Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA90. Ujian pernikahan


__ADS_3

"Papa jangan buka masalah aku ke ayah." Aku benar-benar takut Izza malah dibenci. 


"Tak, nanti Papa cari alasan lain." 


Aku heran, kenapa tutur kata papa Ghifar lembut sekali. Jangankan perempuan, laki-laki saja merasa tenang. Ada wibawa di dalam suara lembutnya. 


"Makasih, Pa. Aku tak mau sampai cerai, pasti aku dipandang buruk adik-adik aku. Aku masih coba berusaha, biar Izza mau ngerti dan mau paham. Yang kira-kira jangan sampai aku antar dia ke keluarganya." Aku tidak mau melihat kehancurannya karena aku tinggalkan. 


"Tapi salah juga kalau kau mempertahankan sesuatu yang menyakitkan untuk kau. Seumur hidup itu terlalu lama, Bang Chandra. Kalau udah memang tak bisa mempertahankan satu sama lain, ya tak ada yang bisa diselamatkan. Berjuang sendiri itu capek, Bang. Bukan mengusulkan untuk bercerai, tapi gambarannya seperti itu daripada terpaksa dalam ikatan pernikahan." Papa Ghifar menepuk-nepuk pundakku, kemudian ia memijatnya pelan. 


Seumur hidup bertahan itu terlalu lama, benar. 


"Aku pengen dia ngerti." Aku hanya mampu tertunduk melihat kakiku yang tanpa sandal ini. 

__ADS_1


"Harus ada dari pihak dia yang menasehati juga, Bang. Kesadaran sendiri itu datangnya telat, kadang setelah penyesalan datang, kesadaran baru datang. Ajak biyung kau untuk jadi bestienya Izza, atau suruh dia main ke mama Aca. Mama Aca kan malas main tuh, bukan dia tak ramah, tapi memang jenis manusia rebahan. Jadi, ya Izzanya yang datang. Mama Aca pasti senang kalau ada yang main." Papa Ghifar menoleh ke arah pintu rumah. 


"Papa sama mama Aca ada problem tak sih? Kalau setau aku, ayah sama biyung kan ayahnya memang kasus terus, biyungnya ratu drama. Tak jarang hal kecil jadi masalah besar." Karena sepengamatanku, rumah tangga mereka yang paling adem. 


"Ada aja, anak tiri, anak kandung, anak kandung baru. Kalau anak asuh, malah tak bermasalah karena jelas dia anak orang lain. Nahda berantem sama Kal. Mama Aca bahasanya, anak aku dicubit sama anak kau. Sepele terdengar, tapi mendadak jadi besar. Papa sih tak pernah ada teriak-teriak bentak, marah ya pindah kamar. Dulu waktu ada nenek kakek, sering betul kalau marah ya pindah rumah. Cuma mama Aca kan udah tua, udah banyak pengalamannya, ya nyadarin dan bujuk Papa pulang. Namanya Papa cinta, ya ketarik lagi. Selain anak, kita besarkan masalah masakan. Bosan, betul-betul bosan sama lauk makan. Apa yang dibilang mama Aca? Ya udah, sana makan doa aja. Ya gimana masalah tak besar coba? Capek, lapar, malah jawabnya begitu. Tapi ya akur lagi, orang sama-sama butuh. Selain itu, tentang Mayranti. Ayah mertua yang alhamdulillah panjang umur itu butuh mama Aca untuk jaga Mayranti dan jaga dia. Tapi mama Aca kan di sini punya anak. Jadi nanti awal bulan mau dijemput sama Kaf, Ranti sama ayah mau dijemput dan tinggal di sini. Dari dulu juga, Papa ini dipandang buruk terus gara-gara jadi keturunannya Adi Riyana. Mereka tau kakek pernah poligami, jadi berpikiran Papa itu seburuk itu. Nanti sampai mereka di sini, udah pasti panas kuping Papa." Papa Ghifar mengusap telinganya. 


"Memang Mayranti itu belum nikah?" Itu adalah adiknya mama Aca. 


"Udah, udah ada anak. Ya nanti suaminya Papa tarik kerja di sini, udah kita hidup di sini semua. Daripada di Cirebon, ribut aja mama Aca suruh berbakti segala macam."


"Kenapa Papa tak bolehin mama Aca pulang berbakti sama ayahnya?" Aku hanya ingin tahu alasannya. 


"Terus Papa kawin lagi di sini begitu?" Papa Ghifar nampak marah. 

__ADS_1


"Kedudukan orang tua dan suami, untuk perempuan itu ya lebih tinggi suami. Papa kan bukan ngelarang berbakti, mama Aca pernah di sana sebulan kok. Cuma bagaimana Papa di sini? Papa kerja, anak-anak pun di sini semua. Kehidupan di sini tetap berjalan, tapi terasa sulit karena tak adanya mama Aca yang atur semuanya. Acak-acakan, tak berurutan dan serba keteteran. Sekalipun mama Aca suka GO-FOOD juga, tapi kan Papa tinggal siap makan, bukan order dulu dan nunggu dulu. Papa yang kelaparan tak bisa nunggu dan order cepat, alhasil larinya ke mie instan lagi. Tuh? Tak bisa Papa kalau tak ada mama Aca yang urus. Yang jadi masalahnya kan, mama Aca harus ada di sini untuk urus Papa dan anak-anak, mama Aca pun harus ada di Cirebon untuk urus ayahnya. Masalahnya itu peran mama Acanya kan? Jadi ya dicari jalan keluar masalahnya, bukan dilepaskan mama Acaya. Biar mama Aca tetap urus Papa, tapi tetap berbakti sama ayahnya, ya salah satunya harus mengalah untuk ikut ke pihak satunya. Papa tak bisa pindah dan tak mau pindah karena usaha Papa di sini dan di sinilah kehidupan Papa berjalan, ya berarti ayahnya harus ngalah dan ikut ke sini."


Aku menarik kesimpulan. Jika dalam suatu hubungan ada permasalahan, yang diselesaikan adalah masalahnya, bukan hubungannya. 


Aku harus bisa menyelesaikan permasalahan Izza, bukan melepaskan Izza. Izza harus benar-benar terbuka pikiran dan hatinya, jika ia benar-benar mencintaiku. 


"Betul tak sih kalau ujian rumah tangga itu lima tahun pertama, Pa?" Aku bertopang dagu untuk menyimak penuturan papa Ghifar kembali. 


"Bukan ujian, lebih tepatnya untuk memahami satu sama lain itu kurang lebih butuh lima tahun. Mengenal karakter, kebiasaan, watak dan peranan. Percuma pacaran lama, karena dalam konteks pacaran tak ada ceritanya gas habis. Pacaran ya jalan-jalan, senang-senang. Tak perlu beli gas, pengen ngopi ya ke coffee shop kalau masih pacaran sih. Udah nikah, ya tak bisa selalu pergi ke coffee shop. Malah pengennya di rumah, istirahat, kumpul, ngobrol. Lagi pun, daripada uangnya untuk terus-terusan ke coffee shop. Lebih baik beli mesin penyeduh kopi sendiri, terus family time di rumah sambil ngopi. Terus, kau tak bakal tau kalau kebiasaan pasangan itu BAB tiap kali bangun pagi kalau masih pacaran. Tapi setelah nikah kau bisa tau kan? Terus tentang peranan, masa pacaran kalian tak akan tau kalau sarapan pagi itu wajib diusahakan istri karena suami buru-buru kerja. Pasti di bayangan masa pacaran itu bangun pagi bermesraan sambil masak sarapan. Nikah tak begitu, Bang. Pagi boro-boro mesra-mesraan, yang ada kalang kabut tentang tugas masing-masing. Senin apalagi, udah agak gila karena buru-buru tercampur emosi." Papa Ghifar sampai geleng-geleng kepala. 


"Masa iya sampai lama betul?" Pasti sangat menguras emosi jika mengenal saja butuh waktu lima tahun. 


"Tak percaya ya? Pasti ada aja selisih paham, kalau masih satu atau dua tahun. Apalagi Papa kan ada anak-anak, repot mendadak. Masa Papa menduda, soalnya anak dihandle nenek semua. Pas nikah, anak kandung, anak sambung, anak asuh, ditambah mama Aca hamil tua. Ditambah, pas itu Papa naksir perempuan lain. Udah agak gila, untungnya mama Aca perjuangkan Papa setengah mati. Tengok istri hamil besar, begitu bentukan. Tengok perempuan yang Papa taksir, kek mubazir kalau tak dipandang. Di rumah tetep ngelonin mama Aca, tapi tetap juga ngelamunin perempuan itu. Untungnya otak Papa sadar. Kadang begitu godaan laki-laki berduit, Bang." Papa Ghifar menggosok wajahnya. 

__ADS_1


Waduh, bagaimana nanti aku? Sealim papa Ghifar saja pernah terkena sihir cinta orang ketiga, apalagi aku yang sering melirik ke sembarang arah? 


...****************...


__ADS_2