Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA230. Rahim anget


__ADS_3

"Abang ambilin beberapa baju Abang ya? Nanti dirapihin di lemari Adek, bisa kan?" Aku harus hati-hati memberikan perintah pertama. 


Nahda mengangguk, matanya nampak membulat. Kenapa dengan dirinya? Benarkah setegang itu aku berada di kamarnya? Kok aku jadi was-was sendiri, bagaimana jika aku apa-apakan nantinya. 


"Oh iya, lupa. Sini dulu." Aku duduk di tepian ranjang, kemudian melambaikan tanganku agar ia mendekatiku. 


"Kenapa, Bang?" Ia berkedip rapat, kakinya melangkah seperti ragu-ragu. 


"Belum sempat doa tadi." Aku menarik tangannya. 


"Aku harus gimana?" Ia patuh untuk duduk di sampingku. 


"Cium tangan." Aku mengulurkan tangan kananku. 


Meski telat, tak apalah. Daripada tidak sama sekali. 


Allahumma inni as-aluka khaira-ha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi.


Aku meniupkan di ubun-ubunnya, kala ia tengah mencium tanganku. Kemudian, aku langsung merengkuh dan memeluknya. 


Aku malah gelisah memeluknya di dalam berduaan begini. 


"Abang ambil baju dulu ya? Dua atau tiga stel baju kau mana? Abang taruh di sana untuk barangkali nginep." Nginep pun tinggal jalan kaki saja. 


"Hm? Baju setelan kah baju tidur?" Nahda berjalan ke arah lemari pakaiannya. 


Lemarinya besar sekali, tinggi sampai menyentuh plafon kamar. Mana pintunya ada enam lagi, pasti pakaiannya banyak. 


"Setelan, baju tidur, pakaian ***** juga." Aku memperhatikannya yang tengah membuka lemari. 


Pintunya digeser. 


"Aku biasa pakai daster di dalam kamar, di luar kamar rapat pakai kerudung juga." Nahda mengeluarkan satu persatu pakaiannya. 


Pantas saja ia memakai daster pendek saat kejadian salah paham itu. 


"Ya udah atur aja." Aku memiliki feeling bahwa ia suka mengoleksi pakaian. 


Bukan aku tidak suka, tapi kan nanti kena hisab jika dibiarkan terus begitu. 

__ADS_1


Aku melepaskan kemejaku, AC belum merata dan masih terasa panas. Ibaratnya, aku menikahi seorang putri raja. Barang apapun dimilikinya, tapi apakah ia akan boros jika diberikan uang seutuhnya seperti Izza? 


Melihat isi kamarnya, barang-barang miliknya dan koleksi perintilian perempuan. Apa ia akan lanjut foya-foya dengan jatahku satu bulan gaji ini? Ya, aku berniat memberikannya gaji satu bulan penuh seperti saat pada Izza. Gaji dari perusahaan di Singapore saja, senilai lima belas juta. Karena memang uang itu yang bisa diharapkan turun setiap bulannya, tidak seperti uang dari tambak yang dikalkulasi dan dibagi terlebih dahulu. 


Aku tidak ingin membatasi keperluan dan kebutuhannya, tapi setidaknya aku ingin ia bisa mengatur uang. Agar uang lima belas juta itu cukup untuk bertemu gaji di bulan berikutnya, tidak sampai berhutang lagi pada ayah. Karena aku ingin usahaku berkembang, aku ingin aku sukses seperti ayah.


"Hah? Abang ngapain telan****?" Baju di pelukannya berjatuhan. 


"Gerah." Aku tengah membuka email. 


"Abang gagah betul." Ia berkedip seperti Masha and the Bear.


Korban film ya begini. 


"Pegang dong." Aku tersenyum simpul. 


Email masuk sudah membuatku pusing. 


"Hah? Boleh kah?" Ia memunguti pakaiannya yang berjatuhan. 


"Boleh dong, Adek sayang. Kan suami istri, mau pegang boleh, peluk cium boleh, mau mesra-mesraan boleh. Tapi, ada tapinya nih. Tapi tau waktu, jangan di tempat umum karena tak sopan. Tak bisa kita kek di film." Apa pula aku menjelaskan, tapi jika tidak dijelaskan nanti malam dia panik lagi. 


"Yang tidur berdua di satu bantal, terus sambil ciuman sama peluk dig**** gitu kan?"


Benarkah ia tidak tahu adegan suami istri? 


"Eummm, kau tau hubungan suami istri?" Masa ia adegan anu dijelaskan, tapi aku tak mau dia teriak-teriaknantinya. 


"Ya gini kan? Aku istri, Abang suami."


Ya ampun, tidak salah juga sih. 


"Bukan, maksudnya tuh kegiatan di ranjang. Di film tak ada kah kegiatan gitu?" Sebenarnya aku agak ragu bahwa dirinya tidak tahu apapun. 


Karena ia sering mengatakan tentang rahim anget itu. 


"Hubungan i**** maksudnya?" Matanya mekar membulat. 


Nah, itu tahu. 

__ADS_1


"Iya, kan dilakukan oleh suami dan istri. Pasangan sah disebutnya, baik secara agama maupun negara." Sangat perlahan sekali aku menjelaskannya. 


Sudah seperti guru pengajar. 


"Kegiatan gituan kan dilakukan kalau mau punya anak aja, aku masih kuliah, nanti lagi ya punya anaknya, Bang?"


Aih, ada pula yang aturan pakainya begini. 


"Bisa juga untuk memenuhi kebutuhan aja, itu sah dan dapat pahala." Masa iya aku nganu ketika ingin punya anak saja. 


Sudah punya istri, ya aku ingin rutin tiga kali seminggu lagi. Ya awalnya tiga kali, entah beberapa bulan kemudiannya berapa kali. Karena dengan Izza saja, kadang sampai seminggu sekali bahkan lebih dari seminggu ketika ia tengah haid. 


"Hah? Nanti kalau hamil gimana? Abang bayangkan aku ngampus sambil hamil?" Ia nampak panik, dengan memegangi kedua pipinya. 


"Abang antar jemput, nanti sekalian antar jemput Ra sama Cani kalau waktunya bareng." Ia tidak hamil pun akan aku antar jemput juga, seperti yang papa Ghifar lakukan pada Nahda. 


"Abang mau hamili aku?" Ia memeluk dirinya sendiri, dengan menggeser tempatnya lebih menjauh. 


"Ya hamil juga tak apa, sedikasih sama Yang Kuasanya aja." Aku tidak mau tergesa-gesa dan berharap berlebihan juga. 


Aku tidak mau kejadian dengan Izza terulang kembali, aku tidak mau Nahda kenapa-napa karena aku sangat semangat untuk memiliki anak. 


"Jadi, nanti gituan? Tak mesra-mesraan aja?" Dahinya mengkerut. 


"Iya, Dek. Coba aja tanya mama, ngobrol sama mama. Mesra-mesraan itu bagian dari gituan juga, abis mesra-mesraan nanti gituan." Sulit menjelaskan pada anak-anak. 


"Duh, ya udah Abang pulang aja ke biyung. Daripada aku nanti digituin, di film aja perempuannya sampai meringis-meringis. Sampai teriak-teriak, kek kesakitan." Nahda seperti melamun dan ketakutan. 


Sebentar, kok aku disuruh pulang? 


"Rahim anget itu gimana sih?" Aku ingin mengorek pengetahuannya tentang hal begini. 


"Rahim anget itu, kek ser-seran lihat adegan gitu. Kalau perempuan itu kan ngerasain geli di perut bawah gitu, kalau lihat adegan romantis." Nahda memandangku, kemudian membuang muka kembali. 


"Rahim anget juga, rahim kau disiram airnya laki-laki. Pasti pernah dengar tentang s***** kan? Nah, itu airnya laki-laki. Begituan kan, terus dikeluarkan di dalam rahim. Nanti sel telur kau ketemu dengan s*****, kalau dikasih kepercayaan sama Yang Kuasa, ya pasti hamil. Kalau belum dikasih kepercayaan, ya belum tentu hamil. Ada cara pencegahannya juga biar s***** tak ketemu sama sel telur, ada yang pakai pengaman, biasanya k***** namanya, ada yang pakai KB dan ada juga yang s*****nya dikeluarkan di luar. Ini bisa untuk memenuhi kebutuhan, biar tak hamil." Tinggal mengajar di SMA saja aku ini. 


"Hah, masa? Kok temen-temen aku ngomongnya rahim anget aja ya?" Nahda mengetuk-ngetuk dagunya. 


Jadi, ia hanya ikut-ikutan teman? Ia benar-benar tidak tahu arti sebenarnya? 

__ADS_1


...****************...


__ADS_2