
"Mungkin, Ayah bantu tengahi dan kasih saran ke ayah kau untuk kau tinggal di rumah nenek Dinda aja. Gimana? Kau berani? Tapi ada syaratnya." Ayah mengacungkan telunjuknya.
"Berani, Yah. Apa syaratnya?" Bunga terlihat senang, senyumnya mengembang indah.
"Ayah bukan anak kemarin sore, jadi Ayah paham dan tau gimana tabiat kau. Kalau kau tinggal di sana, kau harus bisa jauhi zina dan jangan ajak orang luar untuk main ke rumah yang penuh sejarah itu. Gimana?" Ayah menaikan sebelah alisnya.
"Yah, aku udah bertekad untuk diri aku sendiri untuk tak ulangin kebodohan aku kemarin. Kenapa aku sering bilang ke Bang Chandra atau siapapun kalau aku tak minat dengan mereka dengan alasan yang menyepelekan mereka, karena aku ingin membentengi diri aku sendiri. Aku perempuan yang mudah tergoda, mudah terbawa suasana dan perasa. Aku paham kenapa pandangan kalian ke aku beda, karena memang ulah aku sendiri yang buat kalian tau tabiat buruk aku. Tapi sejak diceraikan kemarin, sampai sekarang aku tak punya pacar, teman laki-laki atau semacamnya. Aku tau mungkin kalian sulit percaya lagi, tapi aku janji kali ini aku akan jaga marwah aku." Tidak ada kebohongan di sorot matanya.
"Kau pernah bilang, kau dendam ke laki-laki." Ayah tersenyum miring.
Sesama bajingan tengah berdialog. Aku jadi terkekeh, membayangkan bagaimana nakalnya ayahku dan seorang Bunga.
"Apa? Masalah tubuh aku? Pakai baju halal aja, aku terlihat haram, Yah. Karena apa? Karena p*****l aku gede, pinggang aku kecil. Aku pun tak tau, bakal dikasih bentuk tubuh pear begini. Udah dikasih dari Yang Kuasanya aku punya p*****l gede dan dada kecil, bukan mau aku sendiri, atau aku yang sengaja konsisten membentuknya di tempat gym. Ya gimana, Yah?" Bunga menghela napas panjang.
Benar, ia tidak salah dalam hal ini.
"Pakaian syar'i." Cetusan ayah terlalu memaksa menurutku.
"Maaf, Yah. Tak bisa untuk itu, agamaku belum sekuat mereka yang berniqab." Bunga menundukkan kepalanya.
Tentang niqab, guru perempuan di pesantrenku pun tidak memakai cadar atau pakaian besar dan hitam. Mereka memakai pakaian muslimah pada umumnya, tapi kerudung mereka memang menutupi dada dan juga kemeja mereka selalu menutupi part belakang mereka.
Niqab bukan identitas ilmu agama dan keimanan seseorang, itu pilihan kita dari hati dan bukan karena paksaan. Tapi menurut orang kita, bercadar seolah menunjukkan tentang kuatnya agama seseorang. Ya aku tidak tahu juga, itu hanya pendapatku saja.
"Pakaiannya sopan kok." Aku mengeluarkan pendapatku.
Rok rempel, payung atau semacamnya yang selalu Bunga kenakan. Bukan rok span, atau rok serut yang tengah viral. Kemeja longgar selalu menjadi pakaiannya, tapi karena ia berkuliah dan menunjukkan kerapian. Ia selalu memasukkan kemejanya ke dalam rok, membuat semua orang tahu jika ia merupakan wanita yang memiliki p*****l besar.
"Memang, Bang. Pakai gamis pun begini aku, tetap nampak haram." Bunga membenarkan pendapatku.
Bukan salahnya juga membuatnya memiliki badan seindah ini. Ya bagaimana? Memang dasarnya mata kami laki-laki yang salah karena jelalatan ke mana-mana.
"Sama halnya kek biyung loh, Yah." Ibuku pun memiliki bentuk badan yang menonjol karena gemuknya tidak rata.
__ADS_1
"Iya juga sih." Ayah mengusap hidungnya.
"Aku tak punya kuasa untuk itu." Bunga memijat pelipisnya sendiri.
"Ya udah, Ayah ke rumah ayah kau dulu." Ayah langsung berdiri.
"Yah, jangan cerita tentang aku ribut sama mamah." Bunga menautkan alisnya.
"Tenang aja, Ayah pandai ngomong dan mahamin sesuatu."
Hei, ayah terlalu percaya diri. Kepandaian ayah nyatanya tidak tersampaikan ke biyung, mereka sering berdebat karena biyung tidak memahami maksud cerdas ayah.
"Aku percaya sama Ayah." Senyum Bunga mengambang dan indah.
"Jagain biyung, Bang. Kasih tau biyung, Ayah lagi ke pakwa kau." Ayah ngeloyor pergi.
"Siap, Ayah." Aku memberikan hormat cepat pada ayah.
"Bang, aku mau bayar ciumnya." Bunga sudah monyong-monyong dari jauh.
Ia mengacungkan jari tengah ke arahnya dan dibalas dengan tawa lepas, kemudian aku berlalu pergi mencari keberadaan ibuku. Tawaran yang indah, aku takut oleng sendiri. Karena jika aku oleng, ia yang akan mentertawakanku begitu puas.
Ayah benar-benar bisa diandalkan ke semua hal, ia berhasil membicarakan masalah Bunga pada pakwa. Kini, Bunga sudah resmi menjadi penghuni rumah nenek Dinda.
Ia bukan cucu kandung, bukan cucu tiri, melainkan hanya cucu angkat. Bagaimana tanggapan cucu kandung dan cucu tirinya? Biasa saja, mereka tidak iri atau marah melihat barang-barang milik Bunga masuk ke dalam rumah penuh sejarah tumbuh kembang kami itu.
"Bang…." Kaf menghampiriku di rumah pupuk.
Ada seorang perempuan, yang nangkring di jok motornya yang gagah gitu. Perempuan tersebut, adalah salah satu teman perempuannya yang mendonorkan darahnya pada Izza.
"Kenapa?" Aku membukakan pintu lebih lebar.
Aku tidak tinggal di sini, tapi aku sering berada di sini. Aku baru selesai membantu Bunga pindahan barang-barangnya ke kamar atas rumah nenek Dinda, kemudian aku langsung pergi ke rumah pupuk untuk memperhatikan pekerja yang siap-siap untuk pulang ke rumah. Katanya sih itu kamar yang Bunga tempati, adalah kamar papa Ghifar dulu. Viewnya halaman depan, dengan balkon yang begitu nyaman untuk nongkrong di sore hari. Memang kamar itu style anak muda sekali, ia pandai memilih kamar.
__ADS_1
Tapi jika aku bisa tinggal di sana, aku akan memilih kamar milik nenek dan kakekku. Karena apa? Karena barang-barang di sana begitu mewah dengan gaya klasik ala kerajaan. Kamarnya paling luas dan walk in closetnya paling lebar dengan furnitur yang lengkap, rak-rak penyimpanan pakaian, sepatu, tas dan lain sebagainya pun masih ada di sana. Namun, isinya memang sudah dibagi-bagikan ke anak cucu dan menantu.
Keluarga kami tidak pernah menyimpan barang orang yang sudah tiada, untuk tetap berada di dalam lemari. Karena hal itu bisa saja memberatkan hitungan harta mereka di akhirat nanti. Hitung-hitung, sebagai amalan untuk almarhum dan almarhumah.
Tetapi, tidak tujuh hari langsung diambil juga seperti cara keluarga Izza. Setelah beberapa bulan kemudian, karena melihat rumah butuh perbaikan dan kami semua mulai berpikir untuk mengeluarkan barang-barang yang dipakai nenek dan kakek kami agar tidak menjadi beban mereka.
"KTPnya udah jadi, tadi aku ambil di desa sekalian aku ambil punya aku. Abang sih cuma ganti status aja, jadi tak perlu aktivasi kembali. Aku sih baru punya, jadi sekalian aktivasi tadi." Kaf memeberikan KTP milikku.
Hm, cerai mati. Dua puluh dua tahun menjadi duda, duda ditinggal mati pula.
"Sini, Yang." Kaf mengajak perempuan tersebut untuk masuk ke dalam rumah pupuk ini.
"Masuk, masuk. Maaf, sedikit bau." Aku mempersilahkan perempuan tersebut untuk masuk.
Ia tersenyum ramah, kemudian duduk di samping Kaf. Pikiranku banyak buruknya, aku malah berpikiran mereka mencari tempat untuk berpacaran.
"Kau baru tujuh belas tahun, Kaf?" tanyaku kemudian.
"Sembilan belas, Bang. Aku telat perekamannya dan ternyata pun jadinya lama, pikirku tak penting aja. Eh, tapi diperlukan di setiap acara di kampus." Kaf seperti ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya kaku.
Aku bisa membaca itu di wajahnya.
"Oh, iya. Beda berapa bulan aja sama Hadi ya?" Aku duduk di kursi yang masih kosong.
Pupuk disimpan di dua kamar dan di ruang keluarga. Sebagian lagi, ada yang di dapur karena dapurnya cukup luas. Ruang tamu dan satu kamar depan untuk istirahatku memang sengaja tidak ditempatkan pupuk.
"Iya, Bang." Kaf seolah berbicara dengan sorot matanya dengan perempuan tersebut.
Ada apa ya?
Apa betul butuh tempat berpacaran? Kamar begitu? Atau privat room untuk mesum?
...****************...
__ADS_1