Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA104. Seorang Bunga


__ADS_3

"Udah dulu, mau ambil ke depan dulu." Notifikasi di ponsel Bunga menyelamatkanku dari godaan ini. 


"Yah, Abang."


Ngeri-ngeri sedap Bunga ini, ditambah dengan status aku yang tengah ada problem begini. Pasti, jika ada apa-apa aku yang akan disalahkan. 


Aku mengantar makanan ini sampai ke dalam, karena Bunga sudah tidak ada di teras. Sayangnya, aku tidak bisa langsung pergi. Biyung menahanku, agar aku ikut mencicipi hidangan ini. 


"Terus gimana lagi, Dek?" Biyung fokus memandang Bunga. 


Sepertinya, mereka tengah curhat. Aku fokus makan saja, tidak berniat untuk mendengarkan curhatan tersebut. 


"Aku tak tau kalau ibu hamil tak boleh minum jamu. Masa di sana tuh rutin minum jamu, biar katanya badannya enak. Di warung jamu pinggir jalan kalau malam, yang langsung diseduh gitu loh, Biyung. Ada telur mentah, ada madu, dikasih jeruk nipis, dikasih anggur orang tua gitu. Tapi aku selalu nolak, karena pemahaman aku itu alkohol buruk untuk janin. Benar-benar tak tau, kalau jamu tuh gak boleh untuk ibu hamil." Bunga menjeda untuk mengunyah makanannya kembali. 


"Terakhir mau ke sini tuh dikasih obat, sebutir. Katanya obat tidur, soalnya aku ini punya gangguan tidur. Aku percaya aja lagi, jadi pas aku minum itu nyeri perut hebat. Masa itu, masa udah sampe di sini. Siangnya abis penerbangan, malamnya aku minum karena tak bisa tidur. Tapi malam itu juga, ketahuan ayah kalau aku hamil. Panjang lah cerita di situ, aku pun masih belum tau kalau dia ini beristri. Soalnya dia masih anak kuliahan, Biyung. Usianya, beda dua tahun sama aku. Anaknya satu, istrinya pun lagi ngandung lagi. Aku tau, masanya ayah seret dia ke sini. Kan ayah ada pulang ke Cirebon, cari keberadaan dia. Jadi tuh, istrinya di kampung di Indramayu. Dia di Cirebon, ngekos sendiri gitu. Dia buka semua kalau dia ini beristri, dia juga punya anak dan istrinya lagi ngandung juga. Banyak emosi di situ, apalagi istrinya sampai spam nomor aku. Aku korban keganasan suaminya! Aku tak tau dia beristri, aku tak tau dia punya anak. Terus kata umi, ya udah sirikan aja untuk nutupin aib kalau anak aku lahir. Karena istrinya tak ngasih izin untuk poligami, Biyung. Aku sih tak mau dinikahi, udah tah problemnya begitu. Tapi ayah pun malah minta aku untuk mau dinikahin dia, biar dia tak malu. Jadi aku minta, ya udah langsung cerai aja. Untuk apa nikah siri, tapi izin poligami dari istrinya pun tetap tak turun. Detik itu juga, setelah akad aku diceraikan karena aku benar-benar tak mau ada hubungan lagi sama dia. Aku cuma shock aja gitu, Biyung. Karena aku tak nyangka, kisah aku harus begini. Aku tak dapat informasi apapun juga, kalau janin aku akhirnya diangkat. Setelah kuret, ayah baru cerita semua. Tapi udah begini loh, Biyung? Harus gimana coba? Aku ingat pesan ayah, ikhlaskan yang udah terjadi dan fokus perbaiki diri. Ya udah, mau gimana lagi? Masa mau aku telan lagi janin aku? Aku pun tak tau kalau anak aku punya kelainan kongenital yang begitu komplek, aku baru tau semua setelah kuret itu. Kesempatan hidupnya kecil kata ayah, pilihan pengangkatan janin pun karena dia ternyata udah meninggal beberapa hari yang lalu di perut aku. Mungkin setelah aku minum obat kecil itu, yang kata Algi obat tidur. Soalnya masa itu kan memang sakit perut tak tertahankan." 


Aih, aku malah menyegarkan. 


"Sebelumnya tuh ada pembicaraan untuk gugurkan kandungan tak?" Biyung sampai berhenti makan. 

__ADS_1


"Tak ada." Bunga menggeleng. "Tak ada sama sekali, Biyung. Malah omongan kami, melahirkan dulu baru menikah. Soalnya dia memiliki pemahaman, kalau menikah masa hamil itu kek kita nikahi bayi yang ada di kandungan juga. Padahal udah aku kasih paham, udah aku jelaskan. Tapi dia tetap percaya, kalau menikah masa hamil itu tak boleh."


Aku memang pernah mendengar kyai mengatakan hal serupa. Tapi tentu dengan alasan yang berbeda. Aku pun pernah mendengar juga, tentang ada pernikahan yang dilakukan di depan jenazah ibunya. 


"Jadi rencana itu dia atur sendiri semuanya ya? Jahat banget tak sih dia ini?" Biyung sampai geleng-geleng kepala. 


"Aku tak tau apapun, semua ini dia atur sendiri. Berhubungan badan juga, dia tak ada takut-takutnya aku hamil. Aku udah bilang, kau bisa buang di luar biar kita tetap aman. Tapi dia bilang dari candu lah, inilah, itulah. Begituan pun ada resikonya, jadinya terkesan aku yang tak bisa jaga diri kalau begitu tuh."


Kok dari ucapannya, Bunga seperti sudah berpengalaman. 


"Kau tau airnya laki-laki itu buat hamil?" Aku reflek bertanya seperti ini. 


Kecil-kecil bajingan ini perempuan. 


Aku malah jadi curiga, bahwa dia oknum perusak laki-laki polos. 


"Terus kenapa tetap kau rutin lakuin?" Aku jadi ikut terbawa suasana obrolan ini. 


"Ya gimana? Pezina itu susah lepas, Bang. Makanya kenapa, perempuan jangan sampai kena zina. Karena perempuan zina itu seperti dosa yang ketagihan gitu."

__ADS_1


Intinya ketagihan saja, ia segala menarik kalimat dan membawa dosa. Pemain ini rupanya si adik kecil ini. Polos bohong, ekspresi wajah b****nya masa itu adalah benar-benar, bukan bohongan. 


Kok bisa sampai ia seperti ini? 


"Terus kedepannya mau gimana? Mau diulangi? Atau mau jadi pribadi yang lebih baik lagi?" Biyung benar-benar menunda acara makannya. 


"Ya jelas jangan diulangin lagi, aku pun harus lebih hati-hati sama laki-laki. Karena laki-laki muda, belum tentu bujang. Keknya kasus dia nikah pun, karena hamil duluan juga. Istrinya itu kecil betul, kek masih umuran SMP. Tapi keknya umurnya dituain gitu, Biyung."


Aku malah berpikir bahwa ia akan menggunakan KB, agar aman untuk melakukan kegiatan seperti ini lagi. 


Teringat wajah laki-laki Bunga saat di sana. Orangnya memang kecil, padat dan cenderung pendek. Aku mengiranya malah om-om, karena wajahnya boros sekali. 


"Tak penting masalah itu. Sekarang, gimana nanti kau kedepannya? Biyung malu hasil didikan Biyung begitu tuh, pasti Biyung disalahin ayah kau, keluarga bunda kau juga kan?" Biyung baperan seperti aku. 


Ah, aku jadi teringat dulu sering diledek cengeng. Karena katanya, setiap disapa orang aku pasti akan menangis. Konyol lagi memang seorang Chandra, Chandra kecil yang katanya penuh drama. 


"Biyung jangan mikir gitu dong, Biyung tak bersalah di sini. Aku pun berpikir, andai aku tak dibawa pulang ke Cirebon, pasti aku tak akan jadi seperti ini." Ia menunduk menatap makanannya. 


Seperti ini bagaimana? Dalam ucapannya selalu membuat spekulasi baru tentang dirinya. Sialnya, aku malah penasaran tentang seorang Bunga dan rekam jejak petualangannya. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2