Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA69. Paket sembako


__ADS_3

"Aku mau antar beras dulu ya? Ini disuruh abu untuk antar sembako ke pak cek Ardi." Chandra menunjuk mobilnya yang bagasinya terbuka lebar. 


Beberapa karung beras sepuluh kilo bertumpuk di sana, dengan beberapa plastik besar yang berjejer rapi. 


"Buat apa? Shodaqoh?" Key ikut keluar dengan jemarinya yang masih kotor. 


"Ngancam." Chandra tersenyum lebar dan berjalan ke arah mobilnya. 


"Sebentar ya, Za?" Chandra menyempatkan menoleh, sebelum ia masuk ke dalam mobil tersebut. 


"Tuh, apa-apa bilang. Beruntung lah, Za. Ada loh suami yang main pergi aja. Ayo, masuk." Key mengajak Izza masuk kembali ke dalam rumah. 


Izza mengangguk. "Ayo, Kak." 


Chandra telah sampai di rumah pusaka milik orang tua Zuhdi. Ia langsung memindahkan tumpukan beras tersebut di depan rumah itu, kemudian ia membawa kebutuhan sembako lainnya. Tidak lupa, ia mengeluarkan amplop dari dalam sakunya. 


Tok, tok, tok….


Ketukan pintu dilakukan berulang. Suara token listrik, menjadi teman Chandra menunggu penghuni rumah itu keluar. Chandra tidak mengerti, begitu banyak orang yang menghuni rumah ini, tapi rumah ini seperti terkesan rumah tak berpenghuni. 


"Assalamu'alaikum…." Chandra menyerukan suaranya. 


"Ya, wa'alaikum salam." Aini mendengar suara Chandra, ia langsung keluar dari kamarnya. 


Pintu terbuka, Aini langsung terpanah melihat sembako dan amplop di tangan Chandra. Ia langsung teringat perdebatan mereka kemarin. Apalagi, masalah pekerjaan ditarik oleh Chandra. 


"Ada apa?" Aini langsung tegang. 


"Ini, disuruh nganterin ini dari ayah." Chandra mengikuti skenario ayahnya dan paman iparnya. 


"Ayah kau?" Aini tahu, pengelolaan ladang milik mendiang Adi Riyana diambil alih oleh Givan. Jadi, secara tidak langsung para kepala keluarga di sini bekerja pada Givan. 


Semua warga yang tahu nilai besarnya warisan Adi, langsung mempertanyakan karena ladang dikelola oleh orang-orang Givan. Sampai orang kepercayaan Adi menyebarkan informasi, bahwa Givan hanya mengelola dan mendapat upah dari pekerjaannya mengelola ladang tersebut. Sedangkan hasil ladang, tetap dibagikan oleh ahli waris yang berhak. 

__ADS_1


Para warga beranggapan, bahwa Givan anak tiri Adi dan tidak berhak mendapatkan warisan Adi. Mereka lupa jika istri Adi, adalah ibu kandung Givan. Namun, Givan tidak mempermasalahkan riuhnya suara warga. Karena ia sendiri yang menolak pembagian tersebut, hingga akhirnya bagiannya turun pada anak-anaknya yang memiliki nasabnya. 


Givan mewajari hidup di kampung, yang apapun dihakimi oleh warga kampung. Sedangkan dirinya merasa semua itu tidak benar, tidak berniat sedikitpun untuk memberi penjelasan pada warga kampung. Yang terpenting menurutnya, dirinya tidak seperti yang orang-orang katakan. 


"Ini uangnya, udah ada namanya." Chandra menyerahkan amplop tersebut. 


"Uang apa?" Di pikiran Aini, itu adalah uang pesangon. 


Ia semakin membenci Zuhdi, karena kakak iparnya tersebut membuang Ardi kala usahanya semakin berjaya. Bukan tanpa alasan, Zuhdi begitu muak dengan adiknya yang mudah dipengaruhi oleh adik iparnya itu. Ardi selalu melunjak, tidak seperti posisi awalnya dan selalu meminta lebih dari yang seharusnya bagian darinya. 


Karena sifat Aini yang seperti itu, Zuhdi tega untuk memutus kerjakan adiknya. Sehingga, adiknya menjadi pekerja ladang di kebun kopi milik mertuanya. 


Aini memiliki kekesalan terpendam pada Zuhdi, karena membuat suaminya cukup kesulitan dalam bekerja. Dulu saat bekerja dengan Zuhdi, ekonomi mereka membaik. Namun, sejak Ardi menjadi pekerja serabutan dan buruh ladang. Membuat pendapat Zuhdi, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari mereka saja. 


"Mak cek pasti paham sendiri lah." Senyum Chandra membuat Aini merinding. Ia khawatir suaminya benar-benar diputus kerjakan dari pekerjaannya sekarang. 


Harus mencari nafkah di mana, jika suaminya benar-benar dipecat dari pekerjaannya di ladang. Ia semakin panik, dengan memanggil seluruh anggota keluarga. 


"Ada apa?" Seluruh anggota keluarga muncul dan bertanya-tanya melihat Chandra dengan barang-barang yang ia bawa. 


Aini langsung memberikan amplop tersebut pada nama pemiliknya. 


"Maksudnya apa?" Mereka saling memandang satu sama lain. 


"Ayah kau benar-benar pecat kita, dengan permintaan kau itu? Tega ya kau, Chandra?! Punya saudara kaya, bukannya membantu, tapi malah semakin buat susah saudara yang susah. Hanya gara-gara masalah kemarin, kau dengan mudahnya pecat semua orang yang buat masalah dengan kau." Aini mulai berani saat ditemani oleh keluarganya. 


"Tuh tau, salah siapa buat masalah?" Chandra tertawa sumbang. 


Ia tidak mengiyakan hal tersebut, sesuai apa yang ayahnya dan paman iparnya inginkan.


"Kau tak sebaik teungku Adi!" tuduh salah satu keluarga Zuhdi. 


"Harusnya, kalian tau diri." Chandra bertutur santai. 

__ADS_1


"Apa sih memangnya? Kan kita ngomongin fakta? Terus kau tersinggung kan? Kita kau salahkan, karena kau tersinggung? Kau tak ngotak!" Ardi menunjuk wajah Chandra dari jarak dekat. 


Chandra mundur satu langkah. "Jadi, harusnya aku bilang apa? Kalian bukan saudara dekat, kalian orang lain dan kalian tak berhak ngomong sesuka kalian. Makanya, hati-hati dalam bertutur. Makanya, jaga lisan sebaik mungkin. Yang sadar, yang sadar, yang sadar! Kami pun manusia, yang sama punya rasa kesal dan marah kek kalian!" Chandra berbalik menunjuk Ardi. 


"Anak muda sombong!" tambah seseorang dari keluarga Zuhdi. 


"Manusia tak tau diri!" Chandra membalikkan ucapannya. 


Chandra seolah dikeroyok oleh penghakiman mereka semua, meski Chandra bisa menepis, tapi Chandra merasa terdorong untuk segera pergi. Ia merasa, ini di luar skenario ayahnya dan paman iparnya. Mereka hanya menginginkan dirinya memberikan barang, bukan berbalik saling melemparkan makian seperti itu. 


Lampu rumah tersebut mati secara mendadak. Chandra tahu masalahnya, yaitu token listrik rumah tersebut habis. Lampu yang mati tersebut, seolah seperti pemutus perdebatan mereka. 


"Ck…." Chandra geleng-geleng kepala, kemudian langsung berbalik badan dan berlalu pergi tanpa pamit. 


Laporan yang sesuai, ia berikan pada ayahnya dan paman iparnya. Selagi tidak mengatakan apapun, Givan dan Zuhdi merasa Chandra aman untuk mengikuti skenarionya. 


"Gih tidur, Izza masih di Key keknya. Kau udah tergolong punya KK sendiri, tadi pak RT ke sini katanya nanti kau dapat giliran untuk ronda. Malam ini giliran Fa'ad, mungkin kau minggu-minggu nanti, kalau KK keluar katanya." Givan menunjuk rumah anak sulungnya. 


"Tidur di mana aku, Yah?" Chandra ingin memiliki privasi sendiri, tapi ia tidak berani protes pada ayahnya.


"Di kamar tamu aja, bawain lah pakaian kalian dari rumah kau. Seminggu sih di rumah sama biyung." Selama itu, Givan ingin membuang rasa canggung Izza yang baru masuk ke keluarga mereka. 


"Iya, Yah." Chandra menuruti perintah ayahnya. Ia berbenah barang-barang pribadinya dan istrinya sendiri, kemudian ia mencuci tangan dan menjemput istrinya di rumah Key. 


Chandra bertanya-tanya, apa yang menjadi pembahasan dua perempuan tersebut. Karena obrolan masih terdengar, dengan gelak tawa renyah terdengar menggema. 


"Za, pulang. Udah jam sebelas, Za," seru Chandra di depan rumah Key. 


"Iya." Izza bergegas kala mendengar seruan suaminya. 


Rasa malunya timbul, kala suaminya menggandengnya di depan ayah mertuanya. Chandra seolah tidak canggung bermesraan dengannya di depan ayahnya sendiri, bahkan sorot mata Givan dan Zuhdi sempat terarah ke arah mereka. 


"Nanti lagi beres-beresnya. Ayo tidur, mata aku udah berat betul." Chandra menghempaskan tubuhnya di ranjang. 

__ADS_1


"Tidur?" Izza menatap heran suaminya yang mengajaknya hanya tidur tersebut. 


...****************...


__ADS_2