Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA269. Cici-cici centil


__ADS_3

"Alamat pengirimannya kok kaya kenal nih." Ia terkekeh kecil, dengan memberikan struk, nota dan kartu debit. 


"Masa?" Aku menyamarkan takut ketahuan ini dengan senyum manis. 


"Anak pakcik Givan ya???" Ia memojokkanku. 


Sialan, ada yang tahu tentang aku rupanya. 


"Gimana? Gimana? Kita ngopi di luar aja, jangan pakai cara-cara licik. Aku tau kok, kalau usaha aku lagi maju sekarang."


Aku langsung menyatukan alisku dan memandangnya. Apa yang ia pikirkan? Lagi pun, apa yang harus diobrolkan sambil ngopi? 


"Wah, pakcik Givan sekali. Telpon dong telpon, bilang Meyda kangen gitu." Ia centil sekali. 


Aku makin keheranan menatap orang ini.


"Kau siapa sih?" Aku kaget, saat ia berpindah duduk di sampingku. 


"Kita ngopi! Aku maksa!" Ia setengah mengancam, dengan mendekatkan wajahnya padaku. 


"Dih! Aneh betul! Aku tak mau, gimana sok?!" Aku tidak mau terintimidasi dengan perempuan model begini. 


"Ini masalah usaha kan???" Ia berbisik ke telingaku. 


Sialan ini perempuan! Aku sampai langsung menggosok telingaku. Nanda saja tidak begitu pada suaminya, berani sekali ini perempuan bernapas di telingaku. 


"Jangan sok tau!" Aku menyimpan debit milikku. 


"Bukan sok tau, aku tau dan aku gak mau usahaku terseret di sini." Ia menunjukku sampai telunjuknya menekan dadaku. 


Aku menepis jarinya. Ia keterlaluan sekali mendekatiku dan menyentuhku. 


"Ya udah, di mana? Geser sana, dekat-dekat betul. Kau duluan, nanti aku ikutin mobil kau." Bahayanya jika tidak menjaga jarak, karena mau bagaimana pun aku ini laki-laki. 


"Aku gak bawa mobil, aku numpang tukang tadi. Sekalian sama kamu aja." 

__ADS_1


Pasti ia perhitungan sekali tentang pengeluarannya. Untuk sekedar bensin dan ongkos ojek pun, sepertinya sayang sekali. 


"Duh, ngerepotin." Mulutku memang kadang kasar, meski dalam hati berusaha menekannya. 


"Gak aneh, anak pakcik Givan ya kaya pakcik Givannya." Ia mengedikan bahunya, kemudian ngintil padaku. 


Cici-cici yang aneh. Ia seolah mengenal dekat ayahku, padahal aku pun tidak pernah melihat wajahnya. Ia menebak tepat bahwa aku adalah anak ayah, ditambah ia sok akrab denganku. 


Ia menunggu di teras toko, sedangkan aku memutarkan mobil milik ayah. Sepertinya mobil ini terawat, dipanaskan setiap hari mesinnya, sepertinya salah satu pesuruh ayah tinggal di sekitar rumah tinggal di sini. 


Ia langsung menghampiri mobilku, begitu mobilku menepi. Aku tidak mengerti, ia bisa percaya diri sekali mengenakan celana pendek dan kaos oblong saja. Nanda yang wow, ia selalu kalap jika ada yang ke rumah dengan pakaiannya yang tidak siap. Maklum, didikan papa Ghifar. 


"Kamu yang pernah ke sini sama biyung bukan sih?" Ia sudah duduk manis di sampingku. 


"Aku tak pernah ke sini, adik aku mungkin." Zio yang sering diajak berpergian. 


Aku ya diambil alih nenek. Aku ingat sekali saat aku sudah siap ingin diajak terbang ke Kalimantan, nenek melarang dengan mengatakan bahwa takut kecelakaan pesawat. Katanya lagi, nanti warisannya mau buat siapa, kalau aku juga ikut dan jadi korban kecelakaan pesawat. 


Shock mendengar mulut nenekku memang. Tapi maknanya memang ada benarnya juga, meski faktanya menusuk sekali. Jadi ya Zio yang sesekali ikut, kadangnya Ceysa. Dari Ra sampai ke Cali, mereka anteng di rumah, selalu ditinggal-tinggal ayah dan biyung untuk cek usaha dan liburan. Bukan karena mereka anak lain ayah atau ibu, tapi karena mereka masa itu memang ingin ikut, atau memang tidak ada yang memegang mereka. 


"Iya yang kurus tinggi itu loh, putih juga kulitnya." Ia menunjuk lenganku. 


"Iya, Zio," terangku kemudian. 


"Cafe dekat-dekat sini aja nih, agak ke kota, bisa empat puluh ribu segelas." Ia menunjuk ke depan. 


Bagaimana kalau ia tinggal di kampungku? Harga segelas kopi di coffee shop sana seperti di hotel mewah, kisaran delapan puluh sampai ratusan ribu. Jika di kedai biasa, ya sekitar lima belas sampai lima puluh ribu. Tapi itu bukan kopi sachetan, tapi dari biji kopi asli. Kedai kecil di sini pun memiliki mesin pengolah kopi sendiri. 


Tapi di sana ngopi itu sudah seperti budaya, jadi ya tidak merasa dimahalkan atau bagaimana. Karena mereka pun tahu sendiri, berapa harga biji kopi mentah di sana. Bahkan ada petani kecil yang mengolah bahannya sendiri untuk dinikmati sendiri dan dijual dalam skala kecil saja. 


"Di sini kah?" Aku menunjuk ke arah plang cafe terdekat. 


"Boleh, boleh."


Aku segera menyalakan lampu sein, kemudian bersiap untuk berbelok ke arah kiri. Ia memberikan uang dua puluh ribu, saat aku sudah memesankan kopi yang ia maksud. 

__ADS_1


"Aku mampu bayarin kali!" Aku mengembalikan uangnya. 


Seperti uang untuk mengajak anaknya jajan. 


"Uhh, sombongnya." Ia tertawa sampai matanya hilang. 


Yang awalnya terpesona pun, lenyap sudah karena ia terlalu terlihat perhitungan. Keluargaku pun perhitungan, makanya apa-apa dicatat hutang.


"Coba telpon pakcik Givan." Ia menunjuk ponselku yang tengah aku mainkan. 


"Udah, tak usah bawa-bawa ayah. Kau siapa? Kau ada perlu apa? Ada keperluan apa? Apa ada sangkut pautnya sama aku? Terus usaha apa yang ingin kau debatkan ini?" Aku berbicara tegas sekarang. 


Melunjak orang sepertinya ini. 


"Aku Meyda, Meyda Kaerana. Aku ada perlu, tentang kamu punya usaha serupa, tapi beli di tempatku. Aku memiliki pemikiran, kalau kamu mau oplos produkku dengan produkmu. Atau bisa jadi, kamu tengah mengulik pekerjaku tentang informasi rahasia rumah mebelku." Gestur dan cara bicaranya sok imut sekali. 


Heran juga, kenapa ia bisa senantiasa tersenyum? 


"Aku tak ada rencana untuk oplos produk, atau curi resep rahasia krusty krab kau." Rasanya aku ingin gasspoll saja. 


"Ish, galak banget ganteng-ganteng." Ia seperti menggerutu, tapi aku mendengarnya. 


Aku jinak ya ke Nahda. 


Istri bukan, pacar bukan, keluarga bukan, ngapain aku lembut dan manis pada manusia yang suka menuduh begini? Ia ingin bertanya, tapi caranya tak bisa baik-baik. 


Aku hanya menghela napas, bersedekap tangan dan memalingkan pandangan ke arah lain. Bukan badmood lagi, tapi emosi meletup-letup. 


"Keren kan aku, aku udah tau isi pikiranmu." Ia bergaya seperti 'cibi-cibi, ha-ha-ha'. 


"Pikiran otak pala kau! Sekalipun usaha ayah aku tengah down, tapi tak berniat sama sekali untuk nyuri resep toko kau. Aku cuma mau nanya-nanya, tentang orang-orang yang tau masalah usaha ayah aku. Aku diutus ke sini, tapi tak tau masalahnya apa. Aku ada feeling sih ke bahan baku, soalnya beda sama yang di tempat kau. Tapi…." Aku mengusap-usap daguku dan meliriknya.


"Tapi paling juga, kalian pun orang yang berkecimpung dalam kelicikan yang sama." Aku berpikir bahwa ia pun tangan kanan bosnya. 


"Masa aku licik ke usaha sendiri???" Ia merentangkan setelah lengannya. 

__ADS_1


"Aku tau sesuatu sih, tapi kamu mau ikut aku gak?" Senyumnya lebar sekali. 


...****************...


__ADS_2