
"Rombongan tuh, Bang." Papa Ghifar menunjuk ke arah jalan.
"Wah, iya. Aku ke rumah, Pah." Aku kenal dengan mobil itu. Mobil milik abu Zuhdi pun berada di belakang mobil tersebut.
Papa Ghifar langsung membantuku mendorong kursi roda ini. Pemandangan ayah, biyung dan yang lain keluar mobil membuatku senang sekali.
Kasihan sekali, kak Hindun pun harus menggunakan kursi roda. Luka ini ternyata butuh pemulihan.
"Sama Ayah." Cala merengek dengan celingukan.
Ia menggunakan bandana perban.
"Ayo, Sayang." Ayah menghampiri Cala, kemudian menggendong anak yang paling mirip dengannya itu.
Mereka bahu membahu membawa kursi roda kak Hindun naik ke teras rumah, kemudian berganti membantuku. Padahal aku tidak minta untuk masuk, mereka main langsung angkat saja.
"Biyung…." Ceysa keluar dari kamar Izza dan memeluk biyung langsung.
"Ada di sini, Dek? Dari kapan?" Biyung mengusap punggung Ceysa, kemudian pelukan mereka terlepas.
"Baru pagi tadi, Biyung." Ceysa langsung menyapa yang lain.
"Mas, aku bersih-bersih dulu." Biyung pergi dsir ruang tamu ini.
"Panggil bibi, Dek. Minta tolong siapkan kamar untuk Kak Hindun." Ayah duduk di sofa dengan memangku Cala.
"Iya, Yah." Ceysa berjalan ke ruangan lain.
Semua orang beristirahat, dengan aku yang dibantu untuk masuk ke kamar. Ada Dayyan pulas di tengah-tengah ranjang kami.
Aku berpindah sendiri dari kursi roda ke ranjang. Izza tertidur, dengan satu tangannya memeluk Dayyan. Matanya basah, dengan rona merah di wajahnya. Izza habis menangis.
Jika siklusnya terus begini, akan bagaimana?
Aku pun merasa mengantuk juga, apalagi karena semalam aku baru tidur dini hari. Aroma Izza sudah menjadi kenyamanan untuk obat tidur alamiku, aku begitu mudah tertidur jika sudah menyesapi aroma khasnya. Tapi bukan bau ketiak, Izza tidak bau sama sekali.
Hingga hari ketiga setelah musibah kebakaran itu, aku dipanggil ayah ke ruangannya. Aku sudah bisa berjalan dengan kaki sendiri, meski begitu lambat seperti siput.
"Pakai balsem tuh, Canda."
Aku tidak enak hati sendiri, mengganggu waktu mereka. Aku tidak tahu, jika ada biyung di sini. Ayah tengah rebahan di sofa kama*****, dengan biyung yang tengah memijat pelipis ayah.
__ADS_1
Salah aku juga yang tidak mengetuk pintu dulu, aku benar-benar tidak tahu jika biyung ada di dalam ruangan kerja ayah. Soalnya tadi aku kira biyung di dapur bersama Izza, Izza tengah sibuk di dapur soalnya.
"Maaf ganggu, Yah." Aku menunduk menatap lantai.
"Tak apa, sini duduk."
Aku baru tahu, jika sofa kama***** bisa digunakan untuk memijat seperti itu.
"Gantian dong, Mas." Biyung meregangkan tangannya, saat aku baru duduk di sofa terdekat dengan mereka.
"Nanti malam."
Ambigu sekali, aku yang jadinya malu.
"Ya udah keluar aja kalau capek sih. Order makanan, Canda. Belikan sate ayam untuk makan nanti, lagi bosen masakan biasa." Ayah bangkit dari tempat itu.
Aku tidak mengerti, kenapa sofa yang haram dilihat umum itu ada di ruang kerja? Kenapa tidak di kamar disimpannya?
"Vano buron. Tapi tak usah dipikirkan dan jangan dibuat repot, om Vendra udah urus." Ayah duduk di hadapanku. Sedangkan, biyung keluar dari ruangan ini dengan aroma balsem yang menguar.
"Kok bisa? Dia bilang besok setelah pemeriksaan pertama itu mau jemput Ahyu." Aku kaget, apalagi aku yang menjadi penjamin dirinya.
"Maaf ya, Yah? Belum bisa bantu secara ekonomi." Aku malah menyusahkannya sampai saat ini.
"Tak apa, urusin aja rumah tangga kau. Bawalah istri kau ke tempat yang istri kau mau dulu, biar tak mudah sakit begitu. Pasti ada masalah yang dia pendam itu. Masa kurang darah terus, padahal dia tak suka begadang kan?"
Menyerempet ke Izza nih.
"Iya, Yah." Aku khawatir ayah menebak tentang Izza.
"Padahal biyung tak galak, coba kalau mertuanya kek nenek Dinda?" Ayah terkekek kecil.
"Maksudnya gimana, Yah?" Aku merasa ayah seperti mengetahui sesuatu.
"Ratu tak bisa disatukan dalam satu rumah, Ayah mikirin terus ucapan papa kau itu. Ada benarnya juga, meski nampak di mata baik-baik aja. Waktu di rumah nenek kau, kami tinggal bersama, kami meratukan nenek Dinda dan merajakan kakek Adi. Anak dan menantu itu patuh, menyembah dan mengagungkan pemilik rumah dengan ikhlas. Ibaratnya tuh begitu." Ayah mengusap-usap dagunya sendiri.
"Memang Izza gimana, Yah?" Aku pura-pura polos, padahal aku yang memiliki masalah sendiri.
"Ayah bukan merasa kehilangan sosok anak, itu konsekuensi. Tapi ayah merasa kehilangan sosok Chandra. Setelah nikah, kau kek bukan diri kau. Sebenarnya, apa masalahnya yang sampai buat kau begitu? Coba cerita." Aku tahu kubu orang tuaku banyak dan bisa saja memusuhi Izza.
"Mungkin perasaan Ayah aja." Aku tertawa sumbang.
__ADS_1
"Ya makanya untuk meyakinkan perasaan Ayah sendiri, Ayah persilahkan kau keluar dengan Izza. Kemarin Ayah bukannya melarang, tapi ingin membimbing kau." Kalimat ayah terjeda-jeda.
"Ya udah nanti aku ajak Izza pindah sementara. Tapi keknya itu perasaan Ayah aja deh, aku kan tetap jadi aku." Aku tersenyum lebar dengan menarik kerah bajuku sekilas.
"Ya udah sekarang aja. Kalau rumah jadi, silahkan tempati. Rumah tetap jadi empat, dengan bentuk bangunan yang berbeda dari sebelumnya biar Cala dan Cali tak trauma lagi." Ayah menunjukkan selembar kertas besar yang sudah memiliki gambar.
"Siapa buat?" Aku memperhatikan bentuk bangunan dalam gambar.
"Pak cek Gibran. Abu tak bisa gambar, tapi perhitungannya matang. Makanya mereka bisa jadi satu kesatuan." Ayah memegangi ujung-ujungnya kertas tersebut.
"Oh ya? Rumah aku lantai dua kah ini?" Aku melihat ada perbedaan dalam gambar ini.
"Betul, terus rumah kau lebih geser dekat dengan rumah Ayah. Nanti pintu halaman sampingnya ada di halaman samping betulan, jadi tak bisa untuk akses keluar masuk orang bebas. Ini lebih aman aja sih, meski Ayah nanti lebih sulit untuk tengok Jasmine dan Ceysa." Ayah menunjuk sebuah bidang yang dituliskan bahwa itu sebuah pagar tunggal.
"Kan bisa dari akses itu juga. Kenapa rumah aku lebih geser dekat Ayah?" Aku memandang wajah ayah sekilas, kemudian kembali ke gambar itu lagi.
"Biar besar, anak kau kan banyak." Ayah terkekeh kecil. "Tapi Ayah tak masalah anak-anak kau tinggal di rumah Ayah, biar biyung ada temannya. Kasian kan biyung sering sendirian, kalau Ayah kerja?"
Lawaknya orang tua ini.
"Ayah kerja kan paling cek, ambil laporan. Udah kek butuh aja Ayah ini." Aku tertawa geli.
"Kan kalau umur tak tau."
Tawaku lenyap seketika.
"Jangan ngomong gitu lah, Yah." Aku bertopang dagu.
"Oke, gih pindahan."
Jujur, aku merasa ada hal lain yang papa Ghifar sampaikan ke ayah. Tidak mungkin kalimat sesederhana itu bisa membuat ayah paham, sedangkan saat meminta izin untuk camping dulu saja sampai kasarnya harus membuat proposal dan pengajuan dulu.
"Ayah serius? Aku siap-siap ya?" Aku bangkit dari dudukku.
Ayah mengangguk. "Ya, silahkan. Apa-apa di musyawarahkan, jangan ambil keputusan sendiri."
Pesan dari ayah membuat langkah kakiku berhenti. Pesan itu sangat dalam menurutku, pesan itu seolah ayah tahu tentang semua permasalahan rumah tanggaku.
Bagaimana menurut kalian?
...****************...
__ADS_1