Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA242. Membedakan perasaan


__ADS_3

Tidak mendapatkan keponakannya, maka ia menyerang pamannya begitu? Rasanya gila sekali, jika memang begitu. 


"Pakcik, ada main kah?" Aku terus memperhatikan pakcik, saat Jessie sudah pergi. 


"Main apa?" Pakcik masih memperhatikan aktivitas anaknya, bahkan ia memakan buah belimbing hasil panen anaknya. 


"Sama perempuan tadi?" Aku bertanya dengan hati-hati. 


"Wah, dia malah cerita udah dekat sama kau, tapi kau nikahnya sama saudara sendiri." Alis pakcik Gavin naik sebelah. 


Aih, jadi si Jessie habis curcol? 


"Kalau dekat-dekatan, kan aku lebih dekat sama Bunga." Bukan aku membela diri, mencari pembenaran atas pernikahan kemarin. 


"Ya memang, namanya Chandra bird kan?" Pakcik Gavin seperti menahan tawa. 


Apa maksudnya itu? 


"Ayah ada bilang apa?" Aku berpikir, gosip tentang aku dan Nahda sudah campur sebelum nikah itu menyebar ke keluarga. 


"Kan kau tau sendiri, Bang. Tak perlu dibahas, aib." Pakcik Gavin merendahkan suaranya. 


Jadi, saudara ayah ini percaya jika aku dan Nahda berbuat kotor sebelum nikah? 


"Aku tak begitu loh, Pakcik." Rasanya aku ingin membantah pernyataan semua orang. 


"Keimanan seseorang, tak ada yang tau, Bang. Sekalipun kau keturunan orang baik-baik, atau sebaliknya. Kau lulusan pesantren, atau tak sekolah sama sekali. Keimanan seseorang, tak mematok background orang tersebut. Pakcik lemah iman, makanya berani ambil nikah agama, karena Pakcik punya ilmu pemahaman. Memang salah juga, tak patut ditiru karena malah buat masalah yang panjang. Terserah kau aja, Pakcik tak mau menghakimi. Tapi setau Pakcik dan selama Pakcik sama kau, ya aman aja dan Pakcik tak ajarkan hal yang buruk."


Pakcik seolah tidak mau ikut-ikutan dengan drama keluarga yang menjebloskanku ke pernikahan. 


"Pakcik percaya aku begitu?" 


Pakcik mengedikkan bahunya. "Percaya tak percaya, ini tentang selang******, Cuy." 


Jadi, maksudnya bagaimana? 


"Kalau Pakcik jadi aku, memang gimana?" Aku tidak mengerti pemikiran beliau. 


"Pakcik tak suka pacaran, s*****n soalnya. Pas dekat sama tante kau aja, tangan Pakcik usil. Dekat akrab aja padahal, tak distatusin. Kalau Pakcik jadi kau, ya mungkin bobol banyak orang. Kau dekat Jessie, dekat Bunga, dekat Nahda juga." 

__ADS_1


Jawaban pakcik membuatku melongo. 


"Gila Pakcik ini." Aku geleng-geleng kepala. 


"Karena menyangkut selang******, mubazir gitu loh. Makanya gemas-gemas betul, Pakcik ajak nikah siri."


Pasti ini tentang ibu kandungnya Cali. 


"Kan udah ada istri nih, Pakcik. Apa kepengen untuk nikah siri juga?" Aku khawatir ia tergoda dengan Jessie. 


"Tak sih, Pakcik bukan orang yang slengean. Udah punya selang******, ya udah nikmati. Dulu pas ibunya Cali datang lagi pun, ya Pakcik fokus ke tante kau aja." Pakcik menguap lebar. 


"Ohh, kalau Pakcik belum sama tante Ria. Apa mau balik sama ibunya Cali?" Aku takut pakcik tergoda dengan Jessie, makanya aku memberi pertanyaan yang mengulik. 


"Tak lah, Pakcik punya pacar di Lampung. Kalau memang tak sama tante kau, ya sama orang Lampung meski Pakcik tak suka ayahnya. Karena kan kemungkinan diboyong Pakcik, jadi tak ada urusan sama ayahnya meski direcokin juga. Ya paling risih-risih aja, Pakcik pun bakal iya-iya aja."


Kenapa aku malah mendapati fakta tentang pakcik Gavin? 


"Pakcik punya pacar, tapi nikahi tante Ria?" Aku menatap kaget paman muda ini. 


Kenapa laki-laki jahat sekali? 


"Iya, Pakcik tak mau mutusin. Jadi biarkan dia lelah sendiri dan mutusin Pakcik, sebelum akad tuh udah putus. Laki-laki itu, pilih calon itu wajar sih. Toh lagi pun, tak Pakcik icip-icip atau gimana."


"Terus Pakcik ribut? Pakcik bajingan juga." Aku berdecak heran. 


"Bukan bajingan juga. Kau dengerin ya? Laki-laki, punya warisan, punya usaha, muda, penghasilan jelas, ya diincar. Itu bapaknya dia yang mojokin Pakcik sama anaknya, dia pak RT di Lampung sana. Pakcik tak enak nolak, karena dapat izin usaha dan segala macam lewat tangan dia. Pendatang baru, nguasain wilayah dan tiba-tiba jadi bos, itu sulit dapat persetujuan dan pasti harus masuk uang besar sebagai kompensasi izin masyarakat setempat. Kek penggusuran lahan untuk perumahan aja, tiba-tiba harga lahannya jadi mahal karena aji mumpung diborong pihak perumahan. Ngurus surat izin pun sesulit itu lah, belum lagi dana kompensasi dan perjanjian warga untuk bisa ikut kerja di ladang Pakcik. Jadi kek kira-kira warga jadi sejahtera tak, dengan adanya pertanian Pakcik di situ." 


Jadi, pakcik mengambil peluang itu agar usahanya lancar? 


"Pakcik cinta sama anak pak RT itu?" Selicik ini pamanku. 


"Tak, Bang. Kasian aja, simpati gitu. Pacaran juga tak yang kek mana, paling antar sekolah, jemput sekolah, main ke rumahnya cuma buat ngobrol haha hehe aja. Masih SMA, masih kecil dia. Sebenarnya tak beda jauh juga, Pakcik umur dua puluh dua masa itu keknya."


Kok pakcik bisa membedakan cinta, kasihan, simpati dan lain sebagainya? Kok aku tidak bisa? 


"Simpati itu gimana?" Aku mulai mencari wawasan, agar aku bisa menyaring perasaanku sendiri. 


"Simpati itu rasa tertarik ke individu atau kelompok, karena sikapnya, wibawanya atau perbuatannya sedemikian rupa. Bisa juga tentang menghargai seseorang. Jadi karena dia udah cinta sama kita, kita mencoba bersikap baik dan menghargai perasaannya."

__ADS_1


Loh? Aku ke Izza apa dong? 


"Kasihan sih?" tanyaku kembali. 


"Kasihan ya kasihan, tak tega. Mau ditinggal tapi nanti dia gimana tanpa kita, gitu. Mau ditinggal, takut dia berbuat nekat gitu. Sebenarnya, dalam rumah tangga harus ada kasihannya. Tapi kan beda kalau cuma kasihan aja tapi tanpa cinta." Pakcik menyalakan rokoknya. 


Wah, jangan-jangan aku cuma kasihan pada Izza? 


"Kau ke Nahda gimana?" tanya pakcik Gavin, karena aku hanya diam memperhatikan. 


"Eummm, belum tau. Jalani aja dulu, Pakcik." Rasanya seperti pada adik sendiri, tapi aku berani menidurinya. 


"Dih, aneh. Kau kek sama perempuan yang baru dikenal aja, jawabnya jalanin aja dulu. Istri kau loh itu, Bang." Pakcik memandang kakinya sendiri. 


"Bingung sih, Pakcik. Kek ke Ra, Cani, tapi ada ser-sernya. Kadang ada canggung juga, pengen kentut aja masih malu." Aku terkekeh kecil. 


Pakcik Gavin tertawa lepas. "Kau aneh, Bang. Padahal sebelumnya ada kejadian, jadi ingat cerita tentang ayah kau aja."


Wah, mesti ini tentang ayah yang menikahi biyung karena dirinya pelaku pemerkosaan biyung. Pasti canggungnya ayah satu dua sepertiku pada Nahda, ketika masih menjadi pasangan baru. 


"Aku tak perkosa dia, Pakcik." Aku tak mau dituduh lebih jahanam dari ayah. 


"Oh ya? Kok bisa bingung tentang perasaan sendiri, padahal udah dekat kan kemarinnya?" 


Bingung sudah. 


"Ya mungkin terlalu cepat aja waktunya, Pakcik. Tapi udah kek suami istri pada umumnya, aku kasih uang, dia penuhi kewajiban." Meski tidak membuat sarapan, Nahda sekarang tengah membuat makan siang. 


Aku berpikir pun, ia tengah mencuci baju sekarang. 


"Kau penuhi kewajiban kau juga?" tanyanya kemudian. 


"Oh, iya. Aku penuhi lah, Pakcik. Ya meski…." Ya meski tidak terpenuhi keinginan batinnya. 


"Si alis tebal ya?" Pakcik tertawa geli sampai memegangi perutnya. 


Apa pakcik paham juga tentang bocoran dari kitab yang dipelajari di pesantren itu? 


"Pakcik paham?" Aku menaikan satu alisnya. 

__ADS_1


"Paham lah, kewalahan ya? Tapi… .. 


...****************...


__ADS_2