
"Entah, bang Wildan memang orangnya begitu."
Aku memiliki kecurigaan dari jawaban Hema, rasanya aneh saja ia sampai begitu dikekang. Ditambah, jawabannya seperti ngasal saja.
"Tak juga deh, anak laki-lakinya aja sering dibawa ke tempat futsal kok. Kalau anaknya ngantuk, barulah diantar pulang sekalian dia alasan biar pulang cepat." Pakcik Gavin terkekeh kecil.
"Lulusan SMK kau? Atau SMA?" Bukan patokan, tapi aku bisa sedikit menyelidiki pergaulan.
"SMK, Bang. Niat kerja lulus sekolah, tapi tak boleh," jawabnya dengan menoleh ke arahku.
"Lah, terus? Sekarang kau ambil psikolog gitu? Kau mah jadi pewaris, atau kau mau jadi terapis?" Pakcik Gavin terlalu gegabah melayangkan pertanyaan.
"Memang harus pewaris aja ya? Kalau Saya jadi perintis itu tak bagus ya untuk jadi teman Bunga?"
Sensitif sekali bujang ini.
"Saya pewaris dan perintis, tak masalah. Ini bukan tentang bagus tak bagus, atau pantas tak pantas. Kau datang ke sini, wajar kami tanya asal usul kau. Saya tak mau kecolongan anak perempuan Saya lagi, kalau kau tak jelas dan tak mantap, ya lebih baik tak usah berteman sekalian. Laki-laki perempuan tak ada berteman yang wajar, pasti terselip rasa yang bukan wajarnya. Lebih baik kau jujur, daripada Saya tanya abang ipar kau dan aku larang Bunga berteman sama kau lagi." Pakcik Gavin tidak bisa santai rupanya.
"Oke, baik. Saya ex-con, Saya jaga image Saya biar diterima. Bunga pun, belum tau tentang Saya. Saya kena tangkap tangan dengan perempuan yang nyapa tadi, dia kena sel, Saya kena rehab karena hanya user. Dua tahun Saya tak lanjut pendidikan, hidup Saya tak terarah dan hancur berantakan. Sekarang, Saya masih rutin konsul karena belum bisa lepas tuntas. Udah, begitu aja. Tak terima meski udah jujur, Saya tetap maksa dekati Bunga. Saya udah tau dia janda, Saya tau dia pernah hamil dan Saya tau dia harapan rumah sakit besar. Saya tak mau Bunga tau tentang Saya dari kalian dan biarkan Saya nunjukin usaha Saya ke Bunga, biar dia paham bagaimana ketertarikan Saya kali ini." Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri.
"Ex-con?" Alis pakcik Gavin naik sebelah.
Hema menghela napasnya. "Mantan napi."
Si a***** memang, keluargaku dikelilingi ex napi. Jessie ex napi, Hema ex napi. Pantas saja, ia mengenal Jessie tadi.
"Valerie Allison?" Aku menyebutkan nama tenar Jessie.
"Iya, Jessie."
Jessie berbohong, ia pernah berkata nama aslinya tidak diketahui orang lain selain aku dan keluarganya.
Namun, aku memiliki satu pertanyaan untuk Hemas.
"Kau mantan pacarnya ya?" Aku tidak berniat menuduh.
"Mana pernah aku pacarin dia." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kau tau nama aslinya?" Mungkin ia pun akan mencurigaiku.
"Proses di polisi kan pakai nama asli, bukan pakai nama tenar." Ia sedikit ngotot.
Benar juga sih, tapi aku tetap curiga.
__ADS_1
"Aku tandai ya kau iparnya Wildan!" Pakcik Gavin melemparkan kertas bekas segelnya rokok ke arah Hema.
"Iye, aku tandain juga ayah Bunga yang kesekian." Ia sudah tidak menggunakan bahasa baku lagi.
"Istri aku punya anak sama bapak kandungnya Bunga, mereka cerai dan istri aku nikah sama aku. Istri aku tetap ibu sambungnya, aku pun naik pangkat jadi bapak sambungnya juga. Berani kau tandai aku?! Ayo gelut di ring aja." Pakcik Gavin sampai menunjukkan bicepsnya.
Percayalah, ia paling gagah di antara saudaranya yang lain.
"Kau pikir aku berani?!" Hema mengangkat tangannya yang berkemeja dongker tersebut.
Sungguh, kami tertawa bersama akhirnya. Tongkrongan laki-laki dan obrolan laki-laki tak sebaku itu, kami hanya tidak kenal saja tadinya.
"Habis ditodong asal-usul, malah diajak gelut. Kalau tau abang-abangnya besar-besar, udah aja aku ajak Bunga ketemuan di minimarket." Hema menggerutu hebat.
"Nyali kau sekecil badan kau, pasti punya kau pun tak berurat." Celotehan pakcik Gavin membuatku tertawa lepas.
"Yang penting panjang aja dulu, ukuran bisa disesuaikan dengan berat badan nanti." Hema memasang wajah sombongnya.
"Kau harus tau, kalau orang gemuk itu bijinya tenggelam." Pakcik Gavin membuat kami tertawa lepas kembali.
Absurd sekali.
"Massa otot mempengaruhi, apalagi kalau latihan otot kaki. Rajin workout, Bro. Biar wibawa kau keluar." Ini nasehat kecil dari ayah.
"Bawa kok, yang depan pagar itu." Hema menunjuk area rumah nenek Dinda.
"Wi….bawa Fortuner."
Garing, tapi tetap mengundang humor.
"Keren kau, Bang. Bawa Vixion bekas aja, seminggu terakhir udah dua perempuan yang kau bawa-bawa terus." Pakcik Gavin sampai memegangi perutnya.
"Anak laki-laki ayah, dilawan." Aku menyenggol hidungku dengan ibu jariku.
"Perempuan tadi kan? Bangga gitu?" Yang dimaksud Hema adalah Jessie.
"Ini tehnya." Si cantik Kirei datang membawa satu gelas teh hangat.
"Makasih, Cantik." Aku menerimanya. Disusul dengan seorang pengasuh anak yang membawakan dua gelas teh.
"Silahkan." Pengasuh tersebut menaruhnya di meja bundar teras.
"Makasih." Pakcik Gavin mengambil satu gelas miliknya.
__ADS_1
"Ini adiknya Bunga ini." Pakcik Gavin menunjuk Kirei yang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ohhh…." Hema manggut-manggut. "Alisnya mirip." Secuil komentar Hema yang sering orang kemukakan tentang Bunga dan Kirei.
"Iyalah, satu benih. Anak-anak aku sih hitam semua, ayahnya gula aren soalnya." Pakcik Gavin melihat ke punggung tangannya.
"Bapaknya Bunga yang mana sih? Yang di status WAnya bukan?" Hema menunjuk sebuah foto di ponselnya padaku.
Sebegitunya kah? Sampai discreenshot.
"Itu ayah aku itu, ayah asuhnya Bunga. Bunga dari kecil sampai SD itu sama keluarga angkatnya." Bunga besar yang kasihan sekali nasibnya.
"Lah, terus bapaknya yang mana?" Alisnya sampai menyatu.
"Yang mana ya?" Pakcik Gavin langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di meja bundar itu sejak tadi.
Ah, kebetulan sekali.
"Yang itu tuh, yang jalan ke sini bawa tentengan." Kebetulan sekali pakwa datang dan berjalan masuk ke halaman rumah pakcik Gavin.
"Eh, Bunga mana? Di rumah besar tak ada dia." Pakwa menaruh tentengannya di ujung teras, kemudian ia menyeka keringatnya.
"Mandi tadi sih." Aduh, aku lupa memberitahu Bunga juga jika ada Hema di sini.
"Tak ada, ada bekas piring kotornya aja." Pakwa memperhatikan bujang kempot ini.
"Adiknya papah kah? Atau keponakannya?" tanya pakwa kemudian.
"Eh iya baru ngeh, mirip om Edo ya?" Pakcik Gavin menjentikkan jarinya.
Benar, pantas saja aku tadi merasa familiar dengan wajahnya.
"Heem, teman kau, Bang?" Pakwa memandangku dengan bertolak pinggang.
"Hmm." Aku melirik Hema, pasti ia belum memiliki persiapan jika dikenalkan langsung ke ayah kandungnya Bunga.
"Iya, Pakwa," jawabku kemudian.
Pakwa manggut-manggut. "Panggilkan Kirei, mau cepat aja aku. Tak tenang belum ketemu si sulung, semalam ke sini tak ada juga bocahnya." Pakwa berbicara pada pakcik Gavin.
"Bunga ke biyung keknya, tadi tante Ria nyuruh ke sana. Semalam aku bawa sampai jam setengah duaan kalau tak salah, ke tempat futsal biasa." Pakwa harus tahu jika Bunga tetap terjaga oleh orang terdekatnya.
"Ohh, ya udah." Pakwa memperhatikan pintu masuk. "Kirei, Ayah bawa jajan sama susu," seru pakwa kemudian.
__ADS_1
"KIREI, ADA PAK KENTIR," teriak pakcik Gavin begitu lepas.
...****************...