Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA288. Ingin berkunjung


__ADS_3

Laki-laki tersebut tersenyum manis, saat aku turun dari mobil untuk menghampiri Ra. Aku jadi teringat Hadi, wajah cengengesannya seperti saat Hadi kecil bersemu mekar bertemu Ceysa yang baru pulang dari Singapore. 


"Siang, Bang." Ia mengajakku berjabat tangan. 


"Siang." Aku meladeni jabatan tangannya tanpa senyum. 


"Bang, boleh izin main ke rumah Caera tak?" Ia ramah dan nada bicaranya lembut mendayu, aku jadi teringat orang Sunda. 


"Untuk apa? Ini Saya datang untuk jemput Ra." Aku berdiri di depan Ra. 


Wajah Ra sejak tadi pun seperti masam, seperti tidak suka dengan laki-laki ini. Atau entah karena aku datang, membuatnya takut karena ketahuan beriringan dengan laki-laki ini. 


"Untuk bisa ngobrol banyak sama Caera, biar sekalian tau juga rumahnya." Ia memasang senyumnya setiap kali berbicara. 


"Siapa nama kau?" Sudah dua kali ini, aku menanyakan nama laki-laki teman adikku. 


"Saya Syuhada, Bang."


Siapa lagi aku harus memanggilnya. 


"Pulanglah, lain waktu kau bisa main kalau Ra libur. Ini kartu nama Saya." Aku membuka dompetku, kemudian memberikan salahstok kartu namaku untuknya. 


"Boleh ya, Bang?" Ia bergerak cepat untuk mengambil kartu tersebut. 


"Iya, boleh. Tapi tak pulang ngampus begini, khawatir Ra capek." Masalahnya, aku terlanjur pusing dengan Fadli. 


"Siap, Bang." Ia melihat isi kartu nama tersebut. 


"Alamat rumah Abang dan Caera sama? Maksudnya, Abang masih satu rumah? Soalnya, Caera pernah izin dengan alasan Abangnya menikah." tanyanya kemudian. 


Ia mengamati Ra sekali rupanya. Ra berwajah sangar begini, ada yang memperhatikan diam-diam ternyata. 


"Iya." Aku tidak punya waktu menjelaskan bagaimana bentuk pondok kami di rumah. 


"Makasih, Bang. Nanti hari Minggu aku izin main ke sana ya?" Ia terlihat bahagia sekali. 


Aku mengangguk. "Iya silahkan." Aku memandang Ra. "Ayo, Dek." Aku merangkulnya, kemudian membukakan pintu untuknya. 


Ra sudah menundukkan kepalanya saja, sepertinya gadis bongsor ini takut aku beri banyak pertanyaan. 


Sesaat setelah aku duduk, benar adanya Ra dalam kondisi ketakutan. Ia memainkan kedua tangannya, dengan kepalanya yang menunduk sampai bahunya rata. 


"Aku tak pacaran, Bang. Demi Allah…." Suara si galak ini bisa bergetar juga. 


Iya benar, Ra galak dari kecil. Sebelum dipesantrenkan, ia ringan tangan. 

__ADS_1


"Teman satu fakultas kau kah?" tanyaku lembut. 


Jika aku dalam mode galak, bisa-bisa ia menangis lagi. 


"Ya, Bang. Dari awal masuk, dia udah merhatiin terus. Tapi akhir-akhir ini ada tugas kampus, dia ngechat terus karena kan dia yang ngumpulin, tapi aku telat terus tuh. Kan dikumpulkan segera, kalau udah terkumpul. Bukan aku menyepelekan, tapi aku sibuk nonton film, jadi kadang kalau baru ditegur aja baru aku kerjakan. 


Sibuk nonton film katanya? 


"Daripada ayah marah, karena kau sibuk nonton film sampai ganggu pendidikan. Mending nonton filmnya hari libur aja, sok sepuasnya sama kakak ipar kau bareng. Ini saran dan perintah Abang, biar kau tak kena getok." Aku menarik pelan hidungnya. 


"Tapi filmnya tuh menggoda, Abang…." 


Drama dimulai. Suara manjanya dikeluarkan, setiap kali ada suatu hal yang tidak cocok dengan mereka. 


"Nurut Abang, Dek. Abang tuh sayang sama kau." Fokusku terbagi, karena harus berkendara dan mengusap kepalanya juga agar ia luruh. 


Diam beberapa saat, tidak ada jawaban dan sahutan. Namun, pelukan hangat aku dapatkan. Ia tetap memberi ruang, agar aku bisa nyaman memutar stir. 


"Iya, Abang…… "


Sudah iya, eh malah tangisnya kencang. Aduh, ternyata semua perempuan itu drama ya? 


"Sayang…." Aku mengusap-usap pipinya, yang menempel di mengaku. 


"Kalau iya jangan nangis, utamakan pendidikan." Rabaan tanganku benar-benar menemukan air matanya. 


Ampun adik-adikku ini. 


"Iya kalau hobi ya dilakukan sesekali aja, jangan setiap hari. Tengok kak Ceysa, dia panutan sekali masalah pendidikan." Aku mencoba menenangkannya. 


"Hamil duluan itu?"


Aku langsung meliriknya tajam, kemudian cepat-cepat lagi fokus ke depan. 


"Maaf, Abang." Tangisnya terdengar lagi. 


"Kenapa kau nangis? Nangisin Syuhada atau film?" Memojokkannya adalah jalan ninja untuk membuat Ra mengamuk dan lupa kepiluannya itu. 


"Abang!!!" 


Aku merasa lenganku langsung dihap oleh mulut buaya kecil. Aku menggerakan lenganku, agar mulut Ra terlepas dari sana. 


Aku terkekeh kecil, saat ia sudah duduk tegak kembali di bangkunya. Ia mengusapi air matanya dengan ujung kerudungnya, suara tersedu-sedunya masih terdengar. 


"Aku ilfeel banget kalau didekati laki-laki, Bang. Mereka semua itu kepedean, seolah nyangkanya aku tertarik sama mereka. Disenyumin aja, kek yang aku ngebalas cintanya. Aku tuh tak pengen pacaran dan nikah cepat, nanti aku bucin kek kakak ipar. Ish, aku kek jijik sendiri kalau kakak ipar pasang foto Abang untuk dijadikan wallpapernya. Apalagi kalau post kemesraan mereka, Abang gesek-gesekin kaki Abang ke kakinya. Ihh, itu ngapain sih? Risih tak gitu?"

__ADS_1


Aku sudah mengarahkan kendaraan ke arah kampusnya Nahda. 


Laki-laki yang mendekati Ra harus punya effort besar dan daya tarik yang berbeda, karena Ra modelan perempuan yang gila film. Pasti ia menyukai cara laki-laki mengejar perempuan dalam drama film yang ia tonton. 


"Suami sendiri kok risih? Ya suaminya nikah lagi nanti." Aku bingung harus menimpali apa, karena memang Nahda terlihat sebucin itu padaku. 


"Masa, Bang? Kok ayah sering teriak risih ke biyung, tapi biyung tak nikah lagi."


Rumit aku menjelaskan. 


"Cinta, Ra. Udah, tak usah lanjut bahas. Intinya, cinta. Udah!" Aku khawatir salah ngomong, lalu terbuka tabiat Nahda yang memang sangat hot itu. 


"Abang pun cinta sama kakak ipar? Tak pacaran tuh cinta???"


Sepertinya, lebih baik Ra menangis tadi. Daripada ia sudah tidak menangis, tapi membombardir pertanyaan seperti ini. 


"Nahda istri Abang, Dek. Ya kali Abang cinta ke istri orang?!" Intinya, pusat doaku ada di dirinya. 


"Ya maksudnya tuh…. Kan Abang tak pacaran sama kakak ipar, tapi tak berat kah menjalaninya?"


"Tak, Dek. Nahda cantik, bodynya bagus, bisa taat, memenuhi kewajibannya, bisa jadi partner di segala kondisi. Kenapa harus berat? Jangan kufur nikmat," ungkapku kemudian. 


"Ck, semua laki-laki mandang fisik." 


Ia seperti tidak tahu dalam agama saja. 


"Belajar kau sampai mana, Caerol?! Coba diingat kembali kata ustadzah kau." Aku harus melebarkan sabarku ketika berbicara dengan bangsa perempuan. 


Tapi rasanya, kaku sekali hati ini. 


Ia terkekeh kecil, kemudian menunju lenganku. Memang begitu dirinya, bercanda juga main fisik. Pernah bercanda dengan Cani, sampai Cani jatuh dari ranjang karena ia dorong. 


"Abang tuh bikin emosi tau tak?!" Ia tertawa lepas. 


Emosi katanya? Hufttt….


"Kau ikut masuk, apa tunggu di luar." Aku sudah sampai di depan kampus Nahda. 


"Ikut Abang aja." Ra menaruh tasnya di bangku belakang, kemudian ia menggenggam ponselnya. 


"Kakak ipar kenapa sih? Mau di DO kah karena jarang berangkat?" 


Aku tengah mencari parkiran kosong. 


"Tak tau, makanya mau nanya." Aku mulai melakukan parkir paralel. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2