Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA125. Bertamu ke pakwa


__ADS_3

"Eh, Bang Chandra. Masuk, Bang." Bunga yang membukakan pintu, saat malam setelah bekerja aku bertamu ke rumah pakwa. 


Di rumah, ia seksi sekali. Hanya daster, tapi full karet di bagian dadanya sampai perut. Mana daster itu tanpa lengan, hanya kain berlapis karet dua ruas jari yang melingkar di bahunya. Mempertontonkan sekali tentang dadanya yang kecil dan kencang, ditambah lekuk pinggangnya yang kecil dan ping*** yang besar. 


Indahnya perempuan ini. 


"Ayah kau mana, Dek?" Aku langsung duduk di ruang tamu ini, tanpa dipersilahkan oleh Bunga. 


"Ayah di kamar atas, Bang. Mau dipanggilkan, atau Abang ke atas aja?" Bunga menunjuk lantai dua rumahnya dengan ibu jarinya. 


Ketiaknya secerah warna kulitnya. Aduh, oleng aku ini. 


"Ada mak kau tak di kamar?" Aku memandang ke kamar pakwa. 


"Tak akan berani masuk kamar, itu kamar ayah."


Eh, aku jadi bingung. 


"Mereka tak sekamar?" Ini yang ada di pikiranku. Suami istri kan normalnya satu kamar bersama. 


"Sekamar lah, itu di kamar depan. Cuma kan, ayah kadang butuh ketenangan, butuh kesendirian. Stress kan mikirin ini itu, belum lagi Hana kan tak paham dinasehati, taunya main aja, dia tak paham kadang ganggu ayahnya yang lagi kerja. Bisa disebut, itu kamar kerja dan kamar ngerokok lah, soalnya pasti dimarahin mamah kalau ngerokok di sekitar sini." Bunga memelankan suaranya. 


Aku manggut-manggut. Nah, itu anak spesialnya ke luar. Bukan takut, tapi aku bingung juga untuk menanggapinya, kadangnya ia malah marah jika aku kurang mengerti. 


Ia langsung berlari ke arahku dengan girang. Herannya lagi, ia langsung memukuliku. Mungkin maksudnya bercanda, tapi entah juga. 


Bunga kalap, dengan suara nyarinya. Membuat ibu sambungnya keluar dari kamar, juga pengasuhnya keluar tergopoh-gopoh dengan membawa dot susu yang belum rapat tertutup. 


"Abang baru main lagi, Adek Hana lupa kah?" Aku mencoba berinteraksi dengannya. 


Hana tertawa, ia memelukku. Ya memang seperti inilah, kadang memang membuat kaget. 


"Bunga! Bisa tak sih tak buat kaget, Bang Chandra juga pasti paham gimana Hana." Ibu sambung Bunga langsung membentak. 


Bunga dan Hana ini satu ibu. Hua yang anak ibu sambung Bunga dengan ayahnya. 

__ADS_1


"Adek langsung mukulin Abang, Mah." Bunga seperti marah. 


Apa selalu begini interaksi mereka di rumah? 


"Yaaa, kan? Bang Chandra paham Hana gimana. Kau ini selalu besar-besarkan sesuatu di rumah, kek tak tau Adeknya gimana. Sering betul ributkan Adeknya, kek Adek kau itu monster aja. Kau baru didekati, udah kek dikejar zombie. Nangis Adek kau, susah ditenangkannya." Ibu sambung Bunga berbicara dengan nada tinggi.


Terlihat sayang ibu sambung Bunga terhadap Hana, ia sempai merengkuh Hana ketika sampai di hadapanku. Malah Bunga yang pergi dengan wajah menahan tangis. 


"Udah dewasa, gitu terus! Tak bisa ngemong adiknya! Ngurung diri di kamar terus, sekali keluar ngamuk kalau diganggu. Kau bukan anak tunggal, Bunga! Kau sulung, bukan tunggal! Begini-begini Hana, kita tak ada tuh, dia bakal jadi tanggung jawab kau." Ibu sambung Bunga mengomel dengan mengajak Hana pergi. 


Jadi, aku harus dipersilahkan oleh siapa? Aku tamu padahal, aku bertamu baik-baik. 


"Bang Chandra…. Nyari pak Ken kah?" Pengasuh Hana datang setelah mengikuti ibu sambung Bunga dengan membawa dot susu. 


Dia datang padaku, sudah tidak membawa dot susu lagi. Hana sudah besar, beda beberapa bulan saja dengan Kirei. Mereka lahir di tahun yang sama, beda sekitar enam bulan. Karena Hana lahir prematur, ia pun baru keluar dari rumah sakit sekitar usia sepuluh bulan sejak dilahirkan. 


"Iya, nunggu di sini kah ke atas aja ya?" Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. 


"Kata ibu, suruh ke atas aja. Soalnya tadi pakwa pamitnya mau rapat online, jadi mungkin tak mau turun."


"Oh, ya." Aku mengangguk. "Kamar itu ya?" Aku menunjuk kamar yang terdekat dari tangga atas. 


"Iya, Bang. Ketuk aja pintunya, tralis tangga ditutup lagi ya? Barangkali Hana lepas dari kontrol kami, takutnya mainan di tangga." Pengasuh Hana tersenyum ramah. 


"Oke." Aku membalas senyum dan beranjak untuk ke ruangan pakwa. 


Pakwa adalah cucu tiri, tapi mendapat warisan rumah ini. Yang cucu kandung, mendapat usaha besarnya, salah satunya tambak. Penguasa tambak di daerah atas, ya dimiliki oleh tante Ahya. Tante Ahya, adalah adik dari pakwa. Mereka satu ibu, tapi beda ayah. Seperti ayah Givan dan saudaranya yang lain. 


"Pakwa." Aku mulai mengetuk pelan pintu ruang kamarnya. 


"Masuk!" Perintah itu langsung aku turuti. 


Pakwa tidak menoleh sedikitpun, ia masih fokus pada laptopnya dengan earphone tanpa kabel yang terhubung. Ia tengah bercakap-cakap dengan bahasa baku begitu serius. 


Aku memilih melihat-lihat kamar ini, beberapa foto berukuran besar terpampang di dinding. Ini foto keluarganya sendiri, tapi ada salah satu foto tante Ria dan Kirei di sudut ruangan. Pasti ada kenangan tersendiri di foto tersebut, sampai pakwa berani memajangnya. 

__ADS_1


Ada kamar tidur, dengan sprei dan bedcover yang tak beraturan. Ada lemari pakaian yang salah satu pintunya terbuka dan sengklek. Apa ya? Sengklek memang, engselnya sudah rusak satu. Lemari pakaian itu pun terdapat baju pakwa, baju yang digantung dengan rapi. 


Yang mengejutkanku, ada pecahan kaca yang dikumpulkan di sudut ruangan. Seperti habis disapu dan dijadikan satu saja, belum dibuang. 


Cukup berantakan, sampai rapat online pun menghadap tembok agar tidak terlihat background berantakan tersebut. Pakwa sempat melirikku, mungkin ia memperhatikan aktivitasku yang berkeliling di sini. 


Aku fokus membaca sertifikatnya yang dibingkai rapi, banyak sekali sertifikat miliknya ini. Ia pasti begitu semangat mengejar cita-citanya, hingga mendapat posisi sekarang ini. 


"Pakwa pernah dipukul sama ayah kau pas lagi telan****." Pakwa terkekeh. 


Eh, sejak kapan ia sudah selesai? 


Aku menoleh dan mendapatinya yang tengah melepas earphone, lalu ia membereskan laptopnya dan juga beberapa berkas. 


"Kenapa?" Aku berjalan mendekatinya. 


Tidak ada kesan mewah pada ruang kerjanya ini. Karena mejanya pun, meja portabel yang memiliki kaki roda putar. Kursinya, bahkan keranjang baju kotor yang dibalik. Yang penting backgroundnya clear saja kali ya? 


"Ketahuan berbuat mesum." Ia geleng-geleng kepala dan tertawa malu. 


"Awal itulah sering betul cekcok besar sama ayah kau." Pakwa menyimpan barang-barangnya ke laci nakas. 


"Aku ketahuan mesum sama Izza, tak pernah dimusuhin." Aku duduk di tepian ranjangnya. 


"Mesumnya gimana dulu? Pakwa kan lagi hubungan ranjang." Pakwa meminum air putih kemasan botol yang tergeletak di lantai. 


"Di mobil, lagi cium ***** aja." Fatal sekali, pantas saja ayah mengamuk. Ya sepertinya, mesumnya dengan orang terdekat ayah. Tidak mungkin begitu marahnya, jika pakwa mesum dengan perempuan bayaran. 


"Ya pantaslah. Gimana nih, gimana?" Pakwa membuka pintu balkon kamarnya. 


Pintunya kaca transparan, sekeliling jendela yang menghadap balkon pun menggunakan kaca transparan. Keren sih, sayang saja berantakan. 


Rumahku pun dibangun ayah dengan lantai dua juga. Aku sudah meminta seperti ini, tapi entah gimana hasil akhirnya. Semoga Izza sehat setelah tindakan dilakukan, agar bisa merasakan menempati rumah baru lantai dua impian kami meski yang mewujudkan adalah orang tua. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2