
"Kenapa?" Chandra bingung karena istrinya mogok melangkah.
"Abang nyindir aku?" Izza menyatukan dahinya.
"Memang merasa?" Chandra terkekeh kecil.
Izza memilih menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Ia tidak menjawab apapun, maupun mengangguk atau menggeleng.
"Ngomong apa-apa tuh, jangan kesal dipendam aja." Chandra menarik bahu istrinya, kemudian merangkulnya.
Mereka melanjutkan aktivitasnya, untuk berbelanja dan memasak bersama. Canda dan Givan pun tidak terganggu dengan aktivitas mereka yang membuat kotor dapur, yang terpenting mereka akur saja menurut Givan.
Beberapa hari terlewat begitu saja, hingga Izza menyelesaikan masa haidnya. Setelah sekian lama bertahan dalam kebiasaan hanya tidur, kini Chandra mulai akan mengusik istrinya lagi. Sayangnya, ia merasa kesulitan membangkitkan minatnya sendiri.
Baru satu kali melakukan, tapi Chandra sudah tidak merasa penasaran dan merasa belum membutuhkan lagi hal itu. Hanya saja, beberapa sinyal dari istrinya mengganggunya untuk segera memberikan nafkah batinnya.
"Malah keluar kamar." Izza menghela napasnya.
"Bentar, Dek. Ini, mau nunjukin laporan pekerjaan di sana." Chandra tetap bekerja, meski ia berada jauh dari pekerjaannya.
"Iya deh." Izza mengerti suaminya sibuk.
"Yah…." Chandra mendekati ayahnya yang setengah terlelap di ruang keluarga.
"Hmm?" Givan membuka matanya lagi.
Padahal televisi menyala, dengan film action menemani Givan. Tapi Givan yang sudah setengah abad tersebut, mudah lelah dan mudah tertidur.
"Ini laporan bulanannya." Chandra menunjukkan laptopnya.
"Mana?" Givan menegakkan duduknya, kemudian Chandra duduk di samping ayahnya.
__ADS_1
"Ini nih. Ini perusahaan punya kak Jasmine, Yah. Udah aku rangkum, apa mau aku kirim ke email Ayah?" Chandra menunjukkan berkas dalam laptop tersebut.
"Boleh, tapi biar ayah lihat dulu. Biar pas masuk email Ayah, tinggal Ayah masukan tanda tangan aja." Givan melongok ke layar monitor tersebut.
"Sampai kapan perusahaan kak Jasmine dipegang bang Keith, Yah?" Chandra memposisikan layar monitornya untuk nyaman dilihat ayahnya.
"Sampai suaminya bukan Vano lagi. Kau ceritanya mau nanya, kapan perusahaan kau pindah ke tangan kau? Bukan Ayah pelit, atau gimana. Ayah pengen kumpul sama kau, cucu dari kau. Biar jasa Keith tetap terpakai, jadi biar dikelola Keith aja yang di sana. Ayah mau, kau berjuang dari nol lagi. Tenang, Ayah support ilmu dan biaya." Givan tersenyum lebar pada anaknya.
Semata-mata, Givan ingin tahu bagaimana perjuangan dan kerja keras anaknya. Ia tak mau masa anaknya memegang kendali seluruh usahanya, anaknya tidak bisa mengembangkan usahanya. Lebih-lebih, malah menghancurkan apa yang sudah dirinya bangun selama ini untuk mereka semua.
"Siap, Yah. Aku pasti nurut mau Ayah." Hanya satu yang Chandra pahami, ia yakin orang tuanya tak mau membuatnya hancur. Ia ingin orang tuanya, agar dirinya maju dan berhasil.
"Oke, besok kita bahas tentang minat kau. Kau tak perlu ke Singapore lagi, uang dari hasil perusahaan yang di Singapore, buat pegangan Izza selama kau belum stabil urus usaha baru kau. Buat kebutuhan sehari-hari kalian lah gitu." Givan senang, jika anaknya mudah diarahkan.
"Siap, Yah. Bayaran aku bulan ini pun udah masuk kok. Tapi, apa kita boleh nempatin rumah sendiri?" Chandra mencoba menyampaikan keinginan istrinya.
"Kemarin pas kau nanya salep, kau bilang pengen rehab rumah. Kau punya dana berapa, biar Ayah cover dan tambahin. Hitung-hitung, untuk hadiah pernikahan kalian lah." Givan kembali menyimak laporan dalam dokumen elektronik tersebut.
"Ya udah, kirim dua puluh lima ke Ayah. Nanti Ayah minta abu desainkan lantai dua, sesuai rencana kau. Tapi, saran Ayah sih jangan disekat banyak kamar dulu. Karena kan belum tau kau berapa anak, jadi mending buat kamar luas dulu kek kamar yang ada di lantai dua rumah nenek." Givan mengirimkan laporan tersebut ke emailnya, kemudian ia mengembalikan laptop anaknya dan dirinya langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
"Tapi aku ada pikiran, untuk nempatin rumah nenek sementara rumah aku direhab." Chandra memandang ke langit-langit ruang keluarga tersebut.
Givan memandang anaknya dari samping. "Di sini aja dulu, biarkan Izza benar-benar berbaur dengan keluarga kita. Rutin main ke Key, Ayah biarkan. Biar dia ngerasa punya teman di sini. Maksud Ayah sih baik gitu, Bang. Kalah kalian di rumah nenek, udah pasti Izza malah nyaman sendirian di sana. Apalagi, fasilitas ada semua. Jadi dia malas gerak untuk keluar rumah dan main ke kita, mending kek gini aja dulu."
Chandra manggut-manggut, ia merasa ucapan ayahnya itu benar. Sejauh ia mengamati pun, Izza sudah bisa berbaur tanpa merasa dirinya adalah tamu.
"Oke, Yah. Aku tak masalah, nanti aku sampaikan ke Izza." Chandra selalu merasa saran ayahnya cocok dengan dirinya, tapi ia tidak tahu berkenan tidak di hati istrinya.
"Ya udah, sana kelonan. Udah masuk laporannya ke Ayah." Givan fokus untuk membubuhkan tanda tangannya dalam dokumen elektronik tersebut. Itu hal mudah menurutnya, apalagi ponselnya dilengkapi dengan pena khusus.
"Nah itu, Yah." Chandra baru ingat kembali, jika ia ingin meminta saran ayahnya.
__ADS_1
"Apalagi?" Givan meregangkan otot lehernya.
"Minat aku kok tak ada ya?"
Givan menoleh perlahan dengan tatapan kaget. Ia teringat dengan adiknya, yang memiliki keminatan yang terganggu.
"Tak n**** maksud kau?" Givan berharap anaknya mendapatkan gelengan dari anaknya.
Sayangnya, hal yang sebaliknya. Chandra mengangguk dan menarik napas lebih panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan.
"Kok bisa?" Givan langsung khawatir dengan keadaan anaknya. Anaknya masih baru merasakan, tapi kenapa anaknya seolah bosan dengan hal baru tersebut.
"Tak tau, Yah. Aku jadi ingat omongan Ayah, yang katanya s**s itu tuh memang begitu-begitu aja. Pas ngelakuin pertama kali, memang rasanya luar biasa. Tapi esoknya tau Izza lecet, bantu kasih salep. Kok ke sini mikirnya kek, s**s itu ya begitu aja memang rasanya. Aku jadi ingat masa pacaran, di mana ciuman itu kek sesuatu yang lebih cepat menghantarkan n****. Setelah nikah, tiap hari ciuman, dicium. Kok rasanya biasa aja jadinya tuh."
Givan ternganga mendengar penjelasan anaknya. Kok bisa? Kok bisa? Kok bisa? Givan merasa pemikiran anaknya bukan seperti laki-laki pada umumnya.
"Kau bosan gayanya kali. Coba minta Izza di atas." Karena menurut Givan s**s adalah sesuatu yang memabukkan.
"Aku pernah nyamping, aku di atas. Belum banyak gaya, karena memang benar-benar baru sekali."
Givan geleng-geleng kepala. Ia memang menyarankan agar mereka libur dulu sampai luka lecet itu sembuh, tapi Givan tidak tahu jika luka lecet itu bersambung dengan haid.
"Kau di luar nalar laki-laki deh." Givan berpikir untuk membawa anaknya ke psikolog.
"Memang ada penjelasan dalam agama, kenapa berzina lebih memabukan daripada dalam status pernikahan atau ibadah. Karena setan punya bumbunya tuh, kek deg-degan dan takut ketahuan. Kalau udah nikah, ketahuan pun ya kita yang malu sendiri karena lihat suami istri lagi ibadah." Canda muncul dengan segenap nasehat singkatnya dan semangkuk mie instan.
Canda menjadi pusat perhatian anak dan suaminya. Tetapi, ia santai saja melanjutkan untuk meniup kuah mie dalam sendok. Kemudian, menyeruputnya.
"Tapi, Canda……
...****************...
__ADS_1