Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA38. Perencanaan pernikahan yang matang


__ADS_3

"Ya udah, aku ikut apa kata Abang." Izza khawatir Chandra malah memilih tidak menikahinya, jika ia terlalu banyak menuntut. 


"Minta mahar berapa?" Chandra tidak terlalu berpikir banyak tentang perasaan kekasihnya. 


"Abang mampunya berapa? Yang sekiranya jangan merendahkan aku." 


Chandra langsung mengingat-ingat obrolan mereka tentang mahar ketika mereka bercanda dalam telepon, gurauan tersebut cukup lama membuatnya sedikit sulit untuk mengingatnya. Menurutnya, itu adalah nilai yang Izza harapkan darinya meski hanya nada bercanda. 


"Tiga puluh satu juta, tiga ratus berapa gitu, Dek?" Chandra tidak tahu pasti nilainya karena terlupa.


"Kalau kau tak ada, bilang Ayah, Bang." Givan memperhatikan anaknya yang tengah mengingat sesuatu tersebut. 


"Ada, Yah. Tapi mungkin butuh bantuan dana untuk resepsi nanti, aku tak berpikir untuk nikah dekat-dekat ini, jadi aku depositkan." Chandra menoleh ke arah ayahnya, kemudian ia kembali memperhatikan kekasihnya. "Berapa, Dek? Bilang aja," tanyanya kembali. 


"Sesuai tanggal lahir aku, Bang. Tanggal tiga satu, bulan tiga, tahun dua ribu," jawab Izza dengan tertunduk. Ia malu dan khawatir dikira matre, jika menyebutkan angkanya. 


"Ohh, tapi di kisaran puluhan juta kah, Dek?" Givan mencoba memahami keinginan calon menantunya. 


"Tak emas aja kah?" tambah Ghifar kemudian. 


"Kenapa tak tawarkan ladang aja?" timpal Canda kemudian. 


"Tergantung maunya Izzanya, Dek." 


"Aku punya dua hektar lahan kopi, kau mau satu hektar untuk mahar? Nanti aku tambahkan juga dengan uang yang senilai itu. Konon katanya sih, kalau lahan dijadikan mahar bisa lancar panennya." Chandra mendengar hal tersebut dari almarhum kakeknya. 


"Tergantung istrinya kek mana lah, istrinya gila harta ya habis itu ladang." Givan teringat akan mantan istrinya yang menjual apa saja yang ada di rumah. 


"Terserah Abang aja." Izza tidak enak, karena ia khawatir rezeki dari doanya tidak seperti harapan keluarga kekasihnya. Ia khawatir malah merugi, jika lahan dijadikan mahar untuknya. 


"Ya udah gitu aja tuh, Bang. Nanti untuk surat-surat kan biar Ayah yang atur. Iya kan, Mas?" Canda tersenyum pada suaminya. 


"Iya, bisa. Dokumen bisa nyusul, yang penting Ayah bilang dulu ke pihak KUAnya. Nanti Ayah telepon kenalan Ayah yang kerja di sana, tapi biasanya buku nikahnya tak langsung jadi kalau mendadak begitu. Tapi nanti dikasih untuk formalitas foto aja tuh." Givan pernah menjadi penyaksi untuk pernikahan yang seperti itu. Makanya ia bisa tahu. 

__ADS_1


"Paling cepat itu prosesnya satu mingguan, untuk jadi buku. Kek Hadi sama Ceysa kemarin," jelas Ghifar kemudian. 


"Ya udah tak apa, Pa. Kartu nikah gitu." Chandra tahu bentuk bukti pernikahan masa kini. 


"Iya, pokoknya itulah." Ghifar menanggapi dengan enteng. 


"Sana kau masuk, Canda. Udah malam sekarang, ajak Izza tidur juga. Aku nanti nyuruh Nando untuk jemput anak-anak, khawatir Cala Cali rewel." Givan memikirkan anak kembarnya yang tidak satu kandung itu. 


"Iya, Mas. Cium dulu."


Ghifar membuka mulutnya tidak percaya. "Heh! Ada calon mantu." Bertambah kaget dirinya kala kakaknya memberikan kecupan singkat di pipi mantan kekasihnya itu. 


Canda adalah pacar Ghifar yang dinikahi oleh kakak Ghifar sendiri, Givan. Kisah tersebut, ada di dalam novel Belenggu Delapan Saudara. Silahkan ikuti ceritanya untuk memahami silsilah keluarga tersebut. 


"Biarin, nanti Cendol tak merem-merem kalau belum dicium." Givan duduk di samping adiknya dengan mengeluarkan ponselnya. 


"Coba kau hubungi orang KUA itu, semoga dia belum tidur. Aku mau hubungi Nando dulu." Givan tahu adiknya sedikit memiliki masalah dengan salah satu orang kepercayaannya itu. 


"Ya, Bang." Ghifar mengeluarkan ponselnya. 


"Iya, nanti ke sini. Kau telepon Hadi untuk carikan bukti-bukti juga keterangannya." Givan bersiap untuk berbicara dengan seseorang di ponselnya. 


"Iya, Yah." Chandra melanjutkan langkah kakinya. 


Di ruang tamu tersebut, mereka sibuk bercakap-cakap dengan ponselnya. Hingga bukti screenshot yang Hadi kirim, membuat mereka mengangguk dan saling memandang. 


"Kek baru lepas kandang tak sih?" Ghifar memberikan komentarnya. 


"Bukan, orang tuanya terlalu percaya dengan anak. Aku memang percaya ke anak, tapi aku bisa baca dan bedakan gerak-gerik mereka. Zio agak mencurigakan, banyak alasan ke garasi dan suka nginep. Mumpung minta nikah, disegerakan aja sebelum kebobolan." Givan menarik kecurigaannya sendiri. 


"Bukannya Ayah yang minta Zio segera nikah?" Chandra merasa seperti ada kekeliruan dalam pengakuan tersebut. 


"Kek Izza, perempuannya sering ke sini. Tapi, dia di teras rumah Zio. Harus kita yang datangi dia dan nyapa dia, padahal dia anak muda dan calon mantu di sini. Ada lah yang mencurigakan." Givan tidak mungkin mengatakan semua kecurigaannya. 

__ADS_1


"Tapi Ceysa sampai melahirkan, Bang." Ghifar seperti meledek kakaknya. 


Wajah Givan langsung berubah datar. "Sialan memang yang dipercayanya!" Givan melirik anak sulungnya. "Kalau kau bilang dari awal, tak akan nunggu Dayyan lahir dulu." Ia menunjuk Chandra penuh kesal. 


"Aku coba ikut keinginan Ceysa aja, Yah." Chandra pun serba salah dan takut disalahkan. 


"Jangan diulangi, Bos." Ghifar menunjuk Chandra dengan isyarat tangan yang seperti senjata api. 


"Oke, siap." Chandra langsung memberi hormat dengan memajang senyum lebarnya. 


"Udah didaftarkan, udah diatur waktunya. Habis Dzuhur aja, karena pagi harus masuk data dan persyaratan dulu." Givan menunjukkan bukti chat pada layar ponselnya ke Chandra. 


"Oke, Yah. Makasih. Hadi dan Ceysa juga siap ke Sekar untuk selesaikan masalah." Chandra juga menunjukkan pesan chattingnya. 


"Kau harus pastikan Izza cebok air bersih." Ghifar mengusap-usap dagunya dengan berekspresi seriuss. 


Chandra dan Givan tertawa lepas. Mereka berdua teringat ucapan Chandra, yang mengatakan entah perempuan lain akan cebok air apa. 


"Tuh, adik-adik kau datang. Ayah atur dulu." Givan bergerak untuk keluar dari rumahnya. 


Mereka sibuk dengan keluarganya dan kewajibannya, hingga akhirnya mereka terlelap cepat setelah memastikan semua anak sudah tidur. Pagi yang terburu-buru untuk Givan, karena ia memiliki janji untuk memberikan persyaratan pernikahan ke pihak KUA. 


Izza merasa hal ini seperti mimpi untuknya, ia tidak menyangka ia akan segera dipersatukan dengan Chandra. Hal yang ia nantikan, harus terjadi kala ibunya telah tiada.


"Nanti tinggal di sini, Za. Rumah Chandra nanti ditempati aja, biar Ra yang pindah. Lusa juga nanti Ra diantar pulang ke pesantrennya kembali. Atau kau aja yang anter, biar sekalian liburan berdua sama Chandra." Canda tersenyum manis, dengan memetik ujung toge yang akan ia masak. 


"Hmm, rumah ma gimana?" Izza memikirkan rumahnya yang hanya ditempati oleh dirinya saja itu. 


"Terserah, mau dijual, dikontrakan, atau ditempati saudara kau. Kau harus ikut Chandra, tak harus di sini, tapi kemanapun Chandra kerja. Kau ikuti dia terus, kek Biyung yang dulu diajak terus sama ayah. Tapi pada akhirnya, Chandra pasti pulang ke sini. Kita mau anak cucu kita kumpul, kek anak cucu cicit mamah Dinda dan papah Adi." Canda kembali menoleh ke arah calon menantunya yang tengah menggoreng tempe dan tahu tersebut. 


"Hmm…" Izza berharap dirinya akan membawa Chandra pulang ke rumahnya. Ia berpikir, akan tentram jika mertua tidak tahu baik buruknya rumah tangga mereka. 


"Kenapa, Dek? Memang mau tinggal di mana?" Chandra yang tengah menikmati sarapannya, menimbrungi obrolan para perempuan tersebut. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2