Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA142. Dituduh menyembunyikan


__ADS_3

Aku semakin akrab dengan Bunga, dengan pembawaannya yang asyik diajak ngobrol, perhatianku teralihkan dari p*****l besarnya. Hanya sebatas obrolan biasa, pembahasan yang tidak penting, sampai saling mengejek saja. 


Aku tidak tahu, jika ayah dan pakwa memperhatikan kedekatan kami. Rutinitasku yang menyibukkan ini, malah dicurigai pakwa, karena….. 


"Bunga tak pulang semalam, apa semalam kau bawa?" Pertanyaan penuh intimidasi, aku dapatkan saat makan siang di rumah. 


"Iya, kau tak pulang semalam. Apa kau tiduri adik kau sendiri?" Ayah ikut mencurigaiku lebih-lebih. 


"Masa? Kok tanya aku?" Aku santai makan, karena memang tidak merasa benar akan kecurigaan mereka. 


"Pakwa serius, Chandra!" Suara penuh tekanan itu diikuti dengan tarikan di kerah bajuku. 


Aduh, aduh. Panik aku. 


"Tak aku bawa." Aku melepaskan cekalan mencekik itu. 


Kemudian aku lanjut mengunyah dan menelan. Untungnya, aku dalam mode good mood karena sudah mampu membayar lunas hutang ke ayah. Aku irit sekali, sampai hutang hampir dua ratus juta terselesaikan juga. Pengeluaranku sebulan untuk keperluan pribadiku, paling hanya lima juta kurang. Padahal sering makan di luar, ya memang cuma di warung makan biasa. Tapi irit menurutku, padahal rokok jalan, kopi jalan, es jalan, bensin pun rutin. 


Aku ketularan style Kaf, ke mana-mana aku memakai motor besar hasil panen tambak pertamaku yang setengahnya aku sedekahkan atas nama Izza itu. Bukan yang wow sekali, harganya masih di bawah tiga puluh juta karena aku membeli bekas. Karena aku memang tidak memiliki kendaraan di sini, ke mana-mana selalu nebeng pakcik Gavin sebelum aku memiliki motor. Kerja tanpa ayah pun, aku sampai naik ojek online. 


Jangan bilang miris, karena memang keadaanku dari nol sekali. Benar-benar nol, hingga handuk pun dikasih biyung saat handukku diambil alih semua oleh keluarga Izza. 


Aku pandai ungkit-ungkit ya? Tidak juga sebenarnya, hanya memang ingat saja. 


"Terus kau tinggal di mana?" Pakwa nampak murka sekali. 


"Tak aku bawa, bukan berarti aku tinggal juga. Aku ada antar ke kampus kemarin paginya, karena memang ada keperluan di kota, jadi sekalian antar. Pas mau pulang dari kota, aku chat dia habis kelas jam berapa dan mau ikut nebeng lagi tak. Dia balas katanya masih ada jam nanti jam dua, itu aku chat jam sebelas siang. Jadi aku langsung pulang ke rumah pupuk, terus olah pupuk dan siap bawa ke ladang. Sampai malam aku begitu, karena tanggung kata pakcik Gavin. Pakcik Gavin pulang sama temannya, karena yang kecil rewel lagi ingusan katanya. Aku mau pulang tuh, malah keburu ketiduran di rumah pupuk. Jam setengah empat pagi bangun, lanjut kerja, jam enam ada kak Jasmine jalan kaki terus kasih sarapan, karena kebetulan dia dari warung katanya. Lanjut kerja lagi, sampai barusan tadi pulang terus makan nih." Aku menunjukkan piringku. 


"Mana HP kau." Ayah menengadahkan tangannya. 


Heran, secabul itu kah aku? Sampai aku dikira membawa janda muda. 


"Nih." Aku memberikannya, kemudian lanjut makan. 


Ada saja yang mengganggu acara makanku. 

__ADS_1


Ayah mungkin tahu, jika aku tidak pernah menghapus pesan chatku sejak dulu. Bahkan, isi chattingku dengan Izza saat masih pacaran sampai menikah ya masih ada. Ya meski tertimbun chat-chat terbaru, tapi aku tidak berniat menghapusnya. 


"Betul, Bang. Chat terakhirnya kemarin." Ayah memberi unjuk ponselku ke ayah. 


Tidak percaya sekali sih. 


"Terus ke mana Bunga? Siapa pacarnya? Kuliah tuh, kirain kuliah bener." Pakwa geleng-geleng kepala berulang. 


Entahlah, aku lapar. Aku selesaikan dulu acara makan ini, agar tuntas sekalipun nanti dituduh lagi. 


"Bang, kau tak mungkin tak tau apapun." Pakwa duduk di kursi makan sampingku. 


"Memang aku tau apa? Aku cuma ngobrol, sesekali jadi ojek dia kalau memang searah." Ampun, aku dijadikan sasaran. Padahal aku orang baik. 


"Kau tak tau siapa pacarnya, Bang? Duh, Aceh loh ini. Kena cambuk bisa-bisa." Ayah geleng-geleng kepala juga. 


"Nanti coba aku telpon dia deh. Bentar, aku cuci tangan dulu." Akhirnya kosong juga piringku. 


Untuk makan saja, penuh perjuangan seperti ini. 


Masih tidak percaya padaku kah rupanya? 


"Iya nanti aku cek aktif tak." Aku mengeringkan tanganku dengan lap cendol, kemudian berjalan ke meja makan kembali. 


Lapnya seperti barisan cendol, bukan Cendol nama ledekan biyungku. 


Ternyata, memang tak aktif nomornya. Namun, herannya setelah aku kembali ke rumah kontrakan yang aku gunakan untuk rumah teduh dan penyimpanan pupuk juga. Aku mendapat telepon mendadak dari Bunga, nomornya aktif dan menghubungiku. 


Aneh sekali. 


"Hallo, Bang. Jemput di terminal dekat kampus, aku kehabisan ongkos."


Bukan main. 


"Aduh, gosong Gue nanti siang-sing OTW sih. Dibayar pakai apa Abangmu ini, Dek?" Aku mencari kunci motorku. 

__ADS_1


"Pakai cium, nanti aku kasih cium." 


Aku menanggapinya dengan tawa saja. "Ya, OTW sekarang nih."


Bukan karena iming-iming cium, tapi aku pun tak mau disalahkan lagi karena ia menghilang. Sebelumnya, ia tidak ada cerita apapun padaku. Biasanya, hari pertama haid saja ia cerita. Ya cerita tentang kramnya dan khawatir tembusnya, ia tidak cerita tentang banyaknya darah haidnya juga. 


"Ya, Bang. Aku rehat depan tambal ban, neduh di bangku bawah pohon. Samping kanan terminal betul ya, Bang?" Aku masih mendengarkan suaranya, meski sudah duduk di jok motorku. 


"Ya, Dek. Jalan sekarang." Aku membiarkan dirinya yang memutus panggilan telepon, kemudian aku menyakui ponselku dan berangkat dengan helmku juga. 


Benar, ada Bunga di sana. Ia masih mengenakan pakaiannya yang kemarin, ia pun masih menggunakan ranselnya. 


Ia langsung berdiri dan berjalan ke trotoar jalan, sebelum aku berhenti di depannya. Boro-boro ingin bertanya, karena ia langsung naik ke jok motorku. 


"Minta makan dulu, Bang." Ia menepuk pundakku. 


Sudah menjemputkan, minta makan juga. Tapi ya sudahlah, yang penting ia ada padaku dan aman di dekatku. 


"Makan apa?" Aku memelankan laju kendaraanku. 


"Bakso, Bang."


Apa boleh buat, karena aku sudah makan. Aku pesan setengah porsi untukku sendiri. Aku menontonnya makan dengan lahap, karena aku pun tengah menghabiskan rokokku dulu. 


Ia sepertinya kelaparan sekali. Apa laki-laki yang membawanya tidak memberinya makan? 


Tapi pikiran positifku mengatakan, bahwa ia salah naik angkot untuk sampai rumah. Mengingat ia selalu diantar jemput ayahnya, sesekali aku yang mengantar atau yang menjemputnya jika searah. 


"Kenapa Abang lihatin aku terus?" 


Mungkin ia terganggu dengan sorot mataku. Aku hanya menggeleng, kemudian aku kembali menghembuskan asap rokokku. Pikiranku ke mana-mana jika memperhatikan asap rokok, antara ingin memiliki ladang sebanyak milik pakcik Gavin dan ingin memiliki seorang wanita cantik. 


Dasar godaan laki-laki, mentok di itu-itu saja. 


"Bang, antar ke rumah….

__ADS_1


...****************...


__ADS_2