Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA156. Influencer marketing


__ADS_3

"Kenapa harus di tempat makan yang sepi?" Aku melangkah ragu untuk sampai di restoran paling pojok di swalayan besar ini. 


"Ya tak apa, aku yakin makanannya tak kalah enak kok." Ia tersenyum saat aku meliriknya. 


Benar, makanannya memang tidak buruk juga. Cuma memang, pemasarannya kurang bagus. Ditambah lagi, beberapa menunya cukup nyeleneh menurutku. Seperti mie udang asam manis, aku seumur-umur baru merasakan makan mie seamis ini. Benar-benar ada rasa udangnya, meski tidak ada udangnya. 


Aneh saja menurutku. 


"Bang, save nomor aku." Mala menyodorkan ponselnya padaku. 


Aku menurut saja, aku sibuk menyalin nomor ponselnya. Kala aku memandangnya kembali dan memberikan ponselnya, aku kaget karena asap mengepul keluar dari mulutnya. 


Ia merokok? Di tempat umum? Pantas saja meminta tempat makan yang sepi, bahkan yang duduk di balkon tempat makan ini hanya kami berdua. Ada tiga meja di balkon ini, dengan empat kursi di masing-masing meja. Balkon entah apa ya? Memang konsepnya berasa di luar ruangan terbuka lantai dua. 


"Maaf ya, jangan ilfeel." Ia tersenyum padaku. 


"Tak kok." Aku pun mengambil rokokku dari kantong jaketku.


"Ini aja lah, Bang." Ia menyodorkan bungkus rokoknya. 


"Aku tak pakai itu." Aku mengangkat bungkus rokokku. 


"Enak juga loh sama, Bang. Ada rasanya gitu." Ia menggunakan rokok esse change double. 


"Iya kah?" Aku tak pernah ganti-ganti rokok, aku selalu memakai sampoerna mild saja. 


"Iya, harganya pun sama kok. Cobain aja." Ia tersenyum manis. 


Aku jadi penasaran. 


"Dipencet, Bang. Ada kuning juga biru tuh, ada dua rasa." Ia menunjukkan area filternya. 


Kampungan kah rupanya aku ini. 


"Oke." Aku menurutinya saja. 

__ADS_1


Geli sendiri aku, karena benar ada rasanya. Unik sekali, bahkan aku baru tahu. 


"Enak mana kata Abang?" Ia memperhatikan batang rokoknya. 


"Entah sih, sama mungkin. Cuma ini kecil betul ya?" Cepat habis yang jelasnya. 


"Ya begitulah. Lumayan, cuci mulut untuk diet." Ia terkekeh kecil. 


"Gampang gendut kah?" Aku tahu ada beberapa perempuan yang makan sedikit, tapi berpengaruh besar ke badannya. 


"Gampang gendut, gampang kurus. Abang masih kuliah kah?"


Asyik sekali menontonnya merokok. Berdamage saja, jika melihat perempuan merokok. Entah Bunga, entah Mala, mereka memiliki pesona sendiri ketika merokok. 


"Tak, wisuda tahun lalu. Kau sendiri?" Aku tidak bermaksud mengungkapkan ketertarikanku dan keinginan tahuanku tentangnya. Tapi memang hanya ingin dianggap bahwa aku manusia sosial, yang enak diajak mengobrol. 


"Baru tahun ini wisuda, terus disuruh ayah ikut ibu." Ia tersenyum getir. 


Broken home dan ia ikut ayahnya? 


"Ayah ambil paksa aku dari ibu sih." Mala tersenyum getir. 


"Terus kenapa sekarang malah dipulangkan?" Semoga pertanyaanku tidak menyinggungnya. 


Ia tersenyum lebar. "Sejujurnya aku pengen cerita, tapi takut Abang jadi takut berteman. Beneran, aku cuma mau berteman. Butuh teman main, teman curhat dan teman nongkrong. Aku ngerasa cara pandang Abang beda, masa aku tau Abang ajak adiknya nongkrong sampai tengah malam." 


Masalahnya, adikku seorang Bunga. Jika modelan alim dan stay halal, mungkin aku tak akan berani mengajaknya ke tempat futsal begitu sering. Karena memang hampir setiap malam Minggu ia ikut hadir, padahal dirinya hanya main ponsel dan jajan saja. 


"Kalau kau masih takut untuk cerita, aku tak maksa kau untuk banyak cerita tentang diri kau. Ngalir aja, kita berteman sewajarnya." Aku membalas senyum lebarnya. 


Aku tidak bisa memaksakan seseorang agar percaya padaku untuk mengetahui segala sesuatu tentangnya. 


"Oke kalau gitu. Aku minta maaf juga ya?" Ia menyalakan sebatang rokok lagi, karena rokoknya sudah lenyap. 


"Maaf untuk apalagi?" tanyaku kemudian. 

__ADS_1


Ilfeelnya aku malah karena ia sering meminta maaf, sudah seperti mbok Ipeh saja. 


"Nanti juga Abang tau. Aktivitas Abang apa aja? Abang ada anak?" Senyumnya manis sekali. 


Aku cepat tersihir, jika caranya begitu. 


"Aku berkebun aja sih, sibuk di ladang tiap hari. Aku belum ada anak. Kau sendiri sibuk apa? Punya kegiatan atau pekerjaan apa?" Aku tersenyum getir, lidahku kaku untuk bercerita kenapa aku menduda. 


Lebih menyakitkan ketimbang mantan istri menikah lagi sepertinya. Karena bagaimana pun rindunya aku pada Izza, aku tetap saja teringat senyum berdarahnya. Kemungkinan, ia menggigit bibirnya karena tak kuasa menahan sakit. Tapi hal itu, membuat kesan lain padaku. Terbuka sebelum itu, ia banyak tersenyum padaku. 


"Aku influencer marketing, udah aktif sejak usia tujuh belas tahun di sosmed. Aku ngeDJ juga, tapi setahun lalu udah berhenti, karena fokus selesaikan pendidikan."


Waduh, DJ identik dengan dunia malam. Dunia malam tak melulu orang nakal, karena orang mencari hiburan pun ada di sana. Tapi orang yang memiliki pergaulan bebas, biasanya ada di club malam. 


"Influencer?" Aku memicingkan mataku. 


"Ya, semacam endorse. Followers sosmedku lumayan, mungkin karena aku DJ." Ia berkata dengan perlahan. 


"influencer itu, seseorang atau figur dalam media sosial yang memiliki jumlah pengikut yang banyak atau signifikan. Hal yang mereka sampaikan dapat memengaruhi perilaku dari pengikutnya, dari review produk atau brand yang kita kenakan untuk berfoto. Sederhananya, influencer memiliki pengaruh bagi pengikutnya untuk melakukan sesuatu. Itu sebabnya, dalam memperkuat pemasaran dan promosi menggunakan media digital, menggunakan jasa seorang influencer adalah salah satu strateginya. Gitu, Bang. Apalagi, kalau kosmetik dan pakaian. Kalau makanan, menurutku kurang. Kecuali tempat makan, itu ngaruh juga sih." Ia menghembuskan asap rokoknya. 


"Iya, iya. Endorse ya? Ngerti kok aku. Aku kurang aktif di sosmed, terkahir upload itu acara akad nikah aja." Aku menegakkan punggungku dan menyeruput sedikit minumanku yang tersisa. 


"Ada kok orang sukses begitu. Tapi aku kasih tau ya, Bang? Personal branding itu penting, apalagi Abang orang yang berpengaruh. Aku bantu up deh, biar naik followersnya. Biar usaha Abang dikenal, pemasaran gampang dan yang pasti bakal ada perempuan kecantol juga." Ia terkekeh geli. 


"Aku belum ada niat nikah lagi sih, aku belum punya aset yang jelas." Aku mengedikkan bahuku dan terkekeh kecil. 


"Paham, paham. Trauma itu pasti ada sih, apalagi aku dari keluarga broken begini." Senyum getirnya itu membuatku sedih. 


"Betul, tapi bukan karena pengalaman juga sih. Lebih ke…. Waktunya belum tepat lagi aja. Aku masih dua tiga, masih muda juga gitu kan?" Aku tertawa renyah. 


"Yap, puas-puasin masa muda. Karena kalau kita udah berkomitmen itu, ya bukan waktunya lagi untuk nongkrong bareng temen atau liburan bareng team. Coba Abang telpon nomor aku, biar nomor Abang masuk." Ia mengangkat ponselnya dan menunjukkan layarnya. 


"Oke." Asyik juga ia diajak mengobrol. 


Tidak garing, tidak berlebihan dan tidak membuat ilfeel karena tidak ada lagi kata maaf. Mungkin, aku adalah jenis laki-laki yang mudah tertarik dengan seseorang. Meskipun ia mengatakan, ia hanya mencari teman. Tapi setelah beberapa pertemuan, aku kini memandangnya lain. 

__ADS_1


Sepertinya, aku mulai…… 


__ADS_2