
"Apa?" Aku menantikan jawaban beliau.
"Ingin tau maksudnya apa."
Aih, jawaban macam apa? Itu sih namanya ayah tidak tahu juga bagaimana anak perempuannya. Ia membiarkan, karena ia ingin tahu bagaimana anak perempuannya.
"Balikin aja ke pesantren lah, bukan malah tenang aku sih." Aku ingin mengamuk saja rasanya.
Aku merasa memang ayah tidak memiliki perencanaan dan pembekalan apapun, hingga sampai dua minggu kemudian aku mendapatkan fakta baru. Bahwa ternyata, adik perempuanku suka modifikasi mobil di suatu bengkel dekat kampus. Ia pun selalu memutar jalan yang lebih jauh dan sepi, untuk….
Menjajal nyalinya dan skillnya mengalahkan jalanan tidak beraspal.
Rasanya potongan rambutku yang merindukan model lama ini, malah membuatku menjadi preman penjaga untuk adik-adikku sendiri. Emosi tak terkira, saat mataku sendiri benar-benar melihat mobil pink itu menciptakan debu di sekitarnya dan masuk ke jalanan ladang dengan sangat cepat.
Kurang ajar si Ra ini!
Kemana perginya itu mobil? Cepat sekali melaju. Sampai tak terlihat berbelok dan memilih jalan ke mana, entah karena aku yang lambat melajukan motor.
Eh, tapi? Kenapa seseorang menyimpan Fortuner mahalnya ke area pelosok ladang? Maksudku, mobil itu tidak terparkir di jalanan ladang. Tetapi, mobil itu seperti sengaja terparkir masuk ke ladang.
Itu bukanlah mobil yang dibawa oleh Ra, mobil yang dibawa oleh Ra adalah Honda Jazz RS dengan warna pink mencolok. Sedangkan Fortuner itu berwarna hitam, dengan beberapa modifikasi khas mobil untuk menjajal jalanan terjal tak beraspal.
Eh, Fortuner. Benar, seperti milik Hema. Jika Fortuner milik keluarga Hadi, maksudnya orang tuanya, itu berwarna silver. Lagi pun, milik ma Giska tak sekeren itu mobilnya. Tidak ada modifikasi, hanya mobil standar yang dipakai sebagai tunggangan suaminya bekerja.
Tapi kenapa mobil Hema terparkir di tengah ladang? Ini masuknya lumayan jauh, benar-benar jauh dari perkampungan. Apa itu mobil curian yang disembunyikan oleh pelaku? Atau, pengemudi mobil tersebut ada di dalam mobil dan meninggal membusuk?
Duh, ngeri jadinya karena pikiranku ke mana-mana.
Baiknya bagaimana ya? Aku meninggalkan mobil tersebut, atau mengeceknya untuk memastikan benar tidak dugaanku? Tapi jika aku berhenti dan mengecek mobil tersebut, aku akan semakin kehilangan jejak Ra.
__ADS_1
"Uhmmmmmmmm…."
Hah? Aku tidak salah dengar ya? Ada suara perempuan yang berasal dari dalam mobil tersebut.
Eh, tunggu-tunggu. Ini ceritanya percobaan pembunuhan, atau seseorang yang berbuat mesum?
Mataku makin terbelalak, saat menyadari jika mobil tersebut bergoyang di satu sisinya. Mobil tersebut seperti terbawa arus permainan orang yang berada di dalam mobil tersebut.
Siapapun orangnya, aku niat menegur karena mereka mengotori ladang usaha keluargaku. Aku tidak yakin itu mobil milik Hema, karena aku meragu jika Hema anak kota tahu pedalaman ladang ini. Semoga si pelaku tidak sampai bertindak anarkis, karena teguran dariku.
"Permisi." Aku mengetuk kaca jendela bagian pengemudinya.
Aku tidak berniat sama sekali mengintip, aku cukup tahu sopan santun dan rasa tidak enak. Rasanya tidak etis sekali, jika sampai mengintip ke dalam mobil. Apalagi, jika sampai benar mereka tengah tidak berbusana. Aku akan malu sendiri, jika mendapati mereka dengan keadaan seperti itu.
"Permisi, Saya tau di dalam ada orang." Aku mengeraskan suaraku, karena berpikir peredam suara mobil ini amat baik sekali.
Grasak-grusuk kepanikan terdengar jelas, aku pun semakin membayangkan suasana kalap yang terjadi di dalam mobil tersebut. Sedikit banyaknya, aku pernah merasakan ketahuan sedikit mesum di dalam mobil.
Cukup pandai juga mereka, karena ladang yang baru peremajaan tidak akan ada buruh petik yang sampai di titik ini. Jangankan buruh petik, orang ladang yang bertugas mengecek pun akan malas mengecek ladang yang baru tumbuh begini. Karena apa? Karena datang ke masa panennya bisa sampai empat tahun lagi, jadi tidak begitu penting dicek jika pohonnya masih baru begini.
"Bisa keluar sebentar, Saya keluarga pemilik ladang yang Anda kotori." Tanganku kembali mengetuk jendela di bagian pengemudi, di bagian paling kanan depan.
"Iya, bisa," sahutan dari suara laki-laki yang menjawabku.
Baiklah, bisa dibicarakan baik-baik. Ia cukup beretika, dengan memiliki keberanian menemuiku ini.
Aku mundur beberapa langkah dan berdiri persis di samping kap mesin mobil, untuk menghindari terbenturnya dengan pintu mobil yang akan terbuka. Suara kunci mobil yang terbuka dan ditambah dengan dorongan pintu yang terbuka, membuatku bersiap untuk menyiapkan ucapan yang sopan dengan niatan menegur ini.
Entah pasangan halal atau haram, ladang keluargaku tidak sepatutnya dijadikan tempat mesum. Kami mengais rezeki dan mendoakan keberkahan ladang ini setiap waktu sholat, berharap agar ada hasil yang memuaskan dari penantian panen besar nanti.
__ADS_1
"Loh?" Telunjukku terarah pada laki-laki kota yang aku kenal.
"Kau? Sama siapa?" Kepalaku reflek tidak sopan berusaha menoleh ke area dalam mobil tersebut, saat pintu terbuka dan menampilkan Hema.
"Shtttt, shtttt, shttttttt…." Hema cepat-cepat menutup pintu mobilnya, dengan menahan dadaku agar tidak mendekati pintu mobilnya.
Keringatnya, kepanikannya, membuat aku berpikir benar bahwa sudah terjadi hal mesum dengan tindakannya di dalam mobilnya.
"Sialan kau!" Aku tidak bisa mengontrol diriku, tanganku reflek mencekiknya dan mendorongnya sampai punggungnya terbentur di pintu mobilnya yang baru saja tertutup.
"Bunga kan?" Nama itu yang menjadi beban pikiranku seketika.
Karena apa?
Karena aku tahu, bagaimana gatalnya adikku itu. Jika benar Bunga berusaha tidak melakukannya, tapi bagaimana jika laki-laki kota ini yang memaksakan kehendaknya pada Bunga? Bagaimana jika Bunga mendapatkan tekanan dan paksaan yang mengancam dari Hema? Bagaimana jika laki-laki ini malah nantinya membuat adikku trauma dengan laki-laki?
"Nanti aku lamar dia, Bang. Pulang nanti, aku langsung ngobrol sama kakak perempuan aku untuk datang ke keluarga kandung Bunga," jelas Hema dengan cepat, ia berusaha menghalau tanganku yang mengapit lehernya.
Jawabannya begini? Berarti benar perempuan yang di dalam adalah Bunga?
"Kau paksa dia?!! Kau perkosa dia?!!" Aku khawatir Bunga mengalami trauma karena paksaan darinya.
Aku lekas mendorong tubuhnya ke samping, kemudian berusaha menarik gagang pintu kendaraan ini. Aku ingin memastikan keadaan Bunga, tanpa penghalang tubuh Hema yang menghalangi pintu mobil ini.
"Bang, Bang." Hema lekas mendorongku, kemudian ia berdiri menutupi pintu mobil kembali.
"Bang, Bunga malu. Kan aku udah jelaskan ke Abang, Abang pun pasti paham tindakan kami barusan. Tanpa minta kami mengakui, tolong biarkan kami keluar dari area ini, Bang." Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di depan kepalanya yang sedikit tertunduk memohon itu.
"Aku pengen tau sendiri keadaan Bunga, Hema SIALAN! Kau bukan laki-laki baik, harusnya dari awal aku larang Bunga berteman sama kau!" Aku berusaha menyingkirkannya dari depan pintu mobil lagi.
__ADS_1
Aku tidak akan tenang, jika tidak melihat langsung keadaan Bunga sekarang. Bagaimana mentalnya? Bagaimana kondisinya? Aku ingin memastikannya sendiri, karena aku tidak yakin, jika Bunga baik-baik saja sekarang.
...****************...