Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA110. Membicarakan dengan orang tua


__ADS_3

Aku sudah menjelaskan semua pada biyung dan ayah tentang keadaan Izza. Aku tidak menjelaskan di depan Izza, aku sengaja menemani Izza agar terlelap lebih dulu. Kasihan, ia pasti lelah badan dan mental. Aku harus bisa meringankan sedikit penderitanya dan mencarikan saran terbaiknya untuk penanganan penyakit ini. Karena terus terang saja, ini semua terhalang biaya.


"Kenapa baru disadari sekarang? Maksud Ayah, kalau memang dia mengidap itu turunan dari keluarganya. Harusnya kan, diketahui dan diobati lebih dulu." Ayah si paling logika baru mengeluarkan suaranya.


"Izza pun tak tau, Yah. Izza tak tau kondisinya, karena memang tak ada gejalanya. Atau bisa dibilang, gejalanya ini persis seperti dia mau datang bulan. Contohnya, tegang panggul katanya, sakit pinggang dan tak nyaman di perut gitu lah. Dia pun shock berat, mana tadi sekalian endoskopi. Jadi tadi tuh ke dokter kandungan, ke laboratorium, ke dokter umum, terus ke dokter spesialis gastroenterologi atau dokter bedah digestif kah kalau tak salah." Aku mengingat dokter yang langganan ayah itu. "Terus habis itu makan, ambil hasil. Barulah ke dokter kandungan lagi, di situ kita dijelaskan panjang lebar, terus dikasih surat untuk datang kembali untuk melakukan tes MRI." Aku menekan jakunku ke bawah.


Aduh, bagaimana ya caranya meminta hutang? Aku tidak pernah berhutang, jadi tidak tahu susunan teks untuk berhutang.


"Kapan ke MRI, bisa cover BPJS?" tanya ayah kembali.


Biyung nampak melamun, ia memeluk bantalnya dan bersandar pada kepala ranjang. Aku tak tahu biyung memikirkan apa, tapi ia terlihat tidak baik-baik saja sekarang.


Aku memang mendatangi kamar mereka, karena memang waktu sudah menjelang malam. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, mereka pun tadinya sudah terlihat mengantuk dan beristirahat.


Mau bagaimana lagi? Sehabis dari rumah sakit, aku memenuhi ingin Izza untuk makan teppan chicken di pusat kota. Ditambah, ada barang yang menarik perhatiannya. Memang tidak mahal, tapi ada harganya.


"Diminta kembali setelah Izza selesai datang bulan, Yah. Izza punya BPJS APBD, yang gratis dari pemerintah itu. Tapi masalahnya, harus minta rujukan ke puskesmas dulu, katanya pun tak mudah." Pasti pun, fasilitasnya tak sama dengan umum VVIP.


"Kau ada dananya?" Ayah begitu peka rupanya.


Aku menggeleng lemah. Aku malu mengatakannya, tapi memang keadaanku seperti itu.


"Kalau waktunya masih lama, tak mendesak gitu. Bisa daftar asuransi kesehatan, tapi asuransi tuh jaman sekarang pakai dana talangan nih, Bang. Jadi misalkan habis sepuluh juta, nah kita bayar sendiri dulu. Setelahnya, baru diurus pencarian asuransinya. Ya memang sih beda-beda tiap program asuransi, tapi yang Ayah ikut tuh yang itu. Kau tak apa Ayah cover dulu?"

__ADS_1


Aku tak enak hati, karena semakin merepotkan orang tuaku. Sedangkan, ia tengah memiliki proyek pembangunan empat rumah. Tiga minggu lagi pun, mereka akan punya hajat sederhana. Zio menikah dan ia menginginkan adanya prosesi dara baro, atau biasa dikenal ngunduh mantu. Ayah tidak berniat mengundang, karena ayah merasa sudah hajatan berulang kali. Tapi pengeluaran pasti besar karena adanya pelaminan dan seperangkat tenda, kursi dan juga catering. Yang akan dijamu, tentu keluarga istrinya Zio.


"Yaaa, kalau dari asuransi masuk tuh langsung ke rekening Ayah aja. Aku yakin, pasti kurang. Tapi aku janji genapin, kalau aku gajian atau hasil dari tambak." Aku tidak tahu tambak akan menghasilkan, karena aku masih merintis.


"Itu soal gampang, yang penting Ayah ada bilang dulu nih biar kau tenang. Kau ada pegangan berapa sekarang?"


Aku langsung membuka aplikasi mobile banking milikku. Menyedihkan, karena hanya tersisa satu setengah juta saja.


"Ya udah, Ayah transfer sekarang untuk pegangan kau. Masalah tentang tindakan nanti, tergantung hasil tes MRI aja kata Ayah. Pasti dokter saranin juga tuh gimana baiknya, barulah pilihan ada di tangan kita." Ayah seperti paham tentang tahapan yang dokter berikan.


"Maaf, Ayah. Makin ke sini, aku makin merepotkan." Aku menundukkan kepala.


"Semoga fasenya tak kek kita dulu, Mas." Biyung berbicara dengan suara bergetar.


"Tak akan, Canda. Kau tenang aja." Ayah mengusap-usap baru biyung.


"Aku takutnya, dengan kejadian ini mereka jadi kesulitan punya keturunan kek kita dulu. Mas masih ingat rasanya berharap, tapi selalu dikecewakan dengan hasil testpack aku? Tabungan sampai habis, pengobatan sampai cover mamah untuk pengobatan Mas dulu. Krisis ekonomi melanda, paling miskin sendiri di antara saudara yang lain. Ngerasain tak nyamannya bau ketek, ngerasain ****** ***** ditambal. Aku takut, Mas. Aku takut anak-anak kita merasakan fase sesulit itu, Mas." Biyung menangis di lengan ayah.


Aku jadi ikut sedih, karena sudah membuat biyung di masa-masa tersulitnya.


"Makanya kita harus selalu ada di masa sulit anak-anak kita, biar kekayaan kita ada berkahnya. Kita ini ada untuk support anak-anak kita secara finansial, ataupun mental. Beban kita berat, Canda. Kita harus fokus, biar kita bisa selesaikan masalah kita. Ya Jasmine, ya Bunga, ya Ceysa, ya Zio. Mereka butuh kita semua, Canda."


Lalu aku semakin menambah beban untuk kehidupan mereka.

__ADS_1


"Aku takut, Mas. Aku tak tega, aku kasihan." Biyung memeluk lengan ayah semakin erat, wajahnya bersembunyi di sana.


"Kita sama-sama, kita do'akan yang terbaik. Ini masanya kita urus anak-anak kita dengan tangan kita sendiri, karena dari kecil kita nyerahin mereka ke pengasuh. Bukan maksud hati tak sanggup pegang anak-anak, tapi aku kerja siang malam, kau terus mengandung, aku tak tega sama kau." Ayah mengusap-usap kepala biyung.


"Aku kasihan." Tangis biyung begitu pilu.


"Kan aku bantu, Canda. Aku tak diam kan? Aku bantu mereka, aku support dan arahkan mereka." Ayah mencium kepala biyung.


"Sok tidur, aku jagain, Chandra jagain." Ayah membantu biyung merebahkan tubuhnya. Aku membantu biyung untuk menyelimuti kakinya.


Aku jadi sedikit khawatir, jika mengatakan hal apapun di depan biyung. Karena biyung memikirkan dengan berlebihan, membuatku merasa bersalah karena biyung malah menangis karena mendengar keluh kesahku.


Aku menggerakan tangan, untuk memijat betis biyung dengan selimutnya. Ayah melirikku dan geleng-geleng kepala.


"Ngobrol di ruang kerja," ujar ayah amat lirih.


Aku mengangguk, kemudian perlahan turun dari ranjang. Mendengar masalah anaknya, ibu-ibu malah terhanyut dengan kecemasan dan ketakutan. Mungkin setelah ini, aku harus lebih bisa memfilter masalah yang aku bicarakan dengan orang tua, biyung terutama.


Karena perempuan tak seperti laki-laki, yang mengusahakan lebih dahulu jalan keluarnya, ketimbang dengan meratapi keadaan tak berdayanya. Karena jelas ayah dan biyung di sini amatlah berbeda.


Aku lebih dulu melihat keadaan Izza. Aku mematiskannya kembali, bahwa ia masih terlelap pulas. Kemudian, baru aku menuju ke ruang kerja ayah.


"Sini, Bang." Rupanya, ayah sudah berada di dalam ruangan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2