
"Mau kau apa?! Ini aku pun ikut kau! Mau ngajakin ke mana lagi?! Aku beristri, jadi baik-baiklah memposisikan diri." Aku geram sekali dengan perempuan ini.
"Kamu kira aku ngajakin mesum? Ck, aku gak serendah itu." Ia berdecak dan tersenyum miring.
Seperti peran antagonis dalam sinetron.
"Kalau tak mau orang lain berpikir buruk, ya jaga posisi kau. Ditambah lagi apa tadi, kau ngajakin aku ikut kau. Ini kan kita udah di tempat yang sama dan tempat yang nyaman, tinggal bilang aja kalau memang mau ngasih tau. Aku tak punya banyak waktu untuk kau, apalagi harus ikut kau yang entah ngajakin ke mana lagi." Kemarin aku wara-wiri dengan Jessie, karena statusku masih bebas. Sekarang Meyda ini, statusku sudah beristri.
Skandal Jepara. Aku tidak mau biyung bertambah trauma dengan kota ini, dengan kisah yang memang terjadi karena kesalahan dari ulah kita sendiri. Entah skandal apa di Jepara ini, tapi biyung mengatakan bahwa ada skandal rumit di Jepara.
"Oke, oke." Ia manggut-manggut.
Ia menarik napasnya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Sebenarnya, mas Dana udah gak pernah ambil kayu jati tua. Pernah aku tanyakan alasannya pas kita lagi di tempat yang sama, lagi ngulak bahan baku, katanya pakcik Givan udah gak produksi itu lagi. Maksudnya, udah gak proses bahan baku itu, karena di luar daerah lakunya bukan jati tua. Heran juga sejujurnya, karena selain kayu jati tua kan MDF yang paling laku di pasaran. Tau kan MDF? Serbuk kayu yang dipadatkan di suhu tinggi, dengan bantuan resin? Biasa dikenalnya brand Olympic, itu material MDF itu. Pakcik Givan juga beberapa minggu lalu ada telpon, telepon biasa, karena kebetulan dia punyanya nomor telepon almarhum orang tua aku. Katanya, Ci gimana kabar pasaran di sana. Udah ada feeling nih, jangan-jangan mas Dana main curang. Aku cerita yang sebenarnya tentang pasaran, aku juga tanya balik tentang perkembangan mebel pakcik yang di Aceh sana. Katanya, kayu ulin yang masih jadi best seller di sana. Barulah yang kedua, kayu jati tua. Peringkat ketiga, ya MDF juga. Cuma sebatas nanya pasaran aja, tapi dengan datangnya kamu di toko aku, aku jadi berpikir ke arah mas Dana yang ganti ulakan itu." Meyda memutar bola matanya dan memiringkan bibirnya ke kanan dan ke kiri beberapa kali.
Ada saja kelakuan nganggurnya itu. Obrolan serius begini, ia malah senam mulut.
"Cuma sebatas itu yang kau tau?" Aku menyambut kedatangan cemilanku.
Aku merasa ada yang kurang, jika tidak ngemil makanan.
"Sama toko pakcik lebih sepi aja. Barang kok dikirimkan terus ke luar daerah, aku pikir kan main import." Meyda langsung mencomot cemilanku.
Ish, tidak sopan. Saat ditanya tadi, ia tidak pesan makanan ringan. Hanya kopi saja yang ia pesan.
"Kau tak tau desas-desus apa gitu dari tukang?" tanyaku kemudian.
Ia mengedikan bahunya. "Aku gak pernah mau tau sih. Yang aku tau, ya kebetulan tau aja. Gak sengaja gitu lah, aku gak pernah ngurusin usaha orang dan cari info baik buruknya. Soalnya aku pun udah pusing sendiri. Orang tua wafat, toko warisan orang tua aku lebih maju karena kualitas toko pakcik turun, tapi keluarga pada mikirnya orang tua dijadikan tumbal pesugihan. Padahal keluarga tau dari awal, kalau ibu kena kadar gula dan ayah kena stroke dari sepuluh tahun yang lalu. Meninggal di tahun yang sama, ditambah kemajuan toko, dituduhnya aku ini mainan pesugihan."
Di sukunya pun ada pesugihan juga ternyata?
"Yaaa, itu urusan kau juga." Aku mencoba menimpali apa yang ia lontarkan.
Ia terkekeh kecil dan melirikku. "Kamu nyebelin juga ya?" Mukanya cina, logatnya Jawa.
__ADS_1
Terserah dia, itu masalahnya seperti yang ia katakan.
Aku tidak menggubrisnya, aku mengangkat gelas kopiku dan menyeruputnya. Rasanya beda menurutku sebagai pecinta kopi khas daerah sana.
"Ngomong-ngomong, istri kau kok gak dibawa? Pakcik aja selalu bawa istrinya."
Cerewet juga dirinya.
"Lagi ulangan semester," jawabku seadanya.
"Hah? Masih sekolah?" Mata kecilnya langsung mekar.
"Kuliah. Kenapa memang?" Aku menghela napasku.
"Cuma nanya aja. Lagian sayang banget, ganteng-ganteng kok nikah muda? Kenapa gak manfaatin dulu kegantengannya?" Ia menyeruput kopinya juga.
Kopi miliknya seharga dua puluh ribu, makanya tadi ia sempat mengulurkan uang dua puluh ribu.
Semacam pisang goreng, tapi tidak menggunakan tepung. Di atasnya terdapat taburan ceres dan parutan keju.
Ia tertawa renyah. "Ya macarin banyak perempuan, wara-wiri staycation." Ia menutup mulutnya.
"Ngapain? Nikah pun bisa macarin istri dan wara-wiri staycation." Aku tidak handal menjadi laki-laki nakal.
"Ya kan beda sensasinya, katanya sih."
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala samar. Mungkin pergaulannya bebas seperti Jessie, makanya ia mengatakan hal seperti itu.
Aku bermain ponsel, mencatat poin informasi yang aku dapat hari ini. Entah pamrih atau tidak, tapi sepertinya aku harus mengurus perempuan ini agar tidak mengatakan bahwa aku tengah memperhatikan pekerjaan Dana.
"Kau pacarnya bang Dana?" Barangkali ia akan mengatakan pada bang Dana tentang kedatanganku.
"Bukanlah! Enak aja!" Ia melirik tajam. "Sekalipun aku janda, gak tertarik sama modelan begitu. Dulunya dia kepala toko minimarket gitu. Tau gak dipecat karena apa?"
__ADS_1
Aku menjawab dengan gelengan kepala saja.
"Karena suka bawa balik rokok satu slop, suka ambil susu bayi mahal. Entah dia jual lagi gak, tapi gitu gegernya orang. Ehh, pas pengangguran malah dikasih pegangan rumah mebel satu gelondong," lanjutnya kemudian.
Jika memang begitu, berarti ini manusia tidak bisa dipercaya. Lalu kenapa ayah tidak melihat layar belakangnya dulu? Mentang-mentang dia adiknya pekerjanya yang wafat, ia main percaya saja.
"Kau bilang begini, karena kau tak kesampaian sama dia kan?" Aku menahan tawa.
Aku sengaja menyudutkannya, agar ia membuka semua hubungan jelasnya dengan bang Dana.
"Amit-amit, amit-amit." Ia mengetuk-ngetuk kepalanya dan beralih ke meja cafe ini.
Kenapa ia begitu?
"Terang aja kau!" Aku merapatkan bibir agar tidak kentara menahan tawa.
"Aku gak pernah ada hubungan dan berharap ada hubungan sama dia. Perempuan, bisa cari uang sendiri, males jalin hubungan sama laki-laki toxic kaya gitu. Lagi pun, Dana juga gak pernah say hai sama aku. Kami kenal karena kebetulan tetangga tempat usaha dan ambil ulakan di tempat yang sama. Selebihnya, ya memang gak pernah ada niat untuk lebih dekat."
Sepertinya benar, jika Meyda dan Dana tidak ada kedekatan khusus yang bisa membocorkan ke Dana bahwa aku datang untuk menyelidiki.
"Nih, Sabtu sore nanti biasanya dia ngulak tuh. Datanglah kamu ke tempat ulakan, aku catat ya alamatnya. Datang sendiri, jangan pakai bantuan aku, biar gak disangkanya aku punya niat mesum sama kamu! Dasar, laki-laki pendek pikir!" Ia mencari sesuatu di dalam tasnya, kemudian menarik selembar tisu di atas meja.
Beberapa saat kemudian, selembar tisu itu sudah memiliki noda pena dan tulisan jelas tentang alamat sebuah tempat. Meski perempuan ini menyebalkan dan membuat emosi tingkat tinggi, tapi ia sudah membantuku.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memanusiakan manusia dan menghargai manusia lainnya.
"Terima kasih." Aku tersenyum padanya.
Apa yang paling mahal dari kualitas seseorang? Yaitu waktu, kesempatan, kepercayaan, kejujuran, maaf dan terima kasih.
"Wah, sopan santun kamu bagus juga. Berpendidikan." Ia menundukan kepalanya sekilas. "Sama-sama," jawabnya kemudian.
...****************...
__ADS_1