Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA98. Menghibur Bunga


__ADS_3

"Diperiksa dulu ya, Kak?" Perawat memasangkan beberapa alat di bagian tubuh Bunga. 


Karena bagian dadanya dibuka oleh perawat, aku langsung memunggunginya dan berjalan ke arah jendela. Itu kesukaanku, gratis dan terpampang jelas tanpa melirik sampai pusing. Tapi aku suami orang, aku harus bisa menjaga pandanganku. 


Bunga masih terisak, aku tahu ia terluka karena perceraian yang langsung menimpanya. Ia baru sah menjadi istri orang, tapi status itu langsung berubah menjadi janda. 


"Keluarga pasien…," sebut perawat tersebut. 


"Ya, Kak. Bagaimana?" Aku langsung berbalik badan kembali dan melangkah mendekat. 


"Nanti diperbolehkan makan pukul sebelas siang ya, Pak? Sepuluh menit lagi boleh minum, tapi jangan banyak-banyak. Kalau ada mual atau muntah, segera laporkan ya, Pak?" Perawat menyampaikan dengan ramah. 


"Baik, Kak." Aku tersenyum ramah padanya. 


Ia langsung mengangguk, kemudian berlalu pergi. Suara sepatunya, terdengar jelas kala kakinya melangkah. 


"Apa yang kau rasa, Bunga?" Aku memberi senyum menenangkan. 


Bunga menggeleng. "Aku pengen dipeluk aja, Bang." Ia tengah menggenggam kantong ziplock tersebut. 


Duh, merinding.


"Simpanlah dulu di dekat bantal kau." Aku menunjuk sisi kirinya. 


Ia mengangguk, kemudian ia meminta untuk dibantu duduk. Lalu, ia memelukku begitu erat. Ia menangis lepas, dengan bersembunyi di dadaku. Air matanya, sampai mengalir ke perutku. 


"Dek…." Aku mengusap punggungnya. 


"Biarin begini dulu, Bang."


Aku mengangguk. Aku hanya diam, aku tidak memiliki kata-kata mutiara atau kalimat penenang. Terlebih lagi, aku tidak tahu pasti permasalahan yang ada dalam dirinya. 


"Dia milih istrinya, Bang," akunya tiba-tiba. 


Aku tidak bertanya sedikitpun, aku pun tidak tahu ingin menimpali dengan hal apa. Aku tidak tahu permasalahan yang terjadi, karena pertanyaan penasaranku nanti malah membuatnya ingat kembali. 


"Aku tak tau dia punya istri, Bang. Aku berani sumpah, kalau aku tak tau fakta apapun." Tangisnya semakin menjadi. 


Bunga membuat perutku menjadi air terjun air matanya. Aku hanya bisa merespon dengan mengusap punggungnya, mencoba membuatnya tenang dengan perlakuan kecilku. 

__ADS_1


"Dia penjahat di ceritaku, tapi aku yang jahat untuk istrinya. Aku penghancur rumah tangganya, tapi dia yang menghancurkan masa depan aku." Suaranya setengah meraung. 


Beginikah yang dirasakan Ahyu juga? 


Wanita simpanan tidak selamanya salah, bisa jadi laki-lakinya yang b******n. Memang tak sedikit juga perempuannya yang sengaja masuk dalam rumah tangga, mereka tak mundur meski tahu laki-lakinya beristri. 


"Apa sebutan yang pantas untuk laki-laki begitu, Bang?" Bunga mendongak menatapku. 


Wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Ia terlihat kacau, dengan tatapan kecewa yang amat dalam. 


Aku ingin mengatakan dirinya yang gatal dan bodoh juga, karena mau saja termakan bujuk rayu laki-lakinya. Tapi pasti ia lebih kuat menangis lagi. Aku harus menjaga mulutku yang kadang kasar ini. 


"Tak ada sebutan, semoga setelah ini kau lebih beruntung." Aku tersenyum manis, dengan membingkai wajahnya dan menghapus air matanya. 


Cantik, putih dan indah. Sayangnya, keindahan ini jatuh oleh tipu daya laki-laki. 


"Abang dulu kenapa tak maksa aku untuk tetap tinggal?" Bila matanya bergoyang pelan, kemudian ia menunduk lagi dan memeluk tubuhku. 


Dari tangisnya, ia terdengar lebih tenang. Aku kadang tidak mengerti ketenangan pelukan, tapi aku pun sering seperti ini ketika tengah terpuruk. 


"Abang tak pernah maksa."


Eh, salah ngomong kali ya? Bunga langsung memandang wajahku dengan alis yang menyatu. Mungkin sekarang, pikirannya ke arah lain. 


Ia malah tertawa lepas, aku pun tersihir dengan tawanya. Aku tahu arah pikirannya, pasti terarah ke hal mesum sampai tawanya puas begitu. 


"Masa, Bang? Jadi, kalau sama kak Izza gimana?" Ia menahan tawanya. 


Aku meraup kepalanya, kemudian sedikit bergeser agar pelukannya di dadaku terlepas. Ngap sekali, tapi takut ia tersinggung dan menangis lebih kuat lagi. 


"Nifas! Nifas!" Aku benar-benar takut, karena sorot matanya terlihat seperti b**** sekali. Seperti perempuan nakal, yang sorot matanya bisa menggoda. 


Dia lupa kah jika aku kakaknya? Ia seolah seperti seorang p**** yang bertemu dengan pelanggannya. Tapi sedetik kemudian, ia malah tersenyum kuda. Sepertinya, memang mimik wajahnya begitu memikat deh. 


"Ck, Bang…. Aku dendam sama dia." Ia tertunduk sendu. 


Pelukannya terlepas, aku duduk di kursi terdekat dengan brankar ini. 


"Tak perlu dendam, semangat ya? Kau cantik, kau mahal, kau berharga." Aku tidak bisa menyanjung perempuan, itulah kelemahanku. 

__ADS_1


Jika bisa menyanjung perempuan, mungkin perempuanku sudah banyak. Mendekati wanita saja, aku tidak bisa mengawalinya. Aku akui, aku pernah memiliki keinginan untuk dekat dengan wanita lain. Tetapi, aku tidak tahu caranya pedekate dengan mulus. Toh, kasihan Izza juga. 


Ya, ke mana-mana aku selalu kasihan pada Izza. 


"Abang tak pantas ngomong gitu." Ia malah mentertawakanku kembali begitu lepas. 


Sialan! Aku jadi ikut tertawa terus dengannya. 


"Pantasnya ngomong gimana memang?" Aku ingin tahu penilaian orang lain terhadap diriku. 


"Makanya melek! Kau bodoh!" Bunga sampai bertolak pinggang. 


Aku mengeluarkan tawa lagi, aku tidak percaya diriku seperti yang Bunga contohkan. Perasaan, mulutku tidak amat tajam seperti itu. Perasaan, mulutku tidak amat sadis seperti itu. 


"Ya sip, tau sendiri lah. Abang takut salah ngomong aja." Aku tidak mau membuat lukanya semakin menganga. 


"Kak Izza pasti sabar betul ya? Hatinya pasti tabah tuh." Bunga mengusap-usap dagunya, ia seolah memiliki bulu dagu saja. 


"Kau jadi dokter aja, jadi peramal tuh tak tepat betul." Tanganku terulur, kemudian meraup wajahnya. 


Ia menoleh ke arahku? "Oh ya? Jadi gimana ramalan yang tepatnya." Matanya mekar indah. 


Cantik sekali ini bocah. Mana alisnya tebal lagi. Haduh, aku hanya bisa nyebut dalam hati. Baru kali ini aku ser-seran melihat wanita cantik, mungkin karena wajahnya begitu ekspresif. 


"Meleset jauh. Karena kau harus tau, dalam dunia pacaran tak ada permasalahan memikirkan gas habis. Tapi dalam rumah tangga, ada gas habis dan ada beras habis." Ini nasehat papa Ghifar yang sudah aku modifikasi. 


"Untungnya, aku tak sempat rumah tangga." Humoris juga, ia menularkan tawa lagi. 


Apa ini yang membuat laki-laki terlena dengan pesona dan pembawaannya? Ia perempuan muda yang asyik diajak berbicara, nyambung dalam obrolan dan juga enak dipandang. 


Aku yakin sih, ketika ia sendirian, ia akan menangis seperti tadi. Ia sekarang cukup tenang karena pelukan dan unek-unek yang sedikit dikeluarkan, ditambah karena ada temannya juga. 


Bunga tidak sekuat seperti kelihatannya kali ini.


"Duh, kalau jadi dimadu kau mual-mual tiap hari. Nanti dari dalam punya istrinya, masuk ke mulut kau dan barang kau. Terus, masuk lagi ke miliknya pas giliran tidur." Aku sedikit memahami bahwa ia suka hal mesum


"Abang!!!" Ia memukul lenganku. 


Aku tertawa lepas, sampai akhirnya ia menyentil jakunku. Tawaku langsung lenyap, digantikan dengan tawanya yang membahana. 

__ADS_1


Gila ini perempuan. 


...****************...


__ADS_2