
"Kan sama kau, Nin. Nengok anak, urusan anak, aku bawa kau kalau memang harus ketemu. Aku pasti libatin kau dalam segala hal, kalau memang kau mau tinggal di Sulawesi. Aku tak mungkin ninggalin profesi aku dan pindah ke sana, aku tak punya keahlian apapun dan aku kurang minat sama ilmu magic begitu. Gimana caranya aku hidupin kau? Anak-anak? Aku di sana udah ngerasa tak punya harga diri, karena dibandingkan dengan menantu kakak dan menantu adik. Belum lagi bahas tentang didikan anak di depan keluarga, itu mempermalukan aku, Nin. Kau tau sendiri, aku penuh perjuangan ada di posisi ini. Kau pun tau, kalau aku bukan sekali aja minta pindah tugas, tapi nyatanya aku lebih dibutuhkan dan berguna di sini." Om Vendra mencium tangan tante Nina.
Romantis sekali.
"Jawab jujur, kenapa Caitlin kau hamili lagi?" Tante Nina langsung menarik tangannya.
Hei, ke mana saja rasa sadarnya tadi? Kan sejak tadi om Vendra menggenggam tangannya terus.
Ngomong-ngomong tentang keromantisan, aku jadi teringat dengan Nahda. ABG puber itu suka sekali film romantis dan adegan romantis, belum lagi ia sering membawa kalimat bahwa rahimnya anget melihat adegan tersebut.
"Aku butuh lah, Nin. Sebulan sekali aku pulang ke kau, ya kali aku harus nahan sebulan penuh. Mana kuat aku, tanya aja Bang Givan."
Ayahku langsung menoleh cepat. "Kok Abang?" Ayah menunjuk wajahnya sendiri.
Esmee sudah turun dari pangkuan ayah. Ia tidak melepaskan ayah, tapi matanya tengah menjelajahi isi hotel ini. Seusianya, mungkin ia belum pernah menginap di hotel semewah ini. Mengingat rumahnya pun rumah sederhana, dengan ukuran ruangan yang kisaran 3x3 saja. Lagi pun, punya rumah di sekitar sini, ngapain harus nginap di hotel? Kadang pikiranku aneh sendiri.
"Yaaa kan, Abang merasakan juga." Om Vendra seperti melempar pernyataan pada ayah.
"Canda hamil plus sakit kista aja, aku rela nahan berminggu-minggu, berbulan-bulan. Kau samakan sama aku?! Ish, beda didikan coyyy." Ayah tersenyum sok jago.
"Didikan apa? Masa kebutuhan dididik?" Tante Nina sampai memicingkan matanya.
"Kebutuhan bisa diatur, kalau keadaan genting ya tak butuh-butuh betul. Laki-laki sibuk aja nih, tak ada kepikiran untuk berhubungan begituan, atau main sendiri sambil nonton film dewasa. Barulah kalau dia habis sibuk, punya waktu luang, ya cari pembuangan kek suami kau itu. Janganlah samakan aku, bajingan-bajingan begini aku bisa berkomitmen. Aku tak selingkuh, aku tak chat-chat sama yang lain, aku tak nikah di bawah tangan sama perempuan lain." Ayah nampak berapi-api.
Esmee memandang wajah ayah, kemudian ia beringsut mendekat padaku. Sepertinya, Esmee adalah anak yang mentalnya tidak kuat suara lepas seperti Ra. Coba jika Ra, suaranya saja seperti speaker dangdutan.
"Kau pun punya anak sama orang perempuan lain, masa kau ada istri." Om Vendra menunjuk wajah ayah.
__ADS_1
Tante Nina memundurkan kepalanya, karena ayah langsung menepis tangan om Vendra yang tengah menunjuknya. Mereka disekat oleh tante Nina.
"Siapa? Zio? Aku udah mengakui loh, aku khilaf, bukan selingkuh. Sebelum aku gauli itu perempuan, aku udah bilang dari awal kalau aku bakal lepas tanggung jawab karena aku laki-laki beristri. Jujur loh aku ini, kalau aku beristri. Tak kek kau itu, punya istri, punya anak, ngakunya bujang aja." Ayah membela diri dengan emosi.
"Mana pernah aku bilang aku ini bujang. Orang seumur-umur rumah tangga sama yang kedua, tak pernah dia nanya aku beristri kah menduda. Tak pernah dia ribut siri kah resmi. Dokumen anak-anak pun, tak ada ribut dia ini. Tau jadi, tau anak-anak punya dokumen. Dia taunya dirinya bersuami, dirinya punya tiga anak dari suaminya."
Heh? Kok bisa?
"Mana ada perempuan begitu?!" Tante Nina melirik suaminya dan menepuk paha suaminya pelan.
"Ada, Elin buktinya. Bayangin aja lah, anak SMA nikah, paham apa dia ini? Guru PAUD pun, bukan karena pendidikannya tinggi, tapi karena kekurangan pengajar di PAUD dekat rumah." Om Vendra berbicara lirih.
Aku jadi membayangkan jika Nahda dibawa menikah oleh seseorang, apa ia paham perbedaan pernikahan siri dan resmi?
Hmm, pacar bohonganku itu membuatku sengek sebelah karena manut saja dengan permainan bodohnya.
Layarnya memang menyala beberapa kali.
"Ada masalah kah di sana?" Aku khawatir biyung kesusahan di sana.
"Ganti galon atas, galon bawah pumpnya rusak." Ayah bertopang dagu.
"Sepele." Om Vendra mentertawakan ayah dengan tawa garing.
Lirikan maut ayah mengarah ke om Vendra. "Setidaknya, aku berfungsi dengan baik. Tak kek kau!"
Kenapa suasananya jadi begini?
__ADS_1
"Udah tuh, Yah." Aku menepuk pundak ayah.
Ayahku orang yang emosian, kesabarannya setipis tisu.
"Om, bukannya kurang sopan. Tapi kata aku sih, kalau bahas kek gini mending ada tante siri aja tuh." Jujur aku ragu menyebutkan nama tante itu, namanya sulit, panggilannya menurutku tidak tepat.
"Tak bisa, Bang. Dia lagi hamil muda, baku hantam nanti. Mending, udah aja Nina di sini. Tengok kan perubahan Om kau itu dengan Caitlin. Kalau memang Om kau masih begitu butuhnya sama Caitlin, ya udah Tante kau lebih baik lepaskan Om kau. Kalau benar kek yang dia ucapkan, ya urus langsung tentang anak-anak dan Caitlin. Ada mantan istri, tak ada mantan anak. Misalkan kau nikah sama perempuan yang udah hamil, sekalipun anak itu bukan darah daging kau, tapi kau menikah dengan ibunya, kau bertanggung jawab atas anak tersebut dari segi ekonomi, didikan dan kasih sayang. Masalah nashab, ya pasti ikut ibunya karena siapapun ayahnya, tapi kehadiran anak itu ada sebelum pernikahan. Masalah hubungan darah dan ahli waris menurut hukum, itu urusan ayah biologisnya dan dia pun pasti dapat dari ibunya. Masalah kebutuhan hidup, kasih sayang, didikan, perhatian, ya itu tanggung jawab laki-laki yang menjadi suami dari ibunya sekarang. Beda kejadian misal kau punya anak biologis dengan perempuan sebelum pernikahan, kek kak Key contohnya." Ayah menjeda kalimatnya dan menurunkan nada bicaranya ketika menyebutkan nama kakakku.
"Secara hukum, kau harus membagi harta warisan kau ke anak biologis kau itu dan memenuhi haknya sebagai anak kau. Anak itu punya hak dari ayah kandungnya, meski antara ayah dan ibunya tidak menikah. Anak itu bisa menuntut, dia punya undang-undang yang dilindungi hukum. Yang begini aja bisa, apalagi diikuti dengan nashab Om Vendra. Jadi Om kau harus benar-benar bereskan dan rampungkan, sampai anak-anak itu selesai pendidikan dan bisa mencari nafkah sendiri. Di kemudian hari pun, ini anak-anaknya berhak atas harta warisan Om Vendra, meski jelas anak itu bukan dalam pernikahan resmi. Yang orang tuanya tak menikah aja, ini anak bisa dapat haknya, apalagi yang orang tuanya pernah menikah siri," lanjut ayah dengan napas yang terdengar lebih panjang dan buangan napas yang kuat di akhir kalimat.
"Betul, ada di pasal 43 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 dengan bunyi 'anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta laki-laki sebagai ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi atau alat bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan ayahnya. Itu perubahan itu, karena sebelumnya melanggar hak konstitusional anak sebagaimana yang tertulis di pasal 28B ayat (2) UUD 1945 tentang hak anak atas kelangsungan hidup dan perlindungan, dan pasal 28D ayat (1) UUD 1945 tentang pengakuan jaminan dan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Jadi, harus tes DNA dulu lah gitu. Baru bisa ajukan secara hukum, biar dapat haknya dari ayah biologisnya. Ini sih untuk wawasan dan pengetahuan aja, Bang," tambah om Vendra kemudian.
Begitu ya kakak beradik dari jaman dulu sampai jamanku? Tadi ayah dan om Vendra sudah ngegas saja, sekarang malah nyambung membicarakan hal yang menarik.
"Tapi bukan berarti kau harus ambil opsi itu, itu untuk wawasan dan pengetahuan karena kau anak laki-laki tertua." Ayah memfokuskan pandangannya padaku.
"Woih, ya jelas. Laki-laki yang lembut bertutur dan alim kelakuan ini, ya tak mungkin neko-neko." Aku menyombongkan diri dengan meninggikan kerah bajuku.
"Halah! T** kau! Lembut bertutur dari Hongkong! Kau ngomong banyak ngegas, lembut kalau ke perempuan aja." Om Vendra menyindirku dengan terang-terangan.
Eh, dari Hongkong kah aku ini?
"Tak kok, Om. Kemarin kan aku pendidikan di Singapore, bukan di Hongkong." Aku menjelaskan agar om Vendra tidak salah informasi.
Ayah menghela napas dan meraup wajahnya sendiri. "Salah aku sih sebetulnya. Tak apa, aku cinta maknya." Ayah memandangku dan geleng-geleng kepala.
Kok ayah malah meratap?
__ADS_1
...****************...