
"Hubungan ranjang, aku lakuin setelah Isya itu. Maksud hati, biar Izza tidur pun tak akan aku ganggu lagi. Sekarang dia marah ke mana-mana, karena aku nonton adik aku main futsal. Aku udah ngajak dia, Pak Cek. Ayo kalau mau ikut, aku jemput. Dia tak mau, tapi setelah pulangnya itu dia marah besar. Dia bilang aku ini apa-apa selalu orang tua, dia bilang aku ini berat ke orang tua dan lainnya. Aku kan melibatkan dia, bukan aku yang keluyuran sendiri. Padahal aku ke orang tua, apalagi aku mainnya. Sekarang sih, aku mau minta tolong sama Pak Cek. Aku minta tolong nasehati Izza seminggu ke depan, tolong kasih dia pengertian dan pemahaman tentang berumah tangga. Karena barangkali, dia tak pernah dapat nasehat tentang kehidupan berumah tangga. Bagaimana dia harus bersikap ke mertua, ke ipar dan ke keluarga suami. Aku nitipin Izza ke Pak Cek seminggu ini, karena seminggu ke depan aku tak bisa pulang dulu, Pak Cek. Aku takut betul mulut aku ini lancang, padahal pernikahan kami baru seumur jagung." Aku sampai menangkupkan tanganku di depan wajahku.
"Iya, iya. Pak Cek ngerti. Pak Cek mau tanya, selama seminggu itu tujuan kau di mana? Biar kalau ada apa-apa dengan Izza, Pak Cek gampang cari kau. Ini ngomong buruk dulu, barangkali dia jatuh sakit atau gimana. Soalnya, langganan dari dulu dia kalau dimarahin orang tua itu pingsan dan kadang sakit gitu."
Loh? Memang dasarnya ya ternyata?
"Aku di rumah ayah, Pak Cek. Aku tak bakal kabur, aku pun tak akan lepas tanggung jawab. Aku bakal tetap kasih Izza nafkah lahir selama seminggu itu." Mungkin pak cek berpikir aku pergi ke luar negeri selama menitipkan Izza pada dirinya.
"Oh, iya. Pak Cek paham sekarang. Tapi masih bisa diperbaiki kan? Yang artinya, kau pergi untuk cari saran, bukan untuk memutuskan?" Beliau menunjukku.
"Aku niat untuk perbaiki, bukan untuk ninggalin," jawabku kemudian.
"Oke." Pak cek manggut-manggut. "Izza Pak Cek terima dan Pak Cek bakal jaga dia sampai kau jemput kembali. Tapi kau janji jemput lagi ya? Izza bakal tinggal di sini sampai kau jemput, Pak Cek tak akan biarkan dia tinggal sendiri di rumah. Biar Pak Cek ngerti di mana kekeliruannya." Beliau berkata amat perlahan.
"Iya, Pak Cek. Makasih, Pak Cek." Aku tersenyum pada beliau.
"Pak Cek suka sikap kau, Chandra. Kau tak main ambil keputusan aja. Semoga kau tetap berpikir matang seterusnya."
Aku senang jika keluarga Izza mengerti maksud baikku.
"Siap, Pak Cek. Sebelum makin malam, aku pamit dulu ya, Pak Cek?" Aku bangkit dan langsung mencium tangan orang tua di rumah ini.
"Jaga diri ya, Za?" Aku menyempatkan diri untuk mencium keningnya.
"Mari, Pak Cek. Assalamu'alaikum." Aku keluar dari rumah ini.
Sedih sekali rumah tanggaku. Kurang apa aku sebagai kepala keluarga?
Aku naik ojek online, aku sengaja meninggalkan mobil Izza agar keluarga Izza tidak berpikir aku membawa kabur mobil Izza. Khawatirnya, ada saja yang berpikir buruk seperti itu.
"Ada yang ketinggalan kah, Bang?" tanya Zio, setelah baru saja aku turun dari ojek online. Kebetulan sekali, pagar rumah ini terbuka lebar.
"Iya." Aku tersenyum dan melangkah menuju ke rumah ayah.
__ADS_1
Bulan depan Zio menikah. Mulai dari sekarang, ia tengah sibuk ini itu. Zio sudah menginginkan untuk menunda karena musibah kemarin, tapi ayah tetap ingin Zio melanjutkan saja.
Sepi sekali, padahal tadi saat aku pulang mereka tengah berebut roti bakar.
"Yah…. Ayah…. Biyung." Aku mulai mencari keberadaan mereka.
"Hmm, di kamar." Sahutan itu dari biyung.
Aku langsung membuka pintu kamar, kemudian melangkah masuk mengganggu mereka yang sudah berada di ranjang. Ayah tengah berbaring menyamping menghadap biyung, sedangkan biyung tengah memainkan ponsel.
"Ayah, Biyung." Aku merangkak naik ke ranjang dan menjadi sekat untuk mereka.
"Ya ampun! Ganggu aja! Apa coba?!" Ayah menggeser posisinya.
"Belum pulang kah? Perasaan tadi udah pamit dan udah salim." Biyung masih memainkan ponselnya, meski aku kini tengah memeluknya.
"Biyung…. Aku pulang. Aku titipkan Izza ke pamannya," akuku lirih.
"Apa?!" seru ayah dengan menarik lenganku, sampai aku terlen**** karena posisiku berubah seketika.
"Udah nampak." Biyung berkomentar amat santai.
"Nampak gimana, Canda?" Ayah mencolek biyung melewati perutku.
"Nampak dari istrinya tak ikut-ikut ke sini, udah pasti tak ada apa-apa. Mungkin kita tak menyenangkan kek mamah Dinda dan papah Adi, Mas. Mungkin kita nampak terlalu cuek." Biyung masih memainkan ponselnya.
"Nanti kalau banyak cakap dan banyak tanya, nanti dikira kita bawel dan ikut campur. Maksud hati sih, tak mau terlalu campuri biar dia betah," timpal ayah kemudian.
"Betul, Mas. Aku pun kalau dia mendekat ya diajak ngobrol, aku tawarin yang aku lagi incar. Memang dianya aja begitu," tambah biyung kemudian.
Jadi begini sudut pandang mereka?
"Masalahnya gimana?" tanya ayah dengan memeluk perutku.
__ADS_1
Aku yang geli sendiri, dengan mengangkat tangan ayah. "Ayah sebelah sini ajalah, aku geli." Biar biyung yang dipeluk oleh ayah.
"Pengen peluk anak Ayah." Ayah memelukku lebih erat, bahkan sampai menaikan kakinya ke atas kakiku.
"Geli, Ayah." Aku tertawa geli.
"Ayah nangisin anak yang dulu dilarang disentuh Ayah ini loh, Biyung." Ayah menggosokkan wajahnya ke lenganku.
"Masa iya, Yah?" Biyung meninggalkan ponselnya, beliau pun memelukku dengan hangat.
Alhamdulillah, masih bisa merasakan hangatnya kasih sayang mereka.
"Heem, dikamar terus sama Kin sama Ghifar. Ayah dibilang seorang ayah yang dzolim."
"Aku tetap anak Ayah." Aku menyentuh tangan ayah yang melingkar di perutku.
"Anak laki-laki Ayah, yang kuat bahunya, yang kuat punggungnya, yang kuat kakinya." Ucapannya begitu dalam, aku merasa cengeng seketika.
"Yang kuat imannya, perempuan rasanya begitu-begitu aja. Belajar dari Ayah, yang pernah menyesal karena selang****an," ujar biyung dengan mengusap punggung tanganku yang berada di atas punggung tangan ayah.
"Heem, Bang. Rasanya sama, tergantung khayalan kita."
Mengandung humor, aku tertawa mendengar cetusan dari ayah.
"Tapi tak bisa bayangkan makan chicken, masa lagi makan tempe goreng, Mas. Rasanya pasti beda lah." Tumben biyung logis nih.
"Kan ada klinik kecantikan, Cendol. Kau kalau tak terawat, mungkin aku udah nikah lagi."
Ayah membunyikan genderang perang.
Salah sasaran, biyung lupa jika aku yang berada di tengah-tengah mereka. Biyung langsung mencubit perutku dengan kekuatan penuh, seolah beranggapan bahwa inilah perut ayah.
"Sakit." Aku meraung merengek.
__ADS_1
Ayah malah tertawa amat lepas, dengan biyung yang mengusap-usap bekas cubitannya di permukaan perutku. Orang tuaku absurd sekali, meski bisa menghibur di tengah kekacauan pikiranku.
...****************...