
"Jasmine gimana?" Ia seperti menahan sesuatu.
Tapi aku tak akan bertanya apa ia kebelet pipis tidak.
"Belum tau, tadi aku telpon katanya udah tidur sama biyung." Aku tidak bodoh, aku tidak akan membocorkan bahwa kak Jasmine akan dibawa ke Kalimantan.
Catat! Aku anak biyung, tapi bukan biyung.
"Dia tak curiga?" Ia menyentuh hidungnya dan menggosoknya.
"Pasti, tadi aja kan langsung kaget. Tapi pasti ayah punya alasan. Ayah juga kaget, sampai panggil-panggil aku di luar kamar. Karena tiba-tiba kedatangan polisi, sedangkan aku sama ayah tak dapat kabar apapun sebelumnya." Aku jujur loh.
"Pak Mavendra itu siapa? Katanya polisi, polisi apa? Keluarga siapa? Atau keluarga dari ibu kandungnya Jasmine?"
Aku hanya mengedikkan bahuku saja.
Paman pemilik kedai kopi datang membawakan dua kopi kami. "Ini, Bang Chandra."
"Oke, siap. Terima kasih, Pak Cek." Aku tersenyum ramah pada beliau.
"Udah begini, aku mau pulangin Jasmine ke ayah aja. Terus, aku pulang ke orang tua. Tapi gimana keadaan Jasmine nanti? Gimana bayinya? Rasanya aneh dia tak tau apa-apa, tapi gugatan atas namanya."
Kasihan juga bang Vano, karena tidak tahu apa-apa.
"Itu tetap anak Abang, Abang tetap punya kewajiban dan hak." Bercerai, bukan berarti tidak mengenal lagi.
"Tapi ayah pasti larang itu." Ia menuangkan kopinya ke piring.
Beginilah cara masyarakat kita ngopi. Tahu kupi khop? Gelasnya dibalik itu? Itu pun sangat khas sekali, tapi menurutku lama habis karena panasnya awet.
"Apa ammak Putri dilarang datang? Apa mamah Fira dilarang datang?" Aku yakin ayahku tidak begitu.
Ayahku orang baik, meski kebaikannya terpengaruh dari biyung.
Ia menggeleng. "Tapi Jasmine anaknya, aku nyakitin anaknya." Dia memiliki pemikiran ke sini ternyata.
"Abang pernah berpikir tak, gimana dampaknya kalau Abang nyakitin kak Jasmine? Bagaimana kehidupan kak Jasmine nanti, bagaimana kehidupan anak Abang nanti. Sebenarnya, Abang tuh cinta tak sama kak Jasmine? Kok tega hati buat kak Jasmine sakit hati, meski dia belum tau kelakuan Abang?" Biarlah aku lancang.
__ADS_1
Aku ingin tahu motivasi laki-laki tukang selingkuh. Jangankan selingkuh, memutuskan Izza sejak dulu saja, aku selalu tak tega dan kasihan mendalam.
Bagaimana nantinya tanpa aku? Bagaimana ekonominya tanpa bantuanku dan keluarga?
Selalu saja aku memikirkan bagaimana kedepannya.
"Abang nyesel." Ia menatap sendu kopinya.
"Bukan sekarangnya, tapi pas Abang mau jalani hubungan rahasia dengan perempuan itu." Aku mengambil kerupuk kulit sapi yang tergantung dalam plastik di dekat gelas kopiku.
"Dia hadir sebelum aku nikah."
Gila! Ia selingkuh sejak mereka belum menikah.
"Dia pacar aku, sedangkan Jasmine selingkuhan aku. Dia bahkan belum tau, kalau aku nikah sama Jasmine."
Hah? Ia salah menjadikan aku sebagai teman curhat, karena aku pasti akan mengadu ke orang tuaku.
"Kenapa tak putuskan kak Jasmine dari dulu, Bang?" Aku malah shock mendengar ceritanya.
Aku sampai bingung mengunyah kerupuk ini.
"Terus perempuan itu?" Aku lupa lagi siapa namanya.
"Udah aku tiduri juga sebelum kenal Jasmine, makanya aku tak bisa ninggalin dia."
Inilah jahatnya laki-laki. Aku sepertinya bukan laki-laki, karena tidak mudah bangkit pada sembarang perempuan.
"Terus gimana coba endingnya?" Aku yang pusing memikirkan.
"Aku juga bingung." Ia mengacak-acak rambutnya.
Sepertinya, sudah paling betul mengembalikan kak Jasmine pada ayah. Biarkan dia menjadi narapidana dulu, setelah itu barulah menikahi simpanannya itu.
"Rencana Abang gimana?" Aku menuangkan kopiku ke piring, kemudian aku menyeruput dari piring.
"Aku digugat cerai, mau tak mau aku harus ninggalin Jasmine. Aku minta dia baik-baik, aku harus pulangkan dia baik-baik. Besok aku diminta jemput Ahyu, karena Ahyu pun dituntut juga. Yang tak aku ngerti, buktinya begitu komplit. Ngelak pun susah, karena kalau ketahuan bohong malah berat lagi hukumannya."
__ADS_1
Oh, iya. Ahyumardi namanya.
"Ingat, ada anak sama kak Jasmine. Selesai kasus, carilah anak Abang di kediaman kami. Setidaknya, dia harus tau ayahnya." Gayanya aku ini menasehati orang yang lebih tua.
Ia mengangguk. "Itu pasti aku lakuin, Chandra." Ia memandangku. "Kau sama ayah tak pernah ngomong apapun ke Jasmine, setelah mergokin aku di kostan?"
Aku jadi kepikiran, apa laki-laki bisa membagi perasaannya?
"Tak pernah ngomong apapun. Udah tau, ya udah. Tak pernah bahas juga, bahkan biyung pun tak tau. Abang yang kapok, udah kak Jasmine, jangan nambahin nama perempuan yang Abang sakiti. Seorang perempuan itu, pasti sangat dimuliakan dan dijaga keluarganya. Abang macam-macam, ada keluarga yang menyayanginya yang tak terima kalau salah satu putri dalam keluarganya disakiti." Aku tidak sepenuhnya berbohong.
Memang setelah menyerahkan masalah pada om Vendra, kami tidak pernah membahas hal ini lagi. Aku dan ayah repot dengan urusan pekerjaan. Apalagi sekarang, aku tengah merintis bisnis pembuatan genteng.
Jangan tanya modal, karena sudah pasti ayah lagi. Aku pun tetap mengolah laporan dari Singapore, kemudian mengerjakan tugasku sebelum disampaikan ke ayah. Semata-mata, agar aku memiliki pendapatan untuk menafkahi Izza.
Padahal, rasanya lelah luar biasa. Pagi sampai sore, aku benar-benar di tempat pembuatan genteng. Dari lepas Maghrib sampai jam sepuluh malam, aku mengerjakan pekerjaanku untuk perusahaan yang berada di Singapore.
Bagaimana Izza? Ya setia merecokiku. Inilah, itulah, ada saja. Hubungan ranjang pun, sudah amat membosankan aku rasa.
Heran kan? Aku pun sama. Karena sikapnya itu, jadi merembet ke mana-mana. Ingin mengobrol dan bercanda pun, aku malas membuka topik pembicaraan.
"Aku benar-benar tak nyangka kalau sampai dibawa ke kasus hukum begini. Domisili pak Mavendra itu di Sulawesi, keknya dia keluarga kandung Jasmine."
Salah. Domisili om Vendra di Sulawesi, karena ditugaskan di sana. Tapi aku tidak berniat memberitahukan juga.
"Kapok tak, Bang?" Aku memperhatikannya, dengan mulai mengemil lagi.
"Kapok." Ia memejamkan matanya, kemudian membuka matanya lagi dan melirik ke arahku. "Tapi kalau ayah dulu tak negur setiap kali aku antar Jasmine, mungkin yang aku nikahi itu Ahyu. Pasti tak akan ada kasus begini juga."
"Ada, karena kak Jasmine pasti lapor kalau dirinya ditiduri dan ditinggalkan." Padahal, baru saja ia berbicara.
"Berarti kan tandanya keluarga kalian tak akan tinggal diam kan?"
Kok aku emosi ya?
"Apa Abang beranggapan, bahwa keluarga kami diam aja kalau ada anggota keluarga tersakiti? Jangankan untuk carikan obat, kita larikan ke rumah sakit pun pasti diusahakan. Lalu apa penyebab sakitnya pasti kami cari tau dan tinggalkan kebiasaan buruknya yang buatnya sakit. Kemarin aku dan ayah mergokin Abang, kami diam karena istri Abang hamil trimester pertama. Rawan keguguran, kami tak mau dia kenapa-kenapa. Tentang pelaku yang menuntut Abang, itu kan bukan masalah Abang. Memang Abang mau apa? Mau marahin dia? Kan Abang yang salah, masa mau nyalahin orang lain?" Aku ramah dan diam, bukan berarti aku tidak berani apa-apa.
...****************...
__ADS_1