
"Kalau dapat karmanya. Ayah bukan lagi mengulas kisah lama, Ayah udah menyesali semuanya dan tak mau keturunan Ayah ikutin jejak buruk Ayah. Ayah berubah, karena dapat kesialan yang bertubi-tubi. Yang pertama, ditinggalkan tunangan Ayah. Yang kedua, depresi dan menggunakan obat-obatan terlarang. Yang ketiga, melakukan hal yang tak senonoh, masuknya kriminal, kemudian harus dinikahkan dengan korban kriminal dari perbuatan Ayah. Belum sadar juga nyatanya, sampai harus rehabilitasi setelah akad nikah. Sadar-sadarnya, mandang biyung kau tidur. Ya Allah, kasihan sekali perempuan lugu ini, harus dapat laki-laki yang kek Ayah. Seminggu dua minggu hidup bersama, masih keluyuran aja. Sampai di mana terbiasa dengan rutinitas biyung yang deres ngajinya, selalu mengulang membaca Al-Qur'an setiap ba'da Maghrib. Hai, Ayah malu sendiri. Ayah malu istri Ayah sholehah, tapi Ayah sosok yang tak pantas dicontoh. Mulai fokus merubah diri, mulai fokus memposisikan diri. Nyatanya, tobatnya pendosa itu ujiannya besar. Dibuat susah ekonominya, dibuat susah punya keturunan, dibuat kacau rumah tangganya. Bahasa biyung kau dari kyainya, tobatnya seorang perempuan itu akan diuji dari menstruasi. Karena di masa menstruasi, perempuan kan libur sholat. Untuk membangun sholat dari awal lagi setelah selesai menstruasi itu sulit, ujiannya di situ. Mulai laginya susah. Allah bakal lihat keseriusan kita dari hal itu, bisa tak nih lanjut ibadahnya, atau mulai gila lagi setelah selesai menstruasi. Berliku jalannya, makanya yang udah menjadi sosok pribadi yang baik, jaga dan pertahankan. Karena sekalinya dia pilih jalan yang salah, jalan tobatnya diberi ujian yang tak ada habisnya untuk memastikan kesungguhan dari taubatnya. Bunga ada masanya, ada ayah kandungnya juga, pasti terkontrol kalau pak wa kau peka. Cuma kan Ayah tak tau juga, itu masalah keluarga mereka. Dia di sini, ya anak Ayah. Ayah kasih makan, Ayah kasih jajan, Ayah kasih pakaian, Ayah kasih perhatian, Ayah kasih nasehat berulang dan Ayah kasih saran berulang. Barangkali, nasehat dan saran Ayah suatu saat dipakai." Ayah memamerkan giginya padaku.
Giginya sudah palsu semua, bray. Ada yang ganti crown, ada yang ganti dari akarnya juga. Meminum alkohol di masa muda, tidak mampu membuat gigi kuat dan kokoh sampai usia lima puluh tahun. Tapi dulu di ilmu sains, aku pernah mengawetkan serangga dengan alkohol murni. Ya mungkin beda objeknya, kan alkohol minuman keras itu diminum, bukan merendam objeknya juga.
"Apa dia seburuk Ayah dulu juga?" Paman-pamanku perusak pikiranku tentang ayah, karena mereka aku tahu semua sejarah hidup ayah.
Tapi fakta itu tidak membuatku meragukan ayahku sendiri. Aku yakin ayahku orang baik, aku tetap percaya dengan apapun yang keluar dari mulut ayah.
"Tak tau juga, Bang. Jaman Ayah dengan jaman dia udah beda, bisa jadi lebih buruk atau lebih ringan. Kenakalan laki-laki pun beda dengan perempuan, nakalnya laki-laki habislah uang. Nakalnya perempuan, biasanya buat dia makin kek bidadari. Karena sekalipun dia tak jual diri, tapi dia pasti dapat keroyolan dari laki-laki yang pakai dia. Nakalnya laki-laki pun macam-macam, main lomba burung pun, bisa ada judinya. Main game pun, bisa ada judinya. Main mobil, main perempuan, macam-macam permainan laki-laki ada sisi negatifnya, tergantung dia yang bawa badannya sendiri. Makanya Ayah tekankan, kau yang udah di jalan yang aman, jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah. Ya pertahankan, dekatkan diri lagi dengan Sang Pencipta dan bersyukur. Merugi sebenarnya, untuk mereka yang pilih jalan yang salah dengan alasan balas dendam, atau dengan alasan suntuk, gaya hidup atau pergaulan. Contoh biyung, apapun diikhlaskan. Ayah berkhianat, ikhlaskan. Biyung tak pernah balas, dia tetap jadi dirinya dan tetap berada di jalan yang aman. Jadi janda dulu, dia tak jadi murahan. Dia kawin lagi, bukan hamil duluan. Dia kawin lagi, kawin resmi loh bukan mau di sirikan."
Ada ayah, yang membuatku menjadi berpikiran luas dan berwawasan. Ada biyung, yang membuat imanku kuat dan mencontoh sifat baiknya. Aku tidak pernah sedikitpun mengambil sisi buruk dalam setiap cerita ayah, aku akan mengambil hikmahnya dan sisi baiknya. Ayahku the best, biyungku too good.
"Aku kacau kalau dekat Bunga. Bercandanya sih oke, pikiran kami juga searah. Tapi physical touchnya, Yah." Aku geleng-geleng kepala.
"Ketemu di mana memang? Perasaan, sore tadi kau di teras belakang potong-potongan kuku sama istri kau." Ayah memandangku sekilas. Setelahnya, ia menutup layar laptopnya.
"Pagi tadi, dia numpang. Sekali 'hah' dia ngomong, langsung setengah tiang aku, Yah." Aku mengusap wajahku kasar.
__ADS_1
Eh, ayah malah tertawa lepas.
"Sebegitu indahnya kah? Dari awal kau nampak dia, kek tak biasa Ayah tengok kau begitu." Ayah menepuk pundakku.
Hiburan sekali rupanya aku ini.
"Aduh, rasanya ini pengen aku aniaya. Tangan keknya geli betul, pengen gaplok-gaplok." Aku menggosokkan kedua telapak tanganku.
Ayah tertawa kembali. "Wajar. Istri sendiri tak apalah, tau kira-kira aja gaploknya."
Terkejut dong aku. "Memang boleh gaplok begitu? Apa tak KDRT?" Aku takut dengan kekerasan, apalagi aku yang melakukan.
Aih, baru tahu aku.
"Ngomongin apa nih? Kok gaplok-gaplok gitu?" Bunga memamerkan senyum manisnya.
Aku curiga ia memakai susuk.
__ADS_1
"Ngomongin KAMU, kamu cantik banget." Ayah memasang wajah terkesima.
Sialan, ini circle bajingan.
Bunga tertawa renyah, kemudian ia duduk di sofa single hadapan kami. "Ayah, aku izin nginep di sini ya?"
Lebih baik aku ngamer dengan segera. Daripada ada sesi ngobrol dengannya, bisa gaswat aku dibuat tegang tapi melampiaskan pada Izza.
"Boleh, bobo sama biyung ya? Temani biyung, Ayah ada kerjaan di luar. Biyung bobo cepat, kalau bobo harus ada temannya. Temani ya?"
Aduh, kakiku sudah geli ingin segera kabur. Wanginya mantap sekali, parfum apa yang ia gunakan?
"Oke, Yah. Yah, gimana kalau aku ambil pendidikan psikolog aja? Aku tak tertarik sama dunia kedokteran, pengganti ayah pun bisa Kirei aja." Ia fokus memandang ayah. Tapi jujur saja, daya tariknya kuat sekali agar aku terus memandangnya.
"Kirei masih tujuh tahun, mau diharapkan jadi apa? Kalau memang tertarik psikolog, ya hajar aja udah. Mikirin warisan rumah sakit punya ayah kau, keponakannya calon dokter semua meski agak-agak kocak." Aku tahu yang ayah maksud ini, pasti itu Kal dan Kaf.
"Ayah tuh punya harapan besar ke aku, Yah. Aku tak bisa perdalam, meski aku sekolah di kesehatan pun rasanya pusing betul hafalin dosis dan segala macam."
__ADS_1
Pastilah pusing, orang sekolahnya sembari memperdalam percintaan dengan laki-lakinya. Di bidang apapun, ya tetap pusing juga kalau pikiran kita terbagi.
"Ya mau gimana? Marwah kau yang diharapkan aja, nyatanya tak bisa kau jaga. Eh, mikirin warisan lagi. Tata aja dulu diri kau, masa depan kau, kehidupan kau. Jangan mikirin ini itu, sekarang banyak orang kepercayaan yang ahli di bidangnya asal berani uang. Mereka yang tak punya modal, berani jual skill aja." Kata-kata tajam keluar sudah dari mulut ayah.