Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA298. Anak laki-laki ayah (tamat)


__ADS_3

Tiba masanya hari bahagia Bunga dan Hema. Namun, bersamaan dengan waktu kecewaku untuk pertama kali saat Nahda mencoba alat tes kehamilan. Bolehkah aku meminta, agar janin yang di rahim Bunga dititipkan saja ke rahim istriku?


Aku bohong, jika aku tidak akan menggebu-gebu untuk memiliki anak sama seperti dengan Izza dulu. Nyatanya, aku begitu semangat memberinya alat tes kehamilan pagi tadi meski hasilnya tak sesuai harapanku.


"Bang, ini Ibu Saya." Syuhada datang menghampiriku bersama seorang wanita seumuran biyung, di acara resepsi sederhana pernikahan Bunga dan Hema di halaman rumah nenek dan kakekku.


"Oh, ya…." Aku mencium tangan ibu dari Syuhada tersebut. "Salam kenal, Bu. Saya Chandra, kakaknya Caera."


Syuhada sudah pernah kutegur dan aku beri peringatan, agar ia tidak mengganggu Ra di kampus. Jika memang memiliki rasa dengan Ra, jaga dia dan jangan ganggu pendidikannya. Aku pun memberinya keadilan untuk berjuang mendapatkan hati Ra, dengan memberinya izin berkunjung di hari libur tanpa boleh membawa Ra.


Begitu saja Syuhada sangat senang, ia nampak bersemangat menganggukkan kepala saat aku memberinya persyaratan sederhana itu. Pernah aku menjemput Ra tanpa kabar, sengaja ingin tahu bagaimana Syuhada di kampus. Ia seperti mahasiswa lainnya yang keluar kelas, ia tidak membuntuti Ra dan mengganggu Ra. Namun, aku melihat bola matanya melirik dan memperhatikan Ra sampai ke ekor matanya.


Sejauh ini, aku tetap mengontrol bahkan sampai ke ponselnya. Aku memperhatikan gerak geriknya, berikut dengan dukungan Nahda juga.


Ia kakak ipar yang terbaik, bisa berkamuflase sebagai teman yang menjadi tempat curhat para adik iparnya. Termasuk juga dengan Cani, ia selalu mengeluarkan keluh kesahnya tentang laki-laki yang sering mengirimkan makanan ke sini itu.


Fadli giat berjuang, di sekolah pun ia tidak mengganggu Cani karena memang ayah pernah menegurnya. Pernah juga kutegur saat ia mengirimkan makanan ke sini, jawaban ya memang ia ingin dekat dengan Cani tapi ia takut dengan ayah dan aku.


Ia cukup jujur, bukan cuma ekspresinya saja. Sulit aku gambarkan bahwa masa depan mereka masih jauh, sekarang saja mereka baru SMA. Apalagi, pada remaja yang sedang jatuh cinta begitu.


Mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa menasehati dan mengontrol saja. Membatasi pun bagaimana, normal memang mereka harusnya suka dengan lawan jenis. Aku yang perlu ketar-ketir, jika mereka malah suka dengan sesama jenis.


"Salam kenal juga Bang Chandra, Saya Ningsih, ibunya Syuhad. Maaf ya Bang Chandra, Syuhad sering berkunjung dengan tangan kosong. Padahal, udah Saya kasih ngerti dia."


Ah, aku jadi tertawa.


"Tak apa, Bu. Yang penting kedatangannya sopan." Hanya beberapa kali Syuhada tidak membawa buah tangan, seringnya ia selalu membawa.


"Ayo silahkan, Bu." Tante Ria menyambut bu Ningsih.


Mereka akhirnya berbaur juga dengan anggota keluarga lain dan tamu tetangga terdekat ini.


Kasihan juga dengan pakwa, ia harus dibohongi dengan anaknya. Sampai sekarang, ia tidak tahu bahwa anaknya mengandung. Mengandung pun belum besar, paling baru satu bulan. Tidak begitu kentara di badan Bunga, kecuali memang dada yang sedikit mangkal.


"Dek, makan belum?" Aku menghampiri Nahda yang duduk di meja tamu.


"Udah, Abang." Nahda langsung menarik tanganku, kemudian memeluknya.


Manjanya anak mama Aca ini.


"Abang belum makan, Dek." Aku duduk di sampingnya, agar posisiku tidak setengah jongkok begini.


"Mau diambilkan?" Nahda mengusap keringat di pelipisku.


Hawa pengantin baru sebenarnya masih menyelimuti kami, meski sudah lewat beberapa bulan pernikahan kami.

__ADS_1


"Nanti bentar lagi, Dek." Aku melepaskan tangannya yang berada di lenganku, kemudian aku menggenggam tangannya.


"Katanya, lepas ini Hema bawa Bunga ke Bekasi. Hema mau langsung belajar usaha katanya, Bunga pun udah urus cuti kuliahnya. Entah berapa lama, tapi Bunga udah acc cuti tiga bulan."


Nanda memang suka bercerita, melaporkan semua hal yang ia tahu.


"Kok tak ada yang bilang ke Abang? Pakwa kasih izin? Ayah juga?" Aku merasa heran dengan keputusan buru-buru tersebut.


"Pakwa lagi sibuk urus kak Kal di Malaysia, Bang. Kan Abang tau, kalau pakwa baru datang kemarin sama kak Kal. Mau tak mau katanya, pakwa di sini pun lagi tak bisa ada untuk Bunga. Ya basa-basi Hema aja tuh, Bang. Nanti gampang balik lagi, ini itu kan? Tak tau nantinya gimana." Nahda mengedikkan bahunya.


Akhirnya, Bunga benar-benar dibawa oleh suaminya dengan bayi dalam kandungannya. Bukan pakwa yang memikirkan, tapi ayah yang memikirkan bagaimana kondisi janin Bunga yang dibawa perjalanan naik pesawat itu.


Ayah sampai mau repot mengantarkan mereka, ayah pun sampai terus-terusan menanyakan keadaan Bunga begitu mereka sampai di tujuan. Ayah tidak hanya menganggap Bunga seperti anak yang ia asuh saja, tapi kasih sayang yang ia berikan sudah seperti ayah pada anak kandungnya.


Aku bersyukur, aku diberikan kelancaran rezeki yang tiada habisnya. Apa yang aku lakukan dan usahakan, semuanya berbuah manis. Tidak ada yang merugi, hitungan bulan bertahan stabil. Apa yang direncanakan selalu mulus, apa yang diharapkan selalu tercapai.


Namun, di balik itu semua ada satu doaku yang tak kunjung Yang Kuasa dengar. Yaitu, titipan di rahim Nahda.


Hingga datang ulang tahun pernikahan kami yang pertama, aku mengadakan syukuran sederhana hanya dengan Nahda di dapur kami ini. Doa dan harapanku tentang titipan di rahim Nahda, masih menjadi doa terbesarku saat mencium kening istriku di genapnya satu tahun pernikahan kami.


Kenapa aku tidak merayakan dengan anggota keluarga? Mereka tengah berlibur bersama di tempat wisata kota ini. Bukan aku tidak mau ikut, hanya saja Nahda sedang dalam kondisi kurang enak badan. Ia flu ringan dan orang tuanya menitipkan nasehat padaku, agar Nahda diam di rumah dan aku mengurus dan menjaga dengan baik. Itu sama halnya, yang berarti Nahda tidak diperbolehkan ikut liburan.


Kebanyakan personil memang, mobilku dipakai karena memang jok di dua mobil tidak cukup menampung mereka semua. Apalagi memang, kak Key tidak memiliki mobil. Ia mampu membeli, tapi ia lebih suka melihat suaminya bekerja menggunakan motor. Katanya agar ketahuan, jika suaminya berani genit membawa mahasiswa di tempatnya mengajar.


"Apa doa Adek?" Aku mengusap air mata harunya.


"Ingin dititipi anak, Bang. Aku sedih lihat Abang senang gendong anak kecil, apalagi sama Hasna adik aku itu. Tapi aku tak bisa kasih anak kecil yang ribut aja kek Hasna." Ia mengusap perutnya yang mengembang ketika kenyang saja itu.


Hasna adalah adiknya, masih balita dan masih begitu menggemaskan. Aku sudah amat dekat dengan adik-adiknya, seperti harapannya saat pembicaraan kami di Jepara.


Tok, tok, tok….


Tok, tok, tok, tok….


Pengetuk pintu seperti tak sabaran menunggu tuan rumah. Padahal, aku dan Nahda sudah menyadari bahwa rumah kami kedatangan tamu.


"Ada yang mau ikut tiup lilin bersama kah, Bang?" Alisnya menyatu dengan meninggalkan meja makan kami.


Aku membawa brownies berukuran kecil, yang sudah berada di atas telapak tanganku. Pikirku nanggung, jika harus ditaruh lagi.


"Hei? Kenapa tak ngabarin?"


Aku semakin bergegas melangkah.


"Bunga?" Aku kaget melihat penampilannya yang cukup lusuh.

__ADS_1


"Masuk, Dek." Aku membuka pintu lebih lebar, kebetulan daun pintunya ada dua.


Aku sempat menaruh brownies ini di atas meja tamu. Kemudian menyambut Bunga masuk dengan Nahda juga.


"Abang, Kakak ipar…." Ia menangis kacau.


"Ini anak aku." Mantel yang menutupi tangan kirinya ia tarik dengan perlahan.


"Urus dia, Bang. Jangan bilang ayah, kalau ini cucunya. Jangan kasih tau siapapun, kalau dia anak aku." Ia menangis lepas saat mengatakan


hal itu.


"Kenapa? Kenapa kau? Ada masalah? Apa bayi kau spesial, sampai kau enggan ngurus?" Aku menatap kaget bayi yang dipindahkan ke tangan Nahda itu.


"Dia sehat, alhamdulillah sempurna dan tak kurang satu apapun. Tapi, banyak duka yang sebaiknya tak aku buka. Aku pamit, Bang. Aku sengaja datang, tanpa ketahuan keluarga. Aku pulang lagi, Bang." Bunga memelukku.


Aku melempar pandang dengan Nahda. Nahda memeluk bayi mungil itu, dengan wajah bingungnya. Aku mengusap punggung Bunga, aku masih bingung mencerna semuanya.


"Saat aku udah bisa mengatasi semuanya, menata semuanya. Aku akan bawa pulang anak aku kembali, Abang boleh hitung semua jumlah kebutuhan dia yang udah Abang keluarkan. Aku akan ganti semuanya, kecuali kasih sayang Abang dan Kakak ipar ke dia. Aku pamit, Bang. Aku nitip bayi laki-laki aku, Kakak ipar. Tanggung jawab aku besar di sana, kewarasan dan tenaga aku berperan besar di sana. Aku bukan maksud menyia-nyiakan dia, tapi aku takut dia tak terurus saat waktu ibunya tersita, saat kewarasanku tak baik untuknya." Bunga mengusap kepala bayi merah yang rambutnya amat lebat dan hitam seperti rambutnya yang mengintip dari hijab hitam yang sudah tidak jelas modelnya itu.


"Kau harus cerita!" Nahda menahan lengan Bunga.


"Di novel lain, kalian akan tau ceritanya. Aku pamit, aku nitip anak ke kalian." Bunga memeluk kami bertiga, berikut bayinya itu. Kemudian, secepat kilat ia balik badan dan berjalan cepat meninggalkan halaman rumah kami.


Aku masih begitu bodoh memahami ini semua. Aku hanya bisa saling memandang dan beralih memandang bayi ini.


Suara cream kue yang terbakar karena lilin, membuat kami tersadar bahwa kami tengah merayakan pesta kecil ulang tahun pernikahan kami.


Kami meniup brownies berlapis cream ini bersama, meski bentuknya sudah tidak karuan rupa karena lilinnya sudah meleleh di atas cream. Aku memeluk istriku kembali, istriku yang selalu recok dalam segala hal tapi aku menyukai kerecokkannya yang hakiki itu.


Rintihan bayi pelan, menambah kesadaran kami bahwa baru saja ada yang menitipkan dirinya di tengah keluarga kecil kami.


Aku jadi teringat doa Nahda barusan.


"Tadi Adek doa apa?" Aku membuka kain pelapis gendongan bayi laki-laki ini.


"Salah doa, Bang." Nahda merengek pura-pura menangis.


"Maksud aku tuh, aku ingin dititipin anak di rahim aku. Bukan dititipin anak, tapi anak orang begini. Tadi belum komplit ngomongnya, udah keburu diiyakan Yang Kuasa rupanya." Nahda mencolek-colek dagu bayi yang berparas sangat tampan ini.


Indah sekali rupa bayi ini. Hidungnya kecil, tapi tinggi sekali padahal masih bayi. Mulutnya memiliki garis sobekan yang kecil, tapi bulat matanya terlihat belo seperti Bunga. Belum lagi, dagunya yang sedikit lancip, dengan bentuk wajah segitiga terbalik yang sangat unik.


Rupanya dominan ibunya.


"Jangan hiraukan perkataan Bunga, dia udah kasih, kita tak akan kembalikan. Ini titipan untuk kita, berkat doa Adek barusan." Aku mencium kepala anak ini, dengan istriku mencium kepalaku.

__ADS_1


Kau anak laki-laki ayah sekarang, nak.


...T A M A T...


__ADS_2