Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA261. Ngopi sejenak


__ADS_3

"Setelah dibagi, aku ngerasa itu tak cukup untuk pendidikan aku dan penuhi kebutuhan Bunga. Ibaratnya, aku ini dari nol, Bang. Jadi tuh gini, Bang. Aku nih dapat segelondong pabrik itu, sisa tabungan hasil pabrik, itu untuk kakak perempuan aku. Jadi kakak aku, dia tak dapat pabrik. Bang Wildan sekarang pun lagi putar otak untuk buka usaha baru, aku yang lanjutkan pabrik pupuk orang tua aku. Sekarang aku ini persiapan ini itu untuk pernikahan, bulan depan aku ke Bekasi sama ayah Givan, untuk nata beberapa orang yang ditempatkan di sana, sekaligus aku harus belajar juga. Ayah Givan juga ternyata punya pabrik pupuk ya, Bang?" Hema menyenggol lenganku dengan sikunya. 


"Ohh, iya ada di Cirebon. Pabrik kau sekecil apa? Masa iya tak cukup untuk pendidikan kau?" Aku terus memperhatikannya dari samping. 


"Biar aku fokus pembiayaan, Bang. Kata ayah Ken, rumah yang di Bekasi dijual aja, suruh dibagi kembali. Terang aja, rumah itu penuh kenangan. Meskipun itu ada hak kakak aku, kalau udah stabil nanti, aku kepengen bayarin bayarin rumah yang haknya kakak aku itu. Jadi rumah yang di Bekasi, murni milik aku. Pengen aku boyong Bunga di sana, sambil aku belajar tentang pabrik itu lewat orang ayah Givan yang ditempatkan di sana. Tapi tak boleh sama ayah Ken, ayah Ken belum percaya seratus persen sama aku. Takutnya, setelah rumah tangga malah aku jadi pecandu kembali dan Bunga kebawa jeleknya aku. Gila s**s suami istri sih tak masalah kata ayah Ken, tapi takutnya kita salah pergaulan dan malah masuk lebih dalam ke jalan yang salah. Ibaratnya, aku sama Bunga ini bakal jadi satu paket. Salah satu di antara kami ada yang salah jalan, pasti salah satunya bakal kena juga kata ayah Ken."


Intinya, orang tua ingin mengawasi. Ya bagaimana lagi, mereka memang masih sama-sama muda. Aku yang dapat kepercayaan penuh saja, tetap kurang dipercaya saat akan membawa Nahda lebih jauh. 


"Sabar ya, Hem. Jangankan kau, aku aja belum dapat kepercayaan penuh." Aku menepuk pundaknya. 


"Aku lebih sadar diri sih, Bang. Nyadarin keadaan diri sendiri gimana, wajar ayah mertua tak percaya. Dapat ngawinin anaknya pun, udah syukur alhamdulillah." 


Apa aku harus banyak sadar diri juga? Entah memang aku yang baperan, atau aku yang memang dasarnya tersinggungan. 


"Ayo, Bang. Kita ke rumah mebel dulu sebentar, buat lihat-lihat aja. Yang kira-kira sepakat berapa puluh juta gitu, Bang. Tapi jangan sampai lima puluh juta, dana aku untuk yang lain juga soalnya." Hema bangkit lebih dulu. 


"Kalau masalah harga, aku tanya ke orang ayah. Aku temani lihat-lihat aja, bentar aku bilang ke Nahda dulu." Aku bangkit dan bergerak masuk ke dalam rumah. 


Nahda biasa makan lesehan di ruang TV, tapi ia tidak ada di situ. Aku bergerak ke dapur, karena aku pikir ia makan di meja bar. Namun, tidak ada juga. 


"Nahda…." seruku dengan berjalan ke arah kamar kami. 


"Ya, Abang." Ia menyahut, saat aku membuka pintu kamar. 


Benar ada, ia tengah duduk di lantai dan bersandar di ranjang. Di depannya sepiring makanan dan seplastik kerupuk, laptopnya menyala, ia tengah menonton film di laptopnya. Ia menyukai segala film, tidak mematok pada drama Korea saja. 


"Abang keluar ya sama Hema, dia minta temenin ke rumah mebel." Aku mendekatinya. 

__ADS_1


Kasihan sekali, ia hanya makan pakai kerupuk. 


"Dek, ada telur kan? Katanya hari ini masaknya goreng telur aja, Adek tak mau buat sendiri kah?" Aku lebih dekat melihat isi piringnya. Aku berjongkok di dekatnya, dengan memperhatikan isi piring Nahda. 


"Pengennya sama yang kriuk ini, Bang." Ia tegang melihat tontonannya. 


Hm, film horor. 


"Abang sama Hema ke rumah mebel ya?" Aku mengulangi kembali. 


"Heem, Bang. Ati-ati ya?" Ia merengkuh leherku, kemudian mencium pipiku. 


Anak orang kaya, makan pakai kerupuk saja. Ini heran nih. 


"Ya, Dek. Kalau Abang sampai malam, Adek ke rumah biyung aja kalau tak berani." Aku berdiri kembali. 


Tapi selama ini, ia selalu berani sih. Aku beberapa kali keluar malam, atau keluar sampai malam, Nahda tetap berada di rumah. 


Aku dan Hema pergi dengan menggunakan kendaraan Hema. Shocknya hati, karena melihat bungkus bekas alat kontrasepsi di mobilnya ini. Bekas bungkusnya saja, bukan karet bekas pakaiannya. 


Ish, berarti mereka pun pernah main di mobil. Hadeh, gila sekali memang. Hema yang pernah jujur, saat dulu dirinya tidak terlampau gencar dengan s**s. Setelah dengan Bunga, ia malah beralih candu akan s**s. Bukan dengan obat-obatan terlarang lagi, atau mariyuana yang dimaksud. 


Sesampainya di tempat, aku mengajak Hema berkenalan dengan orang ayah. Kami mulai memilih barang, dengan langsung menanyakan harga. Untuk laki-laki, memilih seperti ini tidak banyak pertimbangan. Hema langsung deal dengan barang pilihannya, proses pembayaran pun langsung dilakukan. 


"Ngopi dulu sih, Bang." Hema tidak langsung mengajakku pulang, tapi malah lebih jauh keluar mencari coffee shop lepas Maghrib ini. 


Aku dan Hema numpang sholat di mushola kecil coffee shop tersebut, karena kami belum sempat sholat Maghrib tadi. Barulah kami menikmati kopi, setelah melakukan ibadah. 

__ADS_1


"Jessie aktif ngeDJ lagi loh, Bang." Hema menyesap rokoknya. 


"Di Jakarta?" tanyaku kemudian. 


"Di Kota Padang, Bang. Club Juliet namanya, dia post di IG dia." Hema memainkan ponselnya. 


"Tuh." Ia menunjukkan sebuah foto Jessie dengan pakaian terbuka. 


Benar, Jessie membagikan lokasinya saat ia berfoto. Pakaiannya seksi sekali, seperti model baju Arlida Putri yang menyanyikan pantun janda. Tapi Jessie dengan model tanktop saja, bukan setelan seperti milik penyanyi tersebut. 


"Orangnya sih jauh, tapi gangguin Nahda aja. Nahda akhir-akhir ini lagi sensitif, apa-apa manyun." Aku mengambil bungkus rokok Hema yang tergeletak di dekat gelas kopiku. 


"Jangankan Nahda, Bunga sama tante Ria pun diganggu kata Bunga. Dua-duanya pada blok apapun yang ada sangkut pautnya sama Jessie. Keknya dia tipe orang yang berhenti sendiri, kalau memang udah bosen tuh, Bang." Hema menyeruput kopinya. 


"Mungkin begitu, aku nanti pun blok semua deh. Aku lama sih tak buka-buka sosmed, sibuk ini itu aja." Aku menikmati rokok milik Hema, yang kebetulan satu merek denganku. 


"Pasti ada tuh DM dari dia, Bang." Hema terkekeh kecil. 


Iyakah? Sejak menikah, aku seperti tidak ada waktu bermain ponsel. Aku terlalu menikmati kehidupan baru ini. 


"Coba cek aja, soalnya aku sama om Gavin pun dapat DM dari dia," ungkapnya kemudian. 


Benarkah? Hema yang memang tidak memiliki hubungan khusus saja, sempat di DM oleh Jessie? Entah jika pakcik Gavin sih, karena sebelumnya Jessie sempat aktif mengirim pesan chat pada pakcik Gavin. 


"Coba aku cek dulu." Memang ada beberapa notifikasi DM, tapi aku memang tidak pernah menghiraukan. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2