
"Gugat cerai?" Ayah sampai menautkan alisnya.
Aku bangkit untuk duduk, kemudian mengucek mataku. Meski berAC, rasanya lengket keringat tubuhku ini. Aku melepaskan kaosku, kemudian memilih untuk rebahan kembali di dekat ayah duduk. Aku bisa pulas berjam-jam, jika tidur dekat seseorang yang aku yakini bisa menjagaku.
"Udah siang sih, Bang. Udah setengah dua, udah tidurnya." Ayah mencolek-colek bagian samping punggungku, karena aku tengah merebahkan tubuhku menyamping menghadap paha luarnya.
"Ayah baru datang?" Aku tengkurap, kemudian mencoba melihat kaki ayah.
Apa jangan-jangan ayah sudah bermain-main dengan tante Nina dulu, masanya aku tertidur tadi. Aku khawatir ayahku mengkhianati ibuku dan adiknya sendiri. Tapi syukurnya ayah masih memakai sepatunya, ayah sepertinya baru datang.
"Iya, bawa makanan tuh. Cuci muka sana, terus ajak Tante kau makan." Ayah baru melepaskan sepatunya.
"Tan, tak jadi bakso beranaknya." Aku duduk dan memasang wajah kecewa.
"Itu Ayah bawa, Bang!" Tante menunjuk ke sebuah meja sudut.
"Memang Ayah bawa bakso beranak?" Aku tengah menarik ikat pinggangku.
"Bawa, tadi Ayah telpon Tante kau. Kau ditelpon tak diangkat-angkat, jadi Ayah telpon Tante kau." Ayah bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Ayah, aku mau cuci muka dulu." Aku melemparkan sabuk ke tengah ranjang, kemudian berlari ingin mendahului ayah masuk ke kamar mandi.
"Pintunya dua, Bang. Kau di wastafel aja tuh." Ayah tidak mau mengalah.
"Mau pipis dulu." Aku mengekori ayah masuk ke kamar mandi.
"Ayah di shower box."
Akhirnya, kami satu kamar mandi. Tengah enak-enaknya pipis, ayah malah keluar dari shower box.
Tawanya lepas. "Tidurnya sendiri, bangunnya berdua." Ayah menunjuk ke milikku.
"Ayah tuh!" Aku memutar posisiku untuk membelakangi ayah, karena susah ngerem juga jika tengah tegang begini.
__ADS_1
"Besar kepalanya aja lagi, kembaran sama Gue." Ayah berjalan mengambil perlengkapan mandi yang berada di atas wastafel ternyata.
"Ayah kenapa tak besar semua? Kan nanti aku punya pun besar semua juga." Selesai juga akhirnya.
Ayah sudah berjalan masuk kembali ke dalam shower box. "Kalau bisa pun Ayah request ya bergerigi aja." Ayah menutup pintu shower box dengan santai.
Aku cekikikan karena membayangkan.
Setelah bersih-bersih dan cuci muka, aku langsung keluar dan mencari alat makan. Benar-benar jumbo baksonya, seukuran mangkuk dan ayah membeli tiga porsi.
"Nikmat betul hidup kau, Bang. Bangun tidur, makan." Tante Nina menyindirku.
"Ayo makan bareng, Tan. Aku biasa dienakin di rumah, jadi anteng aja di rumah kalau disajikan beginian." Aku langsung menyiapkannya ke dalam mangkuk.
"Tak ada yang berubah sejak kau nikah dan menduda sekarang?" Tante Nina menghampiriku.
Aku menaruhnya di lantai, karena mejanya kurang besar dan juga tidak dekat dengan sofa. Enak juga makan dengan duduk di lantai begini, lebih rileks.
"Kau tak ada perubahan jadi sering keluyuran kah gitu, setelah jadi duda ini?" Tante Nina memperhatikan wajahku.
Aku memberinya sendok dan garpu berwarna emas ini, alat makan ala sultan seperti di rumah nenek Dinda. Aku pun menyodorkan semangkuk bakso yang hampir penuh di mangkuk tersebut. Bahkan, sampai menggunung.
"Keluyuran juga untuk kerja, Tan. Keluyuran untuk antar jemput adik sendiri, kadang disuruh ayah untuk urus ini dan itu." Aku mulai mencicipi kuahnya.
Sesuai ekspektasi, aku jadi semangat untuk membelah bakso jumbo yang memiliki banyak anak ini di dalamnya.
"Keluyuran untuk perempuan, gitu?" Rupanya tante Nina tengah memperhatikan wajahku.
"Tak ada, pernah sih jemput satu dua kali di depan rumahnya. Terus aku sibuk lagi, Tan. Aku belum pengen punya istri lagi, bingung masih merintis juga. Takutnya kek kemarin, dibatasi sampai jam berapa, jadi permasalahan kalau aku sibuk dan dia kurang perhatian." Problem sederhana, yang membuatku berpikir ulang untuk menikah.
"Bukannya kemarin karena meninggal kan?" Tante Nina tidak kunjung mencicipi isi mangkuknya.
"Iya, sakit dan gagal operasi semacamnya. Tapi ada juga problem begitu, kek dia belum dewasa juga gitu. Ya mungkin, memang kurangnya kesepakatan dan komunikasi." Seperti saat Izza melarang aku setiap hari pergi ke rumah biyung. Kan aku ada urusan dengan ayah, tapi Izza tidak tahu aslinya dan seolah tidak ingin tahu juga.
__ADS_1
"Komunikasi Tante sama om kau baik loh, Bang. Dia rajin kirim foto tentang keberadaan dia, cerita tentang bagaimana kasus yang dihadapi juga."
Mau makan, malah sesak dulu.
"Kita makan dulu deh, Tan. Keknya juga ayah mau ada perlu sama Tante, makanya sampai nyusul ke sini." Aku bergerak untuk mencari air minum.
Ada, ternyata ayah membelinya juga.
"Iya, Bang." Akhirnya tante Nina mau makan juga.
Ayah pun ikut makan bersama, kami makan dengan membahas hal-hal lain seperti tentang usaha Zio. Anak ayah yang satu itu, ternyata lebih fokus mengembangkan usaha seperti papa Ghifar. Zio mengambil beberapa kreditan mobil lagi, berharap akan travelnya makin lancar.
"Hamil belum istrinya itu?" tanya tante Nina, setelah habis membahas tentang usaha Zio.
"Cabut singkong, belajar dulu itu juga. Nanya terus pas baru-baru nikah, ada aja problem ranjangnya bujang satu itu." Ayah sampai geleng-geleng kepala.
"Masa sih, Yah? Aku tak tau, Zio tak cerita." Aku penasaran ingin mendengarnya.
"Kau aja amatir, ngapain dia tanya ke kau?" Ayah melirikku.
Eh, tante Nina malah tertawa lepas sampai menutup mulutnya.
"Masalah ranjang gimana? Istrinya juga lajang kan? Masa masih muda udah bermasalah?" tanya tante Nina kemudian.
"Ya ada aja, dari nanya kenapa dia cepat selesai. Terus minta saran dan caranya juga, biar agak lama. Nanya juga sarung ini apa harus punya pelumas, pusing bolak-balik minimarket dia. Udah selesai masalah sarung, tinggal protes pakai sarung tak berasa. Barulah, disarankan cabut singkong. Aku bilang juga, belajarnya menjelang haid aja, biar kalau telat cabut itu tak jadi. Nurut sih, tapi ada lagi aduannya. Awalnya aku kira mereka ini udah campur, karena udah bareng terus. Eh pas nikah, amatir juga ternyata banyak nanya." Ayah terkekeh geli.
Tante Nina tertawa amat lebar, seperti hiburan untuknya. "Aku gitu tak ya kalau anak nikah?" Matanya melirik ke atas, seperti membayangkan sesuatu.
"Ke ayahnya biasanya dong, mereka gimana ke Vendra?" Terlontarnya pertanyaan ayah, tante Nina murung kembali.
Wanita ini sensitif betul.
...****************...
__ADS_1