Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA222. Menagih janji


__ADS_3

"Udahlah, tak mau tau-tau aku. Suara aku tak didengar, pendapat aku tak dipakai." Aku menutup pintu kamarku dengan setengah membanting. 


Aku sudah pulang ke rumah, dengan kepasrahan yang hakiki. Orang tuaku berubah kolot, gara-gara kejadian papa Ghifar pingsan itu. 


Harusnya papa Ghifar melihat dengan jeli dulu, pastikan dulu apa benar burungku masuk ke sangkar anaknya sebelum dirinya menginginkan untuk pingsan. Ya memang pingsan tidak bisa dikehendaki juga sih. 


Tapi setidaknya begitu, matanya harus melihat dulu dengan jelas. Sebelum mengambil keputusan sepihak, apalagi ayah sampai langsung percaya dan mengiyakan gara-gara kondisi lemah papa Ghifar. 


Enak sekali jadi orang lemah kalau begitu. 


"Kau tak dengar jawaban Nahda tadi?!" Ayah menggedor pintu kamarku. 


"TERSERAH!" Aku merebahkan tubuhku setelah melepaskan kaosku. 


Kecewa luar biasa aku saat ini. 


"Bujang nakal tak, duda kau malah bertingkah!" Suara ayah semakin menjauh, sepertinya ayah sudah tidak berada di depan pintu kamarku. 


Drtttttttttttttttt….


Siapa lagi ini?? 


"Hallo." Aku langsung menerima panggilan telepon tanpa melihat lebih dulu. 


"Hallo, Bang."


Hema sialan ternyata. 


"Urus urusan kau sendiri, Hem! Aku lagi punya masalah sendiri." Aku langsung memilih mematikan panggilan telepon ini. 


Ketenanganku berbatas, karena Hema malah datang ke rumah. Aku sudah pusing sendiri, tapi tetap dituntut untuk menjadi kakak yang bisa membantu calon adik iparnya. 


"Apa sih kau?!" Aku melemparkan bekas segel rokok padanya. 


"Bang, ayolah ke rumah. Aku diusir bang Wildan, aku kena gampar sampai berdarah juga ini." Hema menunjukkan bibirnya. 


"Kau ajak Bunga ke sana, bukan ajak aku!" Aku menarik satu batang rokok dan mencoba menghilangkan rasa kesal ini dengan rokok. 


"Aku habis ke Bunga, dia takut, dia tak mau." Hema menggosok hidungnya.


Seperti itu ya pecandu? Karena Hema sering sekali menggosok hidung. 


"Kau bilang apa ke abang kau, sampai begitu beraninya tampar adik iparnya sendiri?" Aku penasaran, karena benar bibirnya sampai berdarah. 

__ADS_1


"Aku nodai gadis sini. Terus langsung murka dia, langsung tampar aku dan usir aku." Hema menghempaskan punggungnya dan membuang napasnya kasar. 


"Kau tak disuruh tanggung jawab, atau gimana?" Kenapa beda sekali langkah yang diambil oleh bang Wildan dan ayah? 


"Suruh urus sendiri, Bang. Aku jadi gimana ini?"


Keluarganya terkesan seperti lepas tangan. 


"Ya udah ayo ke pakwa dulu aja, Hem." Mau tidak mau, aku harus membantunya. 


Kasihan bujang terbuang ini. 


"Bantuin ngomong, Bang." Hema sudah mendahului keluar rumah. 


Ia semangat sekali. 


"Ayo, Bang." Ia menoleh saat telah sampai di ambang pintu. 


"Iya, ambil HP dulu." Aku kembali ke kamar dan langsung pergi tanpa izin. 


Aku sudah malas untuk izin jika begini, rasanya aku kecewa pada orang tua sendiri. 


"Mobil aku aja, Bang. Ada di depan." Hema menunggu di teras rupanya. 


Kebetulan pakwa ada di halaman rumah, ia tengah memangkas rumput hias dengan menggunakan mesin. Pakwa terlihat ramah, ia tersenyum menyambut kedatangan kami. 


"Pakwa, ke rumah bang Wildan aja. Hema diusir, begitu Hema jujur." Aku langsung to the point. 


Permasalahan ini harus selesai, agar aku pun bisa menyelesaikan permasalahanku sendiri. 


"Kok gitu? Kok Pakwa jadi punya prasangka buruk sama Wildan?" Pakwa mencabut sambungan mesin pemotong rumputnya itu. 


"Aku minta maaf, Pak. Aku udah usahain, sampai akhirnya mutusin untuk jujur, karena susah betul minta secara baik-baik." Hema tertunduk dengan menyatukan telapak tangannya. 


"Iya, iya. Ayah cuci tangan dulu." Pakwa menepuk bahu Hema, ia melipir ke arah keran air. 


"Ayah mertua, cieee…." Aku meledek Hema. 


"Aku panggil ayah aja kah, Bang?" Hema nampak tersipu. 


"Iya, gitu tak apa." Aku mengangguk. 


"Ayo." Pakwa berjalan ke arah kami. 

__ADS_1


"Mobil Hema aja, Pakwa." Aku mempersilahkan beliau lebih dulu. 


Pakwa mengangguk, ia duduk di samping Hema yang tengah menyetir. Sedangkan, aku duduk di bangku belakang seorang diri. 


Aku khawatir Hema benar-benar dibuang oleh keluarga bang Wildan. Jika berakhir seperti itu, bagaimana masa depan Bunga? 


"Abang kau tuh, Hem." Aku melihat bang Wildan tengah berada di halaman rumah, dengan seorang anak laki-laki. 


Mereka tengah bermain bola. 


"Maaf ya, Yah?" Raut wajah Hema seperti seorang yang menolak untuk dihutangi. 


"Wildan harus tau, dia berurusan sama siapa. Dia diamanatkan seorang adik, bukannya dituntun malah angkat tangan begitu." Pakwa geleng-geleng kepala, sebelum ia akhirnya turun dari mobil.


Aku pun ikut menyusul keluar. 


"Assalamu'alaikum." Pakwa mengangkat tangannya menyapa bang Wildan. 


Oke, kami datang baik-baik dan sopan. 


"Wa'alaikum salam." Bang Wildan seperti kaget atas kedatangan kami. 


"Anak kau suruh masuk dulu, istri kau suruh keluar juga. Saya mau ngomong, penting!" Pakwa menerobos pagar yang setengah terbuka. 


"Ada apa?" Bang Wildan masih diam di tempatnya. 


"Kakak mana, Bang?" tanya Hema kemudian. 


"Fajriah lagi jemur baju." Bang Wildan menunduk dan berbisik pada anaknya. 


Anak laki-laki yang biasa diajak ke tempat futsal itu berlari ke dalam rumah. Kemudian, bang Wildan mempersilahkan kami untuk masuk. 


"Mulut Saya gatal, terang aja." Pakwa menggosok pahanya dengan telapak tangannya. 


"Ada apa ya, Pak? Hema buat keributan?" Bang Wildan tersenyum kaku. 


"Bukan buat keributan, tapi katanya kau usir dia?" Pakwa menepuk punggung Hema. 


"Ya ngusir juga biar mikir. Keadaan dia, tak umum kek kita orang normal! Saya jujur aja, dia ini lagi dalam berobat rutin." Mungkin bang Wildan kira kami belum tahu tentang fakta itu. 


"Saya tau, Saya tau itu. Tapi dia udah berbuat tak senonoh dengan anak perempuan Saya. Ya gimana? Hema dengan tegas ingin bertanggung jawab, meski sejujurnya Saya ngambang. Tapi kondisinya, anak Saya pun udah dekat sama dia. Satu fakultas, satu kelas juga, rasanya tak mungkin kejadian itu tak terulang kembali. Saya takutnya di efek berulang ini, kali ini dia tak sial, karena bukan warga yang mergokin, tapi Chandra. Kalau warga yang tau, mereka pasti habis kena sanksi hukum." Mendengar penjelasan pakwa, jakun bang Wildan langsung naik turun. 


"Saya tak suka loh dipermainkan begini, kesannya disepelekan. Hema minta baik-baik, kau tak dengar. Dia jujur, kau angkat tangan. Kalau memang kau tak sanggup bawa dan urus adik kau, Saya minta bagian Hema diurus secara hukum. Saya udah berkecukupan, tak gila harta. Tapi dia punya hak untuk melanjutkan apa yang orang tuanya tinggalkan, bagaimana jalan kedepannya, biar dia sama Saya dan keluarga Saya yang bimbing. Pengobatannya sampai mana, biar Saya bantu lanjutkan di pengobatan yang terbaik? Saya tak minta anak laki-laki itu, tapi Saya berniat membimbing suami dari anak Saya. Dia punya janji ke Saya dan Saya menagih hal itu." Pakwa berkata tegas dan lantang. 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2