
"Chandra!!!" panggil ayah dengan tegas.
Mana sematan 'bang' yang biasa diucapkan?
"Ada, Yah. Baru rebahan ini." Aku baru sampai di rumah dan baru saja meluruskan punggungku beberapa menit yang lalu.
"Bentar, Bang!" Pintu kamarku langsung terbuka lebar.
"Apa, Yah?" Aku menoleh ke arah pintu.
"Kau tengok ya?! Para ibu negara udah hahahihi di halaman samping, panik Ayah nih." Ayah memasang wajah sedih, dengan mengusap dadanya.
"Siapa, Yah?" Aku duduk dan mundur untuk bisa bersandar di kepala ranjang.
"Biyung kau sama mama kau. Aduh…. Ayah tak mau besanan sama mereka." Ayah mengacak-acak rambutnya, kemudian keluar dari kamarku.
Pahamilah wahai orang tua, jika aku ini mengantuk dan lelah.
"Udah tuh, Yah. Aku ke Nahda nih." Aku menurunkan satu persatu kakiku.
Minggu pagi, semoga ia sudah bangun dan berada di dalam rumahnya. Semoga juga, papa tidak melarangku bertemu dengan Nahda. Agar aku bisa menjelaskan kebenarannya tentang hubungan palsuku dengan Nahda di depan ayah.
Aku segera melangkah keluar rumah, tanpa izin dari ayah. Mungkin ayah berada di kamarnya, mungkin juga ia tengah membersihkan diri.
"Heh, mau ke mana, Bang?" Sapa Kaf, yang berada di teras rumahnya dengan adik-adiknya.
"Nahda ada kah?" Aku nekat melepaskan sandal, kemudian langsung naik ke teras rumah.
"Tak tau, belum ketemu pagi ini. Mungkin masih molor." Kaf mengedikan bahunya.
"Oke." Aku langsung masuk ke dalam rumah.
Eh, papa Ghifar mana ya? Lupa lagi tidak bertanya pada Kaf, mana rumahnya begitu sepi.
"Pa…." Aku memanggil papa Ghifar dengan suara cukup keras.
Aku mengulanginya beberapa kali saat menaiki tangga dan saat sudah berada di lantai atas. Sepi, tidak ada orang dan tidak ada sahutan.
"Nahda…. Dek…." Aku berdiri di depan kamar Nahda, kebetulan kamarnya di dekat ujung tangga ini.
"Yaa…," sahutnya diikuti suara kunci kamar yang diputar.
Aku masih celingukan, karena barangkali melihat papa Ghifar di sekitar sini. Sayangnya, beliau yang aku cari tidak kunjung muncul. Maksudnya aku mencari papa Ghifar, karena ingin izin untuk membawa Nahda main ke rumah.
"Masuk, Bang." Gagang pintu ditarik ke bawah. Namun, pintu tersebut tidak terbuka lebar.
__ADS_1
"Papa mana ya?" Aku mendorong pintu kamar Nahda.
Aduh, aku lupa lagi. Aku tadi baru sampai dan melepaskan kaosku, kemudian aku rebahan di kamar dengan AC yang menyala mendinginkan ruangan dan rasa gerahku. Karena kehebohan ayah tadi, aku lupa memakai baju lagi.
Lagian, ayah kenapa sih heboh sekali? Begitu takutnya rupanya jika aku benar memiliki hubungan dengan Nahda. Ayah tak mau dirinya memiliki status besanan dengan orang tua Nahda.
"Tak tau, aku baru siap mandi." Nahda tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk berwarna ungu.
Ia merunduk dengan wajah yang menghadap miring, kemudian ia menggosok rambutnya dengan handuk berwarna ungu tersebut.
"Abang waktu itu janjikan ke toko pod, eh malah tak dijemput akunya. Sampai sekarang, aku belum datang ke sana karena dijemput mama di kampus." Bibirnya cemberut menggemaskan.
"Iya lupa, keburu diajak ayah keluar kota. Nanti diantar ke tokonya, tapi kau bantu jelaskan ke ayah dulu tentang hubungan kita. Soalnya Jessie nembusin langsung ke biyung, jadi biyung lapor ke ayah." Aku duduk di ujung ranjang, dengan memperhatikan kegiatannya.
Ehh, Nahda langsung mangap saja. Namun, beberapa detik kemudian ia terkekeh kecil. Ia hanya pura-pura panik ternyata.
"Abis Maghrib kemarin sore pun, biyung ke sini dan nanyain tentang kita. Aku ketawa-ketawa geli aja, dengar laporan Jessie ke biyung. Terus aku bercandain biyung, memang biyung tak mau punya calon menantu kek aku kata aku gitu."
Huaaaa, aku lupa jika Nahda adalah anaknya mama Aca. Cara bercanda mereka sedikit ekstrim dan tingkat santuynya begitu tinggi. Bisa-bisanya Nahda menanggapi dengan tertawa saja? Ditambah lagi, candaannya itu pasti buat biyung dan ayah semakin kepikiran.
"Gila ya kau?!" Aku mengacak-acak rambutku, aku stress dengan permainan ini.
Aku merasa terjebak.
Nahda tertawa geli, kemudian ia berjalan ke arahku. Rambutnya masih setengah basah, rambutnya tergerai tidak rapi karena efek basah jadi seperti menggumpal.
"Ayo ke ayah, bantuin jelasin. Aku udah bilang kalau itu bohong, ayah bilang tak percaya." Aku mengatakannya dan ayah menjawab tentang hubunganku dengan Izza itu.
"Panik ya?" Ia mencolek daguku dengan satu jarinya dan ia tertawa lepas.
Gila rupanya adik kecil ini.
"Colek-colek kau, tak sopan!" Aku mengusap daguku.
"Santai aja sih, Bang. Orang cuma iseng aja tuh. Lagian Jessie apa kali ya? Kok sampai laporan gitu mainnya?" Ia duduk di sampingku.
Wanginya rambut basahnya.
"Ya kenapa kau kasih ide bodoh itu?!" Aku sedikit ngegas dengan meliriknya sinis.
"Idih…." Nahda menunjuk wajahku dari samping. "Bodohnya Abang kenapa oke aja?"
Detik itu juga aku langsung merangkul dan menj**** lehernya, kemudian aku memberinya hukuman dengan menggelitikinya bertubi-tubi. Tawanya lepas menggema, tapi tubuhnya oleng dan ambruk membawaku ke atas tubuhnya.
Aku terbawa oleh gelak tawanya, niatku memberinya hukuman dengan rasa geli di rusuknya. Tetapi, aku malah ikut lebur dalam tawa.
__ADS_1
"Sialan kau, Nahda! Udahlah, Abang sih…." Aku belum selesai berucap. Namun……
Blughhhhhhhhhhhhhhhhh…..
Aku berusaha melepaskan tanganku yang melingkar di tengkuknya, kemudian aku kembali dalam posisi duduk untuk mencari suara benda berat yang jatuh itu.
"PAPA…." Nahda panik, ia dengan cepat berlari ke arah pintu mendahuluiku yang masih diam di tempat mencari sumber suara.
Aku bergegas, menyadari adanya papa Ghifar tergeletak di depan kamar Nahda yang setengah terbuka. Raungan Nahda meminta pertolongan, ia lepaskan di tangga rumah.
Suara kaki yang cepat menandakan seseorang datang dengan berlari. Aku sudah memangku kepala papa Ghifar, memeriksa kepalanya berharap tidak ada yang terluka di sana.
"Pa…. Papa, bangun." Aku menepuk pelan pipi papa Ghifar.
Ia kenapa? Apa darah tinggian, kemudian tiba-tiba kambuh begitu? Lebih-lebih, aku takut beliau terkena serangan jantung. Karena mengingat kakek dan nenek yang meninggal diduga karena serangan jantung.
"Ada apa, Dek?" Kaf datang dengan wajah panik yang tidak bisa ditutupi.
"Papa jatuh." Nahda memegangi kedua pipinya, dengan mata merah dan bibir yang gemetar.
"Awas! Awas!" Kaf langsung memeriksa bagian nadi papa Ghifar.
"Pa…." Kaf memanggil papa Ghifar, setelah mengecek bagian dadanya juga.
"Kenapa ini, Kaf? Ke rumah sakit kah?" Aku panik karena papa Ghifar tidak ada respon.
"Pingsan, Bang. Kita pindahkan ke atas sofa itu dulu, Bang." Kaf menunjuk sofa santai, yang berada tak jauh dari kamar Nahda.
Itu adalah ruang keluarga mereka.
"Ayo, ayo." Aku bersiap menahan tubuh bagian atas.
"Kuat tak? Aku bantu." Nahda nyempil di tengah-tengah antara aku dan Kaf.
Ia tinggi besar, tentu tenaganya berguna sekali untuk membantu kami mengangkat tubuh papa Ghifar yang profesional ini.
"Bang, panggilkan yang lain. Aku usahain bangunin Papa." Kaf menaruh beberapa bantal di atas kaki papa Ghifar.
"Iya, ok. Mama Aca ada di rumah sama biyung." Aku berbalik badan dan bersiap pergi untuk memanggilkan semua orang.
"Dek, telpon kak Kal. Dia lebih paham, tapi dia lagi joging di sekitar sini," pinta Kaf pada Nahda.
"Ya, Bang."
Aku langsung menuruni tangga, aku bergegas untuk memanggilkan orang rumah. Karena aku pun tidak tengah mengantongi ponsel.
__ADS_1
...****************...