlihat lemas sekali. Wajahnya pun memerah, sepertinya ia menangis tadi. Katanya sih ia dibius lokal dulu di bagian kaki, tapi mungkin tetap terasa sakit orang namanya dikorek. 


"Gendong aja sih." Aku memasang wajah manja pada Zio.

__ADS_1


Zio menghela napasnya. "Masalahnya, badan Abang lebih besar dari pada aku." 


Ia membuatku tertawa geli. 


"Nanti aku atau yang lain antarkan uang dan HP Biyung, aku mesti tau keadaan di sana dulu." Zio mencium tangan biyung. 


"Iya, besok lagi aja tak apa." Biyung terlihat mengantuk. 


"Bentar, Bang." Zio keluar dan datang dengan membawa kursi roda. 


Aku bisa pindah ke kursi roda sendiri, tapi jika berjalan seribu rasanya. 


"Aku pulang dulu, Biyung. Assalamu'alaikum." Zio mendorong kursi rodaku. 


"Ya, Bang Iyo. Ati-ati, wa'alaikumsalam." Biyung menguap setelah menjawab salam. 


"Bang, pikiran aku di rumah aja. Mana rumah dekat ladang lagi, takut meluas ke kebun kopi kebakarannya." Zio mendadak membuat pikiranku kalut. 


"Bentar deh, Abang telpon orang rumah." Aku sempat menyakui ponselku. 


Istriku. 


Izza pasti selalu membawa ponsel, ia pun pasti mengangkat teleponku. Saat kami masih berpacaran, ia tengah bekerja pun pasti mengangkat teleponku. 


"Abang telpon kakak ipar kau dulu." Aku langsung menempelkan ponselku ke telinga. 


Membuat bertambah khawatir, karena Izza pun tak mengangkat teleponku juga. 


"Cepat pulang aja deh, Yo. Aduh, kalut Abang." Aku mengusap-usap dadaku sendiri. 


"Ya, Bang." Zio mendorong kursi roda ini ke parkiran depan IGD. 


Setelah mengembalikan kursi roda, Zio langsung berlari ke arah mobil dan ia langsung tancap gas. Aku memperhatikan dari jauh, berharap melihat petunjuk sesuatu tentang kediaman kami.


Sayangnya, aku tidak bisa melihat apapun. 

__ADS_1


Sejak kejadian, berarti ini sudah satu jam. Jika kebakaran meluas, sudah pasti kepulan asap terlihat dari jalanan. Tapi tidak ada asap sama sekali. 


Ketenangan dan lega menghampiri, saat warna cat pagar rumah masih terlihat jelas. Hanya saja, basah di mana-mana dengan dua armada mobil pemadam kebakaran. 


Empat rumah itu atapnya hangus, dengan cat yang berubah gosong semua. Rasanya aku ingin menangis, melihat kediaman kami begitu miris seperti ini. 


Ada mobil polisi juga di sini, ayah bercakap-cakap dengan polisi dengan menunjuk rumah tersebut. 


"Pa…. Bantu gendong Bang Chandra," seruan Zio membuat aku menjadi pusat perhatian. 


Aku melihat ayah menunjukku, dengan beberapa warga yang langsung berhamburan menghampiriku dan membantuku berjalan. Sebenarnya aku hanya butuh satu orang, karena Zio sudah berada di samping untuk merangkulku. 


Aku didudukan di teras rumah, dengan papa Ghifar yang datang dengan membawa segelas air untukku. Apapun kejadiannya, air putih adalah obatnya untuk orang kami. 


"Cala gimana?" Papa Ghifar mengusap-usap punggungku. 


"Tak apa kata dokter sih, tapi dari pihak kami minta pemeriksaan lanjutan. Besok tuh rencana Cala mau scan tulang kepala." Aku memperhatikan beberapa warga yang membantu menggulung selang milik pemadam kebakaran. 


Berarti tadi kebakaran menjalar, sehingga api baru bisa ditaklukkan sekarang. Aku benar-benar kaget, saat polisi memasang garis polisi di empat rumah yang terbakar tersebut. 


Terlihat dari catnya, pagar beton halaman samping pun sudah terlihat menghitam. Pintu penghubung halaman samping sudah gosong dan sengklek, padahal terbuat dari besi. 


Apa bahasa Indonesianya sengklek? Engselnya seperti lepas tapi pintu tidak terjatuh. 


"Va…. Va…. Cek CCTV, ajak Bapak Yazid ini." Ayah berseru dengan mengusap pundak polisi yang berada di sebelahnya. 


Dari rumah nenek dan kakek, belakang bagian rumah kami semua yang langsung terarah ke ladang, pagar yang mengarah ke jalanan, juga beberapa sudut di bagian halaman rumah terpasang CCTV dengan pusat kontrol ada di Riyana Studio. 


"Mari, Pak." Abi Ghava langsung mengajak polisi yang gagah dan tinggi tersebut. 


Kenapa ada polisi?


"Kok bisa ada polisi, Pa?" Aku menoleh ke arah papa Ghifar. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2