
"Tak juga, aku biasa aja ke Bunga. Pulang gih udah malam, kenapa malah ikut ke bidan juga?"
Apa ia ingin aku mengantarnya?
"Aku diajak sih, Bang. Kenapa nyuruh aku pulang terus? Mau nganterin kah?"
Loh? Kok terkesan aku yang berharap mengantarnya?
"Ya udah, mau diantar gitu? Ayo, cepat." Aku bergerak masuk untuk izin ke ayah.
Perempuan memang ribet, penuh dengan kode. Lagian kenapa harus minta diantar? Dia saja datang sendiri ke sini.
"Yah, aku izin anter Jessie ya?" Aku berbisik pada ayah.
Ayah menoleh, ia diam beberapa saat. "Jangan, Bang. Biarin dia capek dan pulang sendiri, Ayah bawa ke sini biar adik kau di rumah bisa istirahat," terang ayah lirih.
"Kenapa dia tak pulang-pulang?" Aku berpikir karena ayah menahan.
"Mungkin udah biasa begadang." Ayah mengedikkan bahunya.
"Jadi gimana?" Aku bingung sendiri.
"Biar nanti Ayah ke depan, kau di sini aja sama Biyung. Ayah tak suka betul dengan caranya, dia terlalu berani datangi laki-laki. Masa berteman sampai nampak kek obses gitu? Kan tak wajar, Bang?" Ayah merangkulku dan mengajakku duduk di bangku panjang di depan kamar bersalin.
"Iya sih, Yah. Dia ditanya pun bilangnya cuma mau berteman, tapi kok berani datangi aku terus ya?" Aku pun mulai curiga.
Jangan-jangan, Jessie memiliki maksud tertentu. Jangan-jangan, ia ingin menjebakku.
"Ayah punya musuh tak?" Aku memiliki arah pikiran yang konyol.
"Tak punya, Bang. Kenapa kau tanya musuh?" Ayah memperhatikan aku dari samping.
"Barangkali dia diutus untuk ngacak-ngacak hidup anak Ayah gitu." Pemikiranku terlalu drama.
"Dasarnya kau yang ngehalunya pengen diacak-acak perempuan! Fokus ke ladang aja dulu, jangan hiraukan perempuan. Kau kaya, perempuan tinggal tunjuk mau yang mana."
__ADS_1
Sekarang pun tinggal tunjuk, sayangnya memang tidak ada yang menarik perhatian seperti damagenya pusar Jessie. Heem, iya pusar sialan itu yang sempat menarik perhatianku. Sebenarnya mudah saja menghilangkan ketertarikan itu, yaitu dengan cara aku menyibukkan diri.
"Salah kah kadang pengen cicipi perempuan?" Aku merangkul ayah.
"Salah kah laki-laki lain coba dekati adik-adik kau untuk main-main aja?" Ayah melirik sinis.
Aku melepaskan rangkulanku cepat. "Woah, ya beda. Janganlah!"
"Ya berarti jangan cicip-cicip juga. Memang udah gatal sangat kah?" Ayah menyikut pinggangku.
"Tak juga, penasaran aja kadang. Udahlah, tak usah dibahas. Jadi gimana tuh si Jessie di depan?" Aku tidak nyaman, karena masih ada orang asing di luar menungguku.
"Ayah udah bilang om Nando untuk ke sini dan antar Jessie pulang, tunggu aja dia datang. Udah dibantu kasih jarak, kau jangan coba ajak dia jalan lagi. Jangan bawa dia ke rumah pupuk, jangan sering chatting sama dia juga. Biar kerjaan kita tak sia-sia semata."
Syukurlah, jika ayah sudah meng-handle Jessie.
"Besok, kau bantu Ayah urus Ra sama pindahan Cani. Ra masuk kampus Zio, Cani masuk SMA Islami yang paling dekat aja. Sekarang tidur aja, biar Ayah yang jaga kak Jasmine sama cucu baru Ayah." Ayah menepuk pundakku dan beralih pergi.
Tak lama, ayah kembali memberikan sebuah bantal dan selimut. Tanpa pikir panjang, karena kelelahan aku pun bisa terlelap dengan segera.
Cani yang masih SMA, repot dengan cardigan dan sepatu yang akan dipakainya hari ini. Sedangkan Ra, ia heboh dengan seluruh setelan yang menempel di tubuhnya. Belum lagi, aku selalu berdebat mengenai mobil.
Kecolongan dirinya membawa mobil, adalah ancaman terbesar untuk hidupku. Seperti Kamis pagi ini, aku baru selesai mengantar Cani dan kakaknya itu sudah berangkat membawa mobil sendiri.
Yang sering aku tanyakan, ia belajar mobil di mana? Jawaban aneh, mulai dari ia hanya mengaku belajar membawa traktor, mengayuh mesin jahit dan hanya menginjak dinamo mesin jahit. Menurutku, itu semua bukanlah bekal yang cukup untuk membawa mobil sendiri ke jalan raya.
"Ayah tuh santai aja, heran aku." Aku sudah mandi keringat karena panik.
"Bisa, Bang. Ayah tau sendiri." Ayah sibuk mengurus anak perempuannya yang tengah rewel karena giginya goyang itu, si Cala.
"Kalau dia kecelakaan gimana?" Pikiranku semrawut.
"Dia punya SIM, Bang," tambah biyung yang repot melumuri pipi Cala dengan kayu putih.
Aku tidak yakin kayu putih bisa menyembuhkan sakit gigi, tapi yang penting yakin saja.
__ADS_1
"Tak lah, aku pengen mastiin sendiri." Aku nekat pergi mencari Ra, meski ayah sudah memberitahu bahwa Ra sudah berangkat cukup lama.
Nyatanya memang sia-sia, aku hanya bisa menyaksikannya yang pulang kuliah dengan membawa mobil pink itu kembali. Lega, tapi tidak dengan segunung pertanyaan di mulutku.
Namun, belum sempat aku menyemburkan semua pertanyaan. Jessie keluar dari mobil tersebut bersama Ra, membuatku bertambah kalut dengan pergaulan yang Ra kenal dari Jessie.
Aku tahu Jessie dan aku tidak mau adikku bergaul bersama Jessie.
"Ra, Abang perlu ngomong banyak." Aku langsung menarik tangan kanannya.
"Duh, bentar deh." Ra repot dengan barang bawaannya.
"Kak Jasmine di mana ya?" Jessie menenteng perlengkapan bayi dari dalam mobil yang Ra bawa.
"Di rumahnya, ada ma Nilam di sana." Ma Nilam adalah nenek sambung kak Jasmine. Ia masih cukup muda, mungkin baru lima puluh tiga tahun. Cukup muda, untuk ukuran nenek-nenek.
"Ayo, Ra. Ke sana dulu yuk? Terus aku mau langsung pulang." Jessie mendapatkan Ra lagi, padahal aku yang ingin sekali berbicara dengan Ra.
Jadi, ia membawa adikku dalam gulungan obsesinya? Apa yang ia inginkan? Aku? Kemewahan keluarga? Atau hal yang lebih besar, yaitu aset?
"Bang, Bang. Sini dulu." Ayah melambaikan tangannya dari teras.
Aku tidak bisa mencegat Ra dan Jessie yang pergi ke rumah kak Jasmine, karena menengok bayi adalah tujuan Jessie kali ini. Aku hanya bisa memenuhi panggilan ayah, kemudian menghadap padanya dengan kekhawatiranku tentang pergaulan Ra dengan Jessie.
"Jangan terlalu terlihat jadi penghalang, pura-pura bodoh aja dengan gerak langkah Jessie." Ayah berbisik lirih.
"Ayah juga terlalu lost! Aku tak suka Ra bawa kendaraan sendiri." Aku ingin mengamuk pada semua orang yang tak mengerti kekhawatiranku.
"Ayah punya maksud lain, Bang. Jangan dikira Ayah diam aja, Ayah punya tujuan biarkan Ra bawa mobil tuh. Kau pikir Ayah kau bodoh?" Sorot tajam ayah, membuatku teringat siapa ayahku sebenarnya.
"Tujuannya apa memang? Aku sampai nyusul ke kampusnya loh, Yah. Boro-boro tenang aku di ladang, pikiran aku ke Ra terus. Cani mending bisa diatur, bisa terjadwal. Ini yang besar, Yah. Aku nih was-was setengah mati." Dengan semua cerita orang terdekatku tentang masa lalu ayahku, sungguh aku takut adik-adikku mendapat kemalangan dari hukum tabur tuai yang terjadi di dunia.
"Tujuannya….
...****************...
__ADS_1