Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA174. Aduan Cani


__ADS_3

"Tuh, udah Ayah transfer lima juta. Pakai untuk yang baik-baik, Dek. Masalah bayaran kuliah, nanti Ayah yang urus langsung ke kampus. Bunga fokus belajar aja, kerjain tugasnya, minta bantuan Bang Chandra kalau kesulitan. Minta jemput Ayah, kalau susah dapat ojek. Minta Ayah anter, kalau Bang Chandra lagi tak bisa bantu anter." Pakwa menunjukkan layar ponselnya. 


"Ayang Apin tak ditransfer kah?" Pakcik Gavin memasang wajah memelasnya. 


"Ish, kau lagi!" Pakwa menyakui ponselnya. 


"Cium, Yah." Bunga bangkit dan berjinjit. 


"Hmm, anak Ayah yang paling cerdas ini. Jadi psikolog handal ya besar nanti?" Pakwa merunduk agar bisa dicium oleh anaknya. 


"Oke, Rabu nanti kita mabuk bareng." Bunga tanpa sungkan mencium ujung hidung ayahnya. 


"Dodol." Pakwa terkekeh kecil dengan merapikan hijab anaknya agar menutupi dada. 


"Ati-ati, Yah. Salam untuk adik-adik." Bunga melambaikan tangannya. 


"Oke, makasih ya udah nyalamin mereka. Nanti Ayah sampaikan." Pakwa undur diri, sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah pergi. 


Bunga masih berdiri di tempat membelakangi kami. Yang aku lihat, ia tengah mengecek ponselnya. Aku tahu, ia pasti tengah mengecek uang transferan dari ayahnya itu. 


"Hallo." Ia berbalik badan tersenyum pada Hema, dengan langsung duduk di pangkuanku. 


Centil sekali. 


"Heh!" Aku berusaha menggeser alas duduknya di pangkuanku. 


Chandra kecil tumbuh, ia merespon langsung alas duduk yang selalu membuatnya bisa berperang itu. 


"Dek! Abang ng****g, Dodol!" Aku terus meronta agar membuatnya pergi. 


Hema langsung menarik tangan Bunga agar ia berdiri, ditambah dengan gelak tawa pakcik Gavin yang begitu puas. Hema hanya bisa geleng-geleng kepala, saat Bunga sudah tidak lagi di pangkuanku dan tanganku masuk untuk membenahi posisi warisanku yang hanya besar kepala saja ini. 


"Kakak kok kek gitu, ngeri." Hema mempersilahkan Bunga duduk di kursinya. 


"Normal lah, aku laki-laki." Aku mengatur napasku. 


Bisa-bisanya langsung bereaksi menyempitkan celana seperti ini. 


"Sini duduk sini, aku mau anter Gabriel dulu ke dalam." Pakcik Gavin masuk menggendong anaknya yang berambut sedikit gondrong itu. 


Aku jadi rindu potongan lamaku, di mana rambutku selalu diikat ekor kuda dengan tepian rambut yang botak. Atau, bisa searching di Google dengan kata kunci top knot hairstyle. Sejak usia tiga tahun, sampai SMP aku menggunakan gaya rambut seperti itu. Pihak sekolah membolehkan, karena aku adalah anak penyumbang terbesar di tempat sekolahku. Saat di pesantren lah aku dicepak habis, sampai kuliah ke Singapore gaya rambutku berganti-ganti tergantung musim model gaya rambut apa. 


"Masih ng****g, Bang?" Bunga mencolek lenganku. 

__ADS_1


Tawanya mengejek sekali. 


"Masih lah! Kau pikir hal mudah?! Gemas aku sama kau, buat emosi aja." Aku bertopang dagu dan membuang wajahku ke arah lain. 


"Bunga, aku minta materinya. Katanya sama kau belum dikerjain?" Hema cukup lurus perihal kedatangannya, tidak banyak basa-basi seperti laki-laki pemula. 


"Oh, iya. Nanti ya? Sekalian kalau mau pulang aja." Suaranya seramah sekata, dasar centil. 


"Jangan sok imut kau!" Aku meliriknya sinis. 


"Yang boleh imut Jessie aja soalnya, Bunga," timpal Hema dengan tersenyum samar. 


Tengik juga ini laki-laki. 


"Iya, susah kalau orang lagi mabuk tuh. Aku sih bakal jadi penghalang pertama hubungan Abang sama Jessie, enak betul dia dapat orang rumahan. Nanti kedepannya, konflik rumah tangganya ya dari dirinya dan masa lalunya sendiri. Yang ada, Abang aku yang pusing ngadepin konflik kek gitu." Bunga seolah sudah tos dengan Hema. 


"Pokoknya jangan deh, masih banyak perempuan menarik yang asyik diajak nongkrong ketimbang dia." Hema menggelengkan kepalanya dan menggosok telapak tangannya. 


"Ehh, tapi kau tau apa?" Bunga menjentikkan tangannya ke arah Hema. 


"Adalah, nanti aja kalau tak ada Abang kau kita bahas soal itu."


Aku murka sekali, rasanya aku ingin melemparkan banyak kepalan kertas kosong ke wajah Hema. 


"Waduh, bang Wildan nelpon. Diambil dulu materinya, Bunga. Aku langsung pulang aja." Hema panik dengan melihat layar ponselnya. 


Kenapa tidak dari tadi bang Wildan menelpon? 


"Oke."


Aku ikut mengekori, sampai akhirnya Hema pergi dengan mobilnya. Kini, keriuhan hinggap di rumah orang tuaku. Ra datang dengan Cani dengan segala aduan mereka. 


"Udah coba, Dek. Makan dulu tuh, ngadunya nanti dulu." Biyung saking gemasnya sampai langsung menyuapi Cani. 


"Tapi teman satu kamar aku itu nyuri barang-barang aku terus, Biyung." Cani tetap mengadu. 


"Iya, Dek. Kan udah dihukum juga orangnya." Ayah menyodorkan air putih di depan Cani. 


"Lah, tapi barang aku tak kembali." Cani malah berteriak. 


Kucrit dia ini, perhitungan luar biasa. Apalagi barang kesayangan, akan terus dibahas sampai barangnya kembali. 


"Apa aja sih yang diambil?" Aku penasaran juga dengan aduannya. 

__ADS_1


"Jam tangan aku, uang sering betul, kerudung, baju, sarung. Ish! Sampai habis sarung aku, Bang. Katanya yang mondok di situ keluarga elit semua, tapi ada pencuri juga." Ngegas terus ini bocah. 


"Ya makanya dipondokan, Dek. Pencuri bukan karena dia orang tak punya aja, tapi karena penyakit hati. Iri, dengki, munafik dan jenis penyakit hati lainnya." Jawaban biyung menyejukkan suasana kali ini. 


"Nanti Abang belikan sarung lagi." Aku menambahkan agar suasana makin adem. 


"Buat apa? Di sini ya aku mau OOTD keren, ngapain masih pakai sarung?" 


Ayah langsung meraup wajah anak perempuannya. 


"Dih, Ayah." Ia langsung mewek seketika. 


Dia ini cerewet, berisik dan juga cengeng. Ia paling dekat dengan kakek, tapi sejak kakek tiada ngegasnya semakin tak terkira. 


"Masuk pesantren lain ya?" Wajah ayah sudah datar menyeramkan. 


"Tak mau aku, Yah. Apa enaknya? Tak enak di sana, Yah." Air matanya sudah tumpah ruah ke mana-mana. 


"Nyari adem-adem dulu, Mas." Biyung mengusap lengan suaminya. 


"Udah cepat habiskan makannya." Ayah keluar dari area dapur ini. 


Ke mana ya si Ra? Aku ingin tahu perkembangan adikku yang akan masuk perguruan tinggi itu. 


"Tapi memang begitu ya, Kak?" Anak yang masih memakai sarung itu, berjongkok di depan ban mobil. 


Ada Bunga dan Zio di sekitar mobil itu. 


"Ada apa? Nabrak kucing kah?" Aku mendekati mereka yang berada di halaman rumah. 


"Tak, Bang." Ra tersenyum lebar padaku. 


Cantiknya anak biyung yang satu ini, sayangnya ia tidak manis saat tersenyum. Raut wajahnya lebih terlihat menarik saat cemberut atau tanpa ekspresi, berdamage bahasa sekarangnya. 


"Makan dulu lah, Dek." Aku merangkulnya. 


Keren, tingginya hampir setara dengan aku. Sekitar, seratus tujuh puluh empat sentimeter. Mungkin ada perbedaan satu atau dua senti di bawahku, tapi aku merasa bahu kami sejajar. 


"Tapi kalau dipasang rem jenis……" Zio mendekati gadis yang aku rangkul ini. 


Aku tidak mengerti obrolan mereka, karena membahas perihal mobil. Tapi, gadis yang baru keluar dari pesantren ini nyambung. Jangan-jangan, Ra….. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2