Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA117. Ruang ICU


__ADS_3

"Susah, namanya sakit penyakit yang namanya serem pasti kepikiran. Canda aja dulu drop terus begitu, bolak-balik rumah sakit seminggu ada tiga kalinya." Ayah memang paling memahami situasi hati seseorang. 


"Ada nyeri tak sih?" Pak wa memandangku. 


"Tak ada, cuma kan memang dari dulu tuh sering ada ngeluh sakit pinggang. Ya mana tau, ternyata itu gejala. Sekarang tak banyak ngeluh, diam aja. Mungkin dia tak mau buat suami khawatir, tapi kalau dia tiba-tiba begini ya nambah khawatir." Aku bingung sendiri menghadapi Izza. 


"Siang ke klinik aja, cek HB. Nanti pak wa sarankan gimana baiknya, kalau hasil MRI udah diterangkan dokter. Soalnya, penyakit apapun kalau ada penyakit penyerta lainnya ya jadinya bahaya juga. Contoh diabetes. Udah punya diabetes, ternyata punya kolesterol, punya asam urat juga, ditambah hipertensi, kan jadi tingkat membunuhnya seribu kali lipat. Soalnya ada obat pereda satu penyakit, tapi efeknya kadang memperparah penyakit lainnya." Mendengar ucapan pak wa, aku berpikiran buruk tentang Izza. 


Fibroidnya tak membuatnya bahaya, tapi tukak lambungnya bisa membuatnya tiada. Ditambah dengan penurunan darah, juga HB yang entah tinggi atau rendahnya.


"Kalau ditangani di rumah sakit kau yang di Malaysia gimana, Bang?" tanya ayah kemudian. 


"Bisa aja, lebih komplit malah karena khusus bedah. Tapi kan rekam medisnya di rumah sakit ini, kalau mau ya urus dulu sama dokter yang di sini. Biar pas di sana, tak usah diperiksa dari awal lagi. Jadi, nanti tinggal lanjutin aja tindakan yang di sana. Biarpun namanya rumah sakit bedah umum, tapi melayani juga poli lainnya sekarang. Cuma kan banyak rujukan dari luar daerah atau negara lain, untuk melakukan pembedahan karena alatnya di tempat aku komplit dan diperbaharui terus," jawab pak wa kemudian. 


Jujur saja, aku langsung memikirkan biayanya. 


"Udah lah di sini aja, Yah." Bukan aku tidak ingin yang terbaik untuk Izza, tapi aku tak mau ayah mengeluarkan uang lebih banyak lagi.


"Nanti Pak wa bantu, dokter siapa yang megang Izza?" Pak wa bangkit dari duduknya. 


"Fardan Salahuddin, dokter kandungan." Aku mendekati istriku yang masih belum sadarkan diri. 


"Keknya kelamaan pingsan, Pak wa. Diapakan gitu, aku khawatir." Aku membelai pelipisnya. 


"Coba dicek dulu." 


Aku langsung memberikan tempat untuk pak wa. Izza dicek beberapa titik, sepertinya tengah dihitung denyut nadinya. 


"Stabil, kita tunggu beberapa menit." 


Aku harus bagaimana menasehati Izza, rasanya sulit sekali membuatnya mengerti. Izza seperti tidak ingin orang lain terlibat dari kesulitannya, tapi malah kami bertambah pusing karena diam-diam ia malah pingsan. 


Posisi Izza pun dibenahi. Jangankan kerudung, tubuhnya malah terpegang oleh orang lain jika keadaannya tengah tak sadarkan diri seperti ini. 


Lewat dari sepuluh menit, akhirnya pak wa meminta kami membawa Izza ke pelayanan kesehatan. Katanya Izza mengalami penurunan pernapasan, seperti sesak dan kesulitan menarik napas. 

__ADS_1


"Rumah sakit yang kemarin aja." Karena aku berpikir, rekam medis Izza berada di rumah sakit tersebut. 


"Bawa beberapa dokumen, Bang. KK, KTP, asuransi, atau BPJS." Pak wa membukakan pintu kamar lebih lebar. 


"Selimut, Bang," tambah ayah kemudian. 


Setelah memindahkan Izza ke dalam mobil, aku langsung mengambilkan apapun yang mereka minta dan dibantu dengan Bunga. Selimut dan bantal, Bunga yang mengambilkan. Ia pun mengatakan akan datang malam nanti dengan makanan. 


Aku tidak tahu Izza dirawat atau tidak, tapi setelah sampai di rumah sakit ia masih belum sadarkan diri juga. Bertambah syoknya, karena Izza digegerkan untuk langsung dibawa ke ruang ICU. 


Padahal, setahuku ICU adalah ruang pemulihan dari pasien yang memerlukan pengawasan ketat. Tapi ternyata, kata pak wa ruangan itu pun untuk pengobatan pasien yang membutuhkan pengawasan ketat juga. 


"Kalau udah stabil, baru dipindahkan ke kamar inap. Kau tenang aja," terang pak wa kemudian. 


"Duh." Aku mana bisa tenang. Mana keluarga tidak boleh menemani di ruang ICU tersebut. Hanya bisa menjenguk, itu pun diberi waktu beberapa menit saja. 


Kamar inap Izza pun sudah diurus, hanya menunggu waktu Izza pulih dan stabil baru dipindahkan ke ruangan tersebut. Aku pusing dengan keadaan ini, pak wa ada pun tengah menemui dokter Fardan. Ayah tengah mengurus administrasi, karena ayah yang mencover semua ini. 


Aku ingin Izza sembuh, agar tidak merasakan lagi kerepotan di rumah sakit seperti ini. Fibroidnya tidak membuatnya sampai hilang sadar, tapi tukak lambungnya membuatnya hilang sadar karena ia terus memikirkan fibroid yang nyatanya tidak membahayakannya untuk saat ini. Yang jahat itu pikirannya sendiri, karena membuat keadaannya seperti ini sendiri. 


"Bang, aku bawa baju ganti dan makanan." 


Aku langsung menoleh dan mendongak. Ada Bunga, dengan membawa tentengannya. 


"Ya, makasih." Aku menerima tentengannya. 


"Mau sampai kapan di tengah rumah sakit begini? Apa tak ditaruh di kamar kak Izza aja kah?" Pernyataan Bunga membuatku meradang. 


Entahlah, aku merasa sensitif sekali. 


"Kau pulang aja, Dek. Makasih untuk ini semua."


Jika keadaannya tidak seperti ini pun, aku tidak mungkin berada di tengah rumah sakit ini. Pertanyaannya seperti tidak dipikirkan dulu, sampai kapan katanya? 


"Oke." 

__ADS_1


Eh, ia malah duduk di sampingku. 


"Abang keberatan kau di sini!" Aku blak-blakan mengatakan ketidaksukaanku. 


"Aku tak duduk di pangkuan Abang pun." Enteng sekali jawabannya. 


"Abang lagi tak mau kau ganggu, Bunga!" Aku semakin pusing, bila ada yang banyak bertanya padaku. 


Ia tidak menggubris ucapanku, terpaksa aku yang menghindarinya. Aku yang pindah ke bangku lainnya, untuk menghindari percakapan dengannya. Aku tidak suka, diberi banyak pertanyaan dengan kondisi pusing seperti ini. 


"Dek, urus ke apotek."


Aku mendengar pak wa memberi perintah. Aku hanya menoleh, memperhatikan interaksi mereka. Aku tidak berniat bertanya apapun, kepalaku sudah pusing sekali. 


Pak wa pun duduk di tempat sana, ia mungkin mengerti jika aku tidak mau diganggu. Mendengar petanyaan, aku merasa amat terganggu. 


Ayah datang, ia berbicara dengan pak wa. Entah apa yang dibicarakan, aku tidak berniat menimbrung. Aku benar-benar pusing setengah mati, karena belum ada kabar baik dari Izza. 


"Jenis-jenis kau, istri sakit ikut sakit." Pak wa terkekeh kecil. 


Mungkin beliau sengaja menyindirku. 


"Pusing." Ayah hanya menanggapi seperti itu. 


"Jangan sampai dong." Pak wa mendekatiku. 


"Apa bedanya sama kau, Bang? Ditinggal istri, muntah darah." Ayah pun berjalan sama kau. 


"Katanya tak cinta, sampai kolaps juga nyatanya." Ayah tertawa renyah. Mereka duduk dengan mengapitku. Kebetulan, bangku ini cukup besar dengan lima kursi yang menyatu di satu tumpuan. 


"Ya kek kau aja gimana, Van. Nadya lahiran pun, kau yang repot. Padahal katanya terpaksa, katanya tak cinta juga. Huuuu…. Perkaranya itu istri, bukan perkara perasaan." Pak wa membalas juga. 


Perasaan? Apa pada pasangan hidup itu rasanya kasihan terus? 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2