Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA179. Memastikan Bunga


__ADS_3

"Dia baik-baik aja, Bang. Kalau memang keadaannya mengkhawatirkan, dia pasti langsung lari ke Abang sekarang. Tapi yang kami rasa hanya malu sekarang, Bang. Tadi kami debat, karena malu untuk nemuin Abang. Kami sadar, kalau kami salah dan hina." Ia tertunduk penuh penyesalan. 


Alibi! 


"Bacot kau! Awas! Aku mau ketemu dan ngomong langsung sama Bunga!" Aku berjalan memutar, berharap dapat pintu dari sana. 


Hema cepat-cepat mengejarku. Seperti tadi, dengan cepat ia mengganjal pintu mobil dengan punggungnya. 


"Aku jamin Bunga tak kenapa-napa, Bang. Aku tak maksa, itu terjadi atas keinginan masing-masing dan tanpa paksaan dari aku pihak laki-laki." Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri. 


"Kau laki-laki, Hem! Aku tau gimana tabiat kaum kita!" Aku si paling hati-hati untuk melakukan saja, tapi pernah membuat Izza lecet karena jika sudah n**** mengerubungi, kita sulit untuk mengontrol diri kita sendiri. 


Hema menggelengkan kepalanya samar, ia menghela napas dan menunduk lesu. 


"Aku tak mau buat dia malu, Bang. Yang penting sekarang, aku udah nemuin Abang, aku akuin aku salah dan aku bisa pertanggung jawabkan tindakan aku hari ini. Aku tak akan kabur, aku pastikan aku bertanggung jawab entah hamil atau taknya Bunga. Aku tak akan kabur, aku janjikan itu, Bang. Sekarang, biarin aku bawa Bunga pergi dan antar dia pulang sampai ke depan pagar rumah tinggalnya. Lepas itu, aku langsung pulang. Abang bisa ikutin mobil aku, kalau Abang tak percaya ucapan aku." Ia berbicara perlahan, dengan gerakan tangan dan tatapan matanya yang serius. 


"Di jalan, kau bisa aja ancam dia dan ngasih wejangan untuk ngakuin apa yang kau bilang ke dia. Dalam artian, kau bakal nekan Bunga dan paksa dia untuk ngakuin kalau hari ini kalian melakukan atas dasar suka sama suka, bukan karena alasan sebenarnya yang terjadi." Ini yang aku pikirkan, jika aku menunda untuk bertanya pada Bunga sekarang. 


"Bang, terus kau mau cecar dia dengan pertanyaan dari kau di rumah begitu? Tolonglah, Bang. Cukup pengakuan dari aku aja, jangan buat dia malu dengan pertanyaan yang Abang kasih masa dia di rumah. Ayolah, Bang. Aku tak mau dia malu dan akhirnya canggung dengan Abang sendiri, karena kejadian hari ini. Abang anggap, ini masalah kita aja. Jangan seret Bunga, dengan kejadian yang Abang tau hari ini. Tolong, jangan bahas dan tanyakan dia di rumah. Aku tak mau dia ngerasa malu, Bang. Tolong pahami maksud aku, ini bukan prestasi yang harus Abang cecar dia di depan keluarga, atau Abang tanyakan ulang di rumah."


Aku memahami ulang maksud Hema. Apa maksudnya baik? Atau, berbanding terbalik dengan kesungguhan ekspresinya yang tak menginginkan Bunga demikian? Dalam artian, ia mau aku diam karena ia ingin Bunga tetap bungkam atas kejadian yang mungkin tak menguntungkan Bunga hari ini.


Benar, pasti kejadiannya berbanding terbalik dari pengakuan Hema padaku sekarang. Ia menginginkan aku dan Bunga tidak ada percakapan tentang kejadian hari ini, agar tekanan yang ia berikan pada Bunga tidak bocor ke mana-mana. 


"Tak! Aku tetap pengen ngomong sama Bunga." Aku mendorongnya cepat, kemudian langsung menarik gagang pintu mobil ini. 


Terbuka. 


Bunga nampak kaget dan menoleh cepat. Ia membenahi hijabnya, yang tadi hanya tersampir di bahunya. Pakaiannya lengkap, hanya memang rambutnya terekspos jelas. 

__ADS_1


Bau percintaan cukup kuat, mungkin karena tidak adanya pertukaran udara yang bagus. Ditambah lagi, memang keadaan mobil yang tidak hidup sejak tadi. 


"Abang…." Bunga menundukkan kepalanya. 


"Awas kau!" Aku risih dengan Hema yang berusaha menarik bahuku dan menggeser posisiku. 


"Bang, kenapa tak percaya betul?" Hema terus membuatku risih, bahkan ia sampai menarik-narik bajuku. 


"Bisa diam tak?! Aku tak segan-segan main fisik, kalau cara kau gini!" Aku menunjuk tepat di depan wajahnya. 


Anak kota ini tidak sopan sekali sejak tadi. 


"Hem, biarin kita ngomong dulu." Bunga berkontak pandang dengan Hema. 


Anak muda ini! Huft, buat dosa tak tahu kira. 


"Tapi, Bunga…." Hema mengacak-acak rambutnya sendiri. 


Tak akan membuatnya malu, memang. Tapi aku tak akan segan-segan untuk mengadu. Apalagi sesuatu yang harusnya orang tua tahu dan tangani, aku tidak akan melindungi hal yang salah. 


"Kau yakin, Bunga?" Pandangan mata Hema pada Bunga dalam sekali. 


Aku membaca budak-budak cinta dari sorot pandang mata mereka. Ah, bukan cinta yang seutuhnya. Tapi ada n**** besar di dalamnya, aku yakin itu. 


"Aku yakin, Hem. Kasih kami waktu untuk ngobrol dulu." Senyum Bunga seolah menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. 


Memang dilihat mata, ya ia terlihat baik-baik saja. Aku tidak melihat ada tekanan yang ia dapat, aku pun tidak melihat bahwa ia memiliki bagian yang sakit atas penganiayaan. Maksudnya, atas paksaan yang ia dapat dari Hema begitu. 


Hema mengangguk, ia pergi dari belakang tubuhku. Aku terus memperhatikannya dari kaca depan mobil ini karena ia berjalan ke arah depan kap mesin mobil. Ia terdiam tepat di depan mobil, kemudian menghidupkan rokok dari saku celananya. 

__ADS_1


"Kau tak apa, Dek?" Aku beralih memperhatikan Bunga yang duduk di jok samping pengemudi ini. 


Aku tetap berdiri di sampingnya, dengan keadaan pintu mobil yang terbuka lebar. 


Bunga menghela napasnya. "Tak apa apanya? Kami belum selesai, Bang." Ia bersedekap tangan dan cemberut. 


Si a****! 


"Dasar bocah n*****t!" Aku langsung meraup wajahnya cepat. 


Semua kekhawatiranku dipatahkan dengan pengakuan gilanya ini. Dugaan burukku atas pemaksaan Hema tadi, sirna dalam sekejap. 


"Kurang ajar ya kau! Kau janji ini itu, kau bilang mau berubah dan tak akan berlaku gila lagi! Gatal memang kau! Sering ya kau begini!" Kan mulutku jadi licin berbicara jadinya. 


"Hei, Abang! Kan aku bilang begitu, karena memang tak ada lawan." Mukanya menyebalkan sekali pemirsa. 


Ia terkekeh geli, saat aku menatapnya dengan tajam cukup lama. 


Ia merangkulku dengan tangan kirinya. "Iya aku janji kan masa itu, tapi kan dalam artian itu tak akan terjadi kalau sama Abang. Maksudnya, kita saudara dan kita tak akan melakukan hal gila itu dan aku janjikan dan pastikan tidak akan terjadi hubungan yang tidak sehat antara aku dan Abang. Masalah begini, kan aku pernah bilang juga aku tak akan hamil, aku janji."


Aku ingin merobek mulutnya! 


Aku langsung melepaskan rangkulannya, kemudian menghempaskan tangannya. Benar adanya, tentang janjinya yang tak akan membuat dirinya hamil di luar pernikahan lagi. Tapi, aku tidak berpikir bahwa ia akan tetap melakukan hal bodoh itu. 


"Maaf ya, Abang? Itu Hemanya mancing-mancing terus juga, salahkan lah dia aja." Bunga mulai seperti anak-anak yang merengek menyalahkan orang lain. 


"Dek, jaga marwah kau." Lelah sekali aku rasanya, aku yakin Bunga memahami maksud di balik kalimat sederhana itu. 


Ungkapanku begitu sederhana dan tidaklah begitu dalam, tapi seketika membuat Bunga memelukku. Tarikan napasnya dalam, aku merasakan nuraninya tergores dalam kalimat sederhanaku. 

__ADS_1


"Dek….


...****************...


__ADS_2