Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah
ALA186. Ruang kerja ayah


__ADS_3

"Kau pacaran, Heh?" Aku melirik Cani dari spion kiri motorku. 


"Tak, Abang! Itu teman satu kelas aku." Cani menjawab sembari merengek. 


Begitulah dirinya, belum disalahkan juga bisa menangis dulu. Aku hanya bertanya, tapi seolah aku menuduhnya. 


"Kau naksir dia ya?" Aku mengikuti jalanan ramai anak pulang sekolah ini. 


"Mana ada! Azam ngajakin pulang bareng terus, cuma aku tak mau. Nanti diturunkan depan gang, aku lanjut jalan kaki. Kan capek nantinya, mana lagi haid lagi." Jawabannya tidak membuatku puas. 


"Jadi kalau dianterin sampai rumah, kau mau?" seruku kemudian. 


"Ya tak juga, Abang! Abang tuh kenapa sih mojokin aku aja?!" Cani merengek kembali seperti bayi. 


"Awas aja kau kalau ketahuan pulang sama laki-laki! Butuh orang antar jemput, telpon Abang! Abang susah dihubungi, pesan ojol! Repot pesan ojol, telpon ayah! Tak ada alasan, kau pulang bareng laki-laki!" Aku mengusap lututnya sekilas. 


"Iya, Abang! Abang! Abang!" Tekanan suaranya sudah akan menangis. 


Kadang gemas juga mengerjai dirinya, karena cepat menangisnya. Kadang stress juga dengan modelan Cani ini, apalagi jika tengah lelah. 


Akhirnya, sampai juga di rumah. Si semprul Ra sudah rebahan di ruang tengah, suara obrolan laki-laki dan perempuan terdengar dari dapur. Pasti itu ayah, ayah sepertinya baru datang juga. 


"Biyung, haid aku tembus. Aku malu betul," seru Cani begitu lepas, setelah memasuki rumah. 


"Nangis aja! Tak usah dibersihkan, Dek!" sahut ayah begitu keras. 


"Ayah!!!" Cani menghentak-hentakkan kakinya berjalan ke arah dapur. 


Bukannya pulang dulu ke rumah tinggalnya, bersih-bersih roknya. Eh, malah drama dulu. Apa ia tidak risih dengan rasa lengket itu? Tidak habis pikir aku dengan model Cani. 


Aku merebahkan tubuhku di atas sofa panjang ruang televisi, sedangkan Ra di karpet depan sofa yang aku tempati. Tanganku terulur, kemudian aku menjitak kepalanya pelan. 


Ra langsung mendongakkan kepalanya, kemudian menatapku tajam. "Apa tuh Abang rese betul!" Ia sewot padaku. 


"Abang tebas leher kau ya, Ra?! Ngapain kau ngebut-ngebut? Mau jadi anggota Fast and Furious kau?!" Aku berbaring menyamping, agar bisa melihatnya dengan jelas. 


"Apa sih, Bang?"


Anak ini pura-pura polos. 


"Apa! Apa! Apa? Pura-pura bodoh ya kau?! Jangan sok keren! Kau pikir, kau keren dengan ngebut begitu? Kau kecelakaan, kau cacat, nyesel kau seumur hidup!" Aku menunjuk wajahnya, sampai akhirnya telunjukku memencet hidungnya. 


"Abang! Mulutnya tuh! Lancang betul!" Ia menepis telunjukku, kemudian menggosok hidungnya. 


"Mau berhenti, apa mau Abang laporin ayah?" Tetap juga aku akan melaporkan pada ayah. 

__ADS_1


"Berhenti apa sih, Bang? Kek aku buat kriminal aja?" Ia mengalihkan pandangannya ke arah televisi lagi. 


"Jangan ngebut-ngebut! Jangan main di dalam ladang lagi, itu bukan arena balap. Kau kira Abang tak tau?!" Aku menjitak kepalanya pelan kembali. 


"Abang! Sakit!" Ra berteriak dengan melirik ke arahku. 


"HEH! HEH! HEH! BERANTEM KALIAN SANA DI RING TINJU!" 


Aduh, aku tidak tahu ayah ada di sekitar sini. Seketika aku duduk, kemudian aku mengusap-usap dadaku. 


"Pakai palu jitaknya biar sekalian selesai, Bang!" Ayah duduk di sampingku. 


"Ra tuh, Yah." Aku gemas pun karena ia bertingkah. 


"Kau kenapa lagi, Dek? Haid tembus lagi?" Ayah merebut remote televisi, kemudian menggantinya. 


"Tak, Ayah." Ra pun duduk dan bersandar di sofa, tapi alas duduknya berpijak pada karpet. 


"Ayah lagi capek tak?" tanyaku kemudian, aku tidak mau aku salah waktu untuk bercerita. 


"Lagi laper, ayo makan bareng. Kau bangun, Ra! Jangan tidur-tiduran aja! Ayo ke belakang semuanya." Ayah pergi lebih dulu. 


"Iya, Yah." Aku dan Ra hampir menjawab bersamaan. 


"Assalamu'alaikum…." Suaranya sudah berada di dalam rumah. 


Orang sendiri, karena berani masuk rumah. Patokannya seperti itu saja sepengamatanku. 


"Wa'alaikumsalam." Kami semua menoleh ke akses pintu masuk dapur. 


Pakwa datang. 


"Waduh, lagi pada makan. Ganggu tak nih?" Wajah pakwa datar saja, meski nada bicaranya ramah.


Apa ia masih emosi? 


"Sini makan, Bang," ajak ayah kemudian. 


"Tak usah, aku ada perlu sama Chandra." Pakwa memandangku. 


Aku sudah bilang, untuk dirinya jangan datang ke rumah agar Bunga tidak curiga. Aku tidak mau curiga langsung menuduhku, jika pakwa sampai menegurnya tentang hal ini. 


"Chandra lagi makan, Bang. Ikut makan sini lah, pasti belum makan siang kan?" Ayah menarik kursi makan yang berada di sampingnya. 


"Hmm…." Pakwa benar menduduki kursi yang sudah ayah persilahkan. 

__ADS_1


Namun, ia tidak segera mengambil makanan. Pakwa hanya menuangkan air putih ke dalam gelas, kemudian terus menggenggam gelas yang berisi air tersebut. 


"Ayah masih ada kerjaan di luar kah?" Aku baru bersuara. 


"Tak ada, Ayah punya pembahasan sama kau tentang tambak kau. Nanti kita bertiga ngobrol bareng aja di ruang kerja." Ayah menoleh ke arah kakak angkatnya tersebut. 


Aku dan pakwa berkontak pandang. Keperluan pakwa mendatangiku, ingin membahas masalah anaknya. Tentu ia akan malu, jika ayah tahu bagaimana keburukkan Bunga. 


"Ya, Yah." Aku memilih untuk menganggukkan kepala, khawatir ayah malah langsung berprasangka buruk. 


Hingga beberapa waktu kemudian, kami bertiga benar-benar berada di ruang kerja ayah. Ayah memaklumi kebiasaanku cuci mulut setelah makan dengan merokok, ayah malah menghidupkan exhaust agar sirkulasi udara lancar. 


"Kau antar Jessie pulang ya? Ke mana kau bawa dia?" Ayah membawa laptopnya yang sudah menyala, ke tengah-tengah sofa yang berposisi segi empat ini. 


"Jessie?" Aku mengerutkan keningku. 


Aku merasa tidak membawa Jessie pergi hari ini, maksudku aku tidak mengajaknya jalan. 


"Ya, kau antar dia pulang kan?" Ayah fokus memperhatikan laptopnya. 


Aku baru ingat. "Ohh, iya-iya. Dia ada di rumah pupuk, aku antar dia pulang." Ia datang sendiri, aku tidak mengajaknya. Maka dari itu, aku lupa jika hari ini aku ada kegiatan memboncengnya. 


"Abis mesum?" Ayah memandangku tiba-tiba, tapi dengan sorot mata menelisik. 


"Tak, Ayah. Dia ada di teras, lagi numpang merokok." Aku jujur. 


"Perempuan yang sering datang untuk ngaji itu merokok juga?" Pakwa bereskpresi kaget. 


Aku kira pakwa tahu. 


"Iya, Pakwa." Aku mengangguk dan menunduk memperhatikan rokok milikku yang menyala. 


"Terus n*****t?" Ayah sungguh frontal sekali. 


"Tak, Yah. Tak kusentuh dia." Aku langsung mendelik cepat pada ayahku. 


"Kau ke Singapore dulu aja, biar dia tak terus ngincer kau. Jodoh itu bisa karena diusahakan dan kecelakaan, kalau kau sama dia tak sama-sama mengusahakan karena benar-benar saling suka, bisa dipastikan karena kecelakaan, dalam tanda kutip karena n****." Ayah membuang napasnya perlahan, kemudian bersandar pada sofa dengan merentangkan kedua tangannya pada sandaran sofa. 


Style bos besar. 


"Kalau aku ke Singapore, jujur aja aku kepikirannya sama Cani dan Ra aja." Aku meraup wajahku. 


"Memang mereka kenapa?" Ayah dan pakwa bertanya serentak. 


...****************...

__ADS_1


__ADS_2