
"Untuk urus usaha ini. Sebenarnya…." Papa Ghifar seperti ragu mengatakannya.
"Apa, Pa?" Aku menunggu ucapan selanjutnya.
"Mungkin ayah kau yang lebih layak jelasin." Papa Ghifar tersenyum lebar.
"Apa ada hubungannya sama skandal Jepara itu, Pa?" Aku menanyakan dengan hati-hati.
"Ohh, mungkin. Tapi tentang Papa sering ke sini, itu tak ada hubungannya dengan skandal itu. Jangan berpikir ayah kau trauma, Bang. Cinta royal aja, dia cepat move on. Apalagi, cuma kasus kek gitu. Kasian ke biyung kau, malah biyung kau yang trauma." Papa Ghifar cekikikan kecil.
Berarti ayah yang berulah. Setan memang ayahku ini, beruntung saja dapatnya biyung yang halal dan toyiban itu.
"Ada hubungannya dengan apa berarti?" tanyaku kemudian.
"Kalau sama Papa, ada hubungannya dengan usaha. Nanti kau pulang, biar nanti dijelaskan." Papa Ghifar menguap, kemudian mengusap wajahnya.
"Papa tak ajak mama sih? Kan sekalian travelling." Mereka suka jalan-jalan setahuku.
"Ke bandara tuh bareng, tapi mama antar Kal. Kal berangkat ke Malaysia, udah mulai kerja lapangan di rumah sakit pakwa kau. Kaf ujian juga, dia tak bisa antar. Hifzah sama Husna di rumah biyung kau, sama pengasuhnya juga. Di rumah Papa, cuma ada ART aja. Biyung kau minta ditemani soalnya, padahal udah ramai anaknya." Papa Ghifar terkekeh kecil.
Begitu ya tidak profesionalnya mantan yang menjadi besan? Aku merasa papa Ghifar lebih senang ketika sedikit senggolan membahas biyung. Mungkin perasaanku saja, karena ekspresi beliau seperti getir bercampur senang.
"Kenapa tak ke Kal dulu bareng-bareng? Papa yakin betul ya kalau mama pasti berani?" Jika ayah, pasti rela capek pulang pergi daripada istrinya yang pulang sendiri begitu.
"Inisiatif mama kau, biar cepet selesai katanya. Kalau nungguin Papa aja, ya Kal tak sampai-sampai ke sana."
"Ya tapi, kan nantinya mama Aca pulang sendiri itu." Aku memperhatikan papa Ghifar dari samping.
"Iya, kemauannya sendiri." Ia menoleh ke arahku.
"Pakwa kau lagi di Banjarmasin, jadi tak mungkin kan mama staycation sama mama di Malaysia?" Ia terkekeh kecil.
Loh? Kok pakwa?
__ADS_1
"Jorok aja pikiran Papa tuh." Aku merasa pakwa pasti tidak sejorok itu untuk merusak rumah tangga kerabatnya sendiri.
"Orangnya memang begitu, Bang. Tanya aja biyung kau, ayah kau juga. Terang-terangan itu pakwa kau ingin punya istri kek biyung, yang apa-apa patuh dan nurut aja."
Pendek sekali pikiran orang tua satu ini.
"Maksudnya, pengen yang modelan kek biyung kali. Tak mungkin lah pengen biyung yang jadinya sih." Aku berpikir bahwa maksud pakwa ke arah situ.
"Keluarga kita sejorok itu, Bang. Kau tak pernah tau apa-apa, tak apa. Tapi asal kau tau aja, rumah tangga kedua Papa rusak dan hancur diawali itu penyebabnya."
Aku tertegun.
Sudah mantan pacar menjadi besan, ternyata ada juga skandal antar ipar. Secara tidak langsung, papa Ghifar mengatakan bahwa tante Novi selingkuh dengan pakwa. Yap, istri dari pernikahan kedua papa Ghifar itu adalah tante Novi. Keponakan dari kakek, yang ibunya merupakan orang Turki.
Belum lagi tentang ayah yang merebut paksa biyung dari papa Ghifar, dengan latar belakang pemerkosaan. Ngeri sekali kejadian seperti ini, pantaslah mereka begitu ketat menjaga keturunan mereka. Ditambah dengan ayah dan mama Aca yang pernah merasakan rasa masing-masing, kini menjadi besan. Ternyata, mereka mengalami proses kehidupan yang membuat geleng-geleng kepala.
Aku jadi berpikir, bahwa semua orang tua di luar sana yang begitu posesif menjaga anak mereka, memiliki masa lalu pergaulan bebas, atau kehidupan yang rumit. Makanya mereka tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak mereka.
"Apa mungkin turun ke anak cucu, Pa?" Aku merenung jauh.
"Katanya, pemutusnya itu sholat taubat. Papa udah lakuin semua yang diajarkan, Papa juga merasa menjaga anak sebaik mungkin. Ya semoga, hal itu tak turun ke anak cucu, karena pengertian dan pemahaman pun tak habis-habisnya Papa berikan."
Bagaimana aku bisa tenang? Hatiku mudah gentar ketika mendengar hal-hal seperti ini.
Aku merogoh ponsel dan mengirimkan pesan chat pada adik-adikku, hanya untuk menanyakan apa mereka sudah tidur atau belum. Cukup lama aku tidak mengantar mereka, aku tidak tahu pasti ada kejadian apa saja yang mereka alami di luar rumah.
"Ini Papa langsung pulang, atau jemput mama di Malaysia?" Aku mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Pulang, Bang. Mama masih di Malaysia, mungkin semingguan di sana. Pengen ngamatin lingkungan tempat Kal tinggal dulu katanya, pengen belanja beberapa barang yang biyung kau dan ipar lain titipkan katanya."
Aku terkekeh kecil. Biyungku mesti saja jadi garda terdepan, untuk menitip oleh-oleh.
"Nanti aku pulang pun, Insya Allah bawa oleh-oleh deh."
__ADS_1
Nanda muncul, ia membawakan nasi dan telur dadar untuk papa Ghifar. Berikut dengan segelas air putihnya juga. Ia masuk kembali, kemudian keluar dengan dua gelas teh hangat dan sisa cemilan yang aku punya.
Wah, aku lupa membeli cemilan di toko sembako tadi. Mana minimarket jauh lagi, harus keluar ke gang besar dulu. Perkampungan ini, masih banyak kebun jati dan kebun sawo.
Di mana-mana, aku bertemu perkebunan luas.
"Bawa secukupnya, biar tak repot bawanya." Papa Ghifar fokus pada makanannya.
"Enak tau nasi sama telur dadar hangat tuh, Bang." Nahda menunjuk piring papa Ghifar dengan dagunya.
"Buat dong kalau pengen sih." Aku menyalakan layar ponselku, menunggu notifikasi masuk dari adik-adikku.
"Tak, maksudnya Abang tuh. Pernah tuh tak mau kali, kalau masak telur dadar atau mata sapi." Nahda mengaduk teh manis.
Satunya lagi ternyata untuknya sendiri.
"Ya kan sesekali doyan, Dek. Maksudnya kalau sempat masak lauk yang lain, kenapa harus telur dadar dan ceplok gitu kan?" Intinya, kurang n**** makan saja jika menunya itu.
"Tuh, Pa. Rewel begitu Bang Chandra tuh." Ia melapor kembali.
"Tak apa, repot sedikit hadiahnya surga." Papa Ghifar tersenyum lebar pada anaknya.
Untung jawabannya begitu.
"Tiket aku udah banyak, Pa." Ia cekikikan dan melirikku.
Yah, itu sih tiket mengajak anu. Si Nahda memang ada saja.
"Gerak ya, Bang? Jangan kelamaan di rumah nikmati bulan madu ke sekian. Dulu kau kecil, Papa jauh-jauh ke Samarinda jemput kau. Beberapa kali singgah, untuk beli baju anak kecil dadakan bahkan tak sempat dicuci dulu. Untungnya, kau tak iritasi. Ini udah jauh, bawa anak Papa juga, jangan kelamaan di kota orang. Kita harus bareng-bareng terus di kampung, ingat lahan kopi kita banyak." Celetukan papa Ghifar membuat kami tertawa bersama.
"Bang Chandra muda, pernah kabur ke Samarinda ya?" tanya Nahda setelah tawa mereda.
"Bukan suami kau, tapi biyung kau. Kan Papa bilang tadi, masa dia kecil. Kalau tak dijemput, mungkin tak ada magnet untuk narik biyung kau datang. Tiap hari Papa berantem sama almarhumah mama Kin, sama ayah Givan, gara-gara itu bocah dalam asuhan Papa. Tak masalah, kita udah bareng-bareng dan jadi tetangga rumah. Bersyukur aja, karena sempat jemput suami kau pulang waktu kecil dulu. Kalau tak, nanti kau nikah sama siapa coba?"
__ADS_1
Papa Ghifar terlalu mencampuri ya sepertinya? Demi apa, sampai biyung harus datang lagi ke keluarga mereka? Ayah saja, itu bukan anak kandung kakek. Intinya ayah ataupun biyung jauh, itu bukan masalah besar untuk keluarga mereka.
...****************...