Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA236. Menunggu sarapan


__ADS_3

"Izin ngampusnya berapa hari, Dek?" Aku sudah enam kali mengusik tidurnya sejak subuh. 


"Tiga hari, Bang. Nanti Subuhnya aku qodho." Nahda menarik kembali selimutnya. 


Benar-benar seperti dugaanku. Sepuluh menit setelah keluar, mau tidak mau aku harus memompa kembali. Jangan tanyakan bagaimana letihnya lututku, semata-mata karena Nahda belum bisa paham untuk bergerak. 


Perawan sih perawan, mengesankan. Tapi sekalinya ia kecanduan….


"Ayo lagi sih, Bang. Yang kek tadi itu, sekali lagi aja. Geli betul di sini nih, enak betul pas Abang gerak cepat."


Yap, aku masih terngiang-ngiang rengekan memohonnya semalam. Sudah tidak bisa berword-word lagi, aku nyatanya cukup kewalahan. 


"Abang antar Ra sama Cani ngampus dulu ya? Pulang nganter, sarapan Abang udah jadi ya? Abang sengaja tak makan sarapan mama, pengen ngerasain sarapan buatan istri." Aku ingin ia terbiasa melayani sarapan pagiku. 


"Heem, sebisanya ya?" Ia tidak membuka matanya sedikitpun. 


"Iya. Abang berangkat dulu ya?" Aku mencium keningnya, kemudian meninggalkannya yang masih tanpa busana dan berbalut selimut saja itu. 


Ia mendapatkan kualitas tidur terbaiknya. Aku sebagai laki-laki, begitu merasa jantan saat istriku terpenuhi batinnya. Sudah penuh, semoga Nahda tidak ingin mengulanginya tiap waktu. 


"Bang, makan dulu," ujar mama Aca, saat aku melewati mereka yang berada di meja makan. 


"Nanti Nahda buatkan, Ma. Aku mau nganter Cani sama Ra dulu." Aku seperti Chandra yang memang bebas di rumah ini, bukan seperti menantu baru yang canggung. 


"Barangkali Nahda kecapean, Bang. Makan aja dulu, Bang," ungkap papa Ghifar. 


"Iya, biar nanti." Aku sudah sampai di pintu depan. 


Pulang-pergi perjalanan, mungkin hanya setengah jam. Jam tujuh lebih, aku sudah kembali lagi ke rumah ayah. 


"Mobil apa maunya, Bang? Mana kartunya? Ayah uruskan." Ayah menghampiriku yang baru duduk di teras rumah. 


Hangatnya matahari pagi. 


"Rush tak apa." Aku ingin sekelas Pajero, yang memiliki banyak bangku. 


"Ayah pernah punya, bosen lihatnya nanti Ayah, Bang."


Kok bisanya ayah yang bosan melihat? Aku punya saja belum. 


"Xpander aja, kalau memang mau sekelas Rush," timpal Hadi yang baru keluar rumah dengan menggendong Dayyan. 


Ia masih di sini rupanya. 


"Ya udah, Yah. Xpander aja, warna putih." Aku pun naksir mobil papa Ghifar yang berwarna putih itu. 

__ADS_1


Tapi rasanya uangnya sayang, jika membeli mobil dengan merek yang sama seperti milik papa Ghifar. Harganya mahal, jika Xpander atau Rush berkisar dua ratus lima puluh sampai dua ratus delapan puluh. Aku tidak mencari informasi langsung, aku hanya mencari informasi di Google. 


"Ayah berangkat ya? Nanti jemput Ra sama Cani kalau sempet, Ayah pergi sama Zio." Ayah berjalan menghampiri pintu rumah Zio, setelah kartu milikku berpindah padanya. 


Di kartu tersebut, keuangan masuk khusus dari tembak saja. 


"Iya, ati-ati." Aku berniat kembali ke rumah untuk meminta sarapan pada Nahda. 


Aku terbiasa makan pagi soalnya. 


"Kau tak berangkat, Di?" tanyaku, saat ia memakai sandalnya. 


Entah ia mau ke mana. 


"Ke mana? Aku kuliah hari Minggu." Hadi urung melangkah. 


Sepertinya, ia ingin ke rumah orang tuanya. 


"Nganter es batu." Aku ingin tahu tanggapannya, jika keluarganya ini memang sudah tahu profesinya. 


Ia malah tersenyum getir. 


"Aku tak punya keahlian, Bang." Miris sekali pengakuannya. 


Jika saja aku tidak pindah asuh ke tangan ayah sejak TK, mungkin aku tidak berani mengambil resiko. Aku yang disapa orang saja, dulunya langsung menangis. Dengan teganya ayahku meninggalkanku di TK, ia hanya datang mengantar dan menjemput saja. 


"Di Singapore, beberapa pedagang itu punya mesin es batu sendiri. Apa tak mau coba? Masalah dana, biar Abang bantu ngomong ke ayah. Karena jujur aja, dana Abang lagi fokus ke lahan. Kalau aja ayah mertua tak bilang anak perempuannya tak terbiasa naik motor, mungkin Abang pun tak dadakan beli mobil." 


Bukan aku tidak mau dihutangi, hanya saja aku merasa tidak mampu untuk menolong. Harga mesin pembuat es batu itu, kisaran ratusan juta. Belum dengan perlengkapan alat seperti tangki air dan lain sebagainya. 


"Modalnya besar, Bang. Aku udah dapat informasi dan ilmunya." Hadi urung pergi, ia malah duduk di sampingku. 


"Kau mau? Kalau mau, Abang obrolin ke ayah." Aku mencolek pipi Dayyan, ia tumbuh di tangan orang tua yang tepat. 


Ayahnya bertanggung jawab atas hidupnya, kebutuhannya dan kondisinya. Aku yakin, Hadi ingin yang terbaik untuk anaknya. 


"Gimana nanti aku bayarnya?" Hadi sudah meratap dulu. 


Ia takut dengan resiko. 


"Bisa, itu urusan gampang kalau usaha kau udah jalan. Sebulan setelah usaha kau jalan, kau tak langsung ditagih juga." Aku merasa sendiri bagaimana rasanya memiliki hutang pada orang tua. 


Ayah tidak pernah menagih pada anaknya. 


"Aku takut gagal, Bang. Udah modal besar, rebutan langganan." Hadi membenahi posisi anaknya. 

__ADS_1


"Coba dipikirkan dulu, Abang bisa bantu teruskan ke ayah kalau kau tak berani." Aku menepuk pundaknya. 


Hadi menoleh dan mengangguk. "Nanti aku pikirkan, Bang."


Aku harus mengisi perutku. 


"Abang makan dulu ya? Nanti telpon Abang aja." Aku meninggalkan Hadi lebih dulu. 


Belum juga sampai kamar Nahda, aku sudah dihentikan oleh mama Aca. Keadaan rumah sudah sepi, mungkin Hifzah sudah berangkat sekolah dan yang kecil bermain dengan pengasuhnya. 


"Sini, Bang." Mama Aca mengulangi perintahnya. 


Aku melangkah menghampiri. "Nahda belum bangun dan buat sarapan, Ma?" Apa istriku itu masih mandi? 


"Duduk dulu." Mamah Aca mengetuk meja makan. 


Ibu mertuaku ini anteng di dapur. 


"Ada apa, Ma?" Aku merasa ada sesuatu nih. 


Jangan-jangan, aku akan ditegur. 


"Susu hangat atau dingin?"


Ini pertanyaan lurus, atau sesuatu tentang yang semalam? 


"Apa nih?" Aku tegang untuk menjawab. 


"Kau mau minum susu hangat atau dingin, Bang?" Mama Aca memperjelas kalimatnya dengan perlahan. 


"Ohh, aku tak minum susu. Aku teh aja, Ma." Pertanyaan lurus ternyata. 


"Oke, sebentar." Mama Aca turun dari kursi dan ngoprek di dapur kembali. 


Tak cuma disandingkan teh hangat, aku juga dibuatkan sarapan. Nasi putih, dengan lauk capcay suwir ayam plus bakso. 


"Sok makan dulu, Mama cuci piring dulu." Mama Aca kembali ke dapurnya. 


Jadi, Nahda tidak membuat sarapan untukku? 


"Nahda tak buat sarapan untuk aku, Ma? Kenapa tak Mama nasehati dia? Masa aku harus sarapan di biyung?" Sepele memang, tapi aku ingin hal sepele ini berjalan setiap harinya. 


Aku bekerja di luar rumah, aku butuh perutku terisi sebelum beraktivitas. Aku memang mampu dan bisa membelinya, tapi aku ingin istriku melayaniku dan menjadikan aku ladang pahala untuknya. 


"Udah, makan dulu." Mama Aca melirik sekilas. 

__ADS_1


Sorot matanya serius sekali. Ada apa ya? 


...****************...


__ADS_2