
Aku mendekati Nahda, yang tengah bermain ponsel di ranjang. Ia bersandar di kepala ranjang, dengan pandangan yang fokus pada ponselnya. Aku mendekatinya, duduk di sampingnya dan merengkuh pinggangnya dengan mesra. Aku penasaran dengan fokusnya sekarang, aku sengaja menempatkan daguku di bahu kanannya.
Platform belanja online tengah menjadi mainannya, baju tidur seksi menjadi pilihan menariknya. Aku tersenyum samar, karena cukup geli sendiri melihat apa yang menjadi ketertarikan istriku.
"Warna apa, Bang?" Ia memilih sebuah model dress transparan yang begitu mini.
"Merah, seksi. Hitam, menarik." Dua pilihan aku berikan untuknya.
Tidak salah lagi, ia langsung membeli satu model dress tersebut dalam dua warna pilihanku itu. Proses yang sangat cepat, pembayaran lewat debit ia lakukan dengan mudah.
Coba ibuku mengerti, maka akan habis isi saldo kartu debitnya.
"Aku keknya butuh yang alat bisa masak sendiri itu, Bang." Ia mengerikan sesuatu di alat pencarian platform belanja online tersebut.
"Yang dari M**o itu ya?" Aku pernah melihat iklannya.
"Heem, Abang kan suka konsep smart home." Ia menoleh dan mengecup pipiku sekilas.
Manisnya pengantin baru.
"Kalau itu, namanya smart kitchen. Smart home itu mencangkup kunci pintu rumah, TV dan speaker, kamera keamanan, gorden, suhu ruangan, lampu, peralatan yang memang bisa tersambung menggunakan perangkat bluetooth, juga irigasi. Memang itu alat masak bisa diset pakai HP? Kan tak kan?" Aku menarik pinggangnya, sehingga tubuhnya lebih menempel pada dada bidangku.
"Ya itulah, boleh kah? Masih ada kok beberapa juta, dari uang kondangan itu." Senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.
"Ya udah terserah." Jika dilarang, ia akan terus membujukku.
"Aku sih tak bakal ngambek kalau Abang bilang terserah, makin happy aku milih barang."
Aku hanya bisa terkekeh, ya bagaimana lagi? Yang Kuasa menjodohkan aku dengannya.
"Boleh Abang tanya-tanya hal lain, sedikit sensitif mungkin." Aku berbisik ke telinganya.
"Apa? Tentang aku? Apa aku bau badan?" Ia langsung panik, sampai pelukanku terlepas.
"Tak, Adek biasa mandi minyak wangi kan?" Aku sampai pilek, jika parfumnya baru disemprotkan.
Ia penyuka parfum.
"Terus? Apa nih?" Ia kembali santai, aku pun memeluknya kembali dan menaruh daguku ke pundaknya kembali.
"Jessie…. Dia ada ganggu?" tanyaku hati-hati.
__ADS_1
"Ada, kenapa tuh?" Ia melakukan transaksi pembelian alat masak tersebut di official store produk tersebut.
Semudah itu ia melakukannya.
"Ganggu apa? Bisa cerita ke Abang kan?" Aku melepaskannya, karena ia menggeliatkan tubuhnya.
"Bisa, tapi bayar tiga ratus ribu dulu." Ia langsung menengadahkan tangannya.
Aku mengernyitkan dahulu. "Untuk apa?" Aku menatap telapak tangan kanannya itu.
"Ya bayar aja dulu." Ia tersenyum penuh arti.
Okelah, cuma tiga ratus ribu. Pengeluaran sekali ngopi di tempat yang enakan.
Aku menarik dompetku yang masih berada di saku belakang celana jeansku, kebetulan aku masih mengenakan celana jeans. Namun, kaosku sudah lenyap saat pendingin ruangan belum merata tadi.
"Nih, tiga ratus." Aku memberinya tiga lembar uang merah.
"Oke, terima kasih." Ia melipat dan menaruhnya di dalam softcase ponselnya.
"Lah, terus? Untuk apa uangnya? Ceritanya gimana?" Aku bingung di sini.
Hm, aku tertipu investasi bodong. Aku kira, Jessie minta tebusan tiga ratus ribu pada Nahda.
"Shock gitu." Nahda masih tertawa renyah, ia mengusap-usap kedua pipiku.
"Yang jelas lah." Aku mengincar lehernya dan memberikan ciuman ringan.
Nah itulah, langsung memerah wajah istriku.
"Iya, iya. Ya Abangnya jangan cium-cium dulu, aku tak konsen." Nahda salah tingkah.
"Iya, gimana?" Aku bersandar nyaman dan mengganjal pinggangku dengan sebuah bantal.
"Ya katanya Abang pernah ngajak dia ngamer, ke hotel begitu. Katanya ke AYO kalau tak salah." Bola matanya berputar ke atas, seperti mengingat sesuatu.
OYO, di mulut istriku kau berubah menjadi AYO.
"OYO, Dek. Terus gimana lagi?" Aku belum ingin menjelaskan, sampai ia benar-benar selesai bercerita.
"Oh ya?"
__ADS_1
Aku mengangguk, aku paham dan wajar ia keliru perihal OYO. Bukan masalah juga.
"Ya ngajakin makan ke sini, ke sana, ke anu. Aku dosa tak ya, aku kok iri? Aku bilang ke mama, ma Bang Chandra tak pernah ajak aku makan di luar kek sama Jessie itu. Kata mama, Jessie pun pasti iri karena tak pernah diminta untuk masakin makanan untuk suami kau. Tapi yang ada di pikiran aku, aku capek juga sih masakin untuk Abang. Terus dengar ucapan mama, aku belum juga tenang. Aku bilang, aku yakin Bang Chandra mampu secara biaya, apa aku ini jelek. Mama langsung perhatikan aku kan, katanya gini…. Biarkan, toh anak-anaknya bakal lahir dari perempuan jelek kek kau."
Dosa tidak ya, kok aku ketawa? Polos sekali dirinya. Dia capek memasak untukku katanya? Bukannya marah mendengar fakta sebenarnya yang dirinya rasakan, tapi aku ingin terus tertawa.
"Kan waktu itu makan rawon sih." Aku mengingatkan kembali secuil kenangan kami.
"Ya kan tak lebih mahal dari tempat makan yang Abang datangi dengan perempuan lain." Ia memukul dadaku pelan, bibirnya langsung manyun dan matanya melirik sekilas.
"Dia pun tak lebih mahal dari Adek." Aku mengedikkan bahuku ringan.
"Lagian, kenapa tak iri ke kak Izza itu? Kita kenal sepuluh tahun, orang tua support, tiap lebaran, dia dapat jatah dari sini. Setiap Abang datang dari Singapore, kita belanja banyak barang dan makan di luar." Aku berusaha membuka pemikirannya.
"Yaaa, kan? Almarhumah kan istri Abang dulunya."
Aku merasa jawaban Nahda kurang tepat, otaknya masih belum memahami ini.
"Jessie pun sama, cuma perempuan yang pernah dekat aja dulunya. Sekarangnya???" Aku menunggu jawabannya.
"Ya sekarangnya…. Dia udah tak dekat."
Tabahkanlah Hayanto ini.
"Sekarangnya kan Adek yang jadi istri Abang, yang dekat sama Abang, yang tiap hari sama Abang. Tinggal bilang lah kalau mau makan di luar, tak usah minta uang tiga ratus ribu karena iri hati itu." Aku mencolek dadanya.
Ia tertawa lepas, kemudian menyembunyikan wajahnya ke dadaku. Sepertinya benar ucapanku itu, uang tiga ratus ribu itu perkara irinya.
"Biasanya pun bilang ingin ini itu, segala iri pula." Aku mengusap kepalanya lembut.
OYO tidak ia perkarakan, tapi tentang makan di luar yang ia persoalkan. Apa ia tidak berpikir, bahwa bisa saja batangku bekas Jessie? Namun, sepertinya irinya hanya mendominasi tentang tempatnya makan.
"Lagian, ngapain harus iri? Adek yang Abang penuhi kebutuhan hidupnya, batinnya, agamanya, segalanya. Dosa Adek, jadi beban akhirat Abang. Dia bagaimana? Kebutuhan hidupnya ya masalahnya, akhiratnya pun urusannya sendiri. Jelas Adek lebih istimewa lah, ketimbang dia yang tak sampai Abang nikahin itu." Aku menunduk dan membingkai wajahnya.
Kok ser-seran setiap memandangnya dengan dekat dan ia diam saja begini?
"Tak tau, mungkin aku masak aja jadi capek."
Jawabannya membuatku tergelak.
...****************...
__ADS_1