Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA247. Menjemput tante Ria


__ADS_3

"Ayo ke rumah biyung kau." Pakcik menutup pintu rumahnya. 


Ia bahkan berjalan mendahului. Sementara aku, aku fokus untuk menghabiskan teh manis ini. Tidak nikmat sekali pagiku ini, minum teh saja berpindah-pindah tempat beberapa kali. 


Semua orang yang berpapasan dengan pakcik Gavin menyapanya dan pastinya disapa balik juga, wajah sangarnya tidak melunturkan keramahannya. Kami memperhatikan keadaan rumah megah nenek, saat melewatinya. Ada Bunga di teras rumah, ia tengah mengepel lantai dengan semangat. 


"Ayang…. Bang Chandra, sini main," seru Bunga dengan membilas kain alat pelnya di bawah keran air. 


"Ya, Dek. Hema suruh main ke Ayah, Dek." Pakcik Gavin mengangkat satu tangannya. 


Padahal pakcik Gavin mengajari Bunga untuk memanggilnya 'ayah', tapi dengan tidak sopannya Bunga malah memanggilnya 'ayang'. Untungnya tante Ria mengerti karakter anak itu, ia tidak ambil pusing perihal mulut iseng Bunga. 


"Hema lagi ke Banda sama ayah Ken, Ayang Apin." Bunga tersenyum dan mulai menggosok lantai kembali. 


"Bang…." Pakcik Gavin berhenti sejenak, setelah melewati pagar rumah megah. 


"Kenapa, Pakcik?" Aku menyetarakan posisiku sampai sejajar. 


"Hema tuh ambil kontrakan di penginapan nenek kau, Pakcik taunya pas nongkrong di minimarket kemarin tuh mobil Hema ada di parkiran penginapan. Pakcik datangin kan, takut dia ngamer sama Bunga. Ternyata tak loh, dia bilang dia tinggal sendirian di situ. Gila loh dia, Bang. Obat-obatannya banyak betul, gede-gede betul, ngeri lihatnya." Pakcik Gavin dalam mode ghibah ternyata. 


"Jadi, dia beneran diusir? Tapi katanya janjiin Bunga tiga bulan lagi." Aku malah ikut bisik-bisik. 


Kami berjalan perlahan, karena pagar rumah ayah sudah di depan mata. 


"Tak paham sih. Pakcik tak masalah mereka nikah dan tinggal di rumah nenek kau, tapi mereka bisa tak ya muliakan rumah itu? Maksudnya tuh, jangan untuk pesta g****, miras, atau bawain orang luar masuk."


Ohh, jadi adiknya ayah ini intinya memikirkan rumah nenek Dinda. Ya iya juga sih, Bunga bukan cucu kandungnya, tapi menempati. Jelas harus memikirkan sih, jika Bunga bersuami. Khawatirnya, suaminya malah menguasai dan tidak memiliki bayangan untuk memiliki hunian sendiri untuk mereka dan anak-anaknya. 


Tapi entah mengapa, aku percaya Hema bukan orang yang merongrong harta pasangan. Dia keturunan orang kaya, bagian jelas punya lah. 


"Nanti dibicarakan sama Hema. Lagi fokus pengobatan aja itu anak, dari pas hari nikahan aku pun dia lagi berobat juga. Kasihan ya, Pakcik? Ngerusak betul si Jessie ini." Katakanlah Hema semakin terjerumus gara-gara Jessie. 

__ADS_1


"Tapi badannya agak segeran loh, Bang. Bang Ken mesti tau sih dokter terbaik untuk calon menantunya. Muka tuh udah tak kempot, Pakcik bercandain tuh katanya udah naik lima kilo berat badannya. Kalau badan sih masih segitu, dia tinggi jadi tak nampak naik lima kilo itu." Pakcik Gavin membukakan pagar rumah ayah. 


Ia masuk, kemudian bergantian denganku. Ayah ada di teras, ia melihat kami sekilas dan melambaikan tangannya pada Hadi. Menantu ayah ternyata ada di sini lagi, sebelumnya ia sudah pulang kembali. 


"Abang…. Jangan hakimi aku, ini cuma drama rumah tangga." Pakcik Gavin pura-pura menangis, ia berlari kecil dan langsung memeluk ayah. 


Pandai sekali ia menghindari amarah ayah. 


"Halah! Screenshot dari awal chatting sampai sekarang, screenshot panggilan suara, screenshot SW dia juga. Abang mau ada perlu sama Hadi dulu." Ayah dan Hadi duduk di teras rumah yang diperuntukkan diriku. 


"Oke siap, Komandan. Tapi aku tak dimarahin kan ini?" Pakcik sok imut sekali. 


"Urusan lelaki, belakangan." Tatapan ayah tajam mematikan. 


"Wah…." Punggung pakcik Gavin langsung ditekuk, seolah kecewa dan lemah. 


"Ayo, Pakcik." Aku sudah berada di ambang pintu. 


Ternyata, tante Ria masih di teras. Lihatlah istriku, ia duduk bersila di atas sofa dengan berpangku bantal. Di atas bantal tersebut ada piring berisikan potongan buah, ia mengambil satu persatu dengan menggunakan garpu. 


"Suamiku, udah pulang kah? Air putih, mau?" Nahda langsung menurunkan kakinya dari sofa. 


Ia seperti menonton drama tante Ria yang tengah menangis di pelukan biyung. Calon menantu yang satu ini memang agak lain, ia sudah seperti pemilik rumah mertua. Padahal saat tadi diajak, ia nampak seperti malu-malu. 


"Buahnya siapa?" Aku menghampirinya dan mencomot buah di atas piring di pangkuannya. 


"Ayah ambilkan, tak tau untuk siapa." Nahda menyuapkan satu ke mulutku. 


"Sih, bisanya dimakan?" Aku bingung untuk melanjutkan kunyahan. 


"Udah makan aja." Biyung melirik sekilas, kemudian fokus ke adiknya kembali. 

__ADS_1


"Boleh tuh, Bang. Aaaa dulu." Nahda masih menggantungkan tangannya. 


Isengnya mulai. Ia mengusap-usap pahaku, kemudian mencium pipiku sekilas. Di depan keluarga loh padahal, di depan keluarganya pun ia begitu. Tapi santai saja ia, saat tante Ria dan biyung memandangnya atas tindakannya itu. 


"Ya Allah, Istriku…. Aku kira engkau membeli sayur dan kecopetan, Sayang." Pakcik Gavin langsung menubruk istrinya. 


Ia bukan memeluk hangat istrinya, lebih tepatnya menggosokkan wajah istrinya ke dadanya. 


"Lipstik aku hilang!!!" Tante Ria mencubit part belakang suaminya. 


Ya ampun, random sekali keluargaku. 


"Maaf, Sayang. Maafin aku ya?" Pakcik Gavin langsung mendongakkan wajah istrinya, kemudian menciumi wajah istrinya habis-habisan. 


Dasarnya perempuan ya, begitu saja tante Ria sudah tertawa. Padahal air matanya belum kering, Nahda pun nampak melongo, melihat reaksi tante Ria yang langsung tertawa itu. 


"Maaf aku tak tau kau ngambek, Bu. Maaf ya? Tak ada aku selingkuh kok, kalau aku selingkuh, aku pastikan aku udah duda duluan." Pakcik Gavin memeluk istrinya lebih nyaman, kemudian ia duduk di samping istrinya. 


"Aku tak mau dijandakan! Anak aku banyak." Tante Ria malah menangis kembali. 


Sebenarnya bagaimana sih mood perempuan? 


"Iya, Sayang. Jangan kabur tuh, bungsu kita ngamuk aja. Yuk pulang? Aku mau berangkat ke Lampung, ikut kah mau ngasih jatah aja?"


Aku langsung tertunduk, aku yang malah malu sendiri melihat drama mereka. Kenapa ya rumah tanggaku dengan Izza dulu tidak seperti orang-orang? Maksudnya, tante Ria begini. Biyung pun begini juga yang aku tahu, papa Ghifar dan mama Aca pun tak jauh beda meski nampak normal juga.


Normalnya bagaimana? Jadi ya seperti interaksi wajar saja, saling membutuhkan satu sama lain. Tapi ada drama di mana papa Ghifar ngambek lauknya tak cocok, atau karena mama Aca tak masak. Ditambah dengan drama Kal yang ternyata ia lebih heboh dari kelihatannya, ia lebih lincah bergerak lebih dari adik-adiknya yang masih kecil. 


Kal seperti tidak bisa berjalan, apapun aktivitasnya ia pasti berlari kecil. Ia mengatakan bahwa buru-buru lah, lagi Zoom lah, atau tengah kebelet. Ia calon dokter yang sibuk, meski sudah wisuda dari pendidikan dokternya. Kal tengah fokus pendidikan lanjutan, juga menjalani beberapa perlengkapan sertifikat untuk mendukung profesinya nanti. 


"Jatah aku, Bang," bisik Nahda yang membuatku melongo bodoh. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2