
"Bisa narik uang di ATM, ini aku mau keluar sama Zuhdi sekalian ambil uang di ATM. Cali aku bawa ya?" Givan langsung berbalik arah lagi dan berjalan pergi.
Izza sesensitif itu untuk hal apapun.
"Biyung, YouTube." Cala menunjuk televisi.
"Iya, Dek. Tuh YouTube." Canda langsung mengalihkan modenya.
"Kau mau jajan apa, Dek?" Canda menunjuk aplikasi makanan pesan antar pada menantunya.
Izza melirik, ia menggeleng kembali. "Tak, Biyung." N**** makannya masih buruk, apalagi demamnya belum benar-benar reda.
"Jangan kek gitu lah, Dek. Tinggal tunjuk, mau apa. Dikiranya mertuanya pelit-pelit betul kah? Biyung sama ayah tak pernah hitung-hitungan." Canda langsung mengeluarkan perkataan yang ibu mertuanya sering katakan saat ia baru pindah bersama mertuanya.
"Ya bukan begitu, Biyung. Aku cuma kenyang" Izza tersenyum samar.
"Tak ada kenyang, orang makan juga siang tadi. Sekarang udah sore pasti lapar lagi." Canda memilih sendiri menu makanan yang menarik di matanya.
"Pisang keju doyan tak, Dek? Atau…." Canda terus menggulirkan ibu jarinya pada layar ponselnya.
"Kau punya saran makanan apa yang enak?" Canda menoleh pada menantunya.
Ia melupakan pekerjaannya melipat baju, ia malah membiarkan Izza melipat baju dan dirinya asyik melihat-lihat menu makanan yang menarik di ponselnya. Izza berpikir, bahwa akrab dengan mertua adalah dengan cara meringankan pekerjaannya. Pikirannya bertambah jauh, karena mertuanya menginginkannya tinggal di sini karena mereka membutuhkan tenaganya.
Ia tidak tahu, bahwa pikiran buruk tersebut akan runtuh seiring ia memahami tentang keluarga ini. Ia terlalu berpikir buruk, karena kemarin ia selalu berkunjung hanya sebatas tamu yang suka bercengkrama.
Ia tersenyum pada suaminya yang baru pulang. Namun, belum juga suaminya menghampirinya. Tiba-tiba, suaminya dipanggil oleh paman iparnya.
__ADS_1
"Za…. Sini…."
Izza memalingkan pandangannya mencari sumber suara, ia merasa familiar dengan panggilan itu. "Iya, Kak." Izza menuruni undagan tangga teras dengan perlahan.
"Sini, cobain." Key mengajak Izza masuk ke dalam rumahnya, setelah ia selesai membuang sampah.
"Apa, Kak?" Izza mengedarkan pandangannya ketika memasuki rumah.
Lantai tidak terlihat di rumah ini, karena mainan begitu berserakan di mana-mana. Fa'ad yang pulas di dekat tembok ruang tamu tanpa sofa tersebut, seperti tidak keberatan dengan keadaan rumah yang begitu berantakan. Kaleel pun terlihat nyaman bermain ponsel di tengah-tengah mainannya yang berserakan di mana-mana, ia begitu menikmati aroma ketiak ayahnya yang berada dekat dengan hidungnya.
"Jangan salfok." Key terkekeh dengan menyentuh lengan Izza. "Kek gitu kalau bapak-bapak disuruh jaga anak, yang penting anteng katanya. Ayo ke ruang TV aja, aku abis masak tadi, masih banyak loh, yuk dimakanin." Key menunjuk baskom stainless yang masih berisikan kerang hijau yang dicampur dengan mie.
Izza melongo saja memperhatikan masakan tersebut. Ia merasa asing, dengan masakan yang isinya campur-campur tersebut. Ada udang, kerang dara, kerang hijau, ikan berukuran sedang yang dipotong menjadi dua, juga mie dan sayuran.
"Namanya masakan apa, Kak?" Izza duduk di depan makanan tersebut.
"Entah, tapi enak sih. Aku suka eksperimen bumbu, ya kadang enak kadang tak enak. Telur pun, tak melulu dibumbu atau digoreng. Kadang aku sayur, kadang aku campurkan ke tumis. Bang Fa'ad ya makan-makan aja, apa yang disediakannya aja dia sih. Tapi dia kan memang ada jadwal makan harus pakai daging sapi, karena lagi pengen gedein otot katanya. Biar tak nampak kek bapak-bapak." Key tertawa geli kembali dan memberi Izza piring.
"Ambil aja, Dek." Key memberikan centong stainless pada Izza.
Izza mengangguk. "Memang beda usia berapa tahun sama bang Fa'ad?" Izza mulai mengaduk makanan tersebut.
"Beda delapan tahun, Dek. Tak apa kata ayah, yang penting berhati dan bertanggung jawab. Jadi aku terima deh lamarannya." Pembawaan Key selalu riang sejak kecil.
"Berarti, dosen Kakak sendiri ya?" Izza memindahkan masakan tersebut ke piringnya.
"Iya, dosen sendiri. Kata mamah sih, dek cari yang gagah kek ayah. Kan bang Fa'ad agak buncit gitu kan? Tapi aku pikir-pikir, otot kan bisa dibentuk. Sedangkan kesempatan untuk dapat laki-laki kek bang Fa'ad kan, tak bisa dibentuk dan direncanakan sendiri." Key pun menuangkan hasil masakannya ke piringnya.
__ADS_1
"Tak pedas betul, Dek. Itu pedas lada aja, sama merah bumbu balado. Aman kok untuk perut kau," lanjut Key kemudian.
"Enak, Kak." Izza terhanyut dengan rasa masakan yang Key buat.
"Alhamdulillah, ayah yang pemilih makanan begini pun doyan. Sampai nanya, kau masak sesuai SOP pengolahan makanan laut tak." Key terkekeh saat bercerita.
Izza menjadi ingin tahu lebih tentang keluarga suaminya, apalagi tentang mertuanya. "Memang, ayah bawel tentang makanan ya, Kak?" Izza kembali menikmati makanan buatan kakak iparnya tersebut.
"Ayah bawel kalau tentang masakan laut, karena kerang hijau begini tak boleh terlalu matang dan tak boleh terlalu cepat juga. Ayah tak pemilih makanan, tapi Zio pernah muntaber masa makan kerang hijau di luar. Jadi, agak trauma ayah ini kalau anak-anaknya ada yang makan dan olah kerang hijau. Ilmu sederhananya juga, yang dari air asin harus direndam di air tawar. Sedangkan, yang dari air tawar harus direndam di air asin. Ini ilmu dari almarhumah nenek sih, aku suka recokin nenek masak, aku suka bantu-bantuin potongin sayur. Kita ngobrol aja kalau di dapur itu, cocok deh, nenek doyan ngomong, aku doyan ngomong." Pembawaan Key yang begitu riang, membuat Izza nyaman mengobrol dengan Key. Ia merasa tidak kehabisan topik dengan Key, sejak dari dulu pun ia cenderung dekat dengan Key.
"Makanan favorit keluarga ini apa, Kak?" Izza semakin ingin tahu tentang keluarga besar suaminya.
"Tumis daun kunyit." Key terkekeh geli. "Bukan ayam, bukan daging, bukan ikan juga. Tak yang muda, tak yang tua, kalau masak daun kunyit pasti lahap semua." Key menjeda ucapannya sejenak. "Eh, iya ada lagi." Key mengacungkan telunjuknya. "Tumis kembang pepaya. Tapi susah, karena barangnya kek langka betul. Ada satu jenis pohon pepaya, yang tiap kali ngembang boleh dipetik kembangnya, karena buahnya itu sulit besar kata kakek tuh. Namanya…. Buah pepaya gan*ul. Waktu kecil, aku seneng betul kalau diajak touring ke kebun atau ke ladang sama kakek. Banyak ilmunya, jadi banyak wawasan dan pengetahuan tentang tumbuhan."
Izza manggut-manggut menyimak. "Memang tak pahit ya, Kak?" Izza pernah melihat ibunya pernah meminum air rebusan daun dan kembang pepaya, yang dikatakan bahwa itu adalah jamu.
"Pahit, kan ada caranya untuk ngolahnya. Kita semua suka makan-makanan hasil alam, bukan karena pengen uangnya utuh, tapi asli rasanya nikmat betul." Izza tertawa geli mendengar ucapan Key, apalagi ekspresi Key begitu mendukung.
"Sayur hijau itu, aku bolak-balik di kangkung, sawi, brokoli, daun ubi. Aku kalau di sini, biyung selalu order makanan. Katanya takut tak doyan masakan biyung, takut tak suka masakan biyung." Izza mengambil kembali makanan yang Key buat.
"Karena kalau biyung itu spesialis masak tumis, selain tumis rasanya aneh." Key tertawa terbahak membicarakan ibu sambungnya sendiri.
"Masa iya, Kak?" Izza melebarkan matanya dengan terbawa tawa Key.
Key mengangguk. "Tapi enak tumisnya, karena mendalami ilmu itu keknya. Kal tuh enak kalau masak ikan, bumbunya kuat, cita rasa asin manisnya pas. Kalau aku, musim-musiman, kalau lagi enak ya enak, soalnya suka improvisasi bumbu. Jasmine, jago di masakan berkuah. Kau harus bisa olah daging, karena di antara kami tak ada yang bisa." Key menyampaikan dengan tawa.
Izza menyamarkan sedikit tekanan tersebut dengan senyumnya. Ia merasa tidak pernah memasak, apa-apa selalu tangan ibunya. Kini, ia di rumah mertuanya harus memiliki kemampuan dalam bidang memasak.
__ADS_1
"Tapi, Kak…." Izza tampak ragu mengutarakannya.
...****************...