
"Ma, Biyung…. Papa pingsan di rumah." Aku ngos-ngosan setengah mati.
Berlari dan panik cukup menguras tenaga.
"Hah? Di rumah Mama?" Mama Aca langsung berdiri dan bergegas pergi.
"Iya." Aku mengangguk cepat.
"Mas…. Itu Ghifar pingsan, cepat, Mas!" Biyung langsung berseru lepas, dengan masuk ke dalam rumah.
Aduh, aku harus bagaimana? Entahlah, yang penting memakai baju dulu. Ujung dadaku yang sekecil tahi lalat ini merinding terkena keringat dan sapuan angin.
"Di mana?" Ayah berlari ke luar, saat aku tengah mengenakan baju sambil berjalan.
"Katanya di rumah." Biyung muncul dari dalam rumah, ia mengikuti ayah dengan langkah cepat.
"Ayo, Biyung." Aku mempersilahkan biyung untuk keluar dari rumah dulu, kemudian aku menutup pintu rumah.
Kantuk dan lelah hilang sekita. Energiku bagaikan dibakar dengan nyala api yang besar, di sisa sarapan di bandara tadi.
Aku dan biyung berlari kecil, sampai akhirnya sampai di lantai atas rumah papa Ghifar dengan keadaan ngos-ngosan dan ngap parah. Ternyata, papa Ghifar sudah terbangun dan menatap langit-langit rumahnya. Pandangannya kosong, meski istrinya terus mengusap pipinya dan berkata bahwa dirinya ada di sampingnya.
Mata papa Ghifar begitu merah, kemudian ia memejamkan matanya. Matanya terbuka kembali dengan ujung matanya yang basah, wajahnya langsung merah padam dan ia menggosok hidungnya.
"Ternyata begini rasanya jadi papah." Suaranya langsung kalah karena tarikan napasnya yang berulang.
Papa Ghifar sesenggukan.
"Gimana maksudnya? Lihat aku, Pa." Mama Aca menghadapkan wajah suaminya untuk melihat wajahnya.
"Minum, Pa." Kaf muncul dengan membawakan segelas air.
Rupanya ia baru datang dari dapur.
Papa Ghifar menggeleng, kemudian ia melirik ke arah ayah yang duduk di dekat kakinya.
"Kau yang punya Ghifar, Bang. Aku yang punya Kin."
Ambigu, aku tidak mengerti ucapan papa Ghifar yang dilontarkan ke ayah. Ayah diam saja, ayah menepuk-nepuk bagian atas lutut papa Ghifar dengan pelan. Helaan napasnya berat, kemudian ia menoleh ke arahku.
Ada apa ini? Kok papa Ghifar juga memandangku? Apa salahku?
"Ada apa?" Aku jelas bingung diperhatikan dengan serius dan begitu dalam begini.
"Aku dulu baru sadar, masa ada suara engsel pintu yang ditarik papah. Aku udah sholat taubat dulu, Bang. Aku sungkem, aku minta maaf, aku mohon ampun ke orang tua. Kenapa sampai turun ke anak perempuan aku? Aku tak ngerusak anak gadis orang masa itu, Bang." Papa Ghifar memandang ayah lagi dengan suara yang parau dan tidak stabil.
__ADS_1
"Abang tak tau, Far." Ayah merunduk dan memeluk adiknya yang masih lemas di atas sofa tersebut.
"Ada apa, Mas?" Biyung mendekati ayah, biyung mengusap punggung ayah.
Mama Aca menggeser posisinya, karena ada biyung yang berusaha mengusik keharuan tersebut. Aku melihat ayah menoleh ke arah biyung, kemudian ayah menegakkan kembali punggungnya melepaskan pelukannya pada adiknya.
"Kepala kau sakit? Badan kau sakit? Perlu scan? Abang temani." Ayah memandang papa Ghifar kembali, senyumnya cukup menangankan.
"Antar aku ke tempat Kin, Bang." Papa Ghifar mencoba untuk duduk.
"Hah? Mau gali dan rebahan sendiri? Yakin tak butuh bantuan saudara?" Ekspresi paniknya biyung alami sekali.
Apa maksud biyung?
"Kau pikir, Cendol?!? Masa iya Ghifar mau buat kuburannya sendiri, terus mau rebahan hadap kanan, terus nutup papannya sendiri gitu?!" Ayah mengeluarkan suara tegas dari kerongkongannya.
Loh? Loh? Loh? Kok gelap?
"Mau apa, Pa? Caraikan aku aja, jangan buat aku jadi janda mati lagi kek dulu." Mama Aca langsung melow.
"Takut, Mas. Ada apa sebenarnya? Kin manggil Ghifar? Di mana?" Bisa-bisanya biyung duduk di pangkuan ayah.
Aku, Nahda dan Kaf saling melempar pandangan. Jujur saja, aku bingung saat ini. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Aduh, Cendol!" Ayah bangun, seketika biyung langsung turun dari pangkuan ayah.
"Aduh…." Kaf memberikan segelas air putih itu pada Nahda. Lalu dirinya beranjak pergi menuruni tangga dengan cepat.
"Mana kak Hifzah?" tanya Kaf yang terdengar olehku.
Aku dan Nahda saling memandang, tapi akhirnya Nahda malah memilih untuk minum air putih tersebut. Agak absurd juga anak ini, aku sampai menahan tawa sendiri.
"Kasih Papa, Dek. Duh, ampun." Mama Aca menepuk jidatnya sendiri dan geleng-geleng kepala.
"Ehh." Nahda melipir dan menyodorkan gelas yang isinya tinggal setengah itu.
Ampun!
"Sini, Dek." Papa Ghifar menerima gelas tersebut, kemudian menarik tangan Nahda.
Ayah dan biyung bergeser, sehingga ada jalan untuk Nahda agar bisa lewat dan duduk di dekat papa Ghifar.
"Kenapa, Pa?" Nahda memandang semua orang, kemudian berakhir memandang wajah ayahnya.
Kentara sekali jika Nahda tengah bingung sekarang.
__ADS_1
"Kau suka sama Bang Chandra?" Papa Ghifar masih menggenggam tangan Nahda yang ia tarik.
Nahda melirikku. "Eummm, ya suka aja. Gimana maksudnya, Pa?"
Diarahkan ke mana pertanyaan papa Ghifar ini? Jika hanya berpendapat, aku pun pasti akan menjawab suka saja dengan Nahda. Tapi pertanyaan suka ini, mengerucut ke hubungan apa? Aku khawatirnya beliau tengah mengambil kesimpulan.
"Tuh, Bang." Papa mendongak memandang ayah yang tengah merangkul biyung.
Aih, ternyata mulut biyungku dibekap oleh tangan ayah yang menjuntai dari bahu biyung.
"Tadi yang laki-lakinya udah di atasnya, Bang. Mana tak pakai baju lagi, rok Nahda kesingkap," ungkap papa Ghifar yang membuatku paham.
"Tunggu, tunggu! Keknya ada salah paham deh, Yah." Aku maju satu langkah, berniat segera menjelaskan hal ini.
"Shttttttt…." Ayah mengisyaratkan telunjuknya agar aku diam.
Hei, di mana hakku untuk bersuara?
"Kau tak apa, Dek?" Mama Aca duduk di dekat Nahda, kemudian ia mengusap bahu Nahda.
Hei, mereka pikir Nahda adalah korban dan aku pelakunya?
"Tak apa, Ma?" Reaksi Nahda pun tetap sama, ia terlihat bingung.
Ya Allah, berikan aku kesempatan untuk menjelaskan kekeliruan ini.
"Ya udah, Abang tanggung jawab. Gimana maunya? Abang perwakilan Chandra mohon maaf yang sebesar-besarnya." Ayah maju satu langkah, dengan tetap membekap biyung.
Atas kesalahan aku yang mana, sampai ayah memohon maaf?
"Mas!!!" Biyung menghempas tangan ayah yang menutupi mulutnya dengan kesal, biyung pun menatap tajam ayah dengan kilatan amarah.
"Maaf, Canda. Kau jangan ngomong dulu, ngomongnya di rumah aja." Ayah melirik biyung sekilas, beliau tetap merangkul biyung dan mengusap-usap bahu biyung.
"Ya udah, langsungkan aja. Takutnya di dalam," celotehan macam apa lagi ini yang keluar dari mulut mama Aca.
"Apanya yang dilangsungkan?!" Aku ngegas setara motor naik ke tanjakan sitinjau.
"Hei, Chandra!" Ayah melotot tajam padaku.
Semua pasang mata memperhatikanku, aku berpikir mereka kaget mendengar suaraku yang meninggi. Tapi mereka keluargaku, harusnya mereka tidak melihat aneh padaku mendengar suara tinggiku.
"Abang kau di dalam apa di luar, Dek?" Mama Aca seperti memberikan support mental, dengan terus mengusap-usap bahu atau lengan anaknya.
"Kapan? Tadi di dalam." Nahda menunjuk kamarnya yang pintunya terbuka lebar.
__ADS_1
Iya tidak salah, tadi aku di dalam kamar. Tapi maksud mama Aca adalah…. Ya sudahlah, aku ingin menangis menggema saja rasanya.
...****************...