
"Langsung keluar ya hasilnya, Bang?" Nahda tengah membaca hasil tesnya sendiri.
"Iya, coba lihat." Aku menukar hasil tesku dengan dia.
Kami sama-sama bersih, menurut tes darah dan air liur ini. Ya lagian, aku dengan siapa? Cuma dengan Izza saja, tidak pernah aku menggauli perempuan lain.
"Bersih ya, Abang?" Nahda masih fokus membaca hasil tesku, dengan menikmati minuman dingin kemasan kaleng.
"Ya iyalah! Kau pikir aku doyan jajan?" Pertanyaan yang terlontar darinya memang sederhana, tapi memancing rasa tersinggung dalam diriku.
"Jajan? Kan doyan jajan Abang ini, nunggu hasil tes aja udah cilok, cimol, batagor sama jelly drink." Nahda menyebutkan macam-macam makanan yang sudah masuk ke lambungku.
Aku menghela napas. "Iya, aku pun sering jajan di minimarket juga." Susah menjelaskan karena usianya masih begitu muda, barulah dia lulus SMA. Kuliah pun, belum ada satu bulan.
"Battle sama aku nanti ya?" Ia mengembalikan hasil tesku. Aku menyatukan hasil tes ini dan menyimpannya.
"Battle apa nih?" Sudah ngajak battle saja, padahal belum tahu tanggalnya.
"Battle jajan lah, aku pemakan segala." Ia memamerkan giginya.
Gigi veneer. Gigi itu putih bersih, bukan putih tulang pada umumnya. Entah apa alasannya memakai veneer, mungkin untuk nilai estetika saja.
"Aku pemakan daging hidup." Aku berdiri dari kursi tunggu ini.
"Sop kodok?" Nahda mengikutiku.
"Kau." Aku meliriknya dan terkekeh kecil.
"Ish! Masa aku mau dimasak? Jangan dong, Ayang." Nahda berjalan mendahului.
Hei, ke mana otaknya? Aku bukan ingin memasaknya juga, kan maksudnya itu daging hidup itu ya miliknya. Ia suka hal romantis karena tontonan film yang dikonsumsinya, tapi ternyata pemikirannya belum sampai di hal yang dewasa.
Apa tadi aku disebutnya? Ayang? Geli aku mendengarnya. Kelak nanti serumah, aku akan protes mengenai panggilan sayang itu. Kakekku saja yang romantis, memanggil istrinya dengan nama saja atau imbuhan 'dek'.
Nahda sudah menunggu di depan mobil pink yang terparkir. Ia melemparkan bekas minuman kaleng ke tong sampah, sebelum akhirnya memandangku yang berjalan menghampiri.
"Ngemie dulu, Bang. Aku lapar." Nahda ngeloyor masuk, setelah mobil sudah bisa dibuka.
Terlalu terus terang.
Jessie saja, aku tawari dulu untuk makan. Bisa-bisanya ia dengan santai minta makan dulu, mengaku juga bahwa dirinya lapar. Tidak ada gengsinya padaku rupanya.
"Ngemie di mana? Tak mau rumah makan padang atau sunda aja?" Aku teringat kenanganku membawa Jessie ke rumah makan sunda.
__ADS_1
Maksudnya, perempuan diajak makan di tempat yang nyaman begitu. Dari menunya saja, aku sudah feeling jika Nahda ingin ngemie di kedai makan ruko biasa.
"Kedai Melayu, enak tau mie rebusnya." Nahda menaikturunkan alisnya dengan tersenyum penuh minat.
Sepertinya ini bocah sudah membayangkan bagaimana enaknya mie rebus tersebut. Tapi benar kan tebakanku, ia hanya ingin makan di kedai biasa.
"Yakin tak mau di rumah makan? Abang punya uang, Dek." Aku menepuk saku celanaku.
"Ya aku pun mampu bayar sendiri kali! Dikiranya papa aku orang susah?!"
Aih, kaget aku mendengar sahutannya.
"Nih, tengok. Saldo M-banking aku." Ia menunjukkan layar ponselnya.
Wuih, anak baru menginjak perguruan tinggi sudah memiliki sembilan digit angka. Uangnya ratusan juta, tapi apa itu uang sakunya?
"Punya gadun ya kau?" Kami masih di parkiran klinik laboratorium.
"Apa itu? Gadun? Yang untuk buat roti kah?"
Benarkah hidupnya hanya untuk menonton film romantis saja? Istilah anak muda, ia tidak tahu kah?
"Bukan! Ish! Kau pura-pura bodoh ya?!" Mudah sekali emosiku terpancing karenanya.
Ada pula mahasiswi seperti ini eh?
"Udahlah! Udahlah! Panas betul ini kepala, pusing karena kau." Aku memijat pelipisku, kemudian menjalankan mobil ini dengan perlahan.
Haru, tawa, canda, tapi nyatanya ia membawa emosi juga. Aduh, bagaimana jika seumur hidup aku harus bersamanya?
"Kedainya dekat sekolah Cani, Bang." Nahda menunjuk arah jalan raya sebelah kiri.
"Oke." Aku tahu jalannya jika begitu.
Kedai dalam ruko seperti biasa, mungkin biasa disebut warteg. Tapi tidak ada oreg tempe, adanya golongan mie-miean dan juga makanan cepat saji lainnya. Namun, tentu tidak ada burger juga.
Setelah sampai, Nahda langsung memesan dua mie rebus dengan topping terserah dia. Dia tidak menawariku apapun, tidak bertanya apapun juga. Seperti yang iya paling tahu seleraku saja.
Bubaran anak sekolah, itu adalah emblem sekolah Cani. Cani pun tidak aku jemput juga. Antara dua kemungkinan, ia ditunggu Ra di depan pagar untuk pulang bersama dengan taksi online. Atau, ia dijemput oleh ayah.
Aku terus memperhatikan anak SMA yang berjalan bergerombol, sampai makanan kami datang dan akhirnya habis juga. Ya tontonan kami hanya anak SMA yang baru keluar dari sekolahnya.
Sampai sedikit sepi, beberapa motor siswa berendeng-rendeng keluar perlahan. Jalanan mendadak macet, dengan bunyi klakson bersahutan.
__ADS_1
Namun, aku segera bangkit karena menemukan kejanggalan dalam keramaian tersebut. Ada adikku yang jalan sendirian, dengan motor besar yang membuntutinya.
Ini tidak bisa dibiarkan, aku langsung bangkit meski mulutku masih mengunyah mie dengan banyak sawi hijau ini. Bahkan aku belum sempat minum, aku terburu-buru menyelamatkan adikku yang kemungkinan diganggu laki-laki beremblem sama seperti seragamnya, tapi menggunakan motor besar tersebut.
Aku menyetop kendaraan, memaksa menyebrang dengan tangan yang aku pasang untuk menjadi rambu-rambu dadakan. Bertepatan laki-laki tersebut berhasil menghadang Cani, aku langsung menempatkan diri di samping Cani dan merangkul Cani.
Motor ini motor yang sama, saat aku menjemput Cani dan dirinya membunyikan klakson. Jika tidak salah, laki-laki ini adalah ketua kelasnya dan teman satu kelasnya juga.
"Mau apa?!" Aku langsung memandang tajam laki-laki yang hanya terlihat matanya saja itu, karena ia menggunakan helm full face.
Dasar pengecut!
Bukannya menjawab, ia malah mengambil ancang-ancang untuk menjalankan motornya kembali. Jika cerita Cani tentang laki-laki ini cukup keterlaluan, aku akan datang ke sekolah dan berbicara dengan wali kelas mereka untuk menegur ketua kelas tengil itu. Adikku bisa-bisa tidak nyaman bersekolah di situ nantinya.
"Abang?" Cani mendongak melihatku.
"Mau ke mana kau?!" Aku meraup wajahnya.
Wajah ibuku ada padanya.
"Mau jajan bakso di situ." Cani menunjuk kedai bakso yang berjarak lima puluh meter dari tempat kami.
"Kau tak pesan taksi? Ojek?" Aku memandang wajahnya yang polosnya satu dua dengan Nahda.
"Belum, mau makan bakso dulu. Abang jemput aku? Aku udah WA, jemput setengah jam lagi, aku mau makan bakso dulu." Cani menunjukkan isi pesannya di ponsel yang ia genggam terus itu.
"Tuh."
Benar, ada chatnya untukku yang belum terbaca.
"Makan mie aja, Abang lagi makan di situ." Aku menunjukkan kedai di mana masih terdapat Nahda di dalamnya.
"Abang bawa mobil?" Cani gagal fokus rupanya.
Ia sepertinya tidak melihat keberadaan Nahda, malah melihat mobil yang berwarna mencolok itu.
"Iya, ayo ke sana. Ada Nahda di dalam, lagi makan sama Abang." Aku celingukan untuk membawa Cani menyebrang.
"Hm? Nahda?" Alis Cani menyatu.
"Kenapa?" Aku merasa dirinya merasa heran.
Ada apa dengan Nahda memangnya?
__ADS_1
...****************...