Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA245. Beli sayur


__ADS_3

"Pakcik, minta rokok." Aku nyelonong masuk ke dalam rumahnya, dengan membawa gelas berisi teh manis ini. 


Kepala keluarga di rumah ini sedang bermain dengan bungsunya, Gabriel terlihat rewel dan memukuli ayahnya yang rebahan di atas karpet itu. Ayahnya malah tertawa geli, melihat anaknya merengek dan memukulinya itu. 


Pakcik Gavin tidak terlihat galau seperti tante Ria. 


"Pakcik, rokok ada?" Aku mengganti channel televisi, dengan menaruh gelas tehku di atas meja. 


"Argggggggg…. ABANG!!!" Gabriel malah memukuliku saat aku duduk. 


Aku ada kesalahan kah? 


"Jangan kau ganti saluran kartunnya, Bang." Pakcik Gavin langsung mengganti channel televisi kembali. 


"Ya ampun, ya ngomong loh. Adek kenapa ngamuknya aja?" Aku mencoba menggapai anak laki-laki yang tengah berubah menjadi reog itu. 


"Ibunya hilang katanya, Bang. Ayah dah bilang ibu lagi beli sayur, tak percaya dia." Pakcik Gavin rebahan kembali. 


Ia membiarkan anaknya yang tengah menangis meraung itu. 


Konsepnya bagaimana? Tante Ria ngambek dan kabur dari rumah, malah dibilang lagi beli sayur. Ia pura-pura tidak tahu, atau hanya sengaja memberi kalimat penenang untuk anaknya saja? 


"Pakcik, tante Ria itu lagi nangis loh," ungkapku lirih. 


Pakcik Gavin langsung menoleh cepat, kemudian ia melirik anaknya yang tengah memukuli sofa yang aku duduki ini. 


"Kecopetan di warung sayur kah? Warung sayur yang mana?"


Ehh? Ehh? Ehh? Ehhhhhhh? 


Kok ekspresinya alami sekali? 


"Bukanlah! Tante Ria…." 


Pakcik Gavin memasang telapak tangannya di depan dadanya. "Bentar, Bang. Kasiin Gabriel ke pengasuh dulu, biar Pakcik bisa langsung gerak nolongin tante kau." Pakcik Gavin segera bangkit dan mengangkat anaknya yang masih mengamuk dan memberontak itu. 


Pakcik membawa anaknya masuk ke ruangan lain. Tak lama, ia muncul dengan tergesa-gesa. 

__ADS_1


"Nih rokoknya." Pakcik Gavin menaruh sebungkus rokok di atas meja, di sebelah gelas tehku. 


"Tante kau kenapa? Udah dibawa ke puskesmas belum?" Ia duduk di sampingku. 


Maksudnya bagaimana sih??? 


"Tante Ria tak sakit, tak kecelakaan, tak bersalin juga lah. Apalagi kecopetan, bukan juga itu." Terpancing sudah emosiku. 


Jika ia tidak bisa menebak, harusnya tak patut mengatakan hal yang ia kira-kira itu. Terang saja, aku emosian orangnya. 


"Terus, tante kau kenapa? Di mana dia sekarang?" Pakcik Gavin nampak khawatir juga. 


"Tante Ria tak apa, Pakcik. Dia nangis, dia kabur, dia bersedih hati, karena Pakcik ada main sama Jessie. Pakcik terima panggilan suara atau panggilan video dari dia, meski Pakcik slow aja respon dia." Mana aku ikut drama lagi. 


Ish! 


"Heh? Bukannya masalah udah selesai Subuh tadi ya? Kok malah kabur?" 


Ia malah garuk-garuk kepala, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya. Nampak sekali bagaimana bingungnya dirinya. 


"Belum redam kali emosinya, kenapa tak Pakcik buat tante Ria nangis-nangis di bawah Pakcik? Itu lebih aman, daripada nangis di biyung. Belum lagi nanti ayah datang, biyung laporannya pasti pakai drama tisu basah juga." Aku membuka segel pembungkus rokok ini. 


"Udah, ditolak Pakcik ini. Tak mau dia ngeladenin Pakcik, mentang-mentang lagi nganggur aja di rumah." Pakcik menepuk lututku. "Ngerokoknya di luar yuk? Banyak anak-anak rumah Pakcik sih." Pakcik berjalan mendahului. 


Kubawa kembali teh manis ini. Segelas teh manis ini sudah menjalani perjalanan jauh, ke sana ke mari, semoga dia tak anyeb saat aku nikmati. 


Aku membuang asap rokokku, kemudian aku duduk di teras rumah dan menaruh gelas tehku di sampingku. Biarkan pakcik duduk di kursi, aku ingin rileks selonjoran. 


"Udah lama berarti tante kau di sana ya? Tak beli sayur ya dia ini?" Pakcik menatap pagar rumahnya dengan tatapan kosong. 


"Tak tau, baru datang ke sana aku ini." Aku menyeruput teh yang sudah terlanjur anyeb ini. 


Hmmmmm….


"Pakcik betul respon dia?" tanyaku kemudian. 


"Tak juga, dikira Pakcik tak ada kesibukan kan? Iseng betul respon anak lajang." Pakcik setengah menggerutu. 

__ADS_1


Kan mana tahu ya kan? 


"Sih kok mau angkat telepon dia, video call dia?" Aku ragunya di sini. 


Pakcik Gavin kenyang video call, makanya di chat malas respon. Begitu kira-kira perkiraanku.


"Ya makanya diperhatikan durasinya, ada yang satu detik. Paling lama dua menit, nih tengok sendiri." Pakcik Gavin memberikan ponselnya padaku. 


Sudah masuk aplikasi chattingnya. Baru membuka WA saja, sudah masuk tuh notifikasi dari Jessie. Apa coba yang ia tanyakan? Katanya, abang sibuk tak hari ini. 


Ish, sudah tahu serangannya. Aku benar-benar jijik padanya. Aku bersyukur salah paham dengan Nahda, kemudian berujung disahkan dengan Nahda. 


"Betul sih, tak lama panggilannya." Aku mengecek setiap panggilan masuk dari nomor Jessie. 


"Pakcik bukan laki-laki iseng. Tau sendiri, sekalinya iseng ke adiknya biyung kau, Pakcik tanggung dosa-dosa dan biaya hidupnya. Tak bisa Pakcik iseng, iseng-iseng malah jadi beban dunia akhirat. Udah di dunia menafkahi lahir batin plus mendidik dan mengayomi, di akhirat kelak pun Pakcik diminta pertanggungjawaban atas yang tante kau perbuat nantinya," ungkapnya, masih dengan menatap lurus ke depan. 


Ada hal menarik apa di depannya? 


"Kalau memang Pakcik jatuh cinta ke perempuan lain, atau sampai berani niat untuk menikahi dia. Pakcik bakal pastikan, bahwa saat itu Pakcik udah duda kembali. Pakcik bukan orang yang profesional untuk selingkuh atau berpaling, misalkan suka sama satu orang, ya pusat dunia Pakcik ada di dia. Tak bisa kalau pagi pergi ke tempat selingkuhan sampai malam, terus malam sampai paginya sama istri dan anak-anak. Tak bisa Pakcik bagi-bagi hati, perasaan dan fokus Pakcik. Lagi ada masalah nih sama tante kau, tak bisa Pakcik pergi kerja. Karena pikirannya ada di rumah aja, ada di dia aja tuh." Pakcik hanya sekali menoleh padaku, selebihnya ia hanya fokus pada pagar rumahnya. 


Intinya, dia pusing lah yah. 


"Ayah tau, ngamuk loh nanti dia." Aku pun bingung ingin menyampaikan apa pada pakcik Gavin. 


Toh, aku sudah melihat sendiri riwayat panggilannya. Pakcik tidak benar-benar salah sebetulnya, hanya saja tante Ria butuh kalimat penenang. Ditambah lagi, pakcik tidak peka bahwa istrinya masih marah. 


"Ya Pakcik tunjukin semua bukti-bukinya. Nelpon paling lama pun, karena hah heh hah heh sinyal, Pakcik lagi di tengah ladang masa itu." Pakcik mengambil kembali ponselnya yang aku geletakan di atas lantai. 


"Ngobrolin apa sih, Pakcik?" Aku tidak bisa menjadi seperti ayah sepertinya. 


Solusi apa yang harus aku berikan coba? 


"Tak paham juga apa yang diobrolin, masa iya ngasih tau aib sendiri? Dikiranya laki-laki bakal simpatik kah, kalau dia jujur tentang dirinya? Laki-laki malah ilfeel, laki-laki malah membatasi dengan dirinya. Apalagi caranya masuk ke dunia kita itu seperti memaksa, kurang halus caranya. Pakcik paham dia coba usik rumah tangga Pakcik, tapi Pakcik tak selera sama PD yang terlalu gede bergoyang gitu. Tak muat di genggaman, takut berbuat anakis karena maksa biar pas di tangan."


Loh? Ke mana lagi ini arah pembicaraannya? 


😲

__ADS_1


...****************...


__ADS_2