Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA36. Genderang perang


__ADS_3

Kedatangan Izza di rumahnya, membuat Givan merasa bahwa hal ini semakin membuat rumit. Ia yakin, jika Izza pasti menelan bulat-bulat tuduhan mereka. Sayangnya, jemari Izza yang tiba-tiba menggenggam tangan anaknya menjadi kecurigaannya sendiri kalau Izza menatap sinis ke arah perempuan muda yang duduk Rohan. Givan yakin, ada permasalahan juga di antara keduanya. 


"Masuk yuk? Sama Bilang di dalam." Canda berpikir bahwa itu adalah permasalahan laki-laki dan tidak pantas dicampuri. 


"Sini, Canda." Givan menepuk tempat di sebelahnya.


Ghifar mencari kursi lain di rumah kakaknya tersebut, karena sofa tersebut tidak muat untuk diduduki orang lain. Mereka akhirnya saling memandang, setelah mendapat kursi masing-masing. 


"Ada apa, Mas?" Canda bingung untuk memahami keadaan ini. 


"Sok cerita, Dek Sekar." Givan ingin wanita muda tersebut buka suara sendiri. 


Sekar meluruskan pandangannya, dia mengatur napasnya dan menundukkan kepalanya kembali. Ia tidak menyukai keadaan yang terlalu banyak orang ini. Harusnya tidak seperti ini menurutnya, bukan di tengah-tengah keluarga seperti ini. 


"Kejadiannya di Singapore." Sepenggal kalimat itu ia coba keluarkan dengan sisa keberaniannya. 


"Terus?" Givan fokus memperhatikan mimik wajah Sekar. 


"Aku tak sadarkan diri." Sekar mempertahankan kepalanya untuk tetap menunduk. 


"Maksudnya gimana?" Chandra jelas bingung karena Sekar memenggal cerita yang tidak menyudutkannya. 

__ADS_1


"Abang katanya nidurin dia," terang Izza mengalihkan perhatian mereka semua. 


"Masa?" Chandra menoleh pada kekasihnya. 


"Kok masa? Kau ngerasanya gimana?" tanya Ghifar kemudian.


Givan sudah menduga, ia malah terkekeh geli dan menutup mulutnya. 


"Izza aja tak kepegang-pegang, apalagi dia yang entah kapan ketemuannya."


Givan merasa anaknya itu benar-benar perpaduan antara dirinya dan Canda. 


"Aku percayanya di situ," ungkap Izza memandang kekasihnya. 


"Namanya mabuk, siapa yang bakal sangka." Sekar menggulirkan matanya pada Izza dan Chandra secara bergantian. 


"Heh, asal kau tau ya?! Kau pun sama mabuknya! Aku diantar pegawai club ke kamar pakai kursi roda. Aku di kamar muntah di baju, sampai keringnya baju aku tetap utuh. Jangan buat cerita ngada-ngada ya, aku tau kau memang pengen ngacak-ngacak keadaan. Aku pun tau, kalau kau yang kasih Hadi obat perangsang. Gini aja…" Chandra mengedarkan pandangannya dan menghela napasnya. "Pak RT silahkan pulang aja, ayo kita ke Ceysa dan Hadi malam ini juga." Chandra ingin masalah ini cepat terselesaikan, tanpa membuat keadaan Ceysa rumit karena memiliki anak di luar pernikahan. 


"Ke kantor polisi aja lagi, biar cepat kelar. Kalau kejadiannya bukan pemerkosaan, kau tak dapat hak hukum apapun. Misalnya, suka sama suka begitu." Givan yakin jika Sekar hanya mengada-ngada. 


Terdiamnya Sekar membuatnya semakin yakin bahwa Sekar tidak berbicara sesuai fakta.

__ADS_1


"Ayo ikut ke Hadi sana, Hadi juga punya beberapa bukti kok." Chandra sudah bangkit dari posisinya. 


Bangkitnya Rohan membuat Sekar sedikit panik, ia tidak mau permasalahan ini meluas. Yang ia pikirkan, bahwa keluarga Givan mengikuti permainannya dengan jalur kekeluargaan karena takut dengan hukum. 


"Untuk apa? Hadi ngelak, kau pun ngelak. Memang udah nasib Saya yang kurang beruntung. Tapi dengan sikap kalian yang dihormati di kampung begini, Saya jadi tau kalau kalian memang tak bisa kasih keadilan untuk sekitarnya. Jadi wajar, Za. Kau pacaran sepuluh tahun tapi terus digantung. Kau tak tau di balik topeng seorang Chandra, kau tak tau seluk beluk keluarga ini. Saya tak akan nuntut pertanggungjawaban lagi, cukup tau ternyata respon orang terhormat itu begitu." Sekar menatap semua orang, kemudian memfokuskan pandangannya pada Izza.


"Intinya, kau mau apa? Kau datang buat keadaan kami bingung dan kalau. Kalau memang aku merasa. Sumpah, aku akan ngakuinnya. Tapi ini, Kar…" Chandra menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya. "Tak masuk akal. Aku masih ingat saat pulang dari kamar hotel, aku pakai jaket Hadi, karena kemeja aku penuh dengan muntahan kering. Maaf-maaf kalau jorok, tapi ini kenyataannya. Tak ada barang perempuan yang tertinggal, sprei pun rapi masa itu, yang artinya hanya satu sisi yang digunakan untuk tidur dan tidak ada kejadian yang terjadi di ranjang tersebut. Kartu kamar ya di tempatnya, sesuai yang dibilang pegawai club. Aku pun perjaka, setelah paginya pun aku tak merasakan tanda-tanda laki-laki yang melepaskan keperjakaannya. Logiknya, kalau memang kau mabuk dan aku mabuk. Terus, kita ngelakuinnya. Pasti kita bangun dengan keadaan yang membingungkan, maksudnya kek tak pakai baju dan kita nyadarin bahwa di samping kita ada orang. Kau, aku, Hadi itu pakai kursi roda. Ceysa yang sadar dan dia antar Hadi karena kamarnya di koridor yang sama. Kalau kejadiannya kau ternoda masa kau tak sadar, yang artinya laki-laki tersebut melakukannya di kamar kau. Sedangkan, dua pelayan club yang dorong kursi roda itu adalah perempuan semua. Kalau memang aku lost control, keknya pegawai club yang aku serang. Tapi jangankan aku tak tahan nahan n**** aku, orang negakin kepala aja tak bisa masa itu. Coba kita pakai logika deh, jangan cuma tuduhan aja." Chandra fokus memandang Sekar, ia menjelaskan dengan gerakan tangannya juga. "Tapi kalau bapak kau kurang percaya, kita ke Hadi aja sekarang, kita minta keterangan Ceysa yang jelas sadar masa itu." Chandra memandang ayah kandung Sekar. 


"Ayo, mari." Rohan tidak tahu mana yang benar, ia hanya ingin mencari pembuktian dan keadilan untuk anaknya. 


"Tak usah, Pak." Sekar menahan ayahnya. "Kita pulang aja. Cukup tau sama keluarga ini, keluarga ini tak sebaik apa yang kita duga." Sekar menekan ujung matanya. 


"Hei, boleh kau bilang kami baik. Tapi kami tak bodoh, Sekar! Kau kira aku laki-laki apa, yang datang perempuan minta tanggung jawab terus aku iyakan aja? Orang tua aku pun pasti tak terima. Beda ceritanya, kalau memang aku memperkosa kau." Ucapan Chandra membuat Givan tersinggung. Ia teringat kisahnya sendiri yang dipaksa menikahi Canda, karena ia menodai istrinya itu. 


"Tak apa, Dek. Ayo ke Hadi, kita dengar keterangan Hadi. Kalau memang orangnya Hadi, ya kita tuntut dia. Kita cari pelakunya." Ardi mengajak keponakannya begitu semangat. 


Sekar menangis lirih, ia menoleh sekilas pada pamannya itu. "Hadi ngelak, Pak Cek. Udahlah! Mungkin udah nasib aku. Orang kaya kan memang begitu." Sekar melirik sinis ke arah Chandra. 


"Hadi cuma tertekan, apalagi Ceysa dari kecil sama dia terus. Ceysa pasti tak bener hidup di luar negeri, terus pulang narik Hadi untuk nutupin aibnya. Karena jelas betul, pulang-pulang dia narik Hadi untuk nikahin dia. Masa keluarga dikasih tau H-3 dari akad nikah dan resepsi. Undangan itu, H-7. Serba buru-buru, acara pun di sana. Kek ada yang ditutup-tutupi." Ardi melirik tajam ke arah Givan, ia begitu berani menyindir anak Givan di depan Givan. 


"Niat kau apa?! Tujuan kau apa?!" Givan berdiri dari duduknya. Amarahnya terlihat begitu jelas dari sorot matanya. 

__ADS_1


Ardi tidak sadar, ia sudah membunyikan genderang perang pada Givan. 


...****************...


__ADS_2