Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA213. Pendengar


__ADS_3

"Figur ayah digantikan bapak aku, Bang. Okelah dia suami yang romantis, perhatian, pengertian, tapi ke anak-anak tuh jauh. Dalam artian, anak itu cuma tau bapaknya siapa dan apa pekerjaannya. Mereka tak merasakan diasuh, dididik, diajari, atau diperhatiin oleh papahnya itu. Masa anak-anak bayi, memang dia excited ke anak-anaknya. Cuma entah ada apa, seiring pertambahan usia anak-anak, dia kek seperlunya aja. Jadi kek, anak-anak sehat kah, butuh biaya berapa, butuh apa aja, gimana pertumbuhannya, itu pun tak setiap hari dia nanya tentang anak-anak, lebih banyak dia nanya tentang gimana aku dan aktivitas aku." Tante Nina sudah dalam ekspedisi sendu lagi. 


"Kita sambil makan, Nin." Ayah menikmati makanannya. 


"Ya, Bang." Tante Nina membelah baksonya. "Makanya aku kaget, masa tengok interaksinya dengan anak bungsunya. Sadar diri, aku ataupun anak-anak kalah segala-galanya. Vendra lebih banyak waktu untuk anak-anaknya di sini, karena memang dia stay di sini. Aku pun jadi main cocokologi sendiri tentang Vendra selama ini yang kurang komunikasi dengan anak-anak dari aku, karena di sini dia punya anak yang jaraknya tak jauh juga dari anak aku." Tante Nina memakan bakso tersebut perlahan. 


"Terus, gimana lagi? Nih aku ada saksi nih, aku dengerin curhatan istri orang juga tak empat mata." Ayah menepuk padaku. 


"Iya, Bang." Tante Nina menyeruput kuahnya. 


Aku sih lahap makan saja. Aku masih tidak paham, kenapa ayah membawaku dalam misi konflik seperti ini. 


"Aku tak curiga sama sekali, kalau dia di sini punya istri. Mau aku sebut dia pelakor, masalahnya dia istrinya juga. Aku tak tau pasti ceritanya gimana, tapi istrinya itu bilang baru tau kemarin kalau Vendra beristri. Yang artinya, Vendra pun nipu itu perempuan," lanjutnya kemudian. 


Ayah melirikku. "Kenyang, Bang. Tadi tuh barengan aja sama kau, pasti terbuang ini." Ayah mengusap-usap perutnya. 


"Iya, banyak sekali." Tante Nina mengambil satu botol air mineral. 


"Terus gimana lagi, Nin?" tanya ayah kemudian. 


"Rencananya kek tadi aku bilang, aku mau ambil beberapa bukti dia selingkuh, terus aku mau urus dia di pengadilan."

__ADS_1


Tidak ada tanggapan dari ayah, meski terlihat tante Nina menunggu jawaban. Kami hanya diam, sampai kami berhenti makan sesuai kapasitas perut kami. 


Aku mencari rokok, sementara ayah dan tante Nina bersandar di tembok. Ayah asyik mengusap perutnya, sedangkan tante Nina asyik bermain ponsel. 


"Kau masih pengen didengerin, Nin?" tanya ayah, ketika aku berjalan di dekat mereka. 


Tidak ada balkon, jendelanya dengan fungsi slide juga. Lumayan anginnya, meski tidak besar jendelanya. 


"Tak, Bang. Kebetulan Chandra pun tidur, aku tadi cuma butuh tempat untuk nangis aja. Setelah capek nangis, tidur, terus mandi. Udah ngerasa lebih baik, pikiran pun lebih tenang." Tante Nina mengembangkan senyum tipis. 


"Boleh Abang ngomong nih? Kritik, saran, pendapat, semuanya Abang buka ya?" Ayah menegakkan punggungnya, kini menghadap ke arah tante Nina duduk. 


Aku masih berdiri di depan jendela, merokok dan menikmati sapuan angin. Perut kenyang, sapuan angin nyaman, kan jadi mengantuk kembali. 


Ayah pun sama, hanya ketika serius sangat saja ayah memandang tante Nina. 


"Kau berpikir kau bakal disalahin, berarti kau memang merasa kalau kejadian ini semua adalah imbas dari sesuatu kan?" Ayah menarik-narik celanaku. 


"Apa tuh, Yah?!" Aku berpindah dari depan jendela ini. 


"Rokoknya jangan depan jendela, asapnya malah masuk." Ayah mengibaskan tangan di depan wajahnya. 

__ADS_1


Bapak-bapak bawel. 


"Ya, Bang. Ada berpikir tentang kami LDR ini, tapi sebelum dia mutusin nikahin aku, bapak udah ada ngomong tentang aku yang tak boleh keluar dari pulau. Silahkan pindah dan buat rumah baru yang masih di pulau yang sama, asal jangan keluar pulau. Liburan, ngunjungin, sesekali, sebulan dua bulan tak masalah, bapak ada bilang begini juga waktu dulu sebelum nikah. Masa itu kan dia udah jadi anggota, tapi memang pangkatnya belum komandan begini. Dia masih Abang setirin juga waktu itu, untuk ini dan itu." Tante Nina melirik ke arahku. 


Aku anteng ah, sepertinya kedua orang tua ini tidak nyaman dengan asap rokokku. 


"Vendra iyain waktu dulu itu?" Ayah membulatkan matanya. 


"Iyain, Bang.  Ada perjanjian di suku kami, dia jalanin upacara adat perjanjian antar keluarga juga. Memang tak ada aturan tidak boleh memadu suku kami, tapi bukan berarti dia nikah lagi begitu."


Oh, aku baru tahu ada kegiatan seperti itu. Mungkin modernnya seperti perjanjian pra nikah dan perjanjian pernikahan. 


Ayah menarik napas lebih panjang. "Vendra cerita banyak, termasuk hal yang bersifat ranjang. Maaf, mungkin keluar dari batasan ipar laki-laki. Tapi menurut Abang, ini perlu disampaikan dan kau perlu tau. Selebihnya, terserah kau. Tapi, Abang pun punya saran untuk kau."


Jadi seorang kakak harus repot begini ya? Sampai ikut masuk ke permasalahan intern rumah tangga adiknya, karena permasalahan ini tidak bisa diselesaikan mereka berdua. Harus ada orang tua, tapi jika bapaknya tante Nina jelas tidak mungkin. Kakek Hendra pun tidak mungkin, karena sudah tiada. Makanya, kakak tertua menengahi seperti ini. Aku pun mungkin suatu saat perlu begini juga. 


"Dia adalah keluhan tentang ranjang kami? Atau, itu alasannya mendua?" Tante Nina langsung menarik hal itu, padahal menurutku itu bukan pokok utama. 


"Bukan begitu, Nin. Jadi…." Ayah menggosok hidungnya, mungkin ia bingung ingin memilih kata yang lebih sopan. 


"Gimana, Bang?" Tante Nina terlihat menunggu dengan mata yang fokus pada ayah, itu seperti menunggu hal yang menarik menurutnya. 

__ADS_1


"Dia nikah lagi bukan karena kau kurang di ranjang, tapi butuh teman ranjang. Pekerjaannya buat dia stress, dia butuh itu tiap hari. Ditambah lagi, orang tuanya Caitlin ini terdakwa kasus besar. Otomatis keluarga, sanak saudara pun ikut proses pemeriksaan, sampai ke rekening dan segala macam. Kasusnya semacam penggelapan dana, aliran dana dan investasi bodong gitu lah. Caitlin ini bungsu di keluarganya, keluarganya kalap dan pada kabur ke luar negeri, otomatis dia yang masih sekolah pun jadi terlantar tak ada yang urus karena orang tuanya udah di sel. Mana rumah di segel, sanak saudara pada pergi, Caitlin nangis aja tuh di depan rumahnya. Diajak tetangga, Caitlin yang tak mau karena suka dengar tetangganya berantem sampai pakai kekerasan. Jadilah dibawa sama Vendra, ditaruh lah di panti sosial perempuan, semacam penampungan mantan orang jual diri gitu lah. Tak bisa nih di panti asuhan, karena usia dan dokumen juga ribet urusannya. Tapi dia pikir ulang tuh, kenapa dia malah taruh di panti sosial bina karya wanita begitu, kan ini perempuan masih di bawah umur, kisaran enam belas tahun dan masih SMA katanya. Jadilah besoknya diambil lagi sama Vendra, tanya lah dia ini ke seniornya, dia kan dulu masih baru tuh. Diarahin katanya ke sana ke sini ke situ, ternyata sekolah si Caitlin jadi amburadul. Akhirnya, ditaruh lah si Caitlin di kontrakan sepetak. Dikasih makan dah tuh si Caitlin sama Vendra, tapi naluri lelakinya berkembang, dia butuh dan sadar ini anak di bawah umur dan masih sekolah. Kebetulan lingkungannya islami katanya, jadi pernah tinggal bersama tuh kena tegur. Tercetuslah untuk nikah siri, dengan alasan ini perempuan di bawah umur. Si Caitlin tetap lanjut sekolah, sampai lulus sekolah, dipakainya tetap diusahakan tak hamil, karena niatnya bukan benar-benar untuk diperistri. Sampai….


...****************...


__ADS_2