Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA62. Diserahkan pada om Vendra


__ADS_3

"Cara apa, Yah?" Chandra menantikan kejelasan ayahnya. 


"Om Vendra. Dia anggota kepolisian, kerjanya pun sering melakukan penyelidikan. Kita tau hasil, biarin dia ngumpulin barang bukti sendiri gitu. Ayah udah stress banget, Bang." 


Chandra langsung ingin berguna untuk ayahnya. Ia tidak suka, jika ayahnya mengeluh akan keadaannya. Ia tidak mau ayahnya terlalu banyak beban pikiran hingga stress. 


"Oke, Yah. Nanti aku bantu ikut obrolan, biar paham. Sekarang, kita ke rumah Ayah atau ke rumah nenek?" Rumah neneknya sudah terlihat dari pandangan mata Chandra. 


"Ke nenek aja, kita tengok Vano ikut ramai-ramai tak. Atau, dia bawa Jasmine pulang." Givan ingin memastikan sendiri. 


"Oke siap, Yah." Chandra langsung berbelok ke gerbang rumah neneknya yang terbuka lebar. 


Keramaian makin berkuasa, bahkan anak-anak kecil ikut meramaikan acara sederhana itu. Rumah nenek dan kakeknya benar-benar hidup, membuat Chandra berpikir untuk menempati rumah nenek dan kakeknya saja. Pikiran itu datang begitu saja, karena ia ingin rumah itu tetap terjaga seperti ini. 


"Belok ke sini aja." Givan menepuk pundak anaknya. 


"Oke." Chandra membelokkan stang motornya ke arah halaman rumah.


Izza tersenyum lega, ternyata suaminya tidak lama untuk pergi. Ia memiliki harapan, agar bersama-sama menghabiskan malam mereka. 


"Loh? Jasmine mana, Za?" Givan turun dari motor, kemudian mendekati menantunya. 

__ADS_1


"Pulang, Yah. Tadi suaminya ke sini, katanya dia lagi tak enak badan," jawab Izza kemudian. 


Chandra tersenyum lebar pada istrinya, setelah melepaskan helmnya. Kemudian ia melangkah ke arah istrinya. Sayangnya, Chandra harus meluruskan langkah kakinya kala ayahnya memanggilnya dan meminta ia untuk mengikutinya. 


"Bentar ya?" Chandra masih sempat tersenyum pada istrinya, sebelum mengekori ayahnya masuk dalam rumah. 


Canda memahami tatapan Izza yang terarah terus ke arah anaknya. Canda menyenggol lengan menantunya dan terkekeh kecil, saat menantunya menoleh ke arahnya. 


"Ada, tenang aja. Dulu Biyung tak curiga untuk pengen tau kesibukan ayah terus, pengen nempel ke ayah terus, kalau ayah berada di jangkauan keluarganya. Karena dengan dia sibuk dengan keluarganya, itu berarti memang ada kepentingan di sana. Kalau memang perlu ayah bagi ceritanya, ya dengarkan. Jangan mikirin malam pertama terus, nikmati aja waktu spontan untuk melakukan. Biyung malah tiga bulan pertama tanpa malam pertama, setelah rujuk malah seminggu tanpa malam pertama. Bukan karena Biyung haid, tapi ayah sibuk." Izza merasa malu, karena ibu mertuanya seolah menebak apa yang ia pikirkan. Bahkan, ibu mertuanya bercerita tentang apa yang ada di pikirannya. 


"Aku tak mikirin malam pertama, Biyung." Izza menyangkalnya dengan tersenyum malu. 


"Biyung tau kali, Dek." Canda menepuk lengan menantunya dan tertawa geli. 


Ibu mertuanya, bermulut kasar menurutnya. Karena ia adalah istri anaknya, ia jelas ingin mengetahui kesibukan suaminya. Namun, ia tidak berani protes dengan pandangan ibu mertuanya. Ia khawatir, malah ada percikan amarah dari ibu mertuanya jika ia mengeluarkan pendapatnya. 


Ia menginginkan, Chandra selalu bercerita padanya dan menariknya untuk dijadikan sebagai tempatnya berkeluh kesah. Ia ingin dirinya diseret, untuk setiap permasalahan yang menyandung Chandra. 


Hingga satu jam kemudian, ia dikecewakan lagi oleh suaminya yang malah melewatinya begitu saja. Chandra sedang sibuk dengan ayahnya, ia mencoba membantu ayahnya karena tahu bagaimana kondisi hati dan pikiran ayahnya. Ia merasa dirinya adalah anak yang bisa diandalkan, ia mencoba menyenangkan hati ayahnya dengan ia membantu meringankan kesibukan ayahnya. 


Givan kini berharap, bahwa menantunya sehat dan tidak membawa penyakit untuk putrinya dan cucunya. Ia tahu anaknya akan begitu kecewa, jika akhirnya mengetahui segalanya. Namun, ia sudah berencana untuk menjadi sebagai tempat pelipur lara dan tempat hiburan untuk anaknya. Ia akan mendekatkan diri lebih ekstra pada anaknya, agar anaknya tidak mencari hiburan dan ketenangan di luar. 

__ADS_1


"Gimana, Yah?" Chandra membawakan kopi tanpa gula, yang diminta ayahnya setelah ia sibuk mencari beberapa hal yang ayahnya butuhkan. 


"Udah, Bang. Nanti om Vendra terbang di sini. Ayah udah uruskan tiketnya juga, paling nanti kau kasih tempat jelasnya untuk Vendra. Karena setelah ini, Vano bakal lebih hati-hati dan memanipulasi keadaan dengan dirinya lebih banyak waktu dengan Jasmine. Kalau Ayah yang urus, Vano bakal tau." Givan mengangkat gelas berisikan kopi yang anaknya buatkan. 


"Aku pasti bantu om Vendra, Yah. Tadi beneran tak sih, yang om Vendra bakal nyamar sekalipun jadi orang gila palsu?" Chandra sedikit ragu dengan kinerja pamannya. 


"Kita satu turunan, memang banyak sisi negatifnya semua, Bang. Tapi soal pekerjaan, kita bakal benar-benar fokus. Apalagi, pekerjaan paman kau memang begitu. Dia pasti tak sungkan untuk melakukannya, ditambah dengan alat-alat canggih yang dia miliki. Hobi paman kau itu, ngoleksi alat-alat canggih yang dipunyai timnya untuk pekerjaannya. Teamnya punya, dia pun punya untuk kesenangan hatinya sendiri." Givan tahu tabiat adiknya yang suka meminjam uang dengan jumlah yang luar biasa, untuk membeli barang-barang yang menurutnya tidak penting. 


"Tapi om Vendra lagi bebas tugas kan?" Chandra menikmati ubi bakar yang terhidang di atas meja ruang tamu tersebut. 


"Bebas tugas, udah gol kasus kemarin katanya. Nanti dia ke sini pun sama istrinya, soalnya waktu liburnya kan biasanya untuk istrinya, tapi malah untuk tugas dari Abang. Jadi, istrinya dibawa." Givan pun menikmati makanan yang disajikan oleh istrinya itu. 


Chandra manggut-manggut. "Sekalian liburan lah ya?" Ia melirik ke ayahnya. 


"Betul, sekalian liburan. Cantik betul bibi kau itu, meski dari suku asli yang jauh dari teknologi dulunya. Anak-anaknya pun cantik-cantik sekali, anak laki-lakinya bahkan ada yang punya banyak tato kek kakeknya. Kakeknya kepala suku, atau apa gitu. Tak ngerti Ayah juga, tapi pernah berkunjung masa aktif pegang batubara di sana tuh, ya memang ayah mertuanya paman kau dihormati betul." Tidak ada yang berani nimbrung perdebatan serius ayah dan anak tersebut. 


Saudara-saudara Givan sudah mengerti. Bahwa dirinya akan dipanggil, jika dirinya dibutuhkan oleh Givan. 


"Iya, dulu pernah main ke sana tuh aku kagum betul sama cantiknya Nina. Wajah imut teduh kek biyung, tapi biyung kan tak imut." Bertepatan dengan perkataan Chandra, Izza lewat untuk masuk ke ruang keluarga karena diminta beristirahat oleh ibu mertuanya. 


Givan tertawa lepas. "Biyung pernah imut juga, dulu sekali waktu masih gadis. Pakai celak terus, wajah kena wudhu terus. Sampai mainnya sama nenek, lipstik tiap waktu sholat ganti warna kek nenek.".

__ADS_1


Suasana hati Izza kacau kembali, mendengar suaminya menyanjung perempuan lain di depan ayah mertuanya. Ia jadi berpikir, apa ada kedekatan khusus antara Chandra dan Nina tersebut. 


...****************...


__ADS_2