
"Rencana apa?" Izza ingin tahu, rencana apa yang disebut suaminya lebih penting dari resepsi pernikahan mereka.
"Aku pengen rehab rumah, aku pengen kau hamil udah nyaman di rumah kita. Sementara aku kerja di Singapore, kau di rumah aja sama biyung. Karena kalau kerja itu, aku pulang untuk tidur aja. Kau kan tau sendiri kan? Aku kemarin kuliah sampai jam sepuluh, lanjut kerja sampai jam sembilan malam. Sampai rumah, tidur."
Izza langsung tidak setuju dengan rencana suaminya. "Kalau Abang tak bawa aku, aku tinggal di rumah sana aja. Aku lanjut kerja aja, biar uang kita cepat terkumpul."
"Aku tak mau kau kerja, ayah pun pasti marah kalau kau mau lanjut kerja. Ayah pasti tersinggung lagi karena hal itu." Chandra menurunkan suaranya, karena khawatir ayahnya mendengar obrolan mereka.
"UDAH! ANTENG DI RUMAH DULU SEMINGGU!" bentak Givan dari luar kamar, membuat mereka semua tersentak.
"Iya, Yah." Chandra menoleh ke arah pintu dengan rasa takutnya.
Ayahnya melintas di sana dan Chandra melihatnya.
"Ayah minta kita tinggal di sini? Bang, aku takut. Aku baru tau, ayah galak begitu. Sebelumnya, ayah tak pernah nampak marah dan bentak siapapun di depan aku," bisik Izza dengan memegangi lengan suaminya.
"Shtttt…." Chandra tak mau ayahnya mendengar lagi percakapan mereka.
"Bang, tapi aku takut." Izza tidak biasa melihat hal seperti itu.
"Tinggal iya dan turuti aja. Kalau makin banyak protes, makin tak habis-habis marahnya. Kalau mau protes, masa ayah minta pendapat kita, jangan pas dia lagi marah. Nanti disangka tak sopan, ngelawan aja, bahkan dikira udah mampu sendiri sampai protes aja." Chandra meski sudah hafal tabiat ayahnya, ia tetap kaget jika ayahnya tiba-tiba marah.
Izza mengangguk cepat. Ia akan memahami hal itu, agar tidak membuat ayah mertuanya lebih marah.
"Makan lagi ya? Jalan-jalannya diundur, kalau kau sehat. Ayah tau kau makan sembarangan di luar masa kita jalan-jalan, nanti dia lebih marah. Pokoknya, jangan aneh-aneh dulu. Semangat sehat, biar kita bisa jalan-jalan." Chandra tersenyum lebar, kemudian mencium pipi istrinya sekilas.
Izza mengangguk, ia membuka mulutnya lagi untuk suapan dari suaminya itu. Izza merasa perutnya berangsur membaik, karena sedikit demi sedikit perutnya terisi.
Izza duduk di luar, menikmati sore dengan para iparnya. Mereka tersenyum lebar dan ramah, saat Ceysa dan Hadi pamit untuk pulang. Pemandangan segepok uang yang dikeluarkan oleh ayah mertuanya, membuat ia melongo saja.
__ADS_1
"Ayah adanya cash, nanti Ayah urus mobile banking Ayah. Soalnya, beberapa hari yang lalu ganti perangkat, jadi tak bisa masuk ulang di aplikasinya. Ditambah kemarin sibuk terus, jadi tak sempat-sempat Ayahnya."
"Mau sih, Yah." Key menengadahkan tangannya ke arah ayahnya.
"Tiga juta empat ratus gaji pasti, ditambah tunjangan profesi senilai satu kali gaji pokok. Ditambah dengan tunjangan tugas tambahan sebagai pembantu dekan, senilai lima koma lima juta rupiah. Masih aja, minta Ayah. Dari usaha kau aja, uang segini ampasnya aja. Tak malu kau? Ayah tampol juga kau pakai uang." Givan membuat Key tertawa lepas dengan rasa malunya.
"Tapi rumah masih satu kamar aja sih, Anda ini sebenarnya kaya," celetuk Zio yang membuat Key semakin tertawa.
Izza makin segan, karena ternyata iparnya adalah orang berada dalam kamuflase kesederhanaan. Ia ingat status sosialnya, ia merasa dirinya tidak bisa setara dengan keluarga ini.
"Biar romantis sama bang Fa'ad. Karena tak ada kamar lain, bang Fa'ad kan jadi rela sempit-sempitan nyempil di antara kita." Key tersenyum bahagia dengan melirik pada suaminya yang tengah membenarkan sepeda adik bungsunya.
"Fa'ad, Fa'ad. Ayah heran, kok kau mau sama Key." Givan berjalan ke arah menantunya yang tengah membenarkan rantai sepeda anaknya yang terlepas itu.
"Kaya soalnya, Yah," jawaban Fa'ad membuat semua orang tertawa lepas.
Bukan hal yang aneh lagi untuk mereka, karena candaan mereka yang sedikit ekstrim dan sensitif. Namun, karena mereka sudah terbiasa dan Fa'ad juga sudah memahami keluarga ini. Ia sudah biasa saja dan menanggapi dengan biasa saja, kadang ia sendiri yang mengeluarkan candaan ekstrim tersebut.
Padahal, Fa'ad begitu tegila-gila dengan pembawaan mahasiswi yang ia ajar tersebut. Kecakapan Key, kemampuan Key dan pola pikir Key membuatnya langsung yakin untuk meminang anak sulung juragan tersebut.
"Mayoran yuk, Za? Bakar-bakaran, singkong, ubi, jagung, marshmello, sama ikan gitu." Key ingin menikmati malam minggu bersama anggota keluarga barunya.
"Bos ikan pedih, siap tak?" Zio menyenggol kakak laki-laki yang tertidur di paha pujaan yang baru dipinangnya kemarin itu.
Chandra bisa benar-benar pulas, jika tidak diganggu adik laki-lakinya itu. Ia semudah itu tertidur, meskipun di tengah keramaian keluarga seperti ini.
"Siap-siap, jaring sendiri aja." Chandra membuka matanya kaget dan tersenyum samar.
"Ada tambaknya kah di daerah atas, Bang?" tanya Fa'ad menimpali.
__ADS_1
Chandra bangkit dari posisinya, ia meraup wajahnya dan merapikan tatanan rambutnya. "Ada, Bang. Di Singapore ada pembudidayaan juga, tapi rasa ikannya lain dari hasil di sini. Tapi kerjaan aku kan, tak main di lapangan, ada orangnya sendiri yang urus."
Hanya suami Jasmine, yang tidak ada di sini. Givan pun menyadari hal itu, padahal jasmine ada di teras rumahnya, anak asuhnya itu duduk di samping istrinya.
"Dah jadi tuh, coba Adek Cala coba." Fa'ad membawa sepeda Cala ke arah anak perempuan tersebut.
"Makasih, Bang." Cala begitu senang menyambut sepedanya.
"Pak wa hubungi belum? Dia tadi buru-buru karena jadwal anaknya cek up." Givan memperhatikan menantunya yang berjalan ke arahnya.
"Belum, nanti malam aja. Bunganya juga baru sampai, tadi aku yang dihubungi dan jemput di terminal. Pak wanya di rumah sakit, aplikasi kendaraan onlinenya tak bisa melacak posisinya. Keknya, GPS miliknya rusak tuh." Fa'ad memperhatikan anaknya yang mengejar bibi kecilnya itu.
"Bang…." Chandra menimbrungi Givan dan Fa'ad, yang duduk di teras rumah Fa'ad tersebut.
"Apa? Mau ajukan kantin di kampus kah?" Fa'ad hanya asal berbicara, terlihat ia juga terkekeh.
"Bisa kah? Ceysa bisa?" Givan melihat peluang.
"Bisa, kan ada orang dalam," jawaban Fa'ad membuat mereka tertawa bersama.
Givan sudah memiliki rencana untuk perekonomian anak perempuannya itu. Apalagi, kampus tempat Fa'ad mengajar adalah tempat Hadi berkuliah juga.
Izza memperhatikan obrolan suaminya dari jauh, sampai ia kurang fokus dengan obrolan para kakak iparnya dan ibu mertuanya itu. Ia merasa obrolan mereka, sulit digabungkan dengan seleranya. Ia menginginkan malam minggu yang romantis dengan suaminya, tapi keluarga mertuanya ini menginginkan malam minggu dgn kebersamaan.
Sesekali Izza hanya mengangguk, kemudian ia merespon dengan senyum dan tawa kecil. Ia merasa aneh, karena berbeda sekali saat dirinya masih menjadi calon dan sudah menjadi menantu.
Dulu, ia hanya dilibatkan untuk hadir. Sekarang, ia dilibatkan untuk acara dari awal sampai akhir. Ditambah lagi, dengan cara Chandra yang seolah melepasnya di antara keluarganya. Ia merasa benar-benar asing tidak seperti saat dirinya masih calon.
Ia teringat akan ucapan ibu mertuanya, yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah tamu. Jadi, ia berpikir untuk mengambil peran apa sehingga tidak seperti tamu dan tidak terasa asing di sini.
__ADS_1
...****************...