
"***ing! Cipika-cipiki sama perempuan lagi! Kau tak akan tau kan aduan aku??! Tak cuma mampus, kau bakal bayar tunai semuanya!" Nahda mengarahkan kamera ponselnya ke arah teras rumah seseorang.
Kami sudah seperti pasukan investigasi. Melacak keadaan bang Dana, yang tengah berselingkuh dengan perempuan lain.
"Udah tuh mulutnya, Dek." Aku meraup wajah Nahda lembut.
"Katanya maki yang kasar aja?!" tegas Nahda dengan manyunan khasnya.
"Udah diam ajal lah, tak usah maki dia. Cenat-cenut telinga Abang dengernya tuh." Nanti suaranya pasti ikut terekam di video itu.
Ish, laki-laki jahat sekali ya? Habis bertindak kasar pada istrinya, bisa-bisanya ia bersikap manis pada perempuan lain.
"Abang di pihak dia?!"
Apa pula ini perempuan.
"Kenapa kita yang ribut sih? Tak mihak manapun, memang pening aja denger Adek nyerocos aja." Aku memijat pelipisku.
"Kan aku diizinkan Abang untuk maki-maki." Ia menunjukku.
Ternyata perempuan yang didatangi bang Dana di rumah subsidi ini, merupakan perempuan yang sering datang ke rumah mebel itu. Benar dugaanku, ia selingkuhan bang Dana.
Karena tidak akan seperti itu, antar saudara kecuali memiliki perasaan. Aku dan Ra saja ini, banyak ributnya, mulutku banyak kasarnya. Aku dan Bunga cukup damai, tapi pemikiran burukku dengannya begitu banyak di otakku, belum lagi interaksi kami yang tidak segitunya.
"Udah, Dek. Udah!" Mesti saja aku harus tegas.
Badmood pasti Nahda sekarang. Ia sudah manyun saja dan membuang muka.
Aku jadi teringat penyelidikanku, saat membuntuti bang Vano. Saat itu, yang menjadi partnerku adalah ayah.
Perempuan tersebut akhirnya dibonceng oleh bang Dana menggunakan motor karbunya. Perempuan tersebut memakai seragam, seperti bekerja di suatu perusahaan. Terlihat dari bordilan yang ada di dada dan lengannya, samar bertuliskan ada kata PTnya.
__ADS_1
Perempuan tersebut jika datang ke tempat usaha ayah, selalu menggunakan pakaian sehari-hari yang terlihat seksi. Bukan celana panjang kain, dengan setelan seragam kerja. Mungkin perempuan ini baru saja bekerja, atau mungkin saat kemarin itu ia ganti shift, sehingga ia bebas di jam kerja pada umumnya.
Dugaanku benar, motor bang Dana berhenti kembali di depan pabrik garmen. Rupanya perempuan ini bangga sekali bisa merebut suami orang. Sampai rela cium tangan, layaknya seorang istri berpamitan pada suaminya.
Motornya langsung berjalan kembali. Belum sempat berhenti tadi, aku langsung mengikuti kembali arah motor itu pergi.
"Dek, coba baca sekeliling jalanan. Barangkali ada alamat tentang jalanan apa sekarang. Coba buka map alamat juga, cocokan barangkali ada yang sama." Aku menepuk pahanya.
Ngambeknya tak ngambek brutal. Nahda bergerak cepat, mengikuti perintahku.
"Ada yang sama, Bang. Ini nih, alamat ulakan kayu mahoni." Nahda menunjukkan alamat tersebut padaku.
"Kalau memang harus masuk, mesti harus ada yang tak dikenali di sana." Aku sedikit menyesali datang ke rumah mebel dan memperkenalkan diri siapa aku sebenarnya saat pertama kali datang.
"Bentar-bentar." Nahda mengacak-acak model jilbabnya.
Aku masih mengemudi, motor tersebut belum berhenti.
Tanpa pikir panjang, aku segera menoleh. Nahda sudah bercadar, dengan hanya mata dan alisnya saja yang terlihat.
"Bentar nih, masih ada yang kurang." Ia mengacak-acak isi tasnya sendiri.
Aku masih belum bisa memberikan reaksi, aku merasa ya aku masih mengenal Nahda. Mungkin karena aku tahu jelas bagaimana bentuk alisnya, ditambah dengan suaranya itu.
"Aku ada kacamata fotocromic, nanti kalau kena panas lensanya berubah jadi hitam. Frame kacamata ini agak tebal, jadi buat wajah beda kata aku sih, Bang." Nahda bercermin dengan ponselnya.
Aku menoleh cepat. Benar apa yang ia ucapkan, wajahnya tidak terlihat jelas dan hanya matanya yang terlihat di sini. Alisnya lumayan tertutup, dengan frame kacamata tersebut.
"Adek mau turun untuk ambil video dan informasi? Adek harus ngobrol juga di sana, biar tak mencurigakan." Aku memperhatikan wajahnya yang samar dalam kain kerudungnya itu.
"Mau, Bang. Tapi aku harus pura-pura apa di sana? Nanya apa gitu?"
__ADS_1
Aku menepikan kendaraanku berjarak dua tempat dari tempat bang Dana berhenti.
"Tanya harga, bilang aja untuk perbandingan ulakan partai besar. Tapi Adek dekat posisi bang Dana, tanya kalau harga yang barang baku yang bang Dana pegang itu berapa. Tanya perbedaan harga ulakan banyaknya barang. Misalkan, harga dua juta itu orderan berapa banyak gitu. Adek puter-puter pertanyaan begitu, sampai dapat informasi orderan bang Dana. Kualitas kayu, masa panen bahan baki, memperngaruhi harga ulakan. Beras aja ada banyak macam, kan? Ada yang harga sepuluh ribu, sebelas, sebelas lima dan dua belas." Semoga Nahda mengerti apa yang harus ia tanyakan.
"HP jangan sampai mencurigakan, jadi kek digenggam aja biasa tuh. Tapi sekiranya, gambarnya tuh kena tuh." Aku merapikan hijabnya yang dimodif itu.
"Ada arahan lain tak, Bang?" Nahda bersiap mengempit tasnya.
"Adek bisa improvisasi kan? Pokoknya, tanya yang sekiranya Adek dapat informasi barang yang bang Dana order. Jangan barang lain, karena itu tak diperlukan. Nanti Abang cocokan sama nota yang tertulis dan dokumen yang dia kirim sebagai bukti perputaran uang." Mana tau ada kesalahannya di sini juga.
"Oh, iya-iya paham. Berarti, tanya bahan baku yang dia pesan ya?" Nahda sudah membuka pintu mobil.
"Iya, Dek. Ati-ati ya, Dek? Kalau bisa, bahasanya pakai bahasa baku ya? Nada bicaranya diganti, jangan kek begini nih. Kalau logat sih, pasti agak susah lah. Nada bicaranya aja yang agak dimodifikasi." Aku mencekal lengannya.
Nahda terdiam dengan satu kaki sudah turun dari mobil. "Oh, iya aku ngerti, Bang." Nahda mengangguk beberapa kali.
"Oke, ati-ati, Dek." Aku melepaskan cekalan tanganku pada lengannya.
Nahda turun, ia berjalan ke tempat yang lumayan besar itu. Benar apa yang ia katakan, aku melihat lensa kacamatanya berubah saat dirinya menoleh ke arah mobilku sebelum masuk ke dalam tempat ulakan tersebut.
Aku berdoa dan terus berharap dalam hati, semoga Nahda mampu mengemban tugas ini. Aku akan bercerita pada ayah, jika istriku berjasa besar dalam rencana ini. Agar ayah bangga dan tahu bagaimana usaha istriku di sini.
Aku mengecek map yang aku bawa kembali, aku mencocokkan dengan jalanan dari Google Maps. Ternyata, tempat ulakan bahan baku kayu yang lain pun tidak jauh dari sini. Bahkan di sebuah penilaian tempat yang aku baca, tempat ulakan ini tersedia kayu lainnya juga selain jenis mahoni.
Detik terlewat menit, sampai hampir berganti jam. Aku berharap, Nahda jangan sampai lupa menyentuh on dalam kameranya. Aku berharap, tidak terjadi hal buruk pada istriku yang masih belia itu.
Bang Dana keluar dari tempatnya menggunakan motor tersebut, tapi istriku tak kunjung muncul. Aku panik, rasanya ingin keluar tapi khawatir ada yang mengenalku juga. Aku tidak fokus ke mana arah perginya bang Dana, karena pikiranku berpusat pada pintu keluar tempat ulakan tersebut.
Aku takut Nahda dimangsa para lelaki yang berada di sana.
...****************...
__ADS_1