
"Aku kira Abang bawa parcel, isi pakaian *****, pakaian, skincare, kosmetik, sabun dan lain-lain, sandal dan handuk, hijab atau satu dua barang elektronik gitu. Ternyata, bawa orangnya aja." Ia melirikku dan tertunduk.
"Abang tak tau kalau mau nikah." Aku menekan suaraku.
Aku sudah menyebutkan diriku 'abang' saja. Ya semoga sampai ke sananya latah dengan sebutan itu, tidak seperti ayah yang sampai sekarang masih menyebutkan dirinya 'aku' saja. Bukan apa-apa, tapi seperti kurang nyaman didengar. Seperti mengurangi keromantisan, terkesan tidak sedang berbicara dengan orang yang tersayang.
"Masa? Kan tau sendiri masa vaksin itu, Abang bilang kita calon pengantin kan? Gimana sih Abang ini?!" Nahda langsung cemberut, kemudian menatap lurus ke depan.
"Ya iya, tapi tak tau nikahnya lima hari kemudian setelah vaksin. Tau begitu kan, Abang ajak kau belanja-belanja dulu." Aku tak enak ditegur langsung dengan Nahda begini.
Aku terkesan kurang menyiapkan diri, atau menghargai acara ini. Secara tidak langsung, aku pun seperti tidak menghormati diriku sendiri karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk acara hari ini.
"Kita mulai ya?" Penghulu mulai membacakan doa.
Tidak ada pembawa acara, ini hanya akad nikah sederhana saja. Seperti saat dengan Izza di KUA, tapi bedanya ini di alam terbuka.
Seperti yang sudah mantap di hati, aku menyebutkan kabul satu kali dengan satu tarikan napas. Sebelum penghulu menyerukan 'SAH', bahkan beberapa saudaraku ada yang bertepuk tangan dan bersiul.
Benar kata pakcik Gavin, aku sudah pengalaman untuk akad. Aku hanya bisa tersenyum, karena perasaan hangat menjalar di hati melanjutkan doa setelah akad nikah ini.
Nahda kenapa?
Ia terus tertunduk dalam diam, memperhatikan tangannya yang tidak terukir apapun. Nahda tidak menggunakan henna sama sekali, ia hanya mengenakan gaun pengantin yang indah saja. Tentu dengan hijab yang sederhana, yang melilit di lehernya. Gaunnya itu berwarna putih, dengan sedikit payet berwarna gelap di bagian dada dan pinggangnya saja.
"Tanda tangan dulu, Dek." Aku menyentuh tangan Nahda, yang menengadah dengan mewadahi…. Air matanya.
Ia menangis.
"Jangan nangis, aku tak akan bawa kau merantau." Aku bingung ingin menenangkannya seperti apa.
"Kenapa, Dek?" Mama Aca mendekati Nahda, ia memeluk bahu anaknya yang masih menunduk itu.
"Takut," jawabnya lirih sekali.
__ADS_1
"Pelengkapan dokumennya nanti saja, Pak." Ayah menghampiriku, ia berbicara dengan pihak KUA yang duduk di depanku.
"Kita mau sekalian pamit, Pak. Terus dokumennya mau langsung diurus, biar dokumenn nikahnya turun. Karena ini kan daftarnya baru, jadi belum bisa langsung jadi. Seperti yang sudah Saya bilang tempo hari itu, Pak," jelas pihak KUA kemudian.
"Coba tuntun untuk tanda tangan, Bang." Ayah memberikan bolpoin.
"Iya, Yah." Aku menarik tangan kanan Nahda, agar mau memegang bolpoin.
Belum ada acara cium tangan dan cium kening, Nahda sudah kena mental dulu. Bagaimana malam nanti, jika baru sah ia sudah takut.
Lagian, takut karena apa? Aku tidak terlihat buruk, rambutku pun terikat rapi dan masuk ke dalam peci. Yap betul, akad nikah ini aku menggunakan peci. Selepas akad, bergaya keren lagi dengan kunciran yang digelung ini.
Klimis lah, aku tidak menakutkan.
"Nanti malam jangan keras-keras tuh, Bang. Nanti dia nangis, malu kau nanti." Ayah berbicara di dekat telingaku, saat aku masih menunggu tangan Nahda bergerak untuk tanda tangan.
"Tak keluar-keluar nanti."
Eh, ayah malah tertawa tertahan. Aku jadi ingin terkentut, karena menahan tawa menggelikan begini.
"Udah, udah. Alhamdulillah." Mama Aca membereskan dokumen yang telah selesai ditandatangani oleh Nahda.
Mama Aca langsung mengajak Nahda pergi, aku di meja akad ditemani oleh ayah karena masih harus mengucapkan sumpah pernikahan. Dengan Izza pun, aku mengucapkan sumpah ini.
Setelah selesai formalitas data dan foto bersama. Kami melanjutkan dengan mengobrol santai, merokok dan ngopi bersama. Sebelum akhirnya pihak KUA itu pamit dengan salam dan ucapan terima kasih berupa pergantian ongkos.
Ya karena siapapun pasti akan mengeluh jika bekerja di luar ruangan, ditambah jarak tempuh yang cukup jauh. Mungkin ada sekitar satu setengah jam dari daerah rumah kami, mereka pun petugas KUA desa kami tinggal. Jadi di sini, hanya sekedar numpang nikah saja.
"Ngerokok aja! Sana tuh di pelaminan." Papa menghampiriku dan menunjuk pelaminan berada.
"Nanti lah, Nahdanya tak ada." Aku malu lah seperti akan pidato saja.
"Sana samperin, tanyain kenapa," saran ayah dengan nada yang lembut.
__ADS_1
Nah, begini coba. Ayah terlihat sedikit plong.
"Di kamar mana?" Aku bangkit dan melepaskan peciku.
Gerahnya.
"Ini depan, cuma booking halaman aja sama satu kamar untuk salin. Malam ini kau lanjut di sini tak apa, Bang." Papa Ghifar menunjuk kamar yang tadi digunakan untuk berganti pakaian.
"Tak, di rumah Papa aja. Aku mau ada yang dibahas sama Ayah, Pa." Aku memandang ayah sekilas, kemudian beranjak pergi.
Bukan tanpa alasan aku ingin tinggal sementara di rumah papa Ghifar. Karena tadi baru akad nikah saja Nahda sampai menangis, apalagi nanti langsung dibawa ke rumah biyung dan ia langsung berubah jadi ibu rumah tangga.
Aku belajar dari kesalahanku pada Izza. Istri keduaku ini, jangan sampai tekanan batin dan banyak memendam seperti Izza dulu. Aku berharap aku banyak berubah lebih baik di pernikahan kedua ini.
"Dek…." Aku mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka ini.
Mama Aca melihatku, Nahda hanya melirik. Ia masih memeluk pinggang ibunya, ia benar-benar seperti ketakutan.
"Bang Chandra tak galak kan? Tak bakal marahin Nahda aja kan?" Nada bicara mama Aca seperti seorang ibu yang tengah merogoh hati anaknya yang ngambek.
"Siapa kata Abang galak?" Aku malah mengikuti alur.
"Tuh, dengerin. Jangan ngebayangin dulu dibentak-bentak Abang kau masa kau telat buat sarapan, kan ada mie cup, ada juta roti lipat langsung hap. Jangan langsung mikirin 'aduh gimana nanti, gimana ya aku, ini salah tak ya' jangan dibuat beban sama pikiran sendiri, ikutin alur aja. Kau buat salah sekali dua kali, tak mungkin diceraikan. Bang Chandra pengalaman kok, paham kan Bang kalau salah itu ditegur dan diajarin yang benarnya?" Mama Aca memandangku dengan alis terangkat sebelah.
Tunggu, tunggu. Mama Aca bukan hanya menenangkan anaknya, tapi tengah memberi sedikit nasehat padaku. Aku tidak bodoh-bodoh sekali kok, aku tidak seceroboh itu menanggapi istri yang salah. Ya bisa dilihat dari bukti kemarin dengan Izza, aku mencoba menuntunnya, meski entah benar atau salahnya caraku.
"Iya, Ma." Aku lebih masuk ke dalam kamar ini.
"Tenang aja, Dek. Sementara, kita tetap tinggal di rumah Mama." Aku mencoba memberi kalimat penenang juga untuk Nahda.
"Udah dimarahin Mama, dimarahi papa, dimarahin Abang juga kalau gitu sih." Nahda seperti anak kecil yang minta dibelikan es dalam cup di sebuah hajatan tetangga.
"Ya tinggal di mana kan bisa dibicarakan, tapi yang penting kan kau tenangkan diri dulu. Buang itu overthinking berlebihan, Bang Chandra tak segalak yang kau pikirkan."
__ADS_1
Lagi dan lagi, mama Aca memandangku saat mengatakan hal itu. Itu seperti sebuah peringatan, agar aku tidak galak pada anaknya.
...****************...