Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA285. Kefrontalan Nahda


__ADS_3

"Suara Nahda itu, Bang." Ayah menaruh telapak tangannya dekat telinganya. 


"Iya sih." Aku bergegas menuju ke akses keluar masuk tempat kerja ayah. 


"Abang…. Ayah…. Biyung…." Ia memanggil lirih, dengan suara yang semakin menggema mendekat. 


Aku berhasil membuka pintu. "Ini, Dek." Aku celingukan mencari keberadaannya. 


"Ehh, Abang." Langkah kaki cepat seperti berbalik dan berlari ke arahku. 


Sesaat kemudian, ia muncul dari area dapur. 


"Jam satu malam, Abang. Capek loh aku nunggu." Ia langsung menagrupku. 


Ya ampun, tepok jidat. 


"Biasanya pun tak ditunggu, Sayang." Aku merangkulnya, kemudian membawanya masuk ke ruang kerja ayah. 


"Abang belum selesai." Aku menunjuk tumpukkan tugas negara dari ayah di atas meja kerja ayah. 


"Kok belum tidur, Dek?" Ayah menyusun dokumen penting yang sudah dibahas. 


"Belum, nungguin Abang. Udah janjian, Ayah." Nahda menggelayuti lenganku. 


"Mau ke mana? Kau pilek kalau keluar malam." Ayah hanya melirik sekilas pada menantunya ini. 


"Kan keluarnya di dalam aja."


Segera, aku membungkam mulut istriku yang tidak sopan. 


Ekspresi ayah saat ini seperti ini 😳. Namun, beberapa saat kemudian langsung datar kembali. 


"Tak apa kalau suami kau sibuk, kau bisa tinggalkan kewajiban kau. Tak harus kau tunggu, khawatirnya kau kecewa nunggu. Yang Kuasa pun pasti ngerti kok, tiket surga kau tak mungkin hangus." Ayah mengatakan hal itu dengan pura-pura sibuk, entah benar tengah sibuk. 


"Kan aku butuh, Ayah. Bukan tentang hanya tiket surga aja."


Mulut istriku sudah bocor. Perasaan, tadi sudah aku bungkam dengan telapak tangan kiriku. 


"Lah, bentar-bentar. Kau tunggu suami kau di kamar depan, tak usah pulang lagi ke rumah. Tiga pembahasan lagi kok, sabar." Ayah buru-buru membuka dokumen lain. 


Aku melepaskan pelukan Nahda di tanganku, kemudian aku duduk di depan meja kerja ayah kembali. Nahda terlihat berjalan ke sisi lain, kemudian melihat-lihat pajangan dinding. 

__ADS_1


"Tak ah, mau di rumah aja biar bebas. Aku tungguin aja biar cepat, ditinggal nanti bahasnya ngalor-ngidul dulu. Tak sat set tuh Ayah sama Bang Chandra, menyepelekan waktu." Nahda mendongak memperhatikan foto keluarga berukuran besar. 


"Ya sok ditungguin, sana ambil makanan biar tak masuk angin." Ayah sudah membuka dokumen lain, kemudian didorong ke hadapanku. 


Kami mulai membahas. Beberapa kali aku melirik ke arah Nahda, yang keluar masuk membawa beberapa makanan dan minuman. Ia anteng ngemil dan melihat-lihat isi ruang kerja, tanpa merengek atau mengganggu pembahasan kami. 


Orangnya cukup sopan, tahu tata krama. Ia mungkin sangat mengerti, jika ia mengganggu malah pembahasan kami akan tersendat dan akan lebih lama selesainya. 


Sampai akhirnya membubuhkan beberapa tanda tangan, tutup dokumen dan rapi-rapi. Aku diberitahu kode brankas yang berisikan dokumen penting ini. Ayah pun memberitahu beberapa kode bahaya, yang muncul di aplikasi khusus yang mengelola grafik usaha. Jadi contohnya seperti nilai mata uang yang turun, pebisnis pasti tahu lebih dulu. 


Ayah pun bercerita, ia mencurigai Dana sejak mencocokkan beberapa pertanyaannya pada Meyda. Awalnya, memang ayah curiga karena pendapatan dari penjualan produk dengan bahan baku jati menurun. Yap benar, lebih dan sangat dominan dari bahan MDF ketimbang pasaran di Jepara di laporan usaha tersebut. Ayah merasa heran, karena jawaban Meyda di sana tetap jati tua yang berkuasa di pasaran. MDF nomor dua bisa dibilang, itu pun pembelian berulang. Yang artinya, beberapa bulan kemudian orang itu datang kembali untuk perbaikan furniture tersebut, atau membeli ulang. 


Cici-cici janda yang genit itu, ternyata cukup membantu ayah dengan kejujurannya. Rekan bisnis yang sehat, tidak saling menjatuhkan. 


"Sana tuh, selamat berjuang mencari keringat. Ayah mau cek adik-adik kau dulu." Ayah menepuk bahuku, kemudian keluar lebih dulu dari ruang kerja ini. 


"Ayo, Dek." Aku melambaikan tangan pada Nahda yang tengah mengumpulkan sampah makanan ringan. 


Ia orang yang sangat resik dan rapi. Aku senang diurus olehnya, meski sedikit bawel dan menurut saja. Ya contohnya, jangan tiduran di ranjang yang baru dibereskan. Bisa-bisa langsung emosi dirinya, jika baru rapi-rapi lalu aku acak-acak kembali. 


"Bentar, Bang." Nahda sekalian membawa tong sampah keluar ruangan. 


Ampun, bersihnya. 


Ya ampun, langsung daging. Ke mana pelapisnya? 


"Kau tak pakai CD, Dek?" tanyaku saat membukakan pintu ruang kerja ayah untuknya. 


"Kanan dan kiri dipisah, pakai yang ditengah aja tuh. Aku udah salin dari tadi, aku ke sini ya dobel sama dress rumahan aja." Ia sedikit manyun, tanda ia masih kesal menungguku lama tadi. 


"Awww…." Aku membayangkannya sudah merah padam sendiri. 


"Abang tunggu di depan. Aku taruh sampah dulu, terus cuci tangan." Ia berjalan mendahului ke arah dapur. 


Aku tidak peduli, aku mengikutinya sengaja ingin menonton part belakangnya yang mengajakku berdansa itu. 


Uwu sekali, menggoda sekali. 


"Heh, ngintilin aja." Sepertinya Nahda menyadari, jika aku berada di belakangnya. 


"Bagus dressnya, motifnya kek kue lapis." Padahal mataku melotot ke arah mana. 

__ADS_1


"Masa, Bang? Enak tau adem bahannya, ya memang agak tipis. Harganya sekitar tujuh puluh ribuan." Ia menaruh tempat sampah dari tempat kerja ayah itu di dekat tempat sampah dapur. 


Kemudian, ia menoleh kembali ke arahku yang tengah bersedekap tangan dan menonton gerak p******nya. Lalu, ia berjalan ke arah wastafel. 


"Beli lah satu lusin, Abang kasih besok pagi kalau Adek suka sama bahannya sih. Cantik kok pakai model itu." Mulutku modus saja, Nahda tidak pakai apa-apa pun tetap nampak cantik. 


"Wah, yang bener?" Ia nampak girang. 


Ia menarik beberapa tisu, kemudian mengeringkan tangannya. Garis bibirnya masih tertarik, ia masih tersenyum karena janji kecil yang aku berikan itu. 


Sebenarnya lebih ke model daster, lurus saja tidak ada potongan pada dress tersebut. Hanya ada variasi karet, di atas dadanya saja. Pakai pakaian yang longgar apapun, p***** Nahda tetap terlihat serong kanan kiri setiap kali berjalan. Ia terlihat lebih mencolok memakai baju apa saja, sejak berat badannya naik itu. 


"Bener dong, Sayang. Mau payment sekarang?" Aku merangkulnya dan mengajaknya berjalan beriringan. 


"Payment transfer dari rekening Abang?" Tangannya ditempatkan di pinggangku. 


"Boleh, bisa kok. Nanti sampai rumah ya?" Senyumku sudah amat sumringah. 


Wah, makan enak sekali malam ini. Rendang kalah, teppan kalah, chicken kalah karena part belakang Nahda. 


Modal delapan ratus empat puluh ribu, untuk membeli dress lapis legit itu. Tak sebanding dengan servis dari suka hatinya, karena hadiah kecil yang aku berikan itu. 


Ia perempuan yang gampang dibujuk, dalam kurung untuk suaminya saja.


"Tapi nanti jangan ketinggalan ya? Bijinya juga nanti kena sapu ya?" Aku berbicara hati-hati, karena melihat ayah baru masuk ke kamar Cala dan Cali. 


Kami masih berjalan menuju pintu depan. 


"Hmm?" Nahda mendongak memandangku. 


Alisnya terangkat, seolah bertanya sesuatu lebih lengkap dengan kalimat tersebut. 


"Yaaa…. Ngerti kan, Adek?" Ia jarang melakukan hal tersebut, karena ia seperti gemas pada batangnya saja. 


"Ngerti, oke. Memang biasanya pun gimana?" Ia tersenyum lebar. 


Pandai juga. 


"Ya kan, jarang aja." Aku membuka pintu dengan akses sidik jari, kemudian kami keluar bersama dari rumah ayah. 


Untungnya ayahku pengertian pada menantunya yang mulutnya bocor ini. Coba jika ayah tidak memakluminya, akan jadi apa coba rasa maluku karena kefrontalan Nahda tadi? 

__ADS_1


Sudah masuk ke dalam rumah kami. Pintu terkunci otomatis, dengan Nahda yang langsung melempar jilbab instannya dan dressnya itu. 


...****************...


__ADS_2