
"Sakit, Ayah!!!" Aku berusaha melepaskan cekalan ayah di kerah bajuku, kemudian aku mendorong tubuh ayah.
"Halah! Lemah!" Ayah meraih kursi plastik dan langsung menghantam ke punggungku.
Ini gila, punggungku sampai terasa pedas dan sakit. Karena kursi tersebut sampai pecah dan rusak.
"Mau Ayah?! Ngajak aku berantem?! Mau buat aku masuk neraka?! Mau ngajarin aku berani ke orang tua?!" Aku bersuara tinggi, karena merasa drama ayah keterlaluan.
Aku masih kuat menopang tubuhku, rasa sakit yang ayah timbulkan tak seberapa.
"Moncong kau!!!" Ayah menunjukku tepat di depan wajahku.
Ayah mengayunkan tangan kanannya, tapi aku bergegas menangkapnya dan langsung mendorong ayah sampai ia terkunci di tembok bervariasi kayu bermotif ukiran khas.
"Sakit, Ayah! Sakit! Sakit! Sakit!" Aku memeluk ayah, menguncinya agar tidak bisa menganiayaku lagi.
Ayah malah terkekeh kecil, kemudian memelukku hangat dan mengusap-usap tubuhku. Terang saja aku terpancing emosi, mataku bahkan sudah pedas. Tapi aku anaknya, aku pun merasa bersalah karena mengatakan bahwa ayah berbohong. Namun, ternyata benar ini hanya dramanya saja.
"Ayah takut kau tak bisa apa-apa." Ayah mengusap kepala belakangku.
"Tak mungkin! Ini manusiawi aja!" Napasku sudah seperti kerbau.
"Oh ya?" Ayah melepaskan pelukannya, kemudian membingkai wajahku.
__ADS_1
"Oh ya! Oh ya, apa?! Ngajakin berantem? Ayo di ring aja." Giliran aku yang mencekal kerah baju ayah.
"Ah, tak asyik! Enak di jalanan." Ayah melepaskan cekalanku begitu mudah, kemudian merapikan kerah bajunya dan mendorongku dengan mudah.
Masalahnya ini ayahku, tidak bisa berantem juga aku bisa bergulat. Aku hanya tidak mau dirinya kenapa-napa, kemudian membuat banyak anak perempuannya menangisinya dan membuat istrinya kerepotan. Aku mau ayahku sehat terus dan kuat terus, tanpa kesakitan sesuatu. Apalagi, aku yang membuat sakit.
"Rumah kakek, masih Ayah sita. Cepatlah punya anak, anak kau kelak yang suruh nempatin rumah itu. Kau jangan iri sama papa atau pakcik kau, karena mereka dapat ladang besar-besaran. Ayah nolak semua pemberian, karena merasa Ayah bukan anak kandung, sejak keluarga besar dari kakek kau bilang kalau anak sulung Dinda itu Ghifar. Bukan sakit hati, Ayah cuma sadar diri. Toh udah kaya juga, Ayah dari awal pun tak pernah mengharapkan warisan. Kalau bisa, Ayah mau harta itu ditukar sama umurnya nenek kau aja. Nenek kau terlalu muda untuk wafat, Ayah masih butuh beliau sampai sekarang." Ayah duduk di kursi kebesarannya.
Ayah tidak asyik. Tadi membuat emosiku naik, sekarang membuat rasa sedihku muncul.
"Asam lambung nenek naik terus, kalau harus urus sulungnya sampai hari ini." Aku berjalan ke arah ayah.
Delikan tajam aku dapatkan. Ayah melemparkan kepalan kertas ke arahku.
"Sulung Ayah pun bukan kau ya! Tapi dari lahir kau dianggap sulung, sedangkan Key tak dihitung dalam KK. Cucu mahal, cucu mahal. Jelas aja, karena memang kau anak Cendol. Kau tak keluar dari rahimnya untuk pertama kali, tak akan kau dapat ini itu dari nenek dan kakek kau. Kau ditunggu mereka selama tiga tahun, Ayah mengusahakan hadirnya kau selama itu. Bukan hal penting keputusan Ayah yang nolak warisan itu, hal itu bisa dihiraukan. Tapi tentang kau, mereka tak bisa maklumkan. Biyung kau terlalu manut untuk mereka, mereka berat ke biyung kau ketimbang Ayah. Tak rujuk dengan biyung kau, mungkin Ayah masih hidup di luaran dan menghamburkan uang. Terang aja, Bang. Nenek dan kakek kau tak pernah minta Ayah pulang, sejak Ayah sukses bawa balik tambang. Kau diakui cucu mereka, tapi Ayah dan tingkah Ayah yang sering buat mereka murka. Udah tambah tua, eh malahan pengennya kumpul bareng orang tua. Kasian mereka, Anak-anak mereka semrawut, tak kalah rumit dari tingkah Ayah. Bukan karena balas budi, tapi sadar adik-adik Ayah lahir dari rahim perempuan yang paling hebat menurut Ayah. Adik-adik Ayah bukan anak Dinda, Ayah tak mau capek-capek sedemikian rupa rela berkorban ini itu."
"Ayah kecewa, karena dibilang bukan sulung mereka." Aku menyimak dengan bertopang dagu dengan kedua tanganku.
Aku sudah duduk di kursi, di depan ayah.
"Ya gimana??? Kenapa nikah sama janda beranak satu? Jandanya tak mau kembalikan anaknya ke mantan suaminya, kok Ayah yang seolah salah dan merepotkan? Tak sakit hati, tak kecewa, tapi udah paham kalau dibeginikan itu tak enak. Dari mulai saat itu, sampai Ayah punya anak lain-lain perempuan, Ayah janji sama diri Ayah sendiri, untuk tidak melakukan hal seperti itu. Tapi Ayah sadar, mereka terlalu ceroboh untuk mengemban tanggung jawab masing-masing. Makanya kenapa, Ayah percayakan dulu ke satu orang."
Setumpuk dokumen datang dari lacinya, kemudian menumpuk rapi di atas meja.
__ADS_1
"Capek aku nih, Ayah. Ya Allah…." Aku menggosok wajahku.
Pluk….
Segebung uang, mendarat darurat di dadaku. Lalu, tergeletak di atas meja kerja ayah.
"Untuk Nahda. Kalau kau capek, kasih dia aja. Bilang aja, kau belahan jiwaku."
Aku tertawa geli, sedangkan yang memberi saran malah datar saja. Aku membayangkan bagaimana gelinya mulut ini, mengatakan hal yang romantis seperti itu. Sejak nikah pun, aku bahkan tidak pernah mengatakan aku cinta padanya.
"Istri kau bisa diandalkan, dia partner yang sempurna."
Pujian dari ayah, membuatku bangga bisa memiliki Nahda.
"Kau pandang ini satu persatu. Kau dengarkan Ayah, kau cek secara berkala, masa Ayah keteteran di satu usaha. Ayah tak istirahatkan orang-orang Ayah, tapi Ayah mau kau tau pergerakan di sana." Ayah menjejer dokumen-dokumen tersebut.
Wahai para pengejar pendidikan. Bayangkan aku dan segala kerumitan berharga di depan mata ini. Bukan sekolah, atau perguruan tinggi yang membuat pusing hidupmu. Tapi berkas-berkas dan ketelitian langkah pebisnis loh, yang membuat kepalaku berdenyut seperti benih hendak keluar.
Snack habis snancknya, teh manis tinggal ampas tehnya. Tetes mata berulang kali diberikan, agar mata tidak terasa pedas dan kering. Istri mengirimkan gambar pengundang kelaparan laki-laki, yang aku balas dengan foto tumpukan dokumen penting. Belum lagi asap rokok dan asbak yang hampir penuh karena abu dari rokokku.
Benih-benihku, saat keluar tolong jangan stress dan lemah stamina untuk mencari indung telur ya? Ayahmu ini sedang bertaruh jiwa raga, untuk menutupi semua kewajiban dan tanggung jawab orang-orang tersayang.
Aku yakin ayah tidak mau nikah lagi dan hidup bahagia dengan istri mudanya, kemudian meninggalkan biyungku. Tapi ayah hanya mempersiapkan semuanya, agar masa dirinya dipanggil Yang Kuasa, aku tidak kaget dengan rutinitas seperti ini.
__ADS_1
Ia sayang padaku, ia takut anak laki-lakinya tak bisa apa-apa. Ia takut anak laki-lakinya hanya terbiasa membuka mulut dan menikmati makanan, tanpa tau sulitnya mencari uang untuk membeli bahan baku makanan dan mengolah makanan.
...****************...